
Akhirnya semua mayat mayat telah lenyap. Sebagian besar dari mereka masih terbakar oleh besarnya api. Namun semuanya sudah berhenti bergerak. Kini Radolf maupun Need bisa bernapas lega. Mereka menatap sekitar dan belum mengendurkan kewaspadaan.
Setelah beberapa menit memperhatikan, tidak ada tanda tanda kedatangan mayat lain. Mereka pun mundur dengan perlahan dan berjalan mendekati Rafa yang nampak masih berlutut di samping Nevan.
Radolf berekspresi khawatir, "Kalian baik baik saja?"
Rafa yang telah selesai dengan urusannya langsung menghela napas. Dia seperti sedang mengatur napasnya yang sedikit tidak beraturan karena marah. Matanya yang sempat berwarna merah berubah kembali menjadi warna ungu. Ia pun berbalik menatap ayah dan teman ayahnya, "Tidak apa."
Radolf mengerutkan kening ketika melihat Nevan yang terbaring tidak sadarkan diri di dekat anaknya, "Anak itu.. Apa yang terjadi padanya?"
"Nev hampir sekarat. Tapi dia sekarang baik baik saja," Rafa menggeleng dan mendesah.
"Hmph, sudah kukatakan jika dia itu lemah. Terbukti di sini, selama perjalanan, kita terus mendapat kendala karena anak itu," Need berujar dengan ketus.
Rafa menatap Need dengan raut kesal, "Dia tidak selemah itu. Lagi pula, selama ini dia juga membantu."
Need memincingkan matanya dengan raut datar, "Tapi orang yang terus mendapatkan luka itu dia. Bantuannya tidak berdampak begitu banyak. Malah kau yang terus menyembuhkannya. Dia hanya menjadi beban saja di sini."
"Kau mengatakan itu, seolah kau yang paling hebat saja," sindir Rafa.
"Ap–" Need mengepalkan tangannya.
Radolf menghela napas, "Sudahlah... Jangan ribut di sini. Sekarang yang lebih penting adalah apa yang terjadi."
Need mengatur napasnya yang sedikit tidak beraturan. Ia pun membuang muka dari Rafa dan menatap Radolf, "Tempat ini memiliki pelindung energi. Tapi walaupun sudah mengalahkan mereka semua, pelindung ini masih tetap ada. Berarti pelindung ini mungkin dimaksudkan untuk menjaga penduduk di sini."
"Tapi kupu kupu tetap bisa masuk kemari. Berarti ini hanya pelindung biasa untuk mencegah monster masuk. Karenanya, tidak ada satu pun monster yang membuat keributan di sini," ucap Radolf.
"Mayat hidup itu menggila saat mencium darah. Tapi kenapa mereka terkunci dari luar? Bukankah artinya ada iblis lain yang sudah kemari?" balas Need sambil menatap para mayat yang kini masih terbakar.
Rafa ikut berkomentar, "Tidak ada kerusakan sebelumnya. Lalu pintu terkunci dari luar. Obor yang menyala tanpa satu pun iblis yang masih hidup. Artinya ada iblis lain sebelum kita kemari. Kemungkinan itu adalah 90%."
Walaupun merasa tidak senang dengan ucapan Rafa sebelumnya, namun kini Need setuju dengan ucapannya. Apa yang dikatakan pemuda itu benar, "Namun iblis seperti apa yang bisa bertarung melawan mereka tanpa menimbulkan kerusakan sama sekali? Dia bahkan sempat sempatnya menyalakan obor. Kenapa dia tidak langsung menghabisinya saja? Tapi malah membiarkan mereka hidup dan mengurungnya di rumah."
__ADS_1
Radolf tertegun mendengar ucapan Need. Kata katanya memang benar. Tapi jika memikirkannya di keadaan seperti ini, sepertinya sulit mendapat jawaban. Mereka harus tenang lebih dulu dan baru memikirkannya lebih jauh, "Lebih baik istirahat saja sebentar untuk sekarang."
Need mengerutkan kening dengan raut tak setuju, "Aku masih bisa berjalan. Ini bahkan bukan suatu masalah sama sekali."
"Manusia tidak sama dengan iblis. Salah satu yang membedakannya adalah kekuatan fisik. Lalu, kita juga sudah banyak bertarung, lalu terluka. Untuk kebaikan nantinya, sebaiknya istitahat terlebih dahulu," balas Radolf sambil menatap Rafa.
Pemuda itu pun mengangguk setuju. Ia juga terlalu lelah sekarang dan tidak kuat lagi jika harus terus berjalan.
Need menghela napas kasar, "Terserah kalian saja!"
Ia mulai berjalan menuju salah satu rumah sambil terus menggerutu. Ia tidak suka bila harus berhenti dan beristirahat. Keadaan membuatnya merasa itu tidak boleh dilakukan. Namun alasan yang dikatakan Radolf ada benarnya. Ia sendiri merasa sedikit kelelahan dan berusaha sebaik mungkin untuk tidak menunjukkannya. Apalagi rasa sakit di bahu dan tubuhnya, membuat rasa perih menjalar. Ia harus pura pura mengalah.
"Biar ayah yang membawanya," Radolf berniat menghentikan Rafa yang mengangkat Nevan. Namun justru bantuannya ditolak.
"Aku bisa melakukannya Ayah. Sebaiknya Ayah istirahat saja. Aku akan menyembuhkan Ayah juga nanti," Rafa merangkul pinggang saudaranya dan mengkalungkan lengan Nevan di lehernya. Ia pun berkalan mengikut Need.
Radolf menggeleng dan berjalan di belakang anaknya.
Mereka pun masuk ke salah satu rumah yang terbuat dari kayu. Nampak sederhana, namun terdapat sedikit cipratan darah di dalamnya. Hal ini membuat rumah sedikit menyeramkan, namun mereka tetap masuk ke sana dan beristirahat di ruang depan. Sedangkan Nevan dibaringkan di suatu kamar.
Semua begitu tenang tanpa ada suara apapun. Hingga suara langkah kaki bisa didengar oleh Need, maupun Radolf. Mereka berdua memiliki pendengaran yang lebih tajam bila dibandingkan dengan Rafa. Karenanya, Rafa tidak mendengar suara langkah itu dan masih bisa bersikap tenang.
Tapi tidak dengan kedua iblis itu. Mereka segera berdiri dan membuat Rafa terheran heran, "Kalian akan pergi kemana?"
"Tunggu di sini," ucap Radolf dengan suara amat pelan. Ia dan Need saling menatap sejenak sebelum akhirnya berjalan keluar.
Rafa menuruti ucapan Ayahnya dan tetap di dalam rumah meski rasa penasaran menyelimuti dirinya.
Dari depan rumah, kini kedua iblis itu bisa melihat seseorang yang berjalan dengan tertatih, bahkan sampai harus dibantu dengan sepotong balok kayu setinggi bahunya.
Wajahnya terlihat samar karena dia masih berada cukup jauh dari mereka. Walau begitu, keduanya tidak mengendurkan kewaspadaan dan tetap melihatnya baik baik. Mereka seakan bersiap jika itu adalah mayat hidup seperti sebelumnya.
Namun apa yang mereka pikirkan seketika menghilang ketika melihat keadaannya. Pakaiannya koyak hingga memperlihatkan sedikit bagian tubuh atasnya. Darah berceceran selama dia berjalan. Bahkan ekspresinya nampak tidak baik.
__ADS_1
Radolf dan Need tertegun ketika melihat wajah dari sosok yang berjalan itu. Namun sepertinya dia tidak menyadari kehadiran mereka ataupun keadaan sekitar.
"F-Flynn?"
Pria dengan rambut oren itu menundukkan kepalanya. Namun saat mendengar suara keterkejutan besar yang masuk ke gendang telinga, ia perlahan menoleh ke samping dan melihat dua iblis yang berdiri di depan sebuah rumah. Matanya sedikit memincing untuk memperhatikan dengan jelas wajah itu hingga ekspresinya berubah terkejut.
"D-dia.. Bagaimana bisa dia berada di sini? Dan lagi.. Kenapa dia bersama dengan tahanan itu?" gumamnya.
Belum sempat berpikir dengan baik, kedua iblis yang memanggilnya itu sudah berada di dekatnya. Ia tertegun sejenak dan memandangi Need, "Kau.. Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana bisa kau ada di sini? Seharusnya kau masih berada di dunia manusia."
"Kau sendiri? Kenapa sudah berada di sini? Ah–lupakan itu. Keadaan sekarang bahkan jauh lebih penting," balas Need.
Flynn berkedip beberapa kali. Need menanyakan hal seperti itu padanya? Panglima yang tidak pernah mempedulikan apapun, selain perintah dari Tuannya itu mengucapkan hal yang tidak mungkin untuk diucapkan? Ia benar benar tidak percaya ini, "K-kau.. Bicara padaku?"
"Siapa lagi?" Need memandang datar, seolah tidak peduli dengan rasa keterkejutan yang dialami Flynn ini.
"Apa yang terjadi?" Radolf buka suara dan hal ini membuat pusat perhatian Flynn tertuju padanya. Dia menatap pria bermata hitam itu.
"Kenapa kau bisa berada di sini? Seharusnya kau masih berada di bawah naungan Raja Stev–tidak, apa mungkin karena itu..?"
Need mengerutkan kening ketika mendengar ucapan Flynn yang menggantung. Ia tidak bisa untuk tidak bertanya, "Apa maksudmu?"
Flynn lama terdiam sebelum akhirnya menatap Radolf, "Apa kerajaan Raja Stev hancur karena masalah ini? Karena monster dan mayat hidup itu?"
Radolf berekspresi bingung. Ia tidak tahu bagaimana harus berekspresi sekarang ini.
Tatapan Flynn kini terarah pada Need, "Atau.. Ini karena kau berkhianat dan melepaskannya, Pang-li-ma-Need?" Flynn mengucapkan satu persatu kata itu dengan tatapan sinis.
Pemuda itu nampak tersentak mendengar ucapan Flynn. Ia menggeleng, "Sebaiknya kau tidak memancingku atau kau akan tahu akibatnya."
Nadanya terdengar mengancam, namun hal ini tidak membuat Flynn takut sama sekali. Dia malah mencemooh, "Apa ucapanku benar? Kau sudah mengkhianati kami semua? Lalu kau kini berpihak padanya, huh?"
Need tanpa ekspresi langsung mencengkram leher Flynn hingga membuat pria berambut oren itu tersentak karena tidak menduga akan hal ini. Dia terlihat kesulitan bahkan kedua tangannya langsung memegang Need dan berusaha lepas. Tapi sayang, Need tidak membiarkan itu dan malah semakin kuat mencengkramnya.
__ADS_1
"Sebaiknya tutup mulutmu jika kau tidak tahu apapun. Jangan berpikir jika aku tidak bisa menghabisimu. Lagi pula, kau seperti ekor cikcak yang terputus sekarang. Terus bergerak, namun tanpa ada tubuh.
Biar kuberitahu, iblis yang selalu berada di depanmu itu kini sudah mati. Kau tidak akan bisa mendapatkan perlindungan apapun darinya. Jangankan mendapat bantuan itu, kau bahkan tidak akan bisa menemuinya, kecuali kau pergi ke akhirat."