Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 143 -Leon II


__ADS_3

"Need..!"


Sontak saja Radolf langsung mendekati Need dan menariknya menjauh dari Michael. Kini organ dalamnya sudah tercecer dimana mana. Bahkan bila ia menjauhkan Need dari Michael sekarang, kemungkinan bagi Need bisa hidup sangat kecil.


"Kau bisa mendengarku? Need..?" Radolf melirik Michael yang berdiri diam tanpa berkedip. Tidak ada pergerakan apapun darinya membuat Michael terlihat aneh. Namun Radolf tidak mementingkan itu sekarang. Ia dengan sigap berusaha mengumpulkan cecerah organ dalam temannya.


Ia sebenarnya tidak biasa memegang organ dalam iblis. Apalagi yang masih baru dan berlumuran banyak darah seperti ini. Ia tidak kuat melihatnya. Namun ia juga tidak bisa membiarkan organ dalam Need tercecer di tanah.


Dengan perasaan ngeri dan khawatir, ia memasukkan organ itu kembali ke tempatnya walau tidak yakin hal itu dapat membuat Need baik baik saja.


"Need? Kau mendengarku?" Felix mencoba memanggil. Namun mata Need terus melotot tanpa berkedip. Tidak ada ringisan kesakitan darinya lagi. Hanya tersisa air mata yang mulai mengering.


Felix menjadi khawatir. Hal yang sangat tidak mungkin untuk hidup setelah organ dalamnya keluar. Tangannya terulur dan menutupkan mata Need yang terbuka. Ia menunduk tak kuasa melihat keadaannya, "Hentikan apa yang kau lakukan itu, Radolf. Dia sudah tiada."


Radolf yang baru saja selesai memasukkan semua organ dalam Need terdiam dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ia tahu apa yang tadi dilakukannya adalah sia sia. Ia tahu jelas hal itu.


Namun jika hanya diam, rasanya ia tidak mencoba berusaha untuk menolong Need dan itu bisa membuatnya sangat menyesal. Karena itu, ia mencoba melakukan hal yang ia bisa walau pada akhirnya sia sia.


Di tempat lain, di sebuah tempat yang gelap dan kosong. Dengan genangan darah sampai mata kaki. Walaupun dikatakan gelap, nyatanya siapapun yang berada di sana dapat melihat genangan darah itu.


"Siapa yang berani menarikku ke dalam alam bawah sadarku sendiri?!" ucap Michael dengan nada membentak. "Cepat perlihatkan dirimu!"


"Kau sangat tidak sabaran. Kupikir aku bisa langsung menarikmu ke tempat itu," ucap suara yang entah dari mana.


Keciprak Ciprak


Sedetik kemudian, terdengar suara seperti genangan air yang terinjak. Suara yang berasal dari belakang Michael. Ia langsung saja melihat ke belakang dan memperhatikan seseorang yang kini tengah berjalan diantara genangan darah.


Rambut herwarna hitam dengan mata merah yang nampak berkilat di gelapnya suasana.


"Kau..," Michael berekspresi geram. "Kau sudah mati, kenapa kau masuk ke dalam alam bawah sadarku?!"


"Aku tidak menyangka anak kecil yang sebelumnya pendiam kini mulai suka berteriak," ucap Leon yang terkesan mencemooh.

__ADS_1


"Apa maumu?" ucap Michael dengan dingin.


"Mauku? Kau mati," ucap Leon dengan dingin pula.


"HAHAHAHAHA KAU INGIN AKU MATI? HAHAHA KONYOL SEKALI!" Michael tiba tiba tertawa dengan keras hingga suaranya menimbulkan gema sampai berkali kali.


Leon hanya diam. Namun ia sedikit risih dengan suara Michael yang menggema.


Setelah puas, Michael menghentikan tawanya. Ekspresinya berubah santai, "Biar kukatakan padamu. Kau tidak akan bisa membunuhku. Karena apa? Karena kau tidak cukup kuat untuk menghabisiku."


"Kita lihat saja," ucap Leon tanpa gentar.


Michael terkejut saat suara Leon tiba tiba berada di samping telinganya. Ia menoleh, namun tak sempat menghindar. Leon telah memberikan pukulan telak pada wajahnya.


Bughh


Prakk Ciprakk


Suara genangan darah yang tercipta akibat hantaman tubuh Michael seketika memecahkan keheningan yang sempat tercipta.


Jika itu orang lain yang berada di alam bawah sadar Michael, maka sudah pasti dia akan ketakutan melihat genangan darah yang sebanyak ini. Namun bagi Leon, ini bukanlah apa apa.


"Aku merasakan energi yang tidak asing dari seranganmu tadi. Kau mendapatkan kekuatan tambahan darinya 'kan?" ucap Michael yang perlahan berdiri. Tubuhnya kini basah oleh darah.


"Darinya? Siapa yang kau maksud? Aku tidak mengerti," Leon mengangkat kedua bahunya dengan raut datar.


"Jangan pura pura tidak tahu! Kau pasti mengerti bahwa yang kumaksud adalah Raja dunia bawah!" kesal Michael.


"Oh, kau ternyata mengenali energi ini?" ucap Leon dengan nada tak peduli. Rasa rasanya ia jadi sering menanggapi pembicaraan lawan. Padahal biasanya ia lebih banyak diam. Apa mungkin ini karena jitakan Axelle sebelumnya?


"Ternyata kau bertemu dengannya. Apa saja yang dia katakan?" ucap Michael dengan raut tak peduli.


"Lebih baik kau tanyakan saja langsung dengannya. Jika kau mau menurut, aku akan membawamu padanya."

__ADS_1


"Cuih!" Michael meludah dengan raut sinis. "Menemuinya? Aku akan menemuinya sebentar lagi. Tapi sebagai atasannya."


Michael menghilang dan secara samar terdengar cipratan darah di segala tempat dan sulit diketahui dari mana asalnya. Karena suara itu terdengar di segala sisi.


Leon berekspresi serius. Ia mempertajam pendengarannya untuk memprediksi dimana kira kira Michael sekarang ini. Karena ia tidak bisa melihat sosok kecil itu dan hanya suara hentakan kaki di permukaan darah yang bisa didengar.


"Kau belum cukup kuat untuk bisa sombong di hadapanku!" ucap Michael dengan suara menggema.


"Lihatlah, kau akan memohon sambil bersujud di depanku untuk meminta pengampunan!" ucap Michael dengan suara yang kembali bergema.


Bugh


Ciprakk Ciprak


Tubuh Leon seketika terbanting berkali kali setelah mendapat pukulan telak yang mengenai perutnya. Belum sempat tubuhnya mendarat dengan baik, Michael muncul di belakangnya dan melakukan tendangan yang tepat mengenai punggung.


Berkali kali kejadian yang sama terjadi hingga Leon kini lebih mirip seperti bola yang dimainkan.


Setelah berkali kali mendapat serangan yang sama, akhirnya Michael melepaskan Leon dan membuatnya mendarat di atas genangan darah.


"HAHAHAHA BAGAIMANA?" teriak Michael dengan puas. Ia merasa diambang kemenangan. Awalnya ia merasa marah karena kedatangan Leon seperti ini, namun kini Leon seolah menjadi mainannya dan itu membuatnya menikmati ini.


Leon jatuh tertelungkup hingga darah membasahi sekujur wajahnya hingga ke bagian rambut. Tangannya pun bergerak dan menjadi tumpuan agar tubuhnya terangkat.


Dengan perlahan ia mulai berdiri. Tidak ada ucapan apapun yang ia katakan untuk membalas ucapan Michael. Setelah berhasil berdiri, lengan kananya ia usapkan dari dagu hingga ke rambut sehingga darah yang membasahi wajahnya tersingkirkan.


"Hah... Kupikir aku akan mati lagi. Ya... Kau memang kuat," ucap Leon dengan kepala terangkat sambil menatap Michael.


"Kau.. Seberapa banyak dia meminjamkan kekuatannya padamu?!" Michael terkejut saat melihat wajah Leon. Mata Leon yang seharusnya berwarna merah dua duanya, kini mata kanannya berwarna biru sama seperti miliknya.


Leon sendiri tidak tahu. Ia hanya menanggapi ucapan Michael dengan biasa, "Kenapa kau menanyakan itu padaku? Bila kau ingin mengatakan sesuatu, katakanlah pada orang itu. Aku akan mengantarmu padanya."


Michael mengepalkan tangannya dengan kuat. Giginya menggemertak hingga menimbulkan suara, "Sepertinya dia tahu sesuatu dan ingin menghabisiku di saat ini juga melalui dia sebagai perantara. Tapi itu tidak akan terjadi. Aku akan bertahan sampai permintaan ketiga itu terpenuhi," gumamnya.

__ADS_1


Tanpa menanggapi ucapan Leon, Michael dengan cepat mencoba menyerang Leon kembali seperti sebelumnya.


Namun kini Leon tidak mudah untuk digapai seperti sebelumnya. Kecepatannya setara dengan Michael. Bahkan ketahanan tubuhnya lebih kuat dibanding Michael.


__ADS_2