
Penjelasan panjang dari Kevin membuat Teddy terdiam. Sementara Rafa mulai membuka kembali mulutnya dengan senyum sinis, "Omong kosong apa yang kau ucapkan itu? Bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi? Kau berpindah dari rumah ke sebuah hutan dan kembali lagi? Apa kau sedang mengigau?"
"Aku serius. Hal itu bisa saja terjadi. Kau sudah melihatnya sendiri kemarin. Orang asing yang menyerang kita, dia membuat tanganku terpotong hanya dengan tebasan tangan jarak jauhnya. Padahal dia tidak memegang senjata tajam apapun. Kau pikir, setelah melihat itu, ucapanku masih tidak benar?" balas Kevin sambil menggeleng.
Rafa dibuat bungkam setelah mendengar ucapan temannya. Ia benci mengakui kejadian itu adalah hal nyata, tapi memang begitulah keadaannya. Bahkan jika Teddy tidak percaya dengan yang terjadi, ia memakluminya. Karena kejadian itu sulit diterima akal sehat.
"Bagaimana ciri ciri anak itu?"
Melihat Teddy yang percaya dengan ceritanya, membuat Kevin merasa sedikit senang, "Dia anak berumur 10 tahun. Matanya berwarna merah. Dia selalu memperlihatkan wajah tanpa ekspresi."
Teddy mengangguk. Ia pun berdiri dari posisi duduknya dan menatap keduanya bergantian, "Apa ada dari kalian yang memiliki fotonya?"
Rafa terlihat sedikit ragu, "Aku... Sebenarnya memiliki itu."
"Bagus! Aku ingin lihat. Mendengar cerita kalian, aku menjadi tertarik dengannya," Teddy nampak bersemangat saat membahas hal ini. Karena dalam cerita Kevin, disebutkan dunia iblis. Ini membuatnya merasa penasaran. Sejak dulu ia memang berpikir ada dunia lain dimana para iblis yang terkadang masuk ke dunia manusia itu tinggal. Lalu para iblis masuk ke dunia manusia melalui celah dunia atau celah dimensi antara dunianya dengan dunia itu.
"Aku memilikinya, tapi ponselku tidak sengaja terjatuh di kamar mandi dan mati," ucap Rafa dengan lemas.
Teddy menepuk wajahnya sambil menghela nafas. Sepertinya ia harus melihatnya secara langsung. Ia melirik Rafa diantara sela jarinya, "Rafa, apa yang membuatmu terus membelanya? Selama mendengar perdebatan kalian, kau masih terus mempertahankan Leon berada di rumahmu. Apa alasanmu?"
Kevin pun ikut menatap Rafa. Ia kesal karena temannya terus membela Leon. Padahal anak itu bukanlah siapa siapa dan mereka tidak memiliki hubungan apapun.
Rafa terdiam sesaat sambil menatap Teddy. Setelah memikirkan jawabannya dengan baik, ia pun membuka suara, "Aku sudah bersama dengannya selama beberapa minggu ini, selama itu kami jadi memiliki kenangan yang sama. Bila digambarkan, dia seperti adik untukku. Jadi aku tidak ingin dia pergi dari rumah.
__ADS_1
Saat itu aku pernah hampir kehilangannya. Dia pergi tanpa mengucapkan apapun. Aku khawatir sesuatu yang buruk terjadi padanya. Sejak itu aku menyadari, aku seperti merasakan suatu ikatan dengannya. Aku tidak ingin dia pergi dan aku tidak ingin kehilangannya."
"Bahkan bila kehadirannya mengundang bahaya? Seperti yang sudah terjadi sekarang."
Rafa terdiam saat mendengar ucapan Teddy. Kejadian semalam adalah kejadian yang sangat menyeramkan untuknya. Nyawanya seolah bisa hilang kapan saja. Anggota tubuhnya pun bisa saja terpotong tanpa ia sadari. Itu adalah perasaan yang begitu mengerikan yang pernah ia alami.
"Aku yakin Leon bukan penyebabnya dan jika kehadirannya memang terbukti membawa bahaya..," Rafa mengepalkan tangannya. "Aku akan berusaha untuk tetap di sisinya. Aku tahu, aku tidak memiliki kemampuan untuk bertarung. Jangankan melindungi orang lain, aku saja tidak bisa melindungi diriku sendiri."
"Kalau begitu, lupakan untuk tetap membiarkannya tinggal di rumahmu," potong Kevin dengan ekspresi datar.
Rafa melemaskan kepalan tangannya dan langsung menatap Kevin, "Tapi setelah kejadian ini, aku tidak mau hal hal buruk terjadi. Aku tidak mau hanya bersembunyi dan mengandalkan orang lain, termasuk kau. Aku tidak ingin terus mengandalkanmu dan bersembunyi di balik bayanganmu untuk mendapatkan perlindungan.
Aku akan berusaha dengan kemampuanku sendiri. Suatu hari, aku akan melindungi Leon. Bahkan bila keadaan sama terjadi seperti semalam, aku akan berusaha semampuku untuk melindunginya. Tidak hanya Leon, aku juga akan melindungimu. Nanti bukan kau yang melindungiku, melainkan aku yang akan melindungimu."
Rafa beralih menatap Teddy, "Karena hal itu, aku minta maaf atas penolakan yang selalu kukatakan padamu, paman. Aku mohon binbingan darimu, tolong ajarkan aku cara bertarung. Ajarkan bagaimana aku bisa menjadi kuat. Ajarkan bagaimana caranya agar aku bisa melindungi diriku sendiri dan sesuatu yang berharga untukku."
Kini Teddy yang terkejut mendengar ucapan Rafa, "Jadi.."
"Tapi bukan berarti aku menerima penawaranmu, paman. Karena aku tidak mau menjadi pemburu makhluk yang lebih kuat atau semacamnya. Aku hanya ingin kemampuan untuk melindungi diri sendiri dan orang lain. Yang kubutuhkan adalah itu. Aku mohon..., tolong ajarkan aku," Rafa membungkukkan tubuhnya dengan mata terpejam.
Teddy terdiam. Ia nampak memikirkan keputusan apa yang harus dibuatnya.
"Aku tidak ingin kejadian semalam sampai terulang. Aku tidak ingin kehilangan Kevin, Leon ataupun orang orang terdekatku. Aku mohon, ajarkan aku cara bertarung," ucap Rafa yang masih membungkukkan tubuhnya.
__ADS_1
Teddy menggaruk kepalanya sambil menghela nafas, "Hah..., apa boleh buat? Kau sepertinya memiliki motivasi kuat sekarang. Aku tidak bisa menolak keinginanmu. Setelah kau sembuh, kita akan memulainya."
Rafa menegakkan kembali tubuhnya. Ia berekspresi serius, "Tidak, ajarkan aku satu minggu lagi. Aku pasti akan segera pulih. Tidak apa bila aku belum sepenuhnya pulih, paman hanya perlu melatihku dari hal ringan terlebih dahulu."
"Hah? Kau bercanda? Kondisimu akan semakin parah bila seperti itu."
"Yang terluka cukup parah hanya tangan kiriku. Anggota tubuhku yang lain baik baik saja dan tidak mengalami cedera serius. Aku mohon, lakukan satu minggu lagi."
Teddy merasa sulit bila harus mengabulkan keinginan Rafa itu. Seharusnya membutuhkan 1-4 bulan untuk bisa sembuh dan tidak menggunakan gips. Satu minggu masih'lah tahap pemulihan. Apa itu akan baik baik saja?
Kevin yang sejak tadi terdiam, kini mulai membuka suara, "Tidak, jangan melakukannya. Kau harus sembuh. Jangan melukai dirimu sendiri dengan latihan berat seperti itu."
"Aku harus melakukannya! Aku tahu kemampuan bertarung tidak akan bisa didapatkan hanya dengan 1-2 hari. Itu membutuhkan waktu yang lama. Apalagi yang dihadapi adalah orang yang memiliki kekuatan di luar akal sehat manusia. Aku tahu itu mustahil bila melawannya.
Apalagi aku masih awam dalam hal seperti itu. Tapi Kevin, kau harus tahu. Aku... tidak ingin melihatmu terluka seperti ini. Aku tidak ingin menjadi beban untukmu. Setidaknya aku ingin bisa melindungi diriku sendiri tanpa menjadi beban untukmu."
Rafa begitu bertekad. Dilihat dari pancaran mata dan ucapannya. Ia sebelumnya tidak pernah begitu termotivasi. Namun sejak kejadian itu, ia tidak ingin hal seperti ini terulang. Kini mungkin hanya satu tangan Kevin yang terpotong. Lalu selanjutnya? Apakah kedua kaki mereka akan terpotong? Apakah perut mereka akan terbelah? Ataukah leher mereka yang akan terpotong? Ia tidak mau hal itu terjadi di kemudian hari.
"Baiklah jika itu yang kau mau. Aku akan menurutinya. Tapi jika lukamu semakin parah, kita harus berhenti dan aku akan melatihmu setelah kau pulih sepenuhnya. Bahkan bila itu membutuhkan waktu sampai berbulan bulan, aku tidak peduli. Bila kau protes saat itu, aku pun tidak akan mendengarkannya. Apa kau mengerti?" Ucap Teddy dengan serius.
Mulut Rafa tertarik ke atas membentuk senyuman. Ia begitu senang saat permintaannya dikabulkan seperti ini, "Baik, terimakasih banyak paman!"
Di sisi lain, Kevin mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia menggertakkan giginya karena merasa kesal. Ia tidak bisa mengungkapkan kekesalan itu dan hanya bisa memendamnya dalam hati, "Kenapa kau tidak mau mengandalkanku lagi? Apa karena sekarang aku cacat satu tangan, sehingga kau sudah tidak percaya padaku?!
__ADS_1
Apakah kehilangan satu tangan membuatku sampai selemah itu, sampai aku harus membiarkanmu melindungiku?! Kenapa menjadi seperti ini?! Apa kini aku tidak bisa diandalkan? Apa sekarang aku sudah tidak dibutuhkan? Apa sekarang aku menjadi beban? Kenapa hal ini terjadi padaku?! SIALAN!"