
Need bernapas cepat cepat seolah sangat membutuhkannya. Rasa sakit yang ia terima bahkan tidak dirasakannya karena napasnya begitu sesak.
Need menyerongkan tubuhnya ke samping dan mulai terbatuk. Udara terasa begitu sedikit di dalam paru parunya hingga ia kesulitan mengambil napas.
Kite menatap datar perilaku iblis yang baru saja dibunuhnya, "Ternyata benar. Sepertinya kau bisa hidup kembali walaupun sudah dibunuh. Apa mungkin kau juga pernah merasakan kematian seperti ini dan bangkit lagi?"
Need sama sekali tidak mendengar ucapan Kite. Ia fokus dengan kondisinya sendiri. Kite pun tidak terburu buru. Ia menunggu Need sampai membaik.
Setelah beberapa menit, Need merubah posisinya menjadi duduk. Wajahnya terlihat sedikit merah seperti menahan sakit.
"Apa kau sudah sadar? Atau kau masih dalam pengaruh seseorang?" ucap Kite tanpa basa basi.
Kening Need berkerut tatkala mendengar ucapan seseorang. Ia sedikit melirik ke belakang dan melihat Kite berjongkok tepat di belakangnya.
"Melihatmu tidak menyerang seperti sebelumnya, kau sudah sadar ya."
Need mengerutkan kening dengan sangat. Ia tak paham dengan ucapan Kite. Namun pemuda itu kembali melanjutkan ucapannya, "Apa yang kau ingat terakhir kali?"
Mendengar itu membuat Need termenung. Otaknya kembali mengingat ingat apa yang terjadi sebelumnya ketika pandangannya tiba tiba menghitam.
Saat memikirkan itu, suara menggelegar terdengar dari indra pendengarannya. Tubuhnya tersentak kaget dan refleks melihat ke tempat suara. Jauh dari arahnya berada, ada sebuah pohon tumbang dan membuat dedebuan membumbung tinggi ke langit.
Melihat itu membuat Need segera berdiri. Hanya satu orang yang ia pikirkan sekarang, Leon.
Baru saja Need hendak pergi ke tempat kejadian, Kite menahan pergelangan tangannya dan membuat tubuhnya yang hendak berlari malah sedikit tersentak ke belakang. Lantas pandangannya beralih menatap orang yang sudah menariknya, "Apa yang kau lakukan?"
Tatapan dingin itu sudah menjelaskan bagaimana perasan Need sekarang. Ia jelas marah karena Kite menghentikannya.
"Jika kau ingin menolong, maka lakukan apa yang kukatakan. Sekarang pergi ke tempat berkumpulnya semua orang dan bawa pemuda dengan ikat kepala itu. Kalau tidak salah..., Ray. Ya, Ray! Bawa dia kemari!" desak Kite.
"Untuk apa aku menurutimu?" ketus Need. "Sekarang lepaskan! Aku akan menemui Leon."
"Kau bisa membantunya dengan membawa Ray. Bawa bocah itu kemari atau... Kau ingin Leon mati lagi?"
Need tersentak mendengar ucapan Kite. Rasanya kepalanya berdenyut mendengar itu, "Memangnya apa yang bisa dia lakukan jika aku membawanya kemari?"
Need mencoba mendengarkan alasan Kite. Jika alasan yang diberikan pemuda itu bagus, ia akan menuruti ucapannya agar bisa membantu Leon.
__ADS_1
"Dia bisa menghanguskan dan membakar mayat itu."
Balasan dari Kite seolah tidak membuat Need puas. Need kembali menimpali ucapannya, "Dia mungkin saja sama seperti mayat Raja iblis lain dan tidak bisa mati hanya dengan dibakar. Kau bahkan melihatnya sendiri karena bertarung dengan mayat itu."
Kite mendengus, "Api itu bukanlah kemampuan penuh milik pemuda bernama Ray itu. Kau akan paham nanti jika melihatnya langsung."
"Kalau begitu, kau harus ikut dan membujuknya."
"Tidak masalah."
Need menggertakkan gigi dan melihat ke tempat debu masih banyak mengepul. Ia tidak bisa membantu Leon untuk sekarang. Melawan Ralt bagaikan hal mustahil untuknya. Apalagi kenyataan bahwa Ralt adalah penciptanya yang hanyalah boneka ini. Tapi ia masih tidak bisa mengakui dirinya 'boneka'.
"Jika kau berbohong, aku tidak akan memaafkanmu," sahut Need dengan tatapan tajam. Tidak membuang buang waktu lagi, ia segera berpindah ke tempat yang pernah didatangi sebelumnya, yaitu tempat semua rekan mereka beristirahat.
Keduanya menghilang begitu saja, seolah tak pernah ada di sana.
*
*
Saat sampai, bukan rasa senang yang mereka dapat. Melainkan rasa keterkejutan yang amat sangat ketika melihat penampakan di depannya. Batang pohon rusak di beberapa bagian. Darah terciprat di tanah dan membuat genangan darah dimana mana. Suara erangan kesakitan tak lepas dari pendengaran mereka. Bahkan ada suara teriakan marah dari seseorang.
"Apa yang terjadi di sini?" gumam Need.
"DIA! INI PASTI KARENANYA!"
Need tersentak, begitupun dengan Kite. Mereka menatap arah suara keras tadi berasal. Suaranya yang keras dan dengan nada marah itu berhasil menarik perhatian mereka.
Nevan berdiri dari duduknya. Pelipisnya nampak mengeluarkan darah. Terdapat luka sabetan pula di beberapa bagian tubuhnya. Bahkan ada pula sedikit luka garis merah yang terbentuk di lehernya.
Semua luka yang seharusnya terasa begitu sakit itu seolah tak dapat dia rasakan karena tertekan oleh kemarahan. Jelas sekali dari raut wajahnya.
Setelah sampai di hadapan Kite, Nevan langsung menekan kedua bahu pemuda di depannya. Bahkan lebih tepat dikatakan dia mencengkramnya. Walaupun tubuh Kite lebih tinggi dibandingkan Nevan, itu seolah tidak membuatnya tertekan untuk tetap melakukan tindakan ini.
"KEMANA KAU MEMBAWANYA?! HAH?! JAWAB AKU! KEMANA KAU MEMBAWANYA?! APA YANG INGIN KAU LAKUKAN?!"
Kite meringis karena suara Nevan yang kencang. Setelahnya, ia mengerutkan kening dengan ekspresi bingung. Ia benar bebar tidak mengerti maksud dari ucapan pemuda itu, "Apa maksudmu?"
__ADS_1
"JANGAN PURA PURA TIDAK TAHU! KAU PASTI YANG SUDAH MEMBAWA RAFA! KAU MUNGKIN MENYURUH SESEORANG AGAR MENYERANG KAMI, LALU MEMBAWA RAFA 'KAN?! BRENGS*K"
Suara Nevan tidak mengecil sedikit pun. Suaranya bahkan membuat gema di hutan dengan sedikit pohon ini.
Melvin menyusul anaknya. Luka nampak di bahu serta kakinya. Ia menarik Nevan agar menjauh dari Kite dan melepaskannya, "Apa yang kau lakukan?! Kenapa malah melakukan hal seperti ini dan menyalahkannya?!"
Nevan sama sekali tidak melepaskan cengkramannya yang kuat dari bahu Kite. Ia bahkan sampai menancapkan kuku kukunya di tubuh itu hingga membuat Kite sedikit meringis sakit, "JANGAN MEMBELANYA, AYAH! DIA PENYEBAB RAFA DIBAWA! DIA YANG MELAKUKANNYA ENTAH DENGAN TUJUAN APA!"
"Kenapa kau mengatakan itu?!" Jelas Melvin sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud anaknya. Dan alasan apa yang membuat Nevan menuduh Kite yang baru saja tiba.
"SEBELUM INI, KETIKA MALAM ITU DISERANG OLEH KUPU KUPU SAYAP PUTIH, AKU MATI!"
Walaupun semua orang dalam keadaan sakit karena luka di tubuhnya, bahkan beberapa dari mereka pingsan, namun orang orang yang sadar masih menyempatkan diri mendengarkan ucapan Nevan yang keras. Lebih tepatnya, mau tak mau harus mendengarnya.
Yang paling terkejut adalah Melvin selaku Ayahnya. Matanya membelalak karena terkejut mendengar ucapan anaknya sendiri, "A-apa maksudmu nak?"
"SEMUA YANG BERSAMAKU SAAT ITU, KALIAN PASTI TAHU. AKU SEHARUSNYA SUDAH MATI, TAPI AKU KEMBALI HIDUP BERKAT BANTUAN DARI LEON! LALU SAAT ITU KALIAN BERPIKIR JIKA AKU MATI KARENA KUPU KUPU ITU 'KAN? TAPI KALIAN SALAH!
AKU DIBUNUH!"
Radolf, Need dan Nix yang jelas mengetahui tentang Leon yang menghidupkan Nevan sampai tertegun. Mereka terkejut dan tidak bisa mengatakan apapun. Sedangkan Freed yang juga bersama Nevan semalam, hanya diam. Karena ia tidak tahu bila Nevan sempat mati. Saat itu dirinya sangat ketakutan sampai tidak memperhatikan sekitar.
"SEBELUMNYA AKU LUPA APA YANG TERJADI SETELAH BANGKIT DARI KEMATIAN. LALU TADI, AKU BARU MENGINGATNYA. AKU MENGATAKAN INI PADA RAFA, DIA INGIN MENGATAKANNYA JUGA PADA LEON, TAPI AKU MENCEGAH DAN MENGATAKAN AGAR MEMPERHATIKANNYA DIAM DIAM SEBELUM MELAPORKAN INI PADA LEON.
TAPI PADA AKHIRNYA, TINDAKANKU SALAH. AKU MENYESAL, SEHARUSNYA SEJAK AWAL AKU TIDAK MENCEGAH RAFA DAN MENGATAKANNYA PADA LEON, BAHWA DIA'LAH YANG SUDAH MEMBUNUHKU! DIA ADALAH PENGKHIANAT! DIA MUNGKIN BEKERJA SAMA DENGAN MUSUH!"
Nevan terus memelototkan matanya pada Kite. Tidak sedetik pun ia melepaskan pandangan ini darinya. Wajahnya menjadi begitu merah karena marah. Tidak guratan bercanda dari wajahnya. Hanya keseriusan dan marah yang diperlihatkan.
Felix, Ray dan Kay menatap Kite beserta Nevan. Mereka tidak tahu apa yang sudah terjadi, tapi mereka bisa menarik kesimpulan dari ucapan manusia itu.
"Apa itu benar, Kite?" sahut Kay dengan wajah dingin. Ia amat tidak suka dengan pengkhianatan dan kepura puraan.
Kite mencengkram kedua pergelangan tangan Nevan yang ada di pundaknya. Wajahnya berubah datar setelah mendengar penjelasan itu, "Lalu jika aku membunuhmu kenapa? Kau ada masalah dengan itu? Lagi pula, sejak awal aku tidak mengatakan jika aku berada di pihakmu 'kan? Apa sejak awal aku mengatakan akan bekerja sama denganmu?"
Kite menurunkan lengan Nevan dari pundaknya. Kini yang meringis kesakitan adalah Nevan. Manusia itu menahan sakitnya dan terus menatap Kite dengan tajam, "LALU JIKA TIDAK, MAKA APA? KAU BERADA DI PIHAK MUSUH?! KAU MATA MATA DARINYA KAN?!"
Kite menatap keseluruhan dari wajah Nevan. Ekspresinya masih datar dan ia menghela napas sejenak. "Aku mengaku sudah membunuhmu. Tapi tuduhan tentang berada di pihak musuh, kau salah besar. Justru sekarang kalian 'lah yang berada di pihak musuh."
__ADS_1
Tatapannya yang datar itu berubah tajam. Ia menatap satu persatu orang yang ada di sekitarnya. Tidak terlewat satu orang pun.