Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 94 -Leon


__ADS_3

"Sayang sekali, tapi apa yang kalian harapkan tidak akan terjadi. Kalian tidak akan bisa keluar dari dunia iblis," sergah Need.


Pria berkumis tipis beserta semua rekannya langsung menatap Need. Ada yang berekspresi curiga, waspada, heran, tanda tanya dan bingung.


"Apa maksudmu?" pria berkumis tipis membuka suara mewakili pertanyaan yang lain.


"Sepertinya dia belum mengatakan hal ini pada kalian ya?" Need menunjuk Nevan dengan tatapan mata. Ia pun melanjutkan, "Dia sudah pernah melakukannya, namun dia tidak bisa kembali ke dunia manusia."


Mendengar jawaban acuh tak acuh dari Need, membuat ketujuh manusia itu langsung mengalihkan pandangan menatap Nevan, "A-apa itu benar, Nak?"


Nevan bingung bagaimana harus menjawab. Ia tidak ingin menghancurkan harapan manusia manusia ini. Namun ia juga tidak bisa membohongi mereka. Ia membuang napas pelan dan mengangguk, "Iya, tidak bisa."


Semuanya langsung terkejut, tak terkecuali pria berkumis tipis bernama Nixon yang biasa dipanggil Nix.


Orang yang paling muda diantara mereka nampak frustasi ketika mendengar berita ini. Usianya sekitar 20 tahun, bernama Freed, "Apa tidak ada cara lain untuk kembali? Aku.. Benar benar ingin pergi."


Ia sudah menyaksikan bagaimana mengerikannya ketiga orang yang sebelumnya bersama mereka. Itu membuatnya ketakutan. Tidak pernah terpikirkan jika rekannya akan mati begitu mengenaskan oleh makhluk yang baru pertama kali dilihatnya.


Ia adalah salah satu orang paling kuat diantara blizt di usia muda. Namun bukan berarti dirinya tidak memiliki rasa takut terhadap sesuatu.


Nevan terdiam sejenak dan mengetahui kekhawatiran orang orang ini, "Aku juga tidak tahu. Tapi mungkin, jika kita membereskan masalah yang sedang terjadi di sini, kita bisa kembali."


Seperti mendapatkan secercan harapan, Freed langsung berucap cepat, "Kalau begtiu, ayo kita lakukan. Apa yang harus dilakukan sekarang?"


"Menghancurkan pohon besar. Kalian mengatakan sudah dua hari lalu di sini, jadi seharusnya kalian sudah tahu pohon mana yang kumaksud," balas Nevan dengan serius.


"Aku akan ikut," ucap Nix.


Salah seorang pria paruh baya menyela dengan ragu, "Bukannya aku tidak mempercayai ucapan anak Tuan Melvin. Hanya saja, apa jika kita melakukannya, kita bisa kembali ke dunia manusia? Selain itu, apa kita masih bisa hidup jika mencoba membantu masalah di sini?


Aku tahu masalah apa yang dimaksud. Itu pasti tentang mayat hidup itu. Maksudku, kita ingin kembali bukankah karena untuk melaporkan kejadian ini dan menghindari mayat hidup? Lalu kenapa kita terjun ke dalam masalah yang jelas jelas tentang mayat hidup itu?"


Ucapannya seketika langsung direnungkan rekan rekannya. Need pun yang melihatnya langsung menyela dengan dingin, "Aku tidak peduli apa yang terjadi pada kalian. Tapi mendengar kalian sebelumnya ingin menyerang iblis, aku sangat tidak suka.


Selain itu, tidak ada yang bisa diandalkan diantara kalian untuk ikut menyelesaikan masalah. Pada akhirnya kalian hanya akan menjadi beban."


Nevan seketika menatap Need tidak suka, "Itu menurutmu. Kau tidak tahu saja, mereka adalah orang orang yang bisa diandalkan."


Need mendengus dan tersenyum sinis, "Diandalkan? Apa kau tidak melihat ekspresi mereka semua?"


Nevan seketika menatap satu persatu orang di depannya ketika mendengar ucapan Need. Ia bisa melihat banyaknya tatapan khawatir dan takut.


Leon menepuk pundak Need hingga pemuda itu memalingkan wajahnya dan menatap Leon dengan raut lebih baik.


Leon berucap dengan pelan walau masih tetap terdengar semuanya, "Dia mengatakan mengenal beberapa dari mereka. Jadi biarkan dia yang mengurusnya. Kau hanya perlu mengawasi."

__ADS_1


"Tapi..," Need menatap Nevan, lalu kembali menatap Leon, "Dia tidak bisa diandalkan. Selama perjalanan sampai kemari pun, dia terus menjadi beban. Aku tidak bisa mempercayakan semua manusia ini padanya."


Leon mengangguk seolah setuju, "Tapi dia adalah orang yang berani. Dia juga bertanggung jawab."


Need mengerutkan kening dan merasa heran, "Kenapa kau begitu yakin? Kau baru bertemu dengannya."


Leon berekspresi datar, "Saat aku datang, kau sudah berpura pura tidur. Selama itu pula, apa kau tidak mendengarkan reaksi yang diberikannya saat melihatku?"


Need berkedip. Ia memang tidak mendengarkan hal itu sama sekali. Ia terlalu fokus dengan pikirannya sendiri.


Melihat respon dari Need, Leon menghela napas, "Selama di dunia manusia, dia pernah tinggal denganku. Karena itu, aku tahu jika dia orang yang berani dan tanggung jawab. Hanya saja, dia terkadang menyebalkan."


"Leon..?!" Nevan spontan berteriak kesal ketika mendengar ucapan Leon, "Kau yang lebih dulu membuatku kesal."


"Aku lelah meladeninya. Gantikan aku untuk itu Need," ucap Leon dengan acuh tak acuh.


"Kau ini.. Kau pikir aku tidak kesal, huh?"


"Suaramu terlalu kencang seperti perempuan."


"Ap–kau benar benar... Aku tidak seperti itu! Padahal aku tadi merasa kau sudah memujiku, rasanya sekarang aku tidak mau berterimakasih padamu tentang itu."


"Aku tidak butuh. Telan saja ucapanmu."


"Setelah kau bertumbuh sebesar ini dalam waktu cepat, ternyata kau tidak berubah ya? Kau bahkan lebih mengesalkan dengan ekspresimu itu. Kau pikir kau keren huh?"


"Aku tidak sedang memujimu! Astaga... Aku jadi heran, apa yang dimakan ibumu saat kau masih dalam perutnya hingga kau seperti ini."


"Mungkin bunga ketampanan."


Nevan hampir tersedak ludahnya sendiri ketika mendengar itu. Rasanya ia malah semakin jengkel, "Terlalu percaya diri. Ibuku memakan daging ayam hampir setiap hari. Makanannya selalu mewah selama mengandungku."


"Pantas suaramu mirip ayam."


"K-kau.. Kau mirip kera! Bunga yang dimakan pasti bukan bunga ketampanan, tapi bunga kera!"


"Kera yang tampan."


Kite yang menyaksikan perdebatan itu nampak tercengang. Padahal selama bersamanya, Leon tidak banyak merespon dirinya. Bahkan ketika ia mencoba menceritakan hal lucu, Leon tidak banyak bicara. Ekspresinya pun tak berubah banyak. Tapi lihatlah di depannya ini. Kemana Leon si gunung beku itu?


Ketika akan membalas ucapan Leon, Nevan mendengar suara orang yang dikenalnya. Ia menengok ke arah belakang Leon. Matanya berkedip beberapa kali, "Rafa?"


Leon pun menyadari jika Rafa terbangun karena suara Nevan yang keras. Ia berbalik dan melihat Nevan yang berjalan mendekati saudaranya itu.


"Kau masih harus istirahat. Tidurlah lagi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan di sini," ucap Nevan sambil berjongkok di depan Rafa yang telah duduk.

__ADS_1


"Suaramu membangunkanku," balas Rafa.


Nevan tertegun ketika mendengar jawaban itu. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum memaksakan, "Maaf... Aku tidak bermaksud begitu. Aku tidak akan bicara dengan keras. Sekarang tidurlah."


Rafa memejamkan mata sejenak, "Karena sudah bangun, aku sulit untuk tidur lagi."


"Dia.. Itu dia 'kan?"


"Iya... Aib dari ras blizt."


"Walaupun dia adalah keponakan Tuan Melvin, tetap saja tidak mengubah posisinya sebagai aib dari ras blizt."


"Aku merasa kesal karena ada blizt cacat. Dia juga bagian dari keluarga Tuan Melvin."


"Padahal Nona Meyra sangat cantik. Kenapa wanita secantik dia malah berhubungan dengan iblis?"


"M-maksudmu apa?"


"Kau tidak tahu–ah iya, memang tidak banyak yang tahu ini."


"Tahu apa?"


"Tuan Melvin memiliki keponakan, yaitu anak dari Nona Meyra. Katanya keponakannya setengah iblis karena Nona Meyra menjalin hubungan dengan seorang iblis. Hal ini berusaha ditutupi, tapi pada akhirnya mendapat kebocoran."


"Bukankah Nona Meyra meninggal tertabrak mobil?"


"Tidak, dia meninggal karena sudah melahirkan anak setengah iblis itu. Aku pernah bertemu dengannya, jadi aku tahu itu adalah dia. Namanya Rafa."


"Aku juga pernah bertemu dengannya. Tapi aku baru tahu jika dia adalah keponakan Tuan Melvin dari anak Nona Meyra."


Leon dapat mendengar jelas bisik bisik dari beberapa manusia di belakangnya. Ekspresinya pun berubah menjadi dingin.


"Aku pernah mencoba melakukan sesuatu padanya. Tapi gagal. Tuan Melvin lebih dulu sudah datang."


"Aku muak mengetahui fakta ini. Aku ingin menghapus aib itu, tapi aku takut dengan Tuan Melvin."


"Ah, kau ini. Memangnya sekarang Tuan Melvin berada di sini?"


"Tidak ada sih.."


"Bukankah ini adalah waktunya?"


Leon mencengkram bajunya saat bisikan itu semakin terasa memuakkan di telinganya. Ia berbalik dan menatap ketujuh manusia di depannya sekarang, "Jika kalian mencoba melakukan sesuatu padanya, akan kubuat kalian menyesal sampai beranggapan jika kematian lebih baik. Ini bukan omong kosong. Camkan itu."


Nix menelan ludahnya. Ia memang tidak ikut membisikkan tentang Rafa, namun entah bagaimana ia juga merasa tertekan oleh ucapan Leon. Bukan omong kosong. Itu sebuah peringatan nyata, "Kalian diamlah!" ucapnya dengan sedikit keras.

__ADS_1


Mereka pun tiba tiba terdiam ketika merasakan tekanan yang menimpa pundak, bahkan salah satu pria berambut sebagian putih langsung berlutut di tanah karena tidak bisa menahan tekanannya.


"Sedikit saja gerakan kalian mencurigakan, jangan harap kalian dapat kembali hidup hidup," lanjut Leon dengan tatapan dingin.


__ADS_2