
Ash dibuat terdiam oleh pertanyaan Rafa. Untuk apa dia peduli pada sejarah itu? Tidak ada yang menarik menurutnya dari sana. Tapi jika dia sepenasaran itu, maka akan ia jawab, "Memutus takdir dan aura yang menundukkan iblis dan blizt. Itulah kekuatan yang dia miliki."
"Memutus.. Takdir?" Rafa terlihat bingung. Ia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh pemuda itu. Namun bila artinya sama dengan yang ia pikirkan, maka itu adalah hal yang luar biasa.
"Bisa dikatakan, itu adalah semacam kekuatan yang bisa memutuskan nasib seseorang, mengubahnya menjadi takdir yang berbeda. Misalnya takdirku adalah menjadi pemburu, tapi kau memutuskan takdir itu dan membuatku menjadi dokter. Atau.. Kau memutuskan takdir ayah dan membuatnya tidak mengalami kematian itu."
Rafa melebarkan matanya ketika mendengar ucapan Ash. Bukankah itu adalah hal yang luar biasa? Apa sehebat itu kekuatan 'pengaruh mutlak'?
Ash terdiam sejenak ketika mendengar kata katanya sendiri. Jika ada orang seperti itu, ia mungkin sudah menculiknya dan memaksanya menghidupkan ayahnya kembali, "Tapi jika dia sampai bisa membuat seseorang hidup kembali, maka umur yang dia miliki pun akan berkurang setengah tahun."
Rafa kini tertegun setelah mendengar lanjutan ucapan Ash. Yah.., jika mendapat sesuatu yang besar, pasti membutuhkan pengorbanan yang besar pula. Seharusnya ia tidak heran dengan itu.
"Namun aku tidak percaya dengan keberadaan pemilik kekuatan itu. Jikalaupun ada, bukankah kekuatannya itu terlalu luar biasa? Bukankah itu sangat tidak adil? Dia seolah sudah ditakdirkan hidup dengan begitu kuat, bahkan terlalu kuat bila dibandingkan dengan makhluk hidup lain.
Bisa pula sejarah kekuatannya itu hanya dibesar besarkan oleh orang orang zaman dulu," lanjut Ash.
"Ah.." Rafa menjadi lemas ketika mendengarnya, "Itu memang benar. Pasti kekuatannya tidak akan sebesar itu," Rafa kembali merubah raut wajahnya dengan lebih baik, "Kalau begitu, aku akan pulang saja kak Ash. Ini sudah malam. Terimakasih untuk hari ini juga."
Ash hanya diam melihat kepergian Rafa. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu darinya, lagi. Namun ia tidak akan memaksanya untuk menjawab dan akan menunggu sampai dia mengatakannya sendiri.
Setelah naik ke lantai atas, Rafa langsung berjalan mendekati pintu keluar. Namun ketika hendak membukanya, seseorang memegang bahunya dari belakang. Ia terkesiap dan langsung membalikkan tubuhnya dan seolah siap untuk bertarung.
"Ternyata benar, itu kau."
Rafa menghela nafas saat melihat seorang gadis cantik yang berdiri di depannya. Rambut gadis itu tergerai panjang. Pakaian tidur berwarna biru dengan gambar kartun domba dikenakan olehnya.
__ADS_1
Melihat jika itu adalah Katly, Rafa langsung diam. Kenapa Katly berada di sini? Bukankah seharusnya dia sudah berada di kamar atas? Bahkan biasanya setiap ia akan pulang, Katly pasti berada di kamarnya. Kenapa dia ada di sini sekarang? Itulah yang ia pikirkan.
"Rafa, kenapa kau berada di rumahku malam malam? Ini sudah jam 11. Lalu.. Kenapa kau sudah berada di dalam? Bagaimana kau masuk?" tanya Katly berurutan. Ia berekspresi curiga. Pasalnya, Rafa tidak pernah ke rumahnya, walau tahu alamatnya. Lalu kenapa dia berada di sini sekarang?
"Ah.. Itu..," Rafa menelan ludah. Bagaimana ini? Ia tidak bisa memberikan alasan yang bagus untuk gadis itu.
"Aku yang mengajaknya kemari. Kemarin dia sangat penasaran dengan tugas dokter dan bagaimana kuliah kedokteran. Dia tertarik untuk menjadi dokter, jadi dia ingin berbicara denganku," ucap suara dari belakang Katly.
Katly segera berbalik dan melihat kakaknya dengan cemberut, "Kenapa kakak tidak mengatakan itu padaku? Jika kakak mengatakannya, aku pasti akan menyiapkan camilan dan aku juga tidak akan mencurigainya tadi."
"Ah, iya seperti itu. Tapi karena kak Ash hanya memiliki waktu ketika malam, jadi aku kemari sekarang. Aku juga hanya memiliki waktu saat malam. Maaf ya jika aku sudah mengganggu seperti ini," ucap Rafa dengan canggung sambil menggaruk tengkuknya.
Katly menatap Rafa kembali sambil tersenyum canggung, "Ah iya.. Aku juga minta maaf.. Aku tidak bermaksud untuk berpikiran buruk tentangmu. Aku hanya penasaran," ia terdiam sejenak dan menatap Ash serta Rafa bergantian, "Tapi bagaimana kalian bisa saling mengenal? Aku tidak pernah mengatakan jika aku memiliki kakak seorang dokter."
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya di rumah sakit. Dari sana kami saling mengenal. Sudah, jangan banyak bertanya. Ini sudah malam, dia pasti butuh isirahat. Kau juga, kenapa tidak tidur Lily? Bukankah aku sudah mengatakan agar jangan tidur lebih dari jam 9?" Ash tampak sebal. Ia mencubit kedua pipi Katly dan menarik nariknya.
Dengan segera, Katly bergegas kembali ke kamarnya tanpa melihat ke belakang lagi.
Rafa merasa lega ketika melihat Katly pergi dengan sendirinya. Ia menatap Ash dengan ekspresi tidak enak, "Maaf aku malah bertemu dengannya. Aku jadi membuat masalah untukmu."
"Tidak perlu dipikirkan. Yang penting Lily percaya. Lain kali kau harus lebih berhati hati. Jika dia terlalu sering melihatmu malam malam kemari, mungkin dia akan semakin penasaran dan mencari tahu."
"Aku akan lebih berhati hati. Kalau begitu, aku pamit kak," Rafa membuka kunci yang tergantung di pintu dan menarik pintunya. Ia bergegas keluar dan menutupnya kembali.
"Kalau begitu, aku sekarang tinggal mencaritahu bagaimana cara pergi ke dunia iblis dan cara menggunakan kekuatan itu. Tapi aku tidak yakin bisa menggunakannya," batin Rafa dengan ekspresi lesu.
__ADS_1
"...Jika.. Aku memang bisa menghidupkan seseorang, maka aku hanya memiliki dua kali kesempatan sebelum aku mati. Tidak terasa tinggal beberapa hari lagi sebelum umurku bertambah," batinnya.
***
"Sial, aku membuat terlalu banyak keributan. Sekarang penjagaan semakin diperketat," gumam Need.
Ruangan tempatnya berada saat ini sangat luas. Banyak pilar pilar besar yang menopangnya. Banyak pula cabang cabang jalan dan kamar kamar. Ia berada di balik tembok, tepatnya di koridor dan mengawasi ke bagian tengah ruangan itu. Padahal biasanya ia bergerak dengan leluasa di sini. Tapi sekarang ia seperti pencuri.
"Aku harus segera menemukan si sialan Radolf itu sebelum keributan semakin besar. Hah.. Lagi pula kenapa dia sulit sekali ditemukan? Menyusahkan saja," gumam Need sambil bergegas masuk lebih dalam ke koridor ini.
Saat baru saja membalikkan badannya, langkahnya terhenti. Ia mamatung dengan mata melebar. Tubuhnya kaku seolah membeku. Keringat mulai membanjiri keningnya. Nafasnya tercengkat di kerongkongan. Jantungnya seperti berhenti sesaat dan kemudian berpacu dengan kencang. Ia menelan ludahnya ketika melihat iblis yang paling tidak ingin ia temui sekarang. Raja Stev.
"Kenapa kau bisa berada di sini, Need?" tanyanya dengan raut dingin. Ia seolah tidak memiliki perasaan apapun ketika mengatakannya. Namun ucapan yang ia keluarkan memberikan tekanan bagi Need.
"Y-Yang Mulia.. Stev.."
"Bagaimana caramu kembali ke dunia iblis?"
Need menelan ludahnya. Ia merasa sulit untuk berbicara. Habislah..
Ketika tidak juga mendengar balasan dari Need, Stev semakin mendinginkan raut wajahnya. Ia tidak suka bila pertanyaannya diabaikan, "Apa kau tidak mendengarku?"
Bruukkk
Tubuh Need ambruk hingga berlutut di lantai. Kedua tangannya menyentuh lantai. Nafasnya benar benar tertahan. Ia tidak bisa bernafas. Aura yang kuat di sekeliling seolah mencekik lehernya.
__ADS_1
"Aku bertanya padamu, bagaimana caramu kembali ke dunia iblis? Kenapa kau pergi dari sana dan masuk diam diam kemari seperti pencuri? Apa mungkin kau yang sudah membuat semua keributan ini?" tanya Stev.