
Sebelum mayat hidup datang, Leon dan yang lain segera berpindah tempat. Beberapa manusia diantara mereka membawa orang orang yang masih pingsan. Sedangkan 2 mayat manusia dibiarkan di tempat itu.
Awalnya Melvin ingin menguburkannya, namun Leon mencegah karena mayat hidup akan tiba jika mereka terlalu lama di sini. Tentunya pria yang sudah memiliki 2 anak itu menolak keras. Hanya saja, Nevan membujuk dan akhirnya semua pergi tanpa terkecuali.
Di perjalanan tak ada hambatan apapun. Dengan Leon beserta Felix sebagai pemandu jalan, semuanya terasa begitu mudah.
Pemandangan langit menjadi semakin gelap katika hari mulai sore. Perbedaan siang dan malam kini memang sulit dibedakan karena langit tidak lagi cerah. Namun berkurangnya cahaya yang masuk melalui celah awan hitam membuat mereka bisa mengira ngira. Tapi memikirkan siang atau malan bukan'lah sesuatu yang penting sekarang.
"Hah.. Hah..," Nevan bernapas tak beraturan. Ia kelelahan setelah berjam jam berjalan tanpa henti. Sejak dirinya di sini, ia selalu saja berjalan ataupun bertarung seolah semua waktu hanya untuk itu saja. Rasanya ia sedikit menyesal mengikuti Rafa kemari.
"Berhenti di sini saja dulu, kita sudah berjalan sejak tadi," keluhnya.
Leon menghentikan langkahnya. Kepalanya ia lirikkan ke belakang sesaat. Matanya pun menatap sekitar dengan awas. Pemandangan pohon pohon tinggi dengan batang yang tegak lurus dan hanya berjumlah sedikit membuat cahaya matahari tersisa dapat menembusnya, "Tidak ada bahaya di sekitar?"
Felix mengangguk, "Hanya ada sedikit monster, tapi jaraknya jauh dari sini."
"Baiklah, kita beristirahat saja di sini. Lalu Fel, buat kubah besar untuk melindungi tempat ini."
"Baiklah," Felix menunjuk ke atas langit. Tak lama, dari arah yang ditunjuknya mulai terbentuk kurungan berbentuk kubah transparan yang mencakup lingkungan sekitar termasuk semua orang di dalamnya.
Freed, Nix, dan semua yang belum pernah menyaksikan hal ini terlihat takjub. Mereka tak henti hentinya menatap kubah transparan yang mulai terbentuk hingga akhirnya kubah itu mengenai permukaan tanah.
Nevan sendiri seketika berbaring di tanah dengan raut senang setelah Leon memberikan waktu untuk istirahat, "Haha, akhirnya istirahat juga. Sudah lama rasanya tidak bersantai seperti ini."
Rafa pun ikut duduk di samping Nevan, "Padahal semalam kita baru saja istirahat. Apa selelah itu?"
"Hei, memangnya kau tidak lelah? Sudah berhari hari kita selalu seperti ini. Berjalan, bertarung, berjalan, bertarung, terus seperti itu. Memang kau tidak kelelahan?"
Rafa mengangguk, "Mn, sedikit. Tapi aku senang karena kita semua bisa berkumpul seperti ini. Ayah, kau, aku, Leon dan Paman," bibirnya pun melukis senyum.
Nevan hanya tertawa renyah. Yah.. Itu memang ada benarnya. Ia senang ketika melihat Rafa bisa bertemu kembali dengan Ayahnya. Apalagi mereka juga bertemu Leon. Memang sedikit mengejutkan perwujudan Leon sekarang. Dia tidak seperti anak 10 tahun yang kehilangan ingatan seperti sebelumnya, "Eh.. Ngomong ngomong tentang Leon... Berapa umurnya sekarang ya?"
Nevan mengubah posisinya menjadi duduk. Ia menatap Rafa dengan mata penuh rasa penasaran, "Kau juga pasti ingin tahu. Lagi pula, dia iblis. Kita tidak bisa menilai umurnya dari luar."
Rafa berkedip ketika ditatap demikian. Ia jadi ikut penasaran setelah mendengar ucapan saudaranya. Matanya pun beralih menatap Leon yang berdiri tidak jauh darinya. Matanya menyipit dengan pikiran yang menerka nerka usia dari iblis itu, "18? 20? 30?"
"Iblis bisa mencapai umur ratusan tahun! Bagaimana jika dia ternyata sudah berumur sangat tua? Karenanya, saat ke dunia manusia dia hilang ingatan. Bisa jadi 'kan?"
"Lalu bagaimana dengan Ayah?"
Nevan ikut menatap hal yang dilihat Rafa. Saat ini terlihat Radolf yang mencoba untuk terus bersama Ayahnya dan menjalin hubungan baik. Ia tidak tahu apa saja yang sudah terjadi diantara Ayahnya dan Ayah Rafa, tapi sepertinya Ayahnya begitu marah pada pria itu.
__ADS_1
Yang ia tahu, karena adik Ayahnya atau Ibu Rafa berhubungan dengan Radolf, Ibu dari Rafa meninggal setelah melahirkan Rafa. Saat umur 10 tahun, saudaranya juga ditinggalkan Radolf dan dititipkan pada Ayahnya.
Entahlah, ia tidak pernah tahu bagaimana rupa dari Bibinya. Bahkan tidak ada satu pun foto yang memuat gambar dari Ibu Rafa di dalam album foto. Jadi ia sama sekali tidak mengenalnya dan tidak memiliki perasaan apapun atas meninggalnya wanita itu.
"Aku jadi kepikiran dengan ucapan Leon sebelumnya tentang aku yang merupakan sebagian dari jiwanya," ucap Rafa dengan pelan.
Nevan kini menatap saudaranya kembali. Ekspresi bingung dan penuh pertanyaan itu membuat dirinya ikut mengingat ingat ucapan Leon saat mereka masih berada di hutan itu.
Falshback~
Setelah semua kekacauan selesai, Leon bersama dengan Nevan, Rafa, Need dan Radolf pergi ke tempat yang sedikit jauh dari tempat pertarungan sebelumnya terjadi.
Mereka meninggalkan Freed, Nix dan Kite di tempat pertarungan. Kedua manusia itu sedang menguburkan mayat mayat rekan mereka. Sedangkan untuk Kite, ia bertugas sebagai pengawas keduanya.
Terlihat Rafa dengan Radolf melepas rindu dengan pemuda bermata merah itu. Jelas mereka sama sekali tidak menyangka jika Leon akan datang dengan keadaan seperti ini. Nevan maupun Need juga demikian. Tidak ada yang menyangka jika Leon akan hidup dan berada di hadapan mereka sekarang.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Tukang sapu–Maksudku Need mengatakan jika kau sudah mati. Kau sudah bertarung dengan Raja iblis dan dia mengatakan menyaksikan sendiri jika mayatmu dimakan oleh monster," ucap Nevan sambil menunjuk Need.
Need sendiri hanya diam tanpa memberi komentar. Kepalanya tertunduk. Ia siap jika Leon membongkar rahasia tentang dirinya yang sudah menghabisi Leon.
Leon mengangguk, "Itu memang benar. Karena bertarung dengan semua Raja iblis, aku pada akhirnya mati. Entah apa yang terjadi setelahnya jadi aku tidak tahu jika mayatku dimakan monster. Bagaimanapun aku sudah mati."
Need seketika menatap Leon. Ia berkedip dan tidak menyangka ternyata Leon tidak membawa namanya sebagai pembunuhnya.
"....Tapi mengingat mayatmu dimakan monster, kemungkinan untukmu hidup kupikir kurang dari 20%."
"Di dunia manusia? Apa maksudmu, Nev?" sergah Rafa.
Nevan tertegun. Ia melirik Rafa dalam diam. Ia lupa jika Rafa tidak tahu tentang kematian Leon saat jantungnya dimakan oleh iblis.
Leon pun mencoba membantu Nevan dengan mengalihkan perhatian Rafa, "Saat pertama kali membuka mata, yang kulihat adalah langit langit yang gelap. Lalu di sana, aku juga melihat Kite. Dia menyaksikan diriku yang kembali dari kematian. Dia mengatakan melihat ribuan cahaya bulat membentuk tubuhku. Lalu setelahnya aku membuka mata, seperti itu."
"Lalu.. Kite itu siapa? Apa sejak awal kau mengenalnya sebelum kejadian itu?" Radolf berekspresi penasaran. Karena selama ini, ia merasa tidak pernah melihat Kite sama sekali.
Leon menggeleng, "Tidak, aku mengenalnya pada saat itu juga. Aku tidak kenal siapa dia sebelumnya. Tapi dia mengatakan memiliki kemampuan melihat jiwa seseorang. Lalu mengatakan padaku jika aku setengah.
Aku pada awalnya tidak mengerti. Lalu dia mengatakan jiwaku hanya setengah."
Nevan terdiam sejenak, "Apakah setengah dari jiwamu... Adalah Rafa?"
Leon tidak terkejut mendengar tebakan dari Nevan. Karena sebelumnya Nevan juga ikut mendengar pembicaraannya dengan Kite.
__ADS_1
"Aku sudah menanyakan ini pada Kite, tapi dia tidak menjawab. Lalu melihatmu juga tidak menjawab itu, apa artinya benar?" tanya Nevan lagi.
Rafa memiringkan kepalanya karena masih tidak paham. Need dan Radolf pun sepertinya belum mengerti dengan apa yang dibicarakan.
"Iya, Rafa adalah sebagian dari jiwaku. Walau kita dari jiwa yang sama, tapi kita menjadi dua makhluk dan wujud yang berbeda. Jadi walaupun kami jiwa sama yang terpisah, kami tetap saja berbeda," ucap Leon.
Rafa berbicara dengan pelan, "Apa maksudnya aku dan Leon satu jiwa, tapi kami terpisah menjadi dua jiwa berbeda?"
Leon mengangguk, "Karena itu, kau memiliki kemampuan yang sama denganku. Awalnya kupikir kemampuanku adalah penyembuhan, lalu kupikir itu adalah kemampuan untuk memanipulasi waktu. Tapi setelahnya aku tahu. Kekuatanku bukan'lah seperti itu. Kemampuanku adalah memutuskan takdir seseorang.
Kekurangan dari jiwa yang terpisah menjadi dua adalah kekuatannya berkurang. Lalu kelebihannya, mereka tidak bisa mati. Kecuali...
Mereka mati dalam waktu bersamaan."
Rafa terkejut mendengar ucapan terakhir dari Leon, "T-tapi aku terlahir dari setengah iblis dan blizt. Nev mengatakan jika di buku tertulis jika umur orang yang seperti itu paling lama 18 tahun."
Radolf malah terkejut mendengar ucapan Rafa. Ia tidak pernah tahu hal seperti itu, "A-apa itu benar?"
"Siapa yang menulis buku itu?"
Rafa terkesiap. Ia menyenggol lengan Nevan dan bermaksud ingin Nevan yang menjawabnya.
"Eumh.. Aku tidak tahu...," Nevan menggaruk pipinya yang tidak gatal.
Leon menggeleng mendengar jawaban ragu dari manusia itu, "Sebenarnya memang ada catatan tentang anak setengah blizt dan iblis. Tapi tidak ada yang mengatakan umur paling lama yang dimiliki hanya sampai 18 tahun."
"Kalau begitu, apa aku bisa hidup selama kau hidup?"
Pertanyaan dari Rafa langsung dibalas Leon dengan serius, "Tidak, aku iblis. Dan kau manusia. Umur yang dimiliki iblis dengan manusia berbeda."
Alis Rafa seketika mengernyit dalam, "Lalu? Bagaimana? Bukankah kau mengatakan kita bisa mati jika mati dalam waktu bersamaan?"
"Itu benar, tapi tetap saja kita berbeda jenis ras. Umur yang dimiliki iblis bisa sampai ratusan bahkan ribuan tahun. Berbeda dengan manusia yang hanya memiliki umur tidak lebih dari 100 tahun.
Aku juga tidak mengerti kenapa sebagian jiwaku adalah kau. Kita lahir di tahun yang berbeda, masa hidup berbeda dan ras yang berbeda. Kita bisa mendapatkan jawabannya dari Kite nanti."
"Kalian membicarakanku?"
"Aaaakhhhh...," Sontak Nevan berteriak kaget ketika merasa bahunya disentuh dari belakang.
Rafa menepuk keras lengan Nevan hingga saudaranya itu berhenti berteriak, "Berisik!"
__ADS_1
Nevan melihat ke belakang dengan raut kesal, "Kenapa kau muncul tiba tiba di sana?!"
Kite tersenyum menahan tawa. Ia pun segera duduk di dekat Nevan, "Aku tidak mau ditinggal sendiri dengan dua manusia asing itu. Jadi aku menyusul."