Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 96 -Tidak Terima


__ADS_3

Leon menggenggam pedang yang muncul secara tiba tiba. Ini adalah pedang istimewa yang dapat menghilang dan datang sesuai dengan kehendak pemilik. Ini hanya bisa dimiliki oleh beberapa iblis saja, seperti para Raja dan Panglima. Namun ada pula iblis lain yang memilikinya, walau hanya sedikit.


Dalam sekali ayunan pedang Leon, akan ada dua lesatan sekaligus. Ini adalah serangan yang efektif bagi musuh dengan jumlah banyak. Walau ia tidak yakin jika ini bisa se- efektif itu jika melawan kupu kupu. Pasalnya, mereka terbang memencar dan tidak berkumpul di satu tempat. Ini tetap akan memakan banyak waktu.


"Kenapa aku tidak bisa merasakan kehadiran mereka?" batin Leon dengan raut dingin. Ia sudah pernah melihat mereka, namun tidak sampai bertarung melawan seperti ini. Tapi walau sudah pernah melihatnya sekali, ia baru tahu sekarang jika dirinya tidak bisa merasakan kehadiran kupu kupu.


Ini adalah hal yang mengesalkan baginya. Padahal ia yakin, kupu kupu itu tidak lebih kuat darinya. Mereka adalah makhluk yang lemah, namun karena jumlah, ukuran yang kecil, dan tentakel itu, membuat mereka cukup sulit dilawan.


Saat Leon akan melakukan tebasan, tanpa sengaja sudut matanya menangkap kehadiran seseorang. Tangannya hampir saja terlilit tentakel karena itu.


Sraatt


Leon segera menebas tentakel yang hendak menangkap lengannya. Ia melihat ke arah yang dilihat sudut matanya tadi, namun tidak melihat siapapun. Saat akan memikirkan hal itu, dirinya tiba tiba berpindah tempat.


Leon berkedip dan melihat ke samping. Ia melihat Need dan Radolf yang bertarung saling membelakangi.


"Kenapa tadi kau melamun?!" ucap Need dengan suara keras.


Leon kini sadar jika penyebab dirinya pindah adalah karena Need. Ia mengangguk tanpa menjawab pertanyaannya, "Radolf, lakukan itu."


Tanpa dijelaskan pun, Radolf mengerti apa yang dimaksud Leon. Ia langsung menghilang dari tempatnya berada dan tiba tiba muncul di salah satu dahan pohon. Ini bukanlah kemampuan berpindah tempat, namun gerakannya yang terlalu cepat hingga tidak bisa ditangkap mata.


Karena Radolf yang pindah ke tempat lain, Need mengatasi musuhnya sendiri. Sedangkan Leon, ia membantu Rafa yang terdesak tak jauh darinya.


Nevan sudah bersama dengan Kite. Jadi tidak akan masalah.


"Kau baik baik saja?" tanya Nevan. Ia masih memunggungi Kite dan bertarung saling membelakangi.


Walau Kite menjawab baik baik saja, nyatanya ia malah terbatuk darah dengan wajah pucat. Perut kiri bagian bawahnya terus mengeluarkan darah setelah tanpa sengaja tertusuk tentakel tadi.


"Seharusnya khawatirkan dirimu sendiri. Kau 'kan tidak bisa bertarung dengan tangan kiri. Jelas sekali jika kau yang memiliki kemungkinan mati," ucap Kite dengan santainya.


Walau Nevan merasa kesal, namun apa yang dikatakan Kite ada benarnya. Ia sangat kesulitan bertarung menggunakan tangan kiri. Ini membuatnya hampir saja terkena serangan andai Kite tidak melindunginya.


"Ternyata benar, kau menjadi beban," lanjut Kite.


"Aku–Uhuk..," Nevan terbelalak saat tusukan mengenai dadanya secara tiba tiba. Ia menatap tubuhnya dan tahu jika yang menusuknya bukanlah tentakel, melainkan pedang. Ia menelan ludahnya dan pandangannya naik, melihat siapa pelaku, "Kau... Kenapa?"

__ADS_1


Yang tidak dia duga, pelaku dari penusukan ini adalah Kite sendiri. Pandangannya memburam dan pedang sudah ditarik keluar oleh si pemilik. Tubuh Nevan terhuyung sesaat sebelum akhirnya jatuh ke tanah.


Kite berekspresi datar, "Mengganggu."


Ia melesat ke arah kerumunan kupu kupu meninggalkan Nevan dengan tubuh tak berdaya bersimbah darah.


"Mereka.. Mereka semua tewas karena serangga ini," batin Freed dengan wajah pucat. Sudut bibirnya mengeluarkan darah. Ia melihat di sekitar jika semua teman temannya sudah tumbang tak bernyawa. Keadaannya seperti tulang yang terbungkus kulit tanpa daging dan darah. Ini membuat mereka kurus kering.


Freed merasa tak bisa bertahan lebih lama. Luka tusukan yang ada di perut bagian kanan dan bahunya membuatnya menjadi sulit bergerak. Terlebih keadaan teman temannya yang telah tewas membuatnya putus asa.


Napasnya tersenggal senggal. Tangan kirinya berusaha menutup luka yang terbentuk di bagian perut kanannya. Sedangkan tangan kanan nya, memegang sebuah pedang yang terbentuk dari energinya. Ia menebas seekor kupu kupu yang ingin menusuknya.


Pada saat yang sama, pandangannya pun semakin memburam. Luka akibat pertarungan sebelumnya belum benar benar pulih dan malah kini mendapat luka tambahan yang cukup dalam, "Aku tidak... tahan lagi."


Matanya hanya bisa menatap belasan kupu kupu yang terbang di sekitarnya. Ia sudah menyerah untuk melakukan perlawanan dan ia yakin jika ini adalah akhir baginya.


Saat ia sudah berpikir dirinya akan mati, kupu kupu di sekitarnya tiba tiba berubah menjadi asap hitam dan menghilang di udara.


Freed terkejut. Matanya terbelalak tak percaya. Ia melihat ke belakang dan di tempat lain, semua kupu kupu itu telah musnah entah bagaimana, "H-hampir saja.."


Tubuhnya seketika ambruk ke tanah dengan napas memburu. Di satu sisi ia merasa lega, namun di sisi lain ia merasa sedih karena teman temannya telah tiada.


Ia menggigit bibir bawahnya dan merasa gagal menjadi ketua kelompok ini, "Aku tidak cukup kuat. Jangankan melawan iblis, melawan serangga saja aku kalah telak," gumamnya dengan senyum pahit.


"Apa yang terjadi?" Rafa terheran heran ketika kupu kupu di sekitarnya tiba tiba berubah menjadi asap dan menghilang.


Leon sendiri tidak terkejut. Ia berekspresi biasa sambil memandang ke salah satu dahan pohon dimana seseorang sedang menapak di sana.


Radolf yang merasa diperhatikan langsung melihat ke arah Leon. Ia tersenyum tipis karena akhirnya berhasil menghabisi semua kupu kupu tanpa melukai pihaknya. Titik keringat banyak terbentuk di keningnya. Kemampuannya adalah mengeluarkan kabut asam yang dapat melelehkan benda apapun di sekitar.


Namun sifat dari kabut tentunya bisa terbawa oleh angin. Itu yang membuat Radolf kesulitan dalam mengendalikannya. Ia harus mengenai musuh tanpa mengenai siapapun yang ada di pihaknya, walau mereka berada sangat dekat dengan musuh.


Tubuhnya langsung terduduk di atas dahan pohon. Napasnya tidak beraturan. Kemampuannya sebenarnya sangat kuat, tapi juga berbahaya. Ia tidak bisa menggunakannya terus menerus atau dia bisa mati.


Setiap mengeluarkan kemampuannya, ia pasti akan mengalami sensasi seperti tercekik. Pasokan oksigen dalam tubuhnya seperti berkurang banyak. Jadi walaupun kekuatannya ini hebat, namun kekurangannya pun tak kalah beresiko.


Rafa melihat keadaan sekitar yang nampak berantakan. Darah terciprat di tanah dan ada orang orang yang tergeletak tak bernyawa. Saat memperhatikan, pandangannya tanpa sengaja melihat salah satu orang yang terbaring. Ia langsung terbelalak kaget ketika tahu jika itu adalah saudaranya yang terbaring tak bergerak di jarak beberapa meter darinya, "Nev..."

__ADS_1


Dengan segera, Rafa berlari ke arah Nevan berada. Rasa khawatir langsung menyelimuti perasaannya ketika melihat Nevan. Ia berlutut di sampingnya dan langsung menepuk pipinya, "Nev.. Nev... Bangunlah, Nev... Nevan.. Nevan! Nevan!"


Seberapa keras pun Rafa bersuara, tidak ada tanda tanda jika Nevan akan sadar. Ia segera memperbaiki posisi tubuh Nevan dan membuatnya terbaring dengan wajah menghadap langit.


Rafa kini bisa melihat wajah Nevan yang begitu pucat. Ekspresinya berubah menjadi panik. Rafa mengecek napas, detakan jantung dan nadi yang ada di pergelangan tangan Nevan. Namun tidak ada tanda tanda kehidupan darinya. Kepanikan semakin bertambah. Raut wajah Rafa menjadi sangat khawatir, "Nev.. Jangan bercanda.. Nev.. B-bangunlah, bangunlah Nev.."


Need yang ada di sekitar sana pun segera datang ketika mendengar suara Rafa yang terdengar jelas karena keheningan ini. Dirinya berjalan mendekat dan tertegun ketika melihat keadaan Nevan, "Dia.. Sudah mati."


Rafa menggeleng cepat, "Tidak, tidak, dia masih hidup. Nev.. Masih hidup," pandangannya lantas tertuju pada Need. Dengan tatapan tajam, ia bersuara marah, "Jangan sembarangan bicara! Nev masih hidup! Nev tidak akan mati!"


Rafa kembali menatap Nevan dengan senyum getir, "Benar 'kan Nev? K-kau masih hidup. Kau suka bercanda seperti ini. Tapi ini sudah keterlaluan. Bangunlah. Aku tidak akan marah, tapi kau harus bangun."


Walaupun Rafa sudah mengatakan hal itu, tapi Nevan tidak kunjung bangun. Bahkan tidak ada pergerakan sedikit pun darinya.


Need yang melihat itu langsung menggeleng, "Di sudah mati."


Rafa terus menggeleng dengan kuat. Ia tidak menerima ucapan Need. Tangannya terulur dan menyentuh dada pemuda itu. Ia memfokuskan diri.


"Memutus.. Takdir?"


"Bisa dikatakan, itu adalah semacam kekuatan yang bisa memutuskan nasib seseorang, mengubahnya menjadi takdir yang berbeda. Misalnya takdirku adalah menjadi pemburu, tapi kau memutuskan takdir itu dan membuatku menjadi dokter. Atau.. Kau memutuskan takdir ayah dan membuatnya tidak mengalami kematian itu."


Rafa ingat dengan kata kata dari Ash. Kemampuan itu. Ia akan membuktikannya. Ia memfokuskan diri dengan sangat. Ia tidak mau menyerah begitu saja dan menerima kematian saudaranya.


Cahaya putih berkumpul di telapak tangan Rafa dan tubuh Nevan. Cahaya itu terlihat indah saat dilihat di tempat ini. Namun keadaan yang terjadi tidaklah seindah itu. Rafa sedang berjuang untuk menghidupkan saudaranya kembali.


Walaupun titik keringat keluar dari kening dan napasnya nampak terengah, Rafa tidak berhenti. Ia masih mencoba mengeluarkan semua yang dia miliki.


Setelah beberapa saat, cahaya itu memudar. Rafa membuka matanya dengan raut gelisah. Ia masih tidak merasakan detakan jantung pada Nevan. Ia bahkan sudah mencoba memeriksa pernapasannya. Namun tidak ada tanda tanda kehidupan, "T-tidak.. Tidak.. Nev.."


Rafa menggeleng dan kembali menaruh kedua lengannya di dada Nevan. Ia menyalurkan energinya pada pemuda itu, namun Nevan tak kunjung sadar.


Tanpa sadar, darah menetes dari hidungnya. Kepalanya terasa sangat pening dan berat. Bahkan organ dalamnya terasa dihantam sesuatu yang keras. Walau begitu, ia tidak berhenti. Bahkan ketika ia terbatuk darah, Rafa tidak menghentikan aksinya.


Need yang melihat itu menjadi kesal sendiri. Ia menarik lengan Rafa dan menjauhkan tangannya dari Nevan. Hal ini membuat manusia itu seketika membuka mata dengan air yang sudah berlinang di pelupuk mata, "Lepaskan! Aku harus mengobati Nevan!"


Need mencengkram tangan Rafa dengan keras hingga membuat pemuda itu meringis, "Berhentilah melakukan hal yang sia sia! Dia sudah mati. Biarkan dia pergi dengan tenang."

__ADS_1


"Tidak, Nev belum mati. Dia.. Dia masih bisa hidup," ucap Rafa dengan keras kepala.


"Sudah kubilang, hentikan itu!" geram Need. "Dia sudah mati, apapun yang kau lakukan tidak ada gunanya. Itu semua sia sia."


__ADS_2