Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 102 -Silvia Dan Stev


__ADS_3

Semua penghuni yang ada di dalam rumah berada di luar, tak terkecuali pria yang kehilangan satu kaki. Lym dan rekan rekannya sama sekali tidak tahu alasan mereka harus keluar dari rumah. Tapi mereka mengikuti apa yang diucapkan Kay, si pemuda wajah dingin.


"Jadi sudah datang ya? Padahal ini masih pagi, tapi sudah banyak sekali yang datang," ucap Ken dengan wajah santai.


Kay melirik Ken dengan datar. Di saat seperti ini, rekannya itu masih bisa bersikap santai, "Jangan lengah."


"Jangan khawatir, aku tidak akan ceroboh kok.."


Kay menghela napas dan melihat ke belakang, "Kalian bersiaplah. Akan ada mayat hidup yang menuju kemari."


Lym dan yang lain terkejut, terutama pria dengan satu kaki. Ekspresi wajahnya berubah menjadi pucat dengan wajah takut. Ia sudah merasakan keganasan mayat hidup yang memakan kakinya. Itu adalah kondisi terburuk yang pernah dirinya rasakan.


"Lalu dimana Tuan Felix, pemuda ber-ikat kepala dan ketua?" sahut Lym. Ia sudah memastikan, tidak ada ketiga orang itu diantara mereka sejak keluar dari rumah.


"...," Kay tidak menjawab dan yang bersedia menjawab hanyalah Ken, "Mereka berada di tempat lain. Tidak ada Ray, jadi kalian ambilah obor di sana, gunakan itu untuk membakar mayat."


Lym melihat ke arah yang ditunjuk. Ia melihat ada 3 bambu dengan api yang berkobar di atasnya, "Kurang satu."


"Itu urusan kalian," balas Ken tanpa memandang Lym.


"Aku... Aku tidak mau berurusan dengan mayat itu lagi. Tidak.. Aku tidak mau..," ucap pria berkaki satu yang berdiri dengan dibantu sebuah tongkat.


"Farel..," Lym menggumam dengan raut sedih. Melihat ekspresi takut yang ditunjukkan pria itu, membuatnya merasa iba.


Pria dengan satu kaki bernama Farel itu terlihat gelisah, "Aku ingin kembali.. Aku ingin kembali. Aku tidak mau di sini.. Aku.. Aku takut.."


Ken melirik pria bertongkat dengan datar. Tidak ada raut kasihan dalam tatapannya, "Jika kau tidak mau, maka mati saja sana. Kau tidak akan bisa bertahan jika terus mengandalkan perlindungan orang lain. Kau bukanlah satu satunya prioritas mereka. Jika kau membuat mereka iba padamu pun, pada akhirnya mereka akan menyelamatkan diri sendiri saat keadaan genting."


Kay menepuk pundak rekannya, "Kalian hidup atau tidak, itu tergantung kalian sendiri."


Farel dibuat terdiam ketika mendengar ucapan Kay dan Ken. Namun itu tidak membuatnya menjadi berani. Ia takut, sangat takut. Ia tidak bisa mengandalkan dirinya saat ini. Mentalnya terlalu lemah untuk sekarang.


Lym mengangguk dan menatap Farel dengan yakin, "Aku akan melindungimu sebisaku. Jangan khawatir."


*


*

__ADS_1


"Hah.. Kalian menyusahkanku," keluh seorang pemuda bermata hijau. Tatapannya terarah pada seorang pria dan wanita yang duduk terikat.


Wanita bermata biru dengan tahi lalat di bawah mata kanannya itu memberikan tatapan kesal, "Kau..!"


Pria bermata hitam yang duduk terikat di samping wanita bermata biru berekspresi serius, "Apa yang kau inginkan, Ralt?"


Keadaan keduanya sama sekali tidak baik. Luka di sekujur tubuhnya sangat banyak dan sebagian masih mengeluarkan darah. Bahkan wajah keduanya terlihat pucat.


Pemuda bermata hijau tidak lain adalah Ralt. Iblis yang menjadi penyebab dari kekacauan dunia iblis. Matanya menatap malas pada pria yang tak lain adalah Stev, "Bagaimana harus mengatakannya ya? Coba pikirkan.. Aku harus mulai dari mana? Hm.. Ah! Dari kekuatan kuno yang kalian perebutkan saja, bagaimana?"


Tanpa menunggu jawaban dari Stev dan Silvia, Ralt langsung melanjutkan, "Mungkin kalian bertanya tanya, kenapa kristal itu menghilang begitu saja setelah terjadi guncangan? Setelah itu, kalian berhenti bertarung.


Akan kuberikan jawaban. Itu terjadi karena aku menarik kembali kekuatan itu dan akhirnya.. Wush.. Kristal itu menghilang. Kalian tahu kenapa? Karena kekuatan yang kalian perebutkan itu adalah kekuatan milikku."


"Apa maksudmu?!" Silvia menggeram dengan ekspresi marah.


"Tenanglah tenang.. Kau tidak perlu marah seperti itu. Yah.., aku bisa berkata jujur pada kalian dan menceritakan kisahku, karena kalian ataupun aku, akan segera mati."


Berbeda dengan Silvia yang terbawa emosi, Stev mencoba untuk tetap tenang dengan ekspresi serius.


"Percaya atau tidak, aku bereinkarnasi berulang kali. Lalu ini adalah kehidupanku yang ke puluhan kalinya. Bisa dibilang, aku adalah leluhur kalian. Lalu untuk kekuatan kuno yang dikabarkan sebagai kekuatan dari Raja terkuat dahulu, itu adalah kekuatanku karena aku 'lah Raja itu.


Silvia menggeleng tak percaya, "Kau pasti bercanda! Apa kau sedang bermimpi, huh? Mimpimu itu terlalu jauh."


"Aku sudah bilang, aku tidak peduli kalian percaya atau tidak dengan ceritaku. Tapi yah.. Kejadian di dunia iblis sekarang karena rencanaku. Aku akan menghancurkan dunia ini agar aku tidak mengalami reinkarnasi lagi."


"Kau sudah gila?! Kau ingin menghancurkan dunia ini?! Kau pasti sudah tidak waras–"


Stev memotong ucapan Silvia dengan raut datar, "Kau ini bisa diam tidak? Kenapa sejak tadi terus saja bersuara, huh? Kau tidak bisa diam walau untuk sebentar?"


Silvia melirik Stev dengan sinis, "Kenapa? Ini hakku untuk bersuara, bukan urusanmu, dasar lemah."


"Lemah? Kristal itu terakhir kali berada di tanganku dan kau tidak bisa merebutnya. Diantara kita sebenarnya siapa yang lemah? Bukankah itu kau?"


"Diam kau! Di tangan siapa terakhir kali kristal itu berada, itu tidak ada hubungannya dengan kekuatan yang dimiliki! Saat itu aku belum mengerahkan seluruh kemampuan yang kumiliki untuk melawanmu! Jadi jangan besar kepala!"


"Belum mengerahkan semuanya? Lalu kenapa kau kesulitan berdiri untuk menghindari terjangan monster yang datang? Kau bahkan hanya bisa mengendalikan dua monster diantara banyaknya monster. Itu membuktikan jika kekuatanmu yang tersisa hanya itu."

__ADS_1


"Aku hanya sengaja melakukannya. Untuk apa menjinakkan semua monster jika bisa pergi dengan menjinakkan 2 monster saja? Aku hanya sedang malas menangani mereka."


"Itu menunjukkan ketidak mampuanmu."


Silvia langsung bersungut sungut, "Hah! Lalu kau sendiri bagaimana? Kenapa kau malah ikut denganku dan menaiki satu monster lain yang kukendalikan, huh? Kau bahkan tak melakukan apapun, tapi kau hanya menumpang! Bahkan selama berhari hari ikut denganku, kau hanya menjadi penghambatku saja!"


"Ikut denganmu? Jangan terlalu percaya diri. Saat kau tahu aku menaiki satu monster lain yang kau kendalikan, kenapa kau tidak langsung melepaskan kendalimu darinya? Lagi pula, sebelumnya aku ingin menyerang monster itu, tapi kau tiba tiba mengendalikannya. Bukankah di sini, kau yang ingin aku ikut denganmu?"


Wajah Silvia memerah karena kesal, "Jangan menuduh! Aku menunggangi kedua monster itu untuk pergi hanya selama seharian saja, setelahnya tidak. Tapi walau begitu, kau masih mengikutiku. Kenapa tidak langsung pergi?!"


"Bukankah terbalik ya? Kau yang mengikutiku setelah tidak mengendalikan kedua monster itu."


"Itu bukan aku, tapi kau–"


"Kalian... Jadi mirip sepasang kekasih ya? Apa kalian sudah merencanakan pernikahan?"


Silvia dan Stev tersentak ketika mendengar ucapan tiba tiba dari Ralt. Mereka sontak langsung menatap pemuda bermata hijau itu, "TIDAK SUDI!" ucap keduanya dengan serentak dan langsung membuang muka.


Ralt berkedip dan menghela napas. Ekspresinya berubah menjadi dingin, "Kalian sungguh berani mengabaikanku."


Silvia dan Stev melebarkan matanya seperti kesakitan dan terkejut secara bersamaan. Aura mencekam yang tiba tiba mereka rasakan membuat keduanya merasa tertekan. Bahkan aura itu terasa mengelilingi leher membuat mereka merinding.


"Sadari'lah posisi kalian sekarang ini. Kalian bukan berada di kondisi bisa bersikap seenaknya dan bertengkar. Aku bisa saja langsung menghabisi kalian hanya dengan auraku sekarang juga. Tapi... Itu akan membuat usahaku mencari kalian sia sia," ucap Ralt dengan tatapan dingin.


Silvia menelan ludah dan menatap Ralt dengan hati hati. Keningnya berkerut karena menahan aura menekan yang menghantam pundaknya, "Dia belum mengerahkan seluruh auranya, tapi ini sudah menekan. Padahal aku juga adalah Raja iblis, tapi kekuatannya berbeda jauh dari kami.


Dia tidak seperti Ralt yang kukenal. Raja iblis paling malas diantara Raja iblis lain. Kekuatan yang kutahu pun tidak sebesar sekarang. Apa dia menyembunyikannya selama ini?" batin Silvia.


Stev pun memiliki pemikiran yang sama dengan Silvia. Ralt yang memperlihatkan auranya saja, sudah membuktikan perbedaan kekuatan yang dimiliki. Ditambah, kondisinya sekarang sama sekali tidak baik. Tubuhnya sudah mengalami banyak luka dan energinya terkuras banyak setelah menghadapi sekian banyak pertarungan. Bahkan dirinya dengan Silvia pun menghadapi Ralt dan berakhir dengan kekalahan seperti ini.


"Apa yang kau inginkan dariku?" ucap Stev dengan raut serius.


Ralt menaikkan sebelah alisnya. Ia menghilangkan auranya dan membuat tekanan yang menimpa kedua iblis itu menghilang, "Oh? Kau akan tahu sebentar lagi."


Belum lama setelah Ralt mengatakannya, serangga bersayap indah muncul dari belakang tubuhnya.


Baik Silvia dan Stev terkejut bukan main saat melihat penampakan kupu kupu dengan sayap putih bercahaya. Mereka sudah pernah bertemu dengan mereka dan menyaksikan apa yang dilakukannya.

__ADS_1


"Sepertinya kalian sudah percaya jika aku yang merencanakan semua ini," Ralt terdiam sejenak dan melirik seekor kupu kupu yang terbang di samping kanannya, "Melihat reaksi kalian, sepertinya kalian sudah tahu apa yang bisa serangga indah ini lakukan."


Ralt melirik kedua iblis dan tersenyum tipis, "Tenang saja, kalian akan menjadi mayat hidup yang lebih baik dibandingkan mayat hidup lain. Walau mayat hidup, kalian akan memiliki kekuatan yang sama saat hidup. Bahkan energi yang dapat kalian miliki tidak terbatas untuk menyerang, tidak seperti sekarang."


__ADS_2