
Berkali kali Teddy berusaha meyakinkan Rafa agar ikut menjadi pemburu seperti dirinya. Namun, pemuda itu masih menolaknya.
"Hah.. sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat. Mungkin seharusnya aku menawarkannya padamu saat waktunya sudah tepat. Mungkin lain kali kau akan mau," ucap Teddy sambil berdiri dari posisi duduknya.
Rafa ikut berdiri. Ia menggaruk belakang lehernya, "Aku minta maaf, aku benar benar tidak bisa melakukannya."
"Yah..., baiklah, kalau begitu aku akan pergi. Jika kau membutuhkan bimbinganku, kau bisa pergi menemuiku. Kau tahu dimana aku berada. Maaf sudah mengganggu waktumu, aku permisi," ucap Teddy sambil berjalan menuju pintu keluar.
"Aku akan mengantarmu," ucap Rafa sambil menyusul Teddy. Ia membukakan pintu untuknya dan mengantarnya sampai ke depan rumah.
"Bagaimana ini?! Aku membuat meja miliknya hancur!" gumam Kevin dengan panik. Ia melihat ke sekitarnya untuk memastikan tidak ada pecahan kaca yang tertinggal.
"Kau sudah sadar ternyata,"
Kevin berhenti. Tubuhnya tiba tiba diam ketika mendengar suara itu. Dirinya pun melirik ke sampingnya dengan ekspresi terkejut. Seorang pemuda yang sudah menyerangnya muncul di sana secara tiba tiba.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Need dengan datar.
Kevin langsung berdiri saat melihat kedatangan pemuda itu. Ekspresinya berubah menjadi kesal, "Kenapa kau masih ada di sini? Lihat apa yang kau lakukan tadi. Karena mu, meja milik temanku hancur. Dan sekarang dimana Leon? Kemana kau membawanya pergi?!"
"Kau tidak perlu marah seperti itu. Kau harus bersyukur aku tidak membunuhmu. Tapi untuk kali ini, aku tidak menjamin kau akan selamat."
Dalam sekejap, pemandangan di depan mereka berubah. Hutan yang rimbun dengan pepohonan dan udara yang sedikit dingin karena sudah sore.
Kevin terkejut setelah melihat pemandangan di depannya. Ia melihat sekitar untuk memastikan bila apa yang dilihatnya tidak salah. Tapi berkali kali dilihat pun, pemandangan ini tetap sama dan tidak berubah.
Lalu pandangannya tiba tiba teralihkan sedikit ke bawah. Ia melihat Leon berdiri sambil bersandar pada salah satu pohon. Ia kembali terkejut. Bagaimana bisa Leon berada di sini?!
Leon pun sebenarnya terkejut karena Need membawa pemuda itu. Namun, ia tidak menunjukkan ekspresi terkejutnya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa aku dan kau berada di–"
Sreett
Kevin terkejut saat benda tajam menggoreskan luka di lehernya. Bahkan darahnya langsung menetes mengenai benda tajam itu. Matanya ia lirikkan ke samping. Need memegang sebuah pedang yang sudah diarahkan padanya, seolah siap untuk memenggal kepalanya.
Leon ikut terkejut saat Need tiba tiba memegang sebuah pedang. Ia tidak tahu dari mana dia bisa mendapatkan itu, "Apa yang kau lakukan?"
Need berekspresi datar, "Maaf jika aku sudah memperlihatkan keegoisanku kali ini padamu, tapi aku benar benar tidak mau kau mengambil pilihan yang salah. Aku tidak mau usahamu menjadi sia sia. Karena itu, kembalilah."
Leon menatap Need dengan kesal, "Apa kau sebenarnya berada di pihak lain dan bukan di pihakku?"
"Aku sudah mengatakannya sebelumnya. Aku tidak bisa melihatmu mendapatkan hukuman. Bukankah kata kata itu cukup untuk menjelaskan jika aku tidak melakukan perintah dari Yang Mulia Stev?
Ini memang cara yang sedikit memaksa, tapi aku mau kau kembali ke dunia iblis dan mengambil kembali apa yang menjadi milikmu. Jangan membiarkan mereka bertindak sesukanya. Jika kau menolak hal itu, maka aku akan memenggal kepalanya," ucap Need tanpa ekspresi.
"Aku sudah mengatakannya, aku tidak mau. Aku tidak mau melakukan semua hal yang tidak kumengerti itu. Jangan memaksaku. Jadi lepaskan dia," ucap Leon dengan kesal.
"Bila itu adalah keputusan terakhirmu, baiklah. Maka membunuhnya pun adalah keputusan terakhirku," ucap Need.
Kevin terkejut mendengar ucapan Need. Apalagi ketika pedang itu makin ditekankan pada lehernya. Ia ingin bergerak untuk menyerang Need, namun ia tidak bisa bergerak sama sekali.
Sreeettt Bruukk
Sebuah kepala segera terpenggal, hingga mencipratkan darah kemana mana. Kepala itu menggelinding dan tepat mengenai kaki Leon.
Leon merasa jantungnya berhenti berdetak hingga kemudian berdetak dengan kencang. Mata Kevin melotot seolah terkejut. Tatapannya langsung mengarah padanya.
Pandangan di sekitarnya seperti buram. Hanya kepala Kevin saja yang terlihat jelas di matanya.
__ADS_1
Need memandang Leon tanpa ekspresi. Ia berharap dengan cara seperti ini Leon tidak akan menolak untuk pergi ke dunia iblis dan merebut semuanya kembali. Ini memang cara kasar, namun ia tidak tahu cara apalagi yang harus dilakukannya.
Leon hanya terus memandangi kepala Kevin yang berada tepat di bawah kakinya. Perasaannya menggejolak hingga akhirnya pandangannya menatap Need. Hatinya terguncang saat melihat kepala itu.
"Kau...," suasana di sekitar Leon tiba tiba berubah. Seperti ada aura yang begitu kuat menekan. Bahkan Need merasakannya.
Pemuda itu merasa tertekan dengan aura yang dikeluarkan oleh Leon. Namun ia tidak boleh sampai kalah dengan aura ini. Ia harus membuat Leon mau mengambil kembali apa yang menjadi miliknya. Ini semua ia lakukan agar Leon tidak menyesal nantinya.
"Apa kau sudah mengerti sekarang? Seperti itulah yang terjadi jika kau menolaknya. Orang yang dekat denganmu akan mati," ucap Need. Ia berusaha untuk menstabilkan nada bicaranya agar tidak gemetar karena tekanan ini.
Dalam mata Leon, kini hanya terlihat Need. "Kau... Sialan.."
Dalam sekejap mata, Leon muncul tepat di depan Need dan langsung mengayunkan tangannya untuk melakukan pukulan.
Srriingg
Untungnya, Need bereaksi dengan cepat dan menahan lengan Leon dengan menggunakan pedangnya. Tapi itu tidak cukup untuk menahan Leon. Ia sampai dibuat termundur beberapa langkah dan menciptakan garis di tanah.
"Dia sangat kuat. Tapi ini belum sampai kekuatan penuhnya. Apa aku bisa menahannya beberapa waktu?" batin Need.
Need terkejut saat Leon tiba tiba menghilang dari pandangannya. Ia melihat sekitar dengan waspada. Entah dari mana dia akan menyerang.
Salah satu pohon di sana tiba tiba bergoyang dengan kuat dan pada saat yang sama, Leon muncul di arah sana mendekati Need. Ia melakukan tendangan hingga membuat tubuh pemuda itu terhempas menabrak pohon.
Brukkk Sshhh
Pohon bergoyang kencang dan menjatuhkan dedaunan yang masih hijau. Langit yang semakin malam membuat suasana semakin gelap. Udara pun menjadi dingin.
Need segera berdiri. Ia sedikit terbatuk karena tendangan itu. Ia bisa melihat Leon yang semakin berjalan maju mendekatinya. Padahal Leon hilang ingatan, namun dia bisa bertarung seperti ini. Apakah ini karena dia marah pada apa yang sudah dilakukannya? Jika seperti itu, maka ia harus memancingnya lebih jauh. Dengan begitu, mungkin ia bisa membuat ingatan Leon sedikit pulih.
__ADS_1