
Need mebelalakkan matanya saat pedang yang seharusnya tertancap di tubuh Ralt malah terpotong.
"Serangan seperti itu tidak akan mempan padaku. Apalagi serangan yang dilakukan olehmu," ucap Ralt dengan santai.
Need mundur dengan perlahan. Ketakutan mulai merebak dalam hatinya. Sebenarnya seberapa kuat Ralt ini? Dia bisa mengendalikannya, dia bisa mengetahui apa yang ia lakukan atau apa yang ia pikirkan, dia juga sampai bisa membuat buku sejarah tentang kekuatan kuno yang dipercayai oleh Raja iblis.
Mungkin Raja iblis memang mengetahui kekuatan kuno dari buku yang ada di istana masing masing, tapi secara tidak langsung, itu adalah perbuatan Ralt. Dia 'lah yang membuat itu bisa terjadi.
"Sebenarnya, siapa kau ini?" ucap Need dengan sedikit gentar.
Ralt tersenyum datar. Ia tidak mengatakan apapun, tapi Need sudah sangat waspada padanya.
Duaarrr
Ledakan besar yang diciptakan dari pertarungan antar Raja iblis membuat ruangan seketika ambruk dan mengakibatkan kerusakan bagi ruangan di bagian kanan dan kirinya.
Need terkejut dan terhempas karena ledakan yang besar itu. Namun ia langsung berpindah ke tempat yang lebih aman, sebelum dirinya menghantam lantai.
Semua benar benar kacau. Mereka memperebutkan sebuah kristal hitam itu. Bahkan pertarungan yang berlangsung terjadi hingga matahari mulai terbit.
Akibat dari hal itu, seorang Raja iblis sekarat. Dia adalah Flor yang mendapatkan racun dan beberapa tusukan serta gigitan di tubuhnya. Ia terduduk di salah satu sudut ruangan yang sudah tidak bisa dikatakan ruangan lagi. Nafasnya tersenggal senggal. Racun yang masuk ke dalam tubuhnya menjalar hingga ke bagian leher, membuat tubuhnya mengeluarkan warna keunguan.
Matanya menjadi sangat buram. Kulitnya tidak bisa merasakan sentuhan dari apapun lagi, hingga akhirnya sebuah ledakan kembali terjadi.
Booomm
__ADS_1
Tubuhnya terpental dan berguling di lantai yang rusak tanpa bisa ia hentikan. Ia segera berhenti berguling setelah beberapa saat. Posisi wajahnya pun menghadap ke atas. Darah yang keluar dari lukanya semakin parah. Wajahnya memucat seolah tak ada darah sama sekali. Ia hanya bisa mendengar suara dentingan senjata yang perlahan memudar dalam pendengarannya.
Setelah semua pandangannya menjadi gelap, tidak ada suara apapun yang terdengar. Kini menjadi sangat sunyi di telinganya. Tidak ada lagi rasa sakit yang ia rasakan. Semua menghilang bersamaan dengan nyawanya menghilang.
Langit yang seharusnya cerah tiba tiba mendung. Bahkan kilatan cahaya menyambar nyambar keluar diantara kumpulan awan gelap. Angin berhembus dengan membawa perasaan tidak enak.
Tidak hanya di istana Stev saja, tapi seluruh dunia iblis mengalami hal yang sama. Keadaan langit saat ini seolah menjadi pertanda akan adanya hal buruk yang menunggu di depan mata. Perasaan kalut dan takut dialami semua iblis. Bahkan rumah pun tidak sanggup membuat mereka merasa aman.
Di sisi lain, di suatu tempat. Tepat di kerajaan Ralt, dimana tanah yang gersang berada. Sebuah pohon besar tumbuh di sana. Tidak ada makhluk hidup apapun sepanjang mata memandang. Hanya pohon ini 'lah yang mampu hidup di sini.
Pohon yang ada selama ribuan tahun tanpa daun ini tiba tiba saja bergetar dan tumbuh semakin membesar hingga sampai mengalahkan istana terbesar berkali kali lipat. Keadaannya yang sangat besar ini pun bahkan sampai bisa dilihat sebagian besar iblis di dunia. Tak bisa dibayangkan akan sebesar apa penampakan pohon ini jika dilihat dari dekat.
Pohon dengan ribuan ranting bahkan jutaan ranting besar ini tiba tiba saja menumbuhkan dedaunan yang menutupi setiap cabang cabangnya.
Iblis yang menyaksikan kejadian ini dari kerajaan Ralt pun menjadi sanagt terkejut. Padahal ia berada di jarak yang jauh dari tempat pohon itu berada. Namun ia sudah bisa melihat penampakannya yang sangat besar dari sini. Terlebih, dedaunan yang mulai tumbuh itu. Ia bisa melihatnya dengan jelas.
Bahkan dalam jarak sejauh ini pun, mereka dapat menyaksikan bagaimana pohon yang kering itu mulai menumbuhkan dedaunannya yang hijau.
"S-sebenarnya apa yang terjadi?" gumam salah satu iblis.
Karena kejadian ini pula, para monster yang bersembunyi di hutan mulai agresif. Mereka langsung berlarian keluar dari hutan dan menyerang siapapun yang mereka temui.
Tidak hanya dedaunan yang mulai tumbuh, namun benda bulat berwarna merah seukuran manusia pun tumbuh dan muncul diantara dedaunan besar. Benda itu seperti berdetak dan bentuknya mirip dengan paru paru, namun berwarna merah dan bulat. Namun ada pula yang ukurannya 2-3 kali lipat dari manusia.
Tidak sedikitpun pohon itu merasa berat dengan apa yang ada di tubuhnya. Ia bahkan menumbuhkan lebih banyak benda aneh itu.
__ADS_1
***
"Hah.. Hah..," Stev dan Silvia berdiri berjauhan. Keduanya tampak begitu kelelahan, terlihat dari keduanya yang berhenti untuk mengambil nafas.
"K-kau boleh juga, tapi aku 'lah yang tetap akan menjadi pemiliknya," ucap Silvia dengan kelelahan. Di genggaman tangannya, terdapat sebuah kristal cukup kecil hingga bisa digenggam hanya dengan satu tangan. Ia terus mempertahankan itu setelah merebutnya dari Stev.
"Terlalu cepat untuk menentukan it–"
Stev menghentikan ucapannya saat sebuah pentir hampir menyambar tubuhnya. Untung saja ia melompat dan menghindar. Jika tidak, maka ia mungkin sudah teeluka semakin parah.
Saat mereka akan melanjutkan pertarungan, suara gemuruh langit semakin besar hingga mereka dapat mendengarnya walaupun dalam sikap waspada satu sama lain.
Mereka dengan kompak langsung melihat ke langit dan baru menyadari, jika keadaan langit sekarang tidak 'lah umum. Seperti ada kejanggalan dari keadaan langit yang gelap ini. Menyadari hal ini, keduanya tidak juga memulai pertarungan dan sibuk memperhatikan keadaan langit.
Iblis sekelas mereka saja sudah merasa sedikit takut saat ada fenomena ini. Bagaimana dengan rakyat biasa di dunia iblis ini?
Di sisi lain, Need mencari mayat tubuh Leon diantara tumpukan material. Ia juga bahkan menyempatkan diri untuk mencari tubuh Raflo. Namun bukannya menemukan mereka, yang ia temukan hanyalah mayat mayat dari para penjaga.
Hatinya semakin menggebu. Ia marah, sekaligus sedih dengan dirinya sendiri. Ia merasa bila dirinya 'lah yang menyebabkan situasi ini. Walau begitu, ia masih mau mencoba untuk memerbaikinya.
Lalu saat sedang mencari, ia tiba tiba merasakan hawa tidak enak dari udara di sekitarnya. Ia menolehkan kepalanya ke atas dan baru menyadari langit yang begitu gelap. Tidak ada setitik cahaya matahari pun di sini. Bahkan gemuruh yang dilakukan langit membuatnya hampir tidak menyadari itu karena sibuk mencari.
"A-apa yang terjadi?" gumamnya. Ia segera berdiri. Saat akan pergi dari sana, Ralt tiba tiba muncul di depannya. Ia tersentak kaget hingga muncur beberapa langkah ke belakang. Bagaimana bisa dia berpindah dengan sangat cepat kemari? Apakah dia pun memiliki kemampuan teleportasi?
"K-kau.. Apa yang kau lakukan?!" teriak Need dengan penuh emosi.
__ADS_1
"Tidak perlu mencari orang yang sudah mati. Kau membuatku risih. Kau sendiri pasti sudah menyadari jika Leon sudah mati, jadi untuk apa mencarinya dan berharap dia masih hidup? Apa yang kau lakukan sia sia.
Usahamu untuk menjaga dunia ini pun sudah berakhir. Sekarang, dunia ini sudah mencaai akhir. Kekuatan dari darah yang diserap pohon kehancuran sudah tumbuh. Sebentar lagi, bencana akan dimulai," ucap Ralt. "Jadi sebaiknya kau mempersiapkan diri dan hidup selama mungkin," ia pun menunjukkan senyum datarnya yang seolah memiliki arti tersirat di dalamnya.