
Mereka bertiga terus berbicara santai sampai akhirnya tengah malam tiba. Nevan bersama dengan Rafa. Sedangkan Melvin tidur di kamar Leon. Ketika Nevan sudah tertidur, Rafa masih terjaga.
Ia masih terpikirkan ucapan Melvin sebelumnya.
Flashback~
"Paman, Nev mengatakan bila ayah adalah iblis tingkat atas dan merupakan panglima. Apakah... Jika aku pergi ke dunia para iblis, aku bisa bertemu dengan ayah lagi?"
Nevan dan Melvin yang sebelumnya tertawa kini berhenti. Mereka menatap Rafa bersamaan. Melvin bisa melihat tatapan berharap dari pemuda itu, "Mungkin... Bisa."
Rafa melebarkan matanya. Ia begitu senang saat mendengar jawaban pamannya. Tapi kelanjutan dari ucapannya itu membuatnya membeku.
"Tapi aku tidak tahu dimana dia berada. Aku juga tidak tahu apakah kau bisa bertemu dengannya atau tidak. Yang paling penting, aku tidak tahu bagaimana cara untuk pergi ke dunia iblis. Karena biasanya iblis 'lah yang pergi ke dunia manusia, bukan sebaliknya."
"Apa paman tidak memiliki buku yang membahas hal itu? Mungkin saja buku itu ada di tempat yang sama dengan buku sejarah 'pengaruh mutlak'."
"Tidak ada. Aku tidak menemukan buku semacam itu."
"Paman sudah mencarinya?"
"Aku memeriksa seluruh perpustakaan setelah mendapatkan buku itu. Tapi aku tidak menemukan buku yang membahas cara untuk ke dunia iblis."
Rafa berekspresi sedikit kecewa. Ia berpikir bila dirinya bisa mendapatkan informasi untuk pergi ke tempat itu. Ternyata tidak ada petunjuk sama sekali.
Flashback End~
Rafa menghela nafas dengan berat. Sekarang ia kehilangan harapan untuk bisa bertemu ayahnya dan menyusul Leon.
Tapi..
Ia tiba tiba terpikirkan seseorang yang mungkin bisa membantu menjawab kekecewaannya ini. Orang yang juga tahu tentang iblis dan dekat dengannya. Ia bisa mencoba untuk menanyakan hal itu. Semangat mulai membara di dalam hatinya. Ia masih memiliki kesempatan.
***
Keesokan paginya, Need berburu hewan yang ada di hutan. Ia tidak akan diam dan menunggu perintah dari Leon. Ia bergerak lebih dulu sebelum mendapat perintah. Begitulah dirinya.
__ADS_1
Seekor rusa dengan sepasang tanduk besar mirip ranting pohon dan bulu bulu kecil berwarna coklat berbintik putih telah didapatkan oleh Need. Bukan rusa ukuran kecil biasa, ia mendapatkan rusa dengan ukuran yang begitu besar. Sebesar tubuh gajah.
Pemuda itu membersihkan bulu serta tanduk dan isiannya sebelum akhirnya dibakar di dekat air terjun. Ia tidak memberikan bumbu apapun, karena tidak bisa memasak. Di sini juga tidak ada rempah rempah untuk membuat bumbu.
Namun walaupun tanpa bumbu sama sekali, daging dari rusa ini mengeluarkan bau yang lezat. Ini bukanlah rusa biasa, tapi ini adalah monster. Walaupun bentuknya sama dan dibedakan dari ukuran, namun saat dimasak akan terlihat jelas perbedaannya. Rusa biasa tidak akan enak tanpa bumbu. Sedangkan monster rusa, walaupun tanpa bumbu, rasanya akan tetap enak.
Mendengar suara langkah kaki, Need segera menoleh ke belakangnya. Leon berjalan dengan santai tanpa terburu buru. Iblis itu memperlihatkan wujud aslinya.
Karena di sini adalah dunia iblis, jadi mereka tidak perlu menyembunyikan jati diri dan menampakkan wujud aslinya.
Need tersenyum senang. Ia terlihat semangat, "Kebetulan sekali. Sebentar lagi daging rusa akan matang. Kita bisa makan."
Leon tak mengatakan apapun. Namun ia langsung duduk di dekat Need sambil memperhatikan daging yang tergantung di depannya. Need tidak memotong dan memanggang daging sebesar itu sekaligus. Bukankah itu hanya akan menyulitkannya?
"Dimana iblis bernama Flynn itu? Dia yang sudah menyerang mereka sebelumnya 'kan?" tanya Leon dengan nada datar.
Need melirik Leon ketika mendengar kata 'mereka'. "Maksudmu kedua manusia itu? Kalau tidak salah... Rafa.. Dan.. Kentong?"
Leon mengangkat sebelah aslinya ketika mendengar nama yang diucapkan Need.
Leon tidak mengangguk atau menggeleng. Ia menunggu jawaban dari Need.
"Flynn.. Dia pasti masih ada di dunia manusia dan mencarimu. Jadi dia tidak ada di sini. Karena Raja Stev akan membukakan retakan dimensi setelah 6 bulan."
"Membuka... Retakan dimensi? Sebelumnya semua panglima masuk ke dunia manusia.. Dengan cara apa?" Perasaan Leon menjadi tidak enak.
Need terdiam sejenak. Apakah bila ia memberitahukan caranya, Leon akan marah? Tapi jika membohonginya, ia tidak memiliki alasan yang bagus, "Kami... Raja Stev... Menggunakan kemampuannya dan mengendalikan... Radolf untuk membukakan jalan masuk ke dunia manusia."
"Radolf?" Leon mengulangi nama yang disebutkan. Ia menggeleng tak percaya. "Tapi dia tidak memiliki kemampun seperti itu. Bagaimana caranya dia bisa mengirimkan kalian ke dunia manusia?"
"Sebelumnya aku juga tidak tahu kemampuan yang dia miliki. Awalnya kupikir dia bisa membuat celah dimensi karena itu merupakan kemampuannya. Jadi... Aku tidak tahu.
Tapi iblis yang mengirim mu ke dunia manusia adalah dia. Karena kecerobohannya juga, kau mengalami hilang ingatan dan berubah wujud menjadi anak manusia."
Leon terdiam kaku. Raflo tidak memiliki kemampuan seperti itu sama sekali. Ia tahu, karena dirinya bersama dengan Raflo bahkan sebelum menjadi Raja iblis. Ia juga tahu kemampuan yang dimilikinya dan itu tidak berhubungan dengan perpindahan tempat.
__ADS_1
Apakah kemampuan itu dia dapatkan dari manusia yang berhubungan dengannya? Kemampuan yang dipelajari? Apakah bisa seperti itu? Biasanya kemampuan akan muncul pada iblis yang kuat dengan sendirinya. Tanpa dipelajari ataupun takdir sejak lahir. Kemampuan murni muncul karena bertambah kuatnya iblis sampai batas tertentu. Tapi Raflo... Mempelajari dan mendapatkan kemampuan?
Saat memikirkan hal itu, ia tiba tiba teringat sesuatu. Kilas balik video seolah berputar di dalam pikirannya.
"Maafkan aku.. Aku sudah melanggar larangan di dunia iblis. Aku rela jika harus dihukum apapun itu. Tapi asalkan... Jangan menghukumnya. Jangan menghukum anakku, Rafa. Dia tidak bersalah. Aku ingin dia mendapatkan kehidupan yang baik."
"Sebaiknya kau tidak mengatakan hal ini pada siapapun. Setelah ini, jangan pergi dari dunia iblis. Kau dilarang untuk ke dunia manusia."
"Tapi.. Aku harus bertemu dengan anakku. Aku harus menemuinya nanti."
"Diam dan turuti saja apa kataku. Ingat, jangan mengatakannya pada siapapun. Kita akan menyembunyikannya dari iblis manapun."
"Hah?! A-apa? Apa katamu? Kau ingin menyembunyikannya dari semua iblis? Termasuk.. Raja iblis lain?"
"Iya."
"Tapi bagaimana jika mereka tahu?"
"Aku akan menanggungnya."
"Tidak..! Jangan mengorbankan dirimu."
"Jangan berkata seolah aku akan mati."
"Tidak, jangan lakukan itu. Biarkan aku mendapatkan hukumanku. Aku tidak mau melibatkanmu."
"Kau adalah tangan kananku. Bahkan tanpa menyembunyikan perbuatanmu, aku pantas untuk mendapatkan hukuman bersama denganmu. Karena aku... Telah gagal menjadi Tuan mu."
Leon baru mengingatnya. Ia sudah melupakan itu. Dalam pembahasannya, tersebutkan nama satu orang. Itu adalah nama yang sama, "Rafa..? Dia... Anak Raflo?"
Need berkedip mendengar gumaman dari Leon, "M-maksudnya? Apa maksud ucapanmu? Manusia bernama Rafa itu adalah.. Anak dia?"
Leon menatap Need sejenak dan mengangguk. Pemuda di depannya tampak menepuk wajahnya dengan ekspresi kesal.
"Pantas saja saat melihatnya pertama kali, aku merasa kesal," gerutu Need dalam hati.
__ADS_1