
Ray terdiam mendengar ucapan Ken. Ia sedikit kagum mendengarnya. Namun disisi lain, rautnya berubah masam, "Seharusnya dengan itu saja kau sudah tahu siapa aku. Kenapa kau tidak menjauhiku?"
Ken mengerucutkan bibirnya dengan alis yang bertautan, nampak heran ketika mendengar ucapan itu, "Memang kenapa?"
Tanpa mengucapkan kata kata, Ray melepaskan ikatan tali yang ada di kepalanya. Ia membuat kening yang selalu tertutupi kain hitam itu terlihat. Sebuah simbol rumit terlihat di tengah keningnya. Ukurannya tidak besar, hanya sekitar selebar ujung hidung dekat mata.
Seharusnya sudah banyak yang tahu tentang simbol di kening itu. Karena hanya beberapa keluarga yang memiliki suatu simbol secara turun temurun. Apalagi simbol yang dimiliki Ray. Setelah kejadian besar dahulu, seharusnya semua iblis tahu tentang simbol ini.
"Lalu kenapa dengan itu?" Ken masih memperlihatkan ekspresi yang sama walau sudah ditunjukkan simbol itu. Berbeda dengan Need yang terkejut saat melihatnya.
Ken melanjutkan, "Kau masih iblis yang sama. Kau masih tetap Ray, bukan orang lain. Jangan berpikir hanya dengan mengetahui identitasmu, akan mengubah cara pandangku padamu. Aku tidak akan marah atau membencimu."
Ray dibuat diam. Ia mencengkram ikat kepala yang ada di tangannya. Raut wajahnya memperlihat keterkejutan. Respon yang diperlihatkan Ken jauh berbeda dari yang ia pikir.
"Tapi serius, apa kau sebegitu tidak percayanya padaku? Pada semua teman yang lain? Kau takut kami akan marah dan membencimu, lalu menghabisimu? Begitu?" nada Ken kini sedikit berubah. Ekspresinya pun menjadi serius.
"...Aku marah dan kecewa karena kau tidak mengatakan identitasmu yang asli, seolah kami adalah orang asing yang bahkan tidak boleh mengetahui identitas aslimu."
"Bukan begitu–"
"Setelah ini, katakan identitasmu yang asli pada yang lain jika kau percaya pada mereka, dan.... Padaku."
Ray tercekat mendengar ucapan Ken. Ia sebenarnya belum berani mengatakan identitasnya. Dulu ia pernah melakukan kekacauan yang besar. Menghancurkan banyak tempat dengan kemampuan api hitam tak terkendali.
Lalu pada akhirnya membuat permusuhan bahkan dengan kerajaan yang menaungi keluarganya tinggal. Baik bagian cabang maupun keluarga inti. Karena kesalahannya ini, keluarganya dibantai secara besar besaran.
Anggota kerajaan dan iblis iblis yang menyerang tidak tahu wajahnya dan hanya terus menghabisi satu keluarga atas titah dari Raja Iblis saat itu. Kemampuan yang dimiliki keluarganya sebagian besar adalah api dan banyak dari mereka yang belum bisa mengeluarkan kemampuan yang diwariskan secara turun temurun itu.
Hanya saja, dirinya istimewa diantara keluarganya. Ia bisa mengeluarkan api hitam tapi kekurangannya, kekuatan itu tidak stabil dan sulit dikendalikan. Ia sudah sering dilindungi keluarganya atas tuduhan penghancuran tempat tempat dan menghabisi banyak nyawa dengan api hitam yang tidak pernah padam.
__ADS_1
Melawan iblis terlatih dan kuat dengan jumlah yang melebihi anggota keluarga, membuat mereka kalah. Hanya Ray yang selamat atas kejadian itu. Selanjutnya, mulai dari sana Ray selalu menutupi keningnya agar tidak ketahuan bahwa dirinya bagian dari keluarga itu. Jika dia ketahuan, maka nyawanya akan terancam.
Apalagi berita tentang hancurnya keluarga itu tersebar ke seluruh dunia iblis. Orang orang yang memang memiliki dendam dengan keluarga itu pun bisa menghabisi Ray jika ketahuan dirinya adalah bagian dari keluarga itu. Keluarga yang dicap sebagai salah satu keluarga terkuat tiba tiba saja hancur, tentu berita ini baik bagi siapapun yang menjadi musuh atau saingannya.
Leon menepuk punggung Ray dengan sedikit keras, bermaksud untuk mengunci kemampuan Ray kembali. Karena dari yang ia lihat, pemuda itu seperti akan kehilangan kendali.
Namun apa yang ia lakukan malah membuat Ray terkejut. Ia menoeh ke belakang. Tepukan itu seperti sedang menyemangatinya tanpa kata. Itu yang ia pikirkan. Matanya pun beralih menatap Ken. Ia menarik napas panjang dan berucap dengan satu tarikan napas, "Baiklah, aku akan mengatakan ini pada yang lain nanti. Biarkan aku sendiri yang mengatakannya nanti. Dan tolong, jangan marah padaku."
Ken menarik senyum yang sempat menghilang dari wajahnya. Ia pun mendekati Ray dan menepuk nepuk siku tangan pemuda itu, "Kau sudah tahu aku tidak akan marah hanya karena itu 'kan?"
Ken menghentikan aktivitasnya dan menatap temannya dengan senyum yang mengancam bagi Ray, "Tapi jika kau melukai yang lain, apalagi Leon, aku tidak akan segan untuk marah padamu dan melampiaskannya."
Ray mengangguk cepat. Itu bukanlah ancaman. Tapi itu sungguhan. Ucapan temannya ini selalu serius jika menyangkut Leon ataupun semua teman yang lain.
"Baiklah, sekarang masalah sudah selesai. Ini semua berkatmu, Ray! Kau hebat! Aku tidak tahu kau yang seperti ini bisa memiliki kemampuan sehebat itu,"
Pujian dari Ken membuat suasana hati Ray kembali normal. Ia mendengus dengan senyum, "Huh, jangan berpikir jika aku tidak bisa melakukan apapun. Kemampuanku ini sangat kuat, tahu?"
Kini langit menjadi semakin gelap, membuat sekitarnya sulit terlihat. Namun karena sudah membiasakan diri di tempat gelap seperti ini, tidak membuat mereka kesulitan untuk melihat.
"Kau benar benar dari keluarga itu?" Need mendekati Ray dan nampak tak percaya. "Kupikir semua keturunannya mati tanpa sisa. Ternyata masih ada seseorang yang hidup ya? Aku pernah dengar berita tentang keluarga itu dan simbol milikmu, sama dengan yang ada di buku."
"Tentu aku masih hidup. Mungkin orang yang pernah menyerang keluargaku sebelumnya merasa ketakutan saat ini karena melihat targetnya berhasil lolos," Ray tertawa dengan sombong.
Need hanya tersenyum simpul mendapati reaksi Ray yang berlebihan padahal ia tidak memberikan pujian sama sekali.
"Sekarang kita harus kembali dan menyelesaikan masalah lainnya," ucap Kite dengan tiba tiba.
Ucapan itu tentu mengundang perhatian Leon dan Ken yang tidak tahu menahu kesalah pahaman apa yang baru saja tercipta.
__ADS_1
Namun Need dan Ray mengetahuinya. Need pun berucap, "Kalian semua pegangan. Kita akan pergi ke tempat berkumpulnya semua orang."
Leon mengerutkan kening, "Ada apa?"
"Nanti kau akan mengetahuinya setelah sampai di sana," Kite mengulurkan tangan pada Leon agar pemuda itu berpegangan padanya.
Tanpa banyak bicara lagi, Need segera mengirimkan mereka semua ke tempat berkumpul semua orang. Dengan saling menyatukan tangan atau bergandengan, membuatnya bisa semakin mudah dalam berteleportasi. Apalagi jumlahnya lebih dari dua seperti ini.
Saat sampai, Leon dapat melihat kekacauan di depannya. Orang orang saling mengobati luka masing masing. Menutupnya dengan perban yang dibawa tas milik Lym.
Satu persatu ia perhatikan dari kanan ke kiri. Genangan darah tercipta. Raut kesakitan dan satu manusia yang pingsan.
Saat melihat kedatangannya yang tiba tiba, seseorang langsung berlari cepat ke arahnya dengan raut senang, panik, khawatir, juga marah. Emosi itu bercampur aduk dari raut wajahnya.
"LEON! Akhirnya... Leon, dia.. Dia sudah bekerja sama dengan musuh dan membawa Rafa pergi!" tanpa basa basi, Nevan langsung menunjuk Kite dan mengatakan tuduhannya.
Leon menatap Nevan dan Kite bergantian. Ia tidak mengerti sama sekali, "Coba katakan dengan jelas. Aku tidak mengerti apa maksudmu."
"Saat itu.. Aku sedikit hilang ingatan setelah bangkit dari kematian 'kan?"
Leon hanya mengangguk.
"Lalu tadi, aku mengingat apa yang terjadi. Kalian berpikir jika aku mati akrena kupu kupu itu. Tapi sebenarnya tidak. Bukan kupu kupu itu yang membuatku mati, tapi DIA!" ucap Nevan seraya menunjuk Kite.
Seolah tak mau menimpali tuduhan Nevan padanya, Kite masih tetap diam dan menunggu agar pemuda itu menyelesaikan penjelasannya.
"Setelah itu, aku mengatakannya pada Rafa. Lalu Rafa, dia ingin mengatakannya padamu bahwa Kite yang sudah membunuhku. Tapi aku menolaknya dan mengatakan agar mengawasinya saja. Aku berpikir mungkin ini hanya kesalah pahaman dan dia tidak berniat membunuhku.
Tapi ternyata aku salah. Seharusnya sejak awal aku tidak melarang Rafa untuk mengatakan kejadian itu padamu. Jika saja aku membiarkan Rafa mengatakannya padamu, mungkin Rafa tidak akan dibawa seperti ini! Dan ini semua, pasti karena pembunuh ini!"
__ADS_1
Nevan tidak henti hentinya mencoba memojokkan Kite agar dia mengakui kesalahan dan berkata bila dia adalah bagian dari pihak musuh. Ia sungguh kesal dan panik karena Rafa menghilang.
Radolf, dan Ayahnya pun khawatir, tapi mencoba untuk tetap tenang. Tidak seperti Nevan yang berapi api.