Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 75 -Memohon


__ADS_3

Flynn terkejut dan langsung terbatuk darah. Ia mencengkram sebuah tentakel yang menembus dadanya dan menariknya keluar. Namun, tentakel lain keluar dari kupu kupu itu dan langsung mengikat lengan yang ia gunakan untuk menarik tentakel di tubuhnya.


Ia jadi sulit menggerakkan lengannya. Tapi samar samar tercipta padatan di udara yang langsung melesat ke arah kupu kupu di punggung tangannya.


Sraattt


Kupu kupu terbelah menjadi dua dan menghilang seperti kertas yang terbakar api.


Kupu kupu lain nampak tidak tinggal diam. Mereka terbang mendekati Flynn untuk menyerangnya.


Pria itu segera menarik tentakel yang sebelumnya melilit tangannya. Ia juga mencabut tentakel yang tertancap di tubuh. Ia menciptakan padatan energi angin di udara dan melesatkannya pada keempat kupu kupu tersisa.


Dua kupu kupu terbelah dan menghilang dengan cara yang sama. Sedangkan dua lainnya berhasil menghindar. Mereka mengeluarkan tentakel masing masing dan melilitkannya pada kedua tangan Flynn.


Namun, pria itu tidak membiarkannya. Ia menciptakan pisau angin lagi dan memotong kedua tentakel yang melilitnya, bersamaan sambil memotong kedua kupu kupu itu.


Semua kupu kupu akhirnya menghilang. Flynn segera terduduk di tanah. Ia memegangi lubang yang ada di dadanya. Jika saja ia sangat ceroboh, maka sudah dipastikan bila tusukan itu akan tepat mengenai jantung dan ia akan mati.


Walau begitu, ia tetap merasa kesakitan. Ia sampai bernapas pelan pelan agar rasa sakit di dadanya sedikit berkurang, "..Kekuatanku seperti ditarik setelah benda panjang itu menusukku. Sebenarnya... Apa yang sudah terjadi selama aku tidak berada di sini?"


***


"A-apa maksudmu Rafa?" Melvin tertegun ketika melihat Rafa yang baru saja pulang dan langsung mengatakan sesuatu yang mencengangkan.


"Paman berbohong. Paman sebenarnya mengetahui cara untuk pergi ke dunia iblis, 'kan?" ucap Rafa dengan sedikit penekanan.


"Bagaimana kau bisa menuduh paman seperti itu? Bukankah paman sudah mengatakannya? Aku tidak tahu cara untuk pergi ke dunia–"


Rafa memptong, "Jangan berbohong lagi, paman. Aku sudah tahu. Paman menyembunyikan fakta itu karena tidak mau aku ke sana. Aku tahu pembicaraan paman dengan Nev saat malam."

__ADS_1


Melvin mengerutkan keningnya, "Bagaimana kau bisa mengatakan itu? Kau tahu dari mana?"


"Tidak perlu tahu aku mengetahuinya dari mana, tapi yang jelas, aku ingin mengetahuinya paman. Tolong katakan cara agar aku bisa ke sana. Aku ingin bertemu dengan ayah.."


Melvin menggelengkan kepala, "Tidak. Jika kau sudah tahu alasanku menyembunyikannya agar kau tidak ke sana, maka kau jangan ke sana. Kau sudah tahu alasannya, jadi kau tidak perlu menanyakannya lagi."


"Tapi aku ingin pergi ke sana. Aku ingin tahu bagaimana kondisi ayah. Dia mengatakan akan kembali menemuiku, tapi dia tidak pernah kembali. Aku khawatir dengannya," raut wajah Rafa terlihat memelas.


"Rafa.., tidak bisa. Aku tidak akan mengizinkanmu pergi. Kau tahu sendiri jika di sana sangat berbahaya. Itu adalah tempat tinggal iblis dan kau sendiri sudah pernah melawan makhluk itu. Apa walaupun kau sudah tahu, kau tetap ingin ke sana?" ekspresi wajah Melvin kini berubah sangat serius. Ia tidak akan menyangkal lagi jika ia tahu cara untuk pergi ke dunia iblis.


Rafa menelan ludah sesaat, sebelum berucap, "Iya, aku yakin. Aku akan ke sana dan menemui ayah–"


"Apa kau sebegitu inginnya menemui ayahmu? Apa kau merasa tidak nyaman karena harus bersama dengan paman?"


Rafa tersentak, apalagi ketika melihat ekspresi sedih yang ditunjukkan Melvin padanya. Ia tidak pernah melihat ekspresi seperti itu pada pamannya. Bahkan sekarang dia terlihat begitu sedih dan kecewa. Hatinya menjadi tidak enak ketika melihat itu.


Jika bukan karena paman, maka ia sudah terluntang lantung di jalanan, ia tidak akan bisa kembali ke rumah ini, ia tidak akan dapat bersekolah, ia akan sulit mendapatkan makanan, ia tidak akan memiliki tempat tinggal. Semua itu.. Karena pamannya.


Menuruti egonya hingga membuat pamannya seperti ini, membuat Rafa merasa begitu bersalah. Tapi..


"Bukannya aku tidak suka bersama dengan paman... Tapi aku hanya merindukan ayah. Aku mengkhawatirkannya. Selain itu, ada seseorang yang juga kukhawatirkan. Aku ingin mengetahui kondisi mereka," ucap Rafa dengan pelan. Nadanya sekarang menjadi lebih tenang.


Melvin menggeleng, "Bukannya aku tidak memperbolehkanmu untuk menemui ayahmu. Tapi.. Dunia iblis benar benar tempat yang berbahaya untuk manusia. Kau bisa berada dalam bahaya jika pergi ke sana."


Rafa tersenyum kecut. Ia menatap Melvin, "Bukankah pergi atau tidaknya aku ke sana.. Tetap tidak akan merubah fakta, jika aku akan mati di umur 18 tahun? Bahkan jika aku mati lebih cepat, bukankah tetap tidak ada artinya? Pada akhirnya umurku tidak akan lebih dari 18 tahun, dan beberapa hari lagi aku berumur 17 tahun. Tidak ada bedanya jika aku mati lebih cepat."


Melvin dapat melihat kesedihan yang mendalam dalam pancaran mata Rafa walau terlihat samar. Sepertinya Nevan sudah menceritakan banyak hal pada pemuda itu. Ia menaruh kedua lengannya di pundak Rafa dan menggeleng, "Tidak, Rafa.. Tidak.. Jangan mengatakan itu."


Ia sangat sedih ketika Rafa mengatakannya. Ia pun sangat menyayangkan jika pemuda ini mati begitu muda. Ia tidak ingin keponakannya mati seperti itu. Ia ingin Rafa bisa panjang umur.

__ADS_1


Namun apalah daya jika takdir memang seperti ini. Bila pemilik pengaruh mutlak bisa merubah takdir seseorang, maka orang yang memilikinya tidak bisa mengubah takdirnya sendiri.


Jikalau bisa, maka Melvin ingin menanggung sebagian besar dari penderitaan Rafa. Ia ingin meringankan bebannya. Tapi itu tidak bisa ia lakukan.


"Perkataanmu memang tidak ada salahnya. Tapi.., aku akan ikut! Aku akan memastikan agar kau tidak mati sebelum umur yang telah ditentukan itu."


Rafa dan Melvin melihat ke arah kiri secara bersamaan ketika mendengar suara lain. Dari balik lemari kaca, Nevan muncul dan sepertinya mendengar beberapa pembicaraan mereka.


Melvin sama sekali tidak merasakan kehadirannya. Bahkan ia tidak menyadarinya. Anaknya sudah tumbuh lebih kuat hingga ia tidak bisa merasakan keberadaannya.


Melvin melepaskan kedua tangannya dari Rafa. Keningnya seketika berkerut, "Apa maksud dari ucapanmu itu, Nevan?"


Nevan tanpa ragu menjawab ayahnya, "Maksudku, aku akan pergi bersama dengan Rafa ke dunia iblis, ayah. Aku tidak akan membiarkannya pergi sendirian. Lalu, akan aku pastikan dia tidak mati sebelum mencapai umur yang sudah ditentukan. Aku akan membawanya kembali hidup hidup."


"Tidak, ayah sudah melarangnya. Ayah tetap tidak akan mengizinkan kalian pergi. Di sana berbahaya. Kalian tidak boleh ke sana," Melvin tetap keras dan melarang masuk ke dunia iblis. Namun sepertinya kedua pemuda di depannya pun sama keras kepalanya.


"Paman, aku akan baik baik saja. Aku hanya akan menghindari iblis saat aku melihatnya. Aku tidak akan bertarung dengan mereka. Paman pun tahu 'kan, aku adalah pemilik pengaruh mutlak. Iblis dan blizt akan tunduk padaku. Jadi iblis manapun tidak akan berani menyerangku," Rafa tersenyum percaya diri.


Kehadiran Nevin membuat Rafa begitu percaya diri. Apalagi ketika mendebat pamannya. Ia menjadi lebih berani untuk mengutarakan apa yang ia mau.


"Untuk sekali ini saja, ayah. Sekali.... Ini saja. Tolong izinkan Rafa pergi ke sana. Aku akan menemaninya. Aku juga tahu bagaimana iblis itu, aku sudah pernah bertarung melawannya. Tapi dari yang kutahu.. Tidak semua iblis akan menyerang manusia, ayah," Nevan melukis senyum di wajahnya. Ia seperti percaya dengan adanya iblis yang baik.


Bertemu dengan Leon, membuatnya memiliki pemikiran demikian. Tidak semua iblis jahat, tidak semua iblis menginginkan kekuatan, tidak semua iblis kuat, mereka masih makhluk hidup. Mereka memiliki kekurangan. Jadi untuk apa takut? Jika mereka takut, maka hanya akan menambah kesan jika iblis tak bisa dikalahkan dengan mudah.


"Lagi pula, aku sudah bertambah kuat. Ayah, tolong percaya padaku. Sekali ini saja."


Rafa melirik Nevan sesaat sebelum mengalihkan pandangannya pada Melvin. Ia mengangguk angguk dan ikut memberi tatapan memohon, "Benar paman. Percayalah padaku untuk sekali ini saja. Saat kembali nanti, paman boleh melakukan apapun padaku. Kau boleh menjitakku, menyuruhku membereskan rumah, mengurungku atau apapun itu. Jadi.. Sekali ini saja, kumohon.."


Melvin menggelengkan kepala. Ia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun ketika melihat tatapan keduanya. Mereka begitu bertekad dan berambisi untuk pergi ke dunia iblis. Apa ia berikan kesempatan? Tapi, jika ia melakukannya, apakah mereka tidak akan pernah kembali? Apa mereka bisa pulang dengan selamat?

__ADS_1


__ADS_2