
Rafa mengeratkan giginya. Ia mencengkram kaki yang ada di atas perutnya dan menepis kaki itu. Tapi pria itu tidak hanya diam. Dia menendang tubuh Rafa hingga tubuhnya menggelinding di aspal dan berhenti setelah menabrak pohon di sisi jalan.
Rafa terbatuk darah. Injakan kakinya tidak main main, "Uhuk.. Uhuk.."
Pria itu masih berdiri di tempatnya. Ia sendiri masih kesakitan oleh luka sabetan di perutnya. Namun ia menahannya dan berpura pura seolah tidak merasakan sakit apapun, "Ck, ternyata hanya seperti ini kekuatan dari blizt itu. Padahal banyak yang takut bertemu mereka."
Rafa perlahan berdiri dengan dibantu oleh sikunya. Ia bukanlah blizt. Namun gurunya, saudaranya, pamannya dan ibunya adalah blizt. Ia tidak suka bila dia meremehkan dan memandang rendah orang orang itu.
"Jika kau berpikir seperti itu, maka kau akan menyesal," ucap Rafa dengan pelan.
Pria itu melebarkan matanya saat tidak melihat kehadiran Rafa. Ia melihat ke kanan dan kiri dengan gerakan cepat. Tatapannya menjadi waspada. Bukannya takut, ia malah semakin bersemangat. Ia suka bila berhadapan dengan orang orang kuat.
"Jangan bermain petak umpet seperti ini! Kau lemah ya? Jadi kau bersembunyi? Apa semua blizt memang seperti ini?" remehnya.
"Kau'lah yang lemah, dasar bodoh!"
Pria itu melirik ke atas. Namun tak sempat bereaksi, sebuah belati langsung menggoreskan luka yang cukup dalam di wajahnya, "Aaarghhh.."
Garis luka yang terbentuk dari mata kiri hingga pipi kanan membuatnya kesakitan. Ia menjerit dan mengibas ngibaskan tangannya ke atas, namun hanya mengenai udara kosong, "Sialan! Akan kuhabisi kau!!"
Rafa muncul tepat di hadapan pria itu. Namun ketika ia melakukannya, pria itu membuka mata kanan dengan lirikan tepat pada Rafa. Ia kembali mengayunkan tangannya pada pemuda itu. Tetapi, Rafa sempat menghindar sedikit ke samping walau goresan tercipta di pipi. Ia menggenggam belatinya dengan kedua tangan dan langsung menusukkan benda tajam itu pada leher iblis di depannya.
__ADS_1
Jleebb
Pria itu menggeram kesakitan. Disisi lain, Rafa segera menarik belati miliknya dan melompat mundur. Darah menetes dari luka tusukan yang ia buat pada pria itu. Namun pria itu masih terus bergerak, bahkan tubuhnya tidak tumbang.
Rafa sendiri terkejut, namun ia baru teringat dengan kata kata dari Ash. Senjata biasa tidak akan bisa melukai iblis dengan parah. Karena itu, iblis tidak akan mati hanya dengan satu atau dua serangan fatal dari senjata biasa milik manusia, berbeda dengan senjata yang digunakan blizt.
Pria itu tidak terima. Satu matanya tidak bisa melihat dan kini ia tidak bisa mengeluarkan suaranya karena pita suaranya terputus. Ia membutuhkan beberapa hari untuk bisa menyembuhkannya. Bahkan bisa beberapa minggu agar bisa berbicara lagi.
Ia menerjang Rafa dengan penuh kemarahan. Ia pun mengayunkan tangan berkuku panjangnya pada pemuda itu berkali kali. Tentunya Rafa pun menghindar. Mungkin karena ia sudah memberikan serangan fatal pada iblis, jadi dia tidak bisa menyerangnya sekuat tadi. Ini adalah hal yang bagus.
Tidak hanya menghindar, Rafa pun mulai menyerang balik pria itu. Setiap ada kesempatan, ia akan menggoreskan luka pada tubuhnya. Bahkan ia bisa memberikan serangan fatal lain seperti menusuk leher untuk kedua kalinya dan menusuk jantungnya.
Walau sudah terkena serangan fatal itu, dia masih bisa bergerak. Rafa menelan ludah. Kemampuan pria itu jelas sangat menurun dibanding sebelumnya. Tapi ia pun kelelahan untuk menghadapinya. Ia seperti sedang melawan zombi yang ada di video game. Sudah terkena serangan fatal, namun masih tetap hidup. Harus berapa kali lagi serangan yang harus ia lakukan agar pria itu segera menyerah dan mati?
Pria itu berjalan mendekat. Namun langkahnya gontai dan agak lambat. Rafa berlari mendekat dan melakukan tusukan.
Walaupun pria itu sempat menahan dengan pukulan, tapi Rafa berhasil menghentikannya dan melakukan tusukan.
Jleebb
Tusukan tepat mengenai kepalanya bahkan hingga menembus tengokorak. Rafa mengatur nafasnya. Ia sudah tidak kuat. Baik secara fisik maupun psikis. Menusuk makhluk hidup dengan niat membunuh, itu adalah hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Apalagi ia sampai menusuknya 5 kali.
__ADS_1
Tubuh Rafa oleng ke belakang, namun ia tidak jatuh. Ia memertahankan posisi berdirinya.
Pria itu awalnya berdiri dengan tegak, namun dia mengerang dengan sangat hingga kedua pupil matanya naik ke atas sampai tak terlihat. Pada saat itulah, tubuhnya pun ambruk ke belakang.
"A-apa sudah selesai?" gumam Rafa. Ia dengan hati hati berjalan mendekat. Ia menatap keadaan iblis itu. Melihat sekilas saja, ia bisa menebak bila dia sudah mati. Bukankah ini berarti, ia baru saja membunuh makhluk hidup? Walau bukan manusia sekalipun, dia tetap makhluk hidup.
Perasaan khawatir, gugup dan takut bisa ia rasakan. Semua itu bercampur menjadi satu hingga ia merasa gelisah. Walau begitu, ia meyakinkan dirinya sendiri bila pria itu adalah iblis dan jika ia tidak membunuhnya, maka orang lain yang akan berada dalam bahaya. Ia terus meyakinkan dirinya dengan pemikiran itu dan akhirnya mulai mencabut belati yang tertancap di kepala iblis.
Tubuhnya membungkuk ke depan dan memperhatikan sekitar setelah mencabut benda tajam itu. Tempat ini sangat sepi, tidak mungkin ada orang yang lewat bila sudah jam segini. Tapi apa yang harus ia lakukan pada mayat ini? Bagaimana jika ada orang lain yang tahu atau menemukannya? Apa yang akan terjadi?
Ia terus menerus khawatir dan gelisah. Perasaan bersalah pun mulai merasuk ke dalam jiwanya. Belum pernah ia sampai secemas ini, "B-baiklah, ini tidak apa apa. Aku akan baik baik saja. Aku tidak melakukan hal yang salah," gumamnya.
Ia melihat ke kanan dan kiri untuk kembali memastikan. Ia bahkan melihat ke bagian atas atas pepohonan dan tiang lampu jalan untuk memastikan bila tidak ada kamera cctv di sekitar sini.
Setelah dirasa cukup aman, Rafa berniat untuk membawa tubuh itu. Tapi, belum sempat ia melakukannya, tubuh itu seolah meleleh dan memadat menjadi sebuah kristal berwarna biru muda. Ia menyaksikan semua itu secara langsung. Ini adalah hal yang berada di luar jangkauannya.
"Tubuhnya... Berubah menjadi kristal?"
Rafa menapakkan kakinya tepat di depan kristal itu. Walaupun tubuhnya sudah berubah menjadi kristal, namun bekas darah di tempat ini masih ada walau tidak begitu banyak. Ia dengan segera mengambil kristal itu dan memasukkannya ke saku jaket. Ia juga segera mengambil pasir pasir di samping jalan untuk membersihkan sedikit darah di aspal jalan.
Setelah dirasa cukup, ia segera menaiki motornya kembali tanpa peduli dengan kondisi tubuhnya yang sakit. Ia menjalankan motor dengan kecepatan cukup tinggi agar segera sampai di rumah.
__ADS_1
Demi apapun, ia sangat gelisah. Ia merasa bersalah dengan apa yang baru saja dilakukannya. Tapi bila tidak melakukan hal itu, maka ia 'lah yang akan mati.