
Radolf, Need dan Rafa berusaha keras untuk menghabisi para mayat yang nampak tidak ada habisnya ini. Mereka seolah mengelilingi Nevan untuk melindunginya.
Namun Nevan sendiri tidak hanya diam berlindung di belakang punggung mereka semua. Ia memunculkan busur dan memanah satu persatu mayat untuk memberikan bantuan pada teman temannya.
Saat mereka semua terfokus untuk menghabisinya, tidak ada yang sadar bila para mayat itu masih bisa kembali bergerak, kecuali Nevan yang menyadarinya.
Ia menyaksikan sendiri bagaimana tubuh mayat yang semula terkena tusukan di bagian jantung kembali berdiri. Bahkan mayat lain pun dalam keadaan serupa. Tidak hanya itu, bahkan tangan tangan mayat yang tertebas bergerak gerak seolah hidup dan bisa menyerang tanpa tubuh.
Nevan menahan napas. Jika terus seperti ini, maka mereka hanya akan kehabisan tenaga. Apalagi menebas anggota tubuh lawan hanya akan membuat mereka semakin kerepotan, "Mereka bisa bergerak kembali walaupun sudah tertebas."
Ucapan dari Nevan membuat yang lain tersentak dan memperhatikan lawan dengan baik. Apa yang diucapkan pemuda itu memang benar. Semua orang yang harusnya mati itu kembali bergerak.
"Apa ini akibat dari kupu kupu itu?" ucap Need sambil berpikir. Ia menebas mayat yang mendekatinya dan menerjang untuk menyingkirkan mereka semua. Ia tidak hanya asal menyimpulkan demikian. Karena setiap lawan yang ia tebas, semuanya memiliki kesamaan.
Daging mereka seolah tinggal kulit, tubuh mereka begitu pucat.
"Karena dari yang kulihat, semua mayat yang menyerang kita memiliki ciri ciri serupa dengan korban kupu kupu itu," lanjut Need.
Radolf terkejut mendengar penuturan Need. Ia sampai tidak sadar menghabisi 20 musuh sekaligus dalam satu ayunan sabitnya, "Jika apa yang kau katakan benar, maka..."
Rafa pun dapat menangkap maksud ucapan ayahnya, ia membalas, "Maka berarti semua iblis yang terkena kupu kupu itu mungkin berada dalam keadaan sama. Mayat mayat itu sudah menyebar dan menyerang iblis yang masih hidup."
Nevan menelan ludahnya. Entah kenapa ia merasa keadaan tidak membaik. Bahkan terasa memburuk, "J-jika seperti ini.. Maka tidak akan ada habisnya. Kita semua akan tamat."
Rafa mundur perlahan sambil tetap mengayunkan belati miliknya. Saar berada di dekat saudaranya, ia langsung menyenggol tangan pemuda itu hingga membuat serangan panah meleset.
Nevan terkejut dan sontak menatap punggung Rafa, "Apa yang kau lakukan?!"
Rafa menghela napas pelan dan tanpa menoleh, ia berucap, "Sejak berada di sini, kau terus saja berpikiran buruk. Tidak biasanya kau sangat tidak percaya diri dan takut begini. Apa otakmu baru saja terbentur sesuatu saat kita dikirimkan kemari, huh?"
Jelas Rafa baru saja mengejeknya, hal ini pun seketika membuat raut wajah Nevan menjadi masam, "Aku hanya khawatir tahu! Lagi pula, siapa yang takut? Aku tidak takut sama sekali!"
Nevan seketika mengubah senjatanya menjadi sebuah pedang dan berdecak, "Akan kubuktikan, aku tidak takut!"
Nevan menerjang lawan begitu saja dan dia seolah mengambil alih posisi penyerangan Rafa. Walaupun sempat tertegun sejenak, namun Rafa segera tersadar. Ia tersenyum tipis dan pergi menyerang lawan lainnya, "Ah apa benar?"
"Lalu tidak biasanya kau bersikap seperti sekarang. Kau lebih cerewet dan suka mengkritik orang. Kemana sikap penakutmu itu, huh? Kau sudah terlalu stres ya hingga melupakan rasa takutmu itu?" balas Nevan tak mau kalah.
Rafa malah mendecak kesal. Emosinya seperti baru saja dipancing Nevan, "Terserah kau saja."
__ADS_1
Radolf maupun Need tidak mendengarkan pembicaraan kedua pemuda itu dan lebih memilih untuk menyerang lawan. Saat salah satu lengan ditebas, mereka segera menginjaknya dengan keras. Suara tulang yang patah dan retak terdengar begitu jelas di telinga keduanya.
Namun mereka tidak berhenti dan terus menginjaknya hingga menjadi kepingan yang begitu kecil. Tanpa mengendurkan kewaspadaan, mereka tetap menyerang sambil sesekali melihat tangan yang diinjak sebelumnya. Tidak ada pergerakan apapun pada tangan itu sekarang.
"Kita harus benar benar menghancurkannya jika tidak mau mereka bergerak lagi," ucap Need dengan serius. Saat ia menghindari serangan cepat lawan, ia hampir saja terkena sebuah pukulan andai tidak menahannya dengan tangan. Ia segera menepisnya dan memberikan tendangan kuat yang membuat lawan terpukul mundur.
"Kau memang benar, tapi.. Itu akan memakan waktu. Kita tidak memiliki waktu sebanyak itu untuk melakukannya. Lihatlah jumlah mereka dan energi kita terkuras banyak setelah kejadian sebelumnya. Tidak, tidak akan bisa," Radolf menggeleng.
Need merenung mendengar ucapan itu. Saat ia lengah, salah satu mayat langsung memberikan luka goresan pada bahunya. Ia menggeram tertahan dan memenggal kepala mayat itu.
Saat pandangannya terarah ke samping, ia melihat obor yang masih menyala nyala dengan api yang cukup besar. Ia tersenyum dan kemudian berekspresi serius, lalu berseru, "Kalian semua, ambil obor yang ada di dekat kalian dan gunakan pada mayat mayat ini..!!"
Mendengar teriakan itu, semuanya langsung berlari mendekati obor di dekat mereka dan menghancurkan para mayat yang menghalangi jalan.
Grepp
Nevan berekspresi pucat dan melihat ke bawah. Kakinya dicengkram sebuah tangan tanpa tubuh. Ia memandang takut ke arah tangan itu, sebelum akhirnya ia melepaskannya dengan tangan dan melemparkan pada kerumunan mayat.
Namun saat selesai melakukannya, seorang mayat langsung menggigit bahunya dengan keras hingga darah Nevan menyiprat pada mayat itu.
Nevan sontak berteriak tertahan. Ia menarik rambut dari kepala tanpa tubuh itu hingga gigitan terlepas darinya. Setelah berhasil, ia melemparkannya sembarang. Bahunya nampak terkoyak hingga terlihat daging dan darah segar yang mengucur ke tanah.
Nevan menjadi kesulitan. Ia beberapa kali sampai tergigit ataupun tercakar oleh para mayat ini. Buruknya, itu malah membuat mayat mayat ini semakin menggila.
"Rafa..!" Nevan berteriak dan nama itu'lah yang pertama kali terlintas dalam benaknya. Tubuhnya seketika ambruk ke tanah karena terdorong oleh banyaknya mayat. Para mayat yang hanya kepala, tangan, ataupun tubuh yang utuh langsung mengerumuni Nevan dan menyerang ataupun menggigitnya.
Nevan tidak bisa menahan air yang tergenang di pelupuk matanya. Jelas ia sangat kesakitan. Apalagi pedang yang terbuat dari energinya menghilang tiba tiba karena ia tidak fokus. Ia masih mencoba menyingkirkan mayat mayat itu dengan tangannya, walau luka semakin banyak menghiasi tubuh.
Rafa tersentak dan menoleh ke arah suara berasal. Ia semakin terkejut ketika melihat kerumunan mayat yang entah mengerumuni apa. Namun ia mendengar suara saudaranya dari arah sana dan mendapat firasat buruk.
Ia menebas salah satu mayat dan mendekati kerumunan ini. Perasaannya menjadi semakin gelisah karena berpikir Nevan 'lah yang menjadi pusat dari kerumunan mayat itu.
Setelah berada semakin dekat, Rafa bisa mendengar suara kesakitan pilu dari pemuda itu. Apalagi ia kini bisa sedikit melihat keadaan saudaranya yang terbaring dan dikerumuni.
Matanya melotot dan menajam ketika melihat itu, "Kalian..," suaranya memberat.
Kabut hitam tipis mengitari belati milik Rafa. Pemuda itu menerjang kerumunan mayat dengan cepat. Tangannya terus terayun ke arah kanan dan kirinya. Matanya pun terus tertuju pada Nevan yang menjadi pusat tujuannya.
Namun entah disadari atau tidak oleh Rafa, hanya dengan sedikit goresan belati itu, semua mayat berhenti bergerak. Mereka langsung terjatuh tanpa bisa bergerak lagi.
__ADS_1
Setelah menyingkirkan semua mayat di sekitarnya, Rafa kini bisa melihat sangat jelas keadaan saudaranya. Kedua tangan pemuda itu banyak terkoyak seperti bekas gigitan hingga nyaris memperlihatkan tulangnya. Wajahnya mendapat goresan yang tidak sedikit. Belum lagi, salah satu kakinya mengalami nasib sama seperti tangannya. Perut pemuda itu pun mendapat banyak luka cakaran.
Rafa sampai mengerutkan kening dengan ekspresi sakit. Bukan dia yang berada di posisi itu, namun rasanya ia seakan bisa merasakannya. Ia dengan cepat berlutut di samping Nevan, "K-kau baik baik saja?"
Nevan terengah dan mengerang. Ia tidak pernah membayangkan jika keadaannya akan begitu menyakitkan seperti ini. Dagingnya seperti dimakan oleh para mayat itu. Satu kata untuk mereka, monster.
Rafa tidak tinggal diam. Ia menyimpan belati miliknya di tanah dan menyentuh tangan saudaranya yang sebagian besar terkoyak habis. Ia meringis dan berekspresi khawatir.
Tidak hanya khawatir, ada rasa marah yang meledak ledak di dalam dirinya ketika melihat keadaan saudaranya yang begitu memprihatinkan ini. Ia mengutuk dalam hati siapapun yang sudah membuat mayat menjadi hidup.
Disisi lain, Need maupun Radolf tidak tahu keadaan yang sudah terjadi. Mereka mengambil obor dan mulai membakar para mayat dalam api yang berkobar. Tubuh mereka terbakar hebat. Walaupun sempat bergerak ketika terbakar, itu tidak lama sebelum akhirnya tubuh mereka yang terbakar terjatuh ke tanah tanpa pergerakan sama sekali.
Apa yang direncanakan Need ternyata berhasil. Satu persatu mereka membakar mayat dan membuat tempat ini menjadi semakin terang karena api.
Rafa terengah karena sudah banyak menggunakan energinya sejak tadi. Ia menggeleng ketika pandangan matanya sedikit buram. Keringat membasahi keningnya. Namun ia terus berusaha menyembuhkan Nevan secepat mungkin, agar saudaranya itu tidak terlalu lama merasakan sakit.
Nevan sendiri memejamkan matanya, karena tidak kuat dengan semua rasa sakit ini dan berakhir tidak sadarkan diri.
Namun selama menyembuhkan, para mayat mayat yang ada juga tidak tinggal diam. Mereka yang tidak terkena serangan Rafa mulai bergerak mendekati kedua pemuda itu, bahkan mengelilingi mereka, seolah mengatakan jika keduanya tak bisa melarikan diri.
Rafa menggeram karena marah. Ia melirik mayat yang ada di belakangnya dan seketika itu pula, mayat itu berubah menjadi abu. Tidak hanya mayat itu saja, namun semua mayat di sekitarnya pun demikian. Mereka tiba tiba menjadi abu begitu saja.
Matanya yang berwarna ungu cerah itu seketika berubah menjadi merah gelap. Perubahan matanya ini tidak disadari siapapun, kecuali satu orang yang kini berada jauh dari tempatnya berada.
"Yah, sebenarnya aku masih tidak terima jika kau hanya melakukan itu saja. Padahal kita bisa menghabisi semuanya, tapi kau menahan itu. Apa kau tidak peduli dengan siapapun yang akan melawan mereka nantinya?"
Seorang pemuda yang terlihat berusia sekitar 25 tahun terlihat berjalan santai bersama dengan pemuda lain yang memiliki umur lebih muda darinya. Dia terus berbicara dan mencoba membuat subjek di sampingnya bicara lebih banyak.
Namun ucapannya yang cerewet hanya sesekali direspon oleh pemuda bermata dingin itu. Ia yang asyik dengan ucapannya sendiri itu pun akhirnya berhenti bicara saat sosok di sampingnya berhenti berjalan di belakang. Ia berbalik ke belakang dan terlihat keheranan, "Kenapa kau berhenti? Kita masih berada jauh dari tempat tujuan kita."
Pemuda bermata dingin itu menatap orang di depannya, "Tiba tiba aku merasakan perasaan marah yang besar."
Sempat tertegun, pemuda yang terlihat berusia 25 tahun itu pun membalas, "Mungkin kau sedang merasakan apa yang dirasakan separuh jiwamu?"
"Maksudmu?"
"Bukankah sudah kukatakan? Kau tidak lengkap. Kau setengah. Walaupun itu bisa dikatakan kekurangan, tapi itu juga sesuatu hal yang unik dan merupakan kelebihan."
Pemuda bermata dingin itu hanya diam mendengar ucapan lawan bicara. Ia pun mengacuhkan perasaan yang terasa bergemuruh di dalam dadanya dan melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
"Hei–tunggu..! Jangan meninggalkanku! Padahal aku sudah menjawabmu, tapi kau malah seperti ini..! H-hei..!"