
Leon duduk bersandar di pohon. Ia masih berada di tempat yang sama.
Walaupun sudah menghabisi Teddy, namun ia merasa lelah. Ia tidak terbiasa melakukan hal seperti ini. Ditambah, mentalnya sedikit terguncang. Dalam ingatannya, ini adalah kali pertama dirinya membunuh seseorang. Sehingga hal ini membuatnya merasa bersalah.
Ia tidak bermaksud untuk membunuh pria itu, tapi dia membuat dirinya merasa terancam dan pada akhirnya tanpa sengaja malah membunuhnya.
Lengannya pun kini masih berlumuran dengan darah, walau kukunya sudah memendek seperti sebelumnya.
"Sekarang bagaimana caraku untuk pergi menemui mereka?" gumam Leon. Ia berdiri dengan perlahan dan mendekati mayat Teddy. Ia akan mencari ponselnya dan mencari tahu letak rumah sakit.
"Maafkan aku," gumam Leon saat di depan Teddy. Setelah meminta maaf, ia segera menggeledah isi pakaiannya dan menemukan benda kotak datar di jaket pria itu.
Dibukanya ponsel itu dan ditelusuri. Sebelumnya ia pernah diajarkan cara menggunakan ponsel oleh Rafa untuk jaga jaga bila suatu waktu ia tersesat. Dengan begitu, ia tinggal mencari tahu letaknya berada dan kembali. Namun ia juga diajarkan bagaimana cara mengirim pesan, balasan pesan dan menelepon.
Leon terdiam saat melihat latar tampilan ponsel. Itu adalah foto Teddy bersama dengan Katly. Namun ada pula seorang pemuda di foto. Ia belum pernah melihatnya. Walau begitu, mereka bertiga tampak begitu senang.
Melihatnya, membuat perasaan Leon semakin tidak enak. Ia sudah merenggut nyawa seseorang dan hal itu akan membawa kesedihan bagi orang lain yang dekat dengan Teddy, "Maaf.."
***
"Sebenarnya kemana dia pergi? Aku sudah mencarinya ke seluruh tempat, tapi dia tidak ada," gumam Rafa sambil berjalan cepat ke sana kemari di lorong. Ia melihat setiap ruangan melalui kaca, namun tidak menemukan Kevin.
Ia juga sudah mencarinya ke toilet dan tempat makan di rumah sakit ini, namun tetap tidak ditemukan. Ia menjadi khawatir. Terlebih infus yang tergeletak di kamar Kevin tercabut dengan paksa. Jika saja ia menjaganya di ruangan dan tidak pergi ke halaman depan, ini pasti tidak akan terjadi.
Setelah merasa lelah terus mencari, akhirnya Rafa kembali ke kamar Kevin, berharap melihatnya ada di sana. Baru saja ia mengharapkan sesuatu, harapan itu sudah ada di depan matanya, "Kevin..!!"
Ia segera masuk ke dalam dengan tergesa gesa dan berdiri di depan tempat tidur pasien. Ia merasa begitu lega saat melihat keadaan Kevin baik baik saja. Bahkan infus yang tergeletak di lantai tadi terpasang kembali di tangannya dengan baik. Hanya saja..., ia baru menyadari kehadiran orang lain.
Rafa menatap pemuda berkaca mata dengan jas putih berdiri dekat tiang infus. Dia terlihat begitu muda bila dibandingkan dengan dokter dokter lain yang ia lihat di rumah sakit ini.
__ADS_1
"Ah, halo! Maaf apa kau adalah saudaranya?" tanya Ash dengan senyum.
"T-tidak, aku temannya," balas Rafa dengan canggung. Ia pun pada akhirnya menatap Kevin. Namun temannya itu langsung mengalihkan wajahnya darinya seperti dia sedang marah.
Ash menyipitkan matanya. Ia seperti pernah melihat wajah Rafa. Bahkan berkali kali ia melihatnya. Ia pun menatap ke atas untuk mengingat ingat.
"Um.. Kev, aku minta maaf karena sudah meninggalkanmu sendiri di sini," ucap Rafa dengan kepala tertunduk.
"Aku baik baik saja sendiri. Selain itu, apa kau yang menelepon orang tuaku dan mengatakan bagaimana kondisiku sekarang?" Kevin kini mulai memandang Rafa dengan ekspresi datar.
Rafa menegakkan kepalanya dan menatap Kevin, "I-iya aku mengabari mereka semalam. Saat itu... Aku sangat panik dengan keadaanmu, jadi kupikir mereka harus mengetahui kondisi anaknya yang masuk rumah sakit. Apa kau... tidak suka bila aku mengabari mereka? Mereka mengatakan akan datang hari ini, tapi aku belum melihatnya."
"Mereka sudah datang kemari. Mereka juga menemuiku. Namun lain kali, jangan pernah menelepon mereka lagi jika ada sesuatu yang terjadi padaku. Untuk sekarang, kau pulang saja. Atau lebih baik kau tinggal di rumah teman sementara ini."
Setiap perkataan Kevin seolah tanpa emosi. Dia sama sekali tidak menunjukkan emosi apapun. Baik sedih, marah ataupun senang.
"Lupakan, itu bukan salahmu," Kevin memalingkan wajahnya kembali ke arah lain. Ia seolah enggan untuk menatap Rafa.
"Ah! Aku baru ingat! Kau orang yang dikatakan oleh ayah! Namamu Rafa 'kan?" ucap Ash secara tiba tiba.
Rafa sedikit kaget dengan suara Ash yang tiba tiba keras. Ia menatap dokter itu dan mengangguk, "Iya, namaku Rafa. Tapi... bagaimana dokter bisa tahu?"
"Dia anak yang sopan, tidak seperti Kevin," batin Ash sambil tersenyum sendiri.
"Ayahku sering menunjukkan fotomu padaku. Yah.. walaupun dia mungkin memotretmu secara diam diam tanpa izin. Dia mengatakan kau adalah orang yang membuatnya tertarik dan ingin mengajakmu menjadi pemburu. Haish.. Maaf bila dia sudah membuatmu bingung dan kerepotan," ucap Ash sambil menggaruk belakang lehernya.
Rafa berkedip beberapa kali, "Ayah dokter? Maksudnya paman Teddy?"
"Iya, dia ayahku."
__ADS_1
Rafa kembali berkedip beberapa kali. Ia merasa tidak percaya ternyata Teddy memiliki anak selain Katly. Bukankah ini artinya dia adalah kakak gadis itu? Wah ia tidak menyangkanya sama sekali.
"Hebat sekali. Aku tidak mengira bila paman memiliki putra. Bahkan bekerja sebagai dokter," ucap Rafa dengan nada kagum.
"Ah, tidak perlu memuji seperti itu. Aku biasa saja," walau mengatakan itu, sebenarnya Ash suka mendapat pujian. "Oh iya, namaku adalah Ash. Senang bertemu denganmu."
Rafa tersenyum senang, "Namaku Rafa. Senang bertemu dengan dokter Ash."
"Tidak perlu memanggilku begitu. Panggil saja kak Ash."
"Baiklah.. Oh! Maaf sebelumnya, apa aku bisa meminjam ponselmu kak Ash? Aku ingin menelepon paman Teddy. Sudah sejak tadi dia berangkat, tapi dia belum juga kembali."
Ash mengangkat sebelah alisnya, "Memangnya ayah kenapa? Dia pergi kemana?"
Rafa terdiam. Sepertinya Teddy tidak mengatakan apapun soal kejadian semalam pada Ash. Dia juga tidak mengatakan bila dia pergi ke rumahnya pagi ini. "Sebelumnya aku ingin menjemput Leon, saudaraku di rumah. Karena dia sendiri di sana. Lalu paman mengatakan bila dia yang akan pergi dan menyuruhku istirahat.
Tapi karena ponselku rusak tadi pagi, jadi aku tidak bisa meneleponnya dan Kevin tidak memiliki nomornya. Ditambah, aku tidak ingat berapa nomor ponsel paman."
"Aku sejak tadi sudah mencoba menghubunginya. Tapi ayah tidak mengangkat telepon dariku," Ash kini mulai khawatir. Ia tiba tiba merasa tidak enak, seperti ada hal buruk yang terjadi pada ayahnya.
Ash pun meminta alamat rumah Rafa agar bisa menyusul ayahnya. Tanpa curiga atau waspada padanya, Rafa mengatakan tempatnya tinggal.
"Kalau begitu, aku pamit permisi. Aku harus kembali. Lalu Kevin, jaga dirimu baik baik. Rafa, aku titip dia padamu," Ash langsung bergegas pergi. Ia akan meminta waktu istirahat yang lebih lama untuk pergi mencari ayahnya.
Teddy memang sudah dewasa dan bisa menjaga diri, terlebih dia adalah seorang blizt, seharusnya dirinya tidak khawatir dengan kondisi ayahnya. Tapi entah mengapa, ia merasa harus mencarinya.
...****************...
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444 H. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir Dan Batinπππππ
__ADS_1