Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 47 -Penjelasan Nevan


__ADS_3

"Sebelumnya kunci pintuku sulit dibuka karena sudah terlalu tua, jadi aku menggantinya. Sekalian saja aku mengganti pintunya," ucap Rafa.


"Hm.. Baiklah, tapi tanganmu memar dan lecet. Kakimu sedikit biru di beberapa bagian. Goresan kecil di dekat alis. Kau bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Nevan dengan curiga.


"Aku hanya tidak sengaja jatuh dari tangga."


"Dimana Leon?"


"Dia sudah menemukan keluarganya, jadi dia pergi."


Melihat ekspresi Rafa yang sedikit murung, membuat Nevan semakin penasaran, "Anak itu.. Tidak melukaimu?"


"Apa maksud ucapanmu?" Rafa mengerutkan keningnya dengan heran.


"Jujur saja padaku. Apa Leon pergi setelah melukaimu?"


"Aku tidak mengerti maksudmu. Bagaimana bisa Leon melukaiku?"


Nevan menghela nafasnya, "Lupakan saja apa yang kukatakan."


Rafa menjadi curiga pada Nevan. Pemuda yang hanya selisih satu tahun lebih tua darinya itu tampak menyembunyikan sesuatu. Saat kecil ia tinggal bersama keluarga pamannya, jadi ia sering bersama Nevan. Ia tahu seperti apa dia, "Kau menyembunyikan sesuatu 'kan? Apa yang kau sembunyikan dariku?"


"T-tidak. Apa maksudmu?"


"Kau tahu sesuatu tentang Leon dan menanyakan hal aneh seperti itu padaku tiba tiba. Jujur saja, kau menyembunyikan sesuatu 'kan?"


"Haha.. Tentu saja tidak. Untuk apa aku menyembunyikan sesuatu darimu? Malah sekarang kau 'lah yang seperti menyembunyikan sesuatu," balas Nevan dengan kikuk.


"Padahal kita saudara, tapi kau masih menyembunyikan sesuatu dariku, Nev."


"Apa? Aku tidak menyembunyikan apapun darimu. Kenapa kau menatapku seolah aku sudah mencuri permen darimu?"


Rafa membuang mukanya dan segera berdiri, "Jika kau tidak mau mengatakannya, aku tidak akan memaksa. Aku akan pergi."


Nevan menatap kepergian Rafa, "Kau akan pergi kemana? Ini hampir malam, jangan keluar."


"Itu urusanku. Kau tidak perlu ikut campur," Rafa tetap berjalan ke pintu dan tidak mengindahkan larangan Nevan.


Tepat ketika ia membuka pintu, ia sekilas melihat bayangan seseorang, "Leon?"

__ADS_1


Namun bayangan Leon yang ia lihat menghilang secepat angin. Ia berjalan cepat mendekati halaman depan dimana Leon tadi berdiri. Namun tidak ada siapapun di sana. Ia segera membuka gerbang dan melihat keluar. Di luar pun tak ada orang yang melintas.


"Aku pasti berhalusinasi karena sedang memikirkannya. Hah.., sekarang aku harus segera ke tempat latihan," batinnya.


Saat akan melangkahkan kakinya, ia dibuat membeku karena terkejut. Sepasang mata berada tepat di depannya. Jaraknya hanya 5cm. Ia benar benar terkejut hingga tidak bisa bereaksi.


"Rafa..?!" Nevan melemparkan sebuah belati pada orang yang berada di depan Rafa. Namun orang terdebut langsung melompat mundur dan berhasil menghindari serangannya. Ia segera berlari mendekati Rafa yang berdiri di ambang gerbang.


Nevan berdiri di samping Rafa sambil memegang belati di tangannya. Ia menatap pemuda asing di depan dengan tajam. Aura yang dikeluarkannya benar benar milik iblis, namun penampilannya adalah manusia, "Siapa kau?!"


Rafa pun menatap pemuda itu. Dia memakai celana dan hoodie hitam. Walaupun wajahnya terlihat asing, entah mengapa ada satu orang yang terbesit dalam pikirannya ketika melihat wajah itu, "Leon?" gumamnya.


Setelah terdiam beberapa saat, Leon berbicara dengan suara kecil, "Sampai jumpa." Dalam beberapa detik saja, ia menghilang seolah tidak pernah ada dirinya di sana.


"L-Leon? Leon?" Rafa berjalan cepat mendekati tempat Leon sebelumnya.


Nevan sendiri menatap sekitar dengan waspada. Setelah yakin tidak ada musuh, ia langsung menghilangkan belatinya dan berjalan mendekati Rafa, "Lebih baik kau di rumah saja. Akan berbahaya jika keluar sendiri malam malam."


Rafa menatap Nevan, "Dari mana kau mendapatkan senjata itu? Aku melihatnya dengan jelas. Jangan membuat alasan."


"A-" Nevan dibuat sulit untuk berkata kata. Rafa kini mendesak untuk mendapat jawaban darinya. "Itu... Bukan apa apa, aku hanya mendapatkannya dari penjual perabotan rumah."


"Tidak ada penjual seperti itu yang menjual belati. Jawab dengan jujur, dari mana kau mendapatkannya dan kenapa kau membawa benda seperti itu?"


***


"Padahal aku tidak berniat untuk muncul di depannya. Apalagi sampai dia melihat kehadiranku," batin Leon dengan ekspresi datar.


"Sebagai permintaan maaf, aku ada kabar gembira. Saat aku pergi tadi, aku mencoba untuk menciptakan retakan dimensi. Awalnya aku hanya mencoba, tapi ternyata berhasil. Dengan begini, kita bisa pergi dengan lebih cepat ke sana," ucap Need dengan senyum lebar.


"Maksudmu, kau bisa berpindah dari dunia ini ke dunia iblis?"


"Ya!"


"Kita pergi sekarang. Tapi jangan langsung ke tempat 'mereka' berada."


Need mengangguk. Ia memfokuskan dirinya dan mengarahkan telapak tangannya ke depan. Seketika itu pula, udara di depannya seolah retak seperti kaca. Retakan semakin melebar dan di dalam sana terlihat begitu gelap sebelum akhirnya diterangi oleh titik titik cahaya.


"Sekarang kita bisa masuk," ucap Need.

__ADS_1


Leon berjalan memasuki lubang itu tanpa ragu, lalu diikuti oleh Need.


Setelah keduanya masuk, lubang perlahan menutup kembali seolah tidak pernah terjadi apapun di sana.


***


Keduanya terduduk di sofa. Rafa terus menatap Nevan, sementara saudaranya itu hanya meliriknya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Katakan padaku, dari mana dan kenapa kau membawa benda tajam seperti itu? Lalu untuk apa? Kau ingin ikut tawuran?" ucap Rafa yang terdengar mengintrogasi.


"Tidak, tentu saja tidak. Kenapa aku ikut hal seperti itu?" balas Nevan sambil menatap pemuda itu.


Rafa mengambil ponsel di sakunya karena bergetar. Ia pun segera mengangkatnya, "Aku akan segera–"


"Maaf hari ini aku tidak bisa melatihmu. Ada pasien dalam keadaan darurat."


"A-oh, baiklah. Tidak apa kak."


Setelah pembicaraan singkat itu, sang penelpon langsung menutup panggilan. Rafa menghela nafas dan menatap Nevan kembali, "Sekarang aku ada banyak waktu luang. Jadi aku akan menunggu sampai kau menjawabnya."


"Apa ini saatnya aku menjelaskan semua itu padanya?" batin Nevan. Ujung telapak kakinya menepuk nepuk lantai karena bingung. Itu adalah kebiasaannya saat sedang berpikir keras.


"Jawablah, aku tidak ingin kau ikut tawuran atau hal semacamnya. Paman akan sedih jika kau melakukan itu," ucap Rafa.


"Aku akan mengatakannya dengan jujur. Selain itu, aku akan mengatakan sesuatu yang penting. Pertama, senjata itu adalah milikku. Kedua, aku tidak ikut tawuran bodoh seperti itu. Lalu aku kemari karena ada hal yang ingin kukatakan. Lebih tepatnya kuungkapkan."


Melihat ekspresi serius yang ditunjukkan Nevan, Rafa langsung mendengarkan seksama. Tidak biasanya Nevan bersikap seserius ini.


"Aku kemari ingin memastikan keadaanmu. Karena kau tinggal dengan Leon. Saat kejadian mayat tanpa jantung banyak ditemukan, aku pergi malam hari untuk menyelidikinya. Tapi aku tidak tahu bila Leon mengikutiku diam diam. Sialnya saat itu aku malah bertemu dengan iblis kuat.


Aku bertarung dengannya dan saat itu terjadi, kemunculan Leon yang tiba tiba dilihat iblis itu. Dia langsung mengincarnya dan memakan jantung Leon. Seharusnya dia mati, tapi saat–"


"I-iblis? Jantung Leon... Dimakan?" Rafa sedikit terkejut ketika mendengar ucapan Nevan. Ia tidak tahu bila Nevan mengetahui tentang iblis, dia bahkan sampai bertarung dengannya? Untuk apa dia melakukannya? Selain itu, bagaimana bisa Nevan tidak terluka?


Melihat reaksi Rafa, Nevan mengangguk. Ia melanjutkan, "Aku akan menjelaskannya sedikit sedikit. Setelah memakan jantung Leon, kekuatan iblis itu meningkat pesat. Tapi tidak lama dari itu, asap hitam keluar dari tubuhnya. Wajahnya seperti retak dan mengeluarkan asap. Tubuhnya membusuk dan terbakar oleh asap, lalu menghilang tanpa sisa.


Setelah menyaksikan kematian iblis itu, fokusku kembali pada Leon. Aku membawanya ke rumah. Kupikir dia sudah mati. Karena bagaimanapun, tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa jantung. Saat seharusnya seperti itu, dia tiba tiba sadar. Lubang di dada, nafas, nadi, semuanya berfungsi dengan baik.


Bahkan jantung yang sebelumnya sudah dimakan oleh iblis itu berdetak. Padahal seharusnya dia sudah tidak memiliki jantung. Dia hidup kembali tanpa aku tahu penyebabnya. Tidak lama setelah sadar, dia tidak sadarkan diri lagi selama beberapa hari.

__ADS_1


Itulah kenapa aku tidak memperbolehkanmu masuk. Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan keadaannya padamu. Hingga pada akhirnya dia sadar saat kau masuk ke kamarnya. Aku bersyukur saat itu. Tapi juga waspada padanya. Bagaimanapun, dia sudah mati. Tapi kenapa dia bisa hidup kembali dengan keadaan baik baik saja?"


Rafa terdiam mendengarkan penjelasan Nevan. Itu adalah hal yang tidak masuk akal. Namun belajar dari pengalamannya, ia percaya dengan ucapan Nevan.


__ADS_2