
Walaupun keadaan masih belum stabil ataupun berada di pihak Kay, namun Oliver memacu kudanya ke depan. Tanpa mempedulikan bagaimana nasib iblis lain yang ikut bersamanya, ia terus bergerak. Pikirannya hanya tertuju pada Osmond.
Kakak laki laki yang sejak lama selalu bersamanya. Kakak yang selalu melindunginya dari iblis ataupun manusia yang membencinya. Sejak orang tuanya meninggal, Osmond yang menjadi pendampingnya. Dia menjadi kakak, sekaligus seperti pengganti orang tuanya.
Namun disaat kehidupannya berjalan dengan damai bersama Osmond, tiba tiba kakaknya mengatakan obsesinya terhadap kekuasaan dunia iblis. Dia menjadi serakah entah sejak kapan. Osmond meninggalkan Oliver sendirian dan akhirnya mereka dipertemukan kembali saat perang Os.
Pertemuan yang sangat tidak mengenakkan. Osmond berubah total. Dari dirinya yang melindungi Oliver, berubah melukainya. Bahkan dengan niatan membunuh dengan alasan dirinya tidak akan bisa menjadi penguasa dunia iblis bila Oliver masih hidup.
Oliver tidak mengerti kenapa kakaknya tiba tiba berubah. Entah dia berubah atau sebenarnya dia menyembunyikan sifatnya yang seperti itu. Tapi apapun itu, Oliver tidak ingin kakaknya melakukan sesuatu yang membuat kerusakan lagi. Sudah cukup di saat perang Os ribuan tahun lalu.
Semakin memikirkan tentang Osmond, cengkraman Oliver pada tali kekang kuda semakin menguat, "Sekarang aku akan menghentikanmu, apapun yang terjadi"
Mayat mayat terus mencoba menghadang jalannya, namun Oliver tidak mempedulikan. Dia melewati mereka, mengibaskan pedang dan menabrak mereka dengan kudanya.
"Kembalikan tubuhku!"
Oliver tersentak saat mendengar suara asing dari dalam kepalanya. Ia diam tanpa merespon. Namun apa yang ia lakukan malah membuat suara itu kembali terdengar, namun kini disertai dengingan di telinganya, "PERGI KAU! KEMBALIKAN TUBUHKU!"
Setelah mendengar itu untuk kedua kalinya, Oliver merasa yakin tentang sesuatu, "Apa kau adalah pemilik tubuh ini, Rafa?"
Tanpa menghentikan atau mengurangi kecepatan lari kudanya, Oliver mencoba untuk fokus pada suara yang ia dengar.
"Iya! Bagaimana kau tahu?! Tidak–Sebenarnya apa yang kau lakukan dengan tubuhku?! Dimana aku sekarang?! Jangan macam macam padaku!" ancam suara Rafa dari dalam kepala Oliver.
Oliver diam sebentar. Sejujurnya ini pertama kali dirinya dapat berkomunikasi dengan cara ini. Suara seseorang seperti terdengar langsung dari otaknya tanpa perantara apapun, "Mendengar ucapanmu, sepertinya kau melihat apa yang ada di sekitar sini."
"Hal itu tidak penting! Sekarang katakan, apa yang kau lakukan menggunakan tubuhku?"
"Perang."
__ADS_1
Jawaban singkat dari Oliver berhasil membuat Rafa bungkam. Sepertinya dia syok setelah mendengarnya.
"Perang melawan iblis Osmond. Lalu yang menariknya, Osmond berpura pura menjadi Kite."
Rafa kembali terdiam kala nama 'Kite' tersebut.
"Dan aku sekarang kemari untuk menghentikannya. Kau sempat tertipu oleh pelayannya dan pada akhirnya terbunuh."
Ucapan itu bagaikan hantaman keras kenyataan bagi Rafa, "Memangnya kenapa jika seperti itu?! Nyatanya jiwaku tidak menghilang. Aku masih di sini dan kau mengambil alih tubuhku!"
"Jika kau menginginkan tubuhmu kembali, aku tidak bisa berikan."
"A-ap–"
"Untuk sementara ini."
Rafa terdiam mendengar ucapan Oliver. Hingga hal ini membuat Oliver melanjutkan ucapannya, "Kau mirip dengan temanku yang juga ikut bertarung di garis depan. Lebih tepatnya..., mungkin kau memang dia. Selain itu, ini bukanlah tubuhku. Aku tidak mau mengambil alih tubuh milik orang lain.
Rafa tidak memberikan jawaban apapun mendengar ucapan Oliver. Ia hanya diam dan ini membuat Oliver kembali terfokus pada keadaan sekitar.
Di sisi lain, Felix mulai menyusul Oliver. Ia tidak suka berada di sekitar teman temannya sekarang. Ia marah, kecewa dengan mereka, namun tidak mengatakannya. Menebas mayat hidup membuatnya sedikit lebih tenang dan mengalihkan pikirannya dari masalah.
"Mayat mayat ini tidak ada habisnya. Lalu, dia malah pergi dan meninggalkan kami. Apa dia tidak berniat menolong kami?" batin Felix dengan mata yang tertuju lurus.
Saat ia sedang memperhatikan ke depan, suara menggelegar terdengar dari arah pohon besar. Ia sampai terkejut. Sedangkan kudanya meringkik dengan tubuh terangkat. Hampir saja Felix terjatuh bila saja tidak hati hati.
"Apa Oliver sudah sampai di tempat tujuan?" gumam Felix. "Tapi kurasa belum. Dia seharusnya tidak terlalu jauh dariku. Aku yakin, itu bukan dia. Tapi..., semua iblis ada di sini. Bahkan bala bantuan juga sedang menghabisi mayat hidup. Lalu siapa yang membuat suara itu?"
"Ck, jika saja makhluk makhluk jelek ini tidak menghalangiku, aku sudah sampai di sana dengan cepat."
__ADS_1
Di tempat yang tidak begitu jauh dari tempat Felix berada, Oliver pun mendengar hal yang sama. Ia bahkan melihat ledakan yang terjadi di posisi sangat dekat dengan pohon. Ia mempercepat memacu kuda. Namun disaat itu terjadi, sesosok mayat hidup muncul tiba tiba dan menghadang jalan tepat di depan kuda.
Tentu saja apa yang dilakukan mayat itu membuat kudanya terkejut. Kuda bahkan sampai bergerak tidak teratur.
Di saat kudanya berhenti berlari seperti sekarang, mayat hidup mengambil kesempatan. Mereka mengelilingi kuda beserta Oliver di atasnya. Dengan kuku panjang dan gigi yang kuat, mereka menyerang kuda beramai ramai.
Melihat keadaan tidak baik baginya, Oliver melompat turun dari atas kuda sedetik sebelum kuda hitam itu tumbang dan menjadi makanan bagi makhluk makhluk jelek di sana.
"Ck, mayat hidup sangat mengganggu. Baik di saat masa lalu maupun sekarang," gumam Oliver. "Tapi tempat ledakan itu tidak jauh dari sini. Aku bisa berlari ke sana."
Oliver dengan menggunakan pedang di tangannya menebas mayat hidup satu persatu. Ia membuat jalan menuju pusat permasalahan berada.
Setelah susah payah, akhirnya Oliver sampai di tempat yang menjadi tujuannya. Dari sini, ia bisa melihat batang pohon yang sangat besar. Bahkan ukurannya yang paling bawah setara dengan satu istana paling megah.
Dari bawah siapapun akan melihat seperti berada di dunia lain tempat raksasa tinggal. Di sekeliling pohon juga terlihat kosong dari mayat hidup, seolah ada pembatas yang membatasi para mayat hidup untuk menginjakkan kakinya di sini.
Namun yang menjadi perhatian Oliver sekarang bukanlah ukuran pohon atau ketidak adaannya mayat hidup di sini, melainkan pertarungan yang sedang terjadi di hadapannya.
Oliver melihat Osmond yang menggunakan tubuhnya sedang bertarung melawan manusia asing. Namun walaupun manusia, dia memiliki energi besar seperti seorang iblis. Di sisi lain, ada pula pertarungan yang terjadi antara pelayan Osmond yang bernama Michael bersama dengan manusia blizt. Dengan menggunakan senjata yang terbuat dari energi, ia saling beradu kekuatan dengan pelayan Osmond.
"Siapa mereka?" gumam Oliver.
Rafa yang sejak tadi hanya diam terkejut dan tanpa sadar malah mengirimkan pesan suara pada Oliver, "Kak Ash?! Kevin?! Kenapa mereka bisa berada di sini?! Apa yang mereka lakukan?!"
"Kau mengenal mereka?" Oliver keheranan dan cukup penasaran. Apalagi saat melihat manusia di depannya dapat bertarung melawan Osmond walau iblis itu memang belum serius. Tapi walau demikian, tidak ada iblis yang bisa melawannya langsung kecuali dirinya. Lalu bagaimana bisa manusia biasa dapat bertarung seimbang melawan kakaknya?
"Iya, orang yang melawan Michael, dia adalah orang yang sudah mengajariku cara bertarung selama ini. Namanya Ash. Lalu yang satunya, dia adalah teman baikku, Kevin. Tapi dia adalah manusia, bukan blizt seperti kak Ash," ucap Rafa dengan serius dan masih tidak percaya.
Dengan lihainya Kevin menyerang menggunakan pedang, namun terbuat dari sebuah kayu. Dengan tampilan pedangnya itu, siapapun akan berpikir jika dia bermain main dengan kematian. Namun apabila mereka melihat pertarungan yang terjadi, mereka pasti akan berpikir dua kali. Karena walapun terbuat dari kayu, nyatanya pedang itu tidak mendapat goresan sama sekali setelah sudah berbenturan dengan besi tajam berkali kali.
__ADS_1
Sedangkan di tempat Ash, ia sepertinya sedikit kerepotan. Melawan anak kecil yang bahkan tingginya tidak mencapai setinggi dadanya ini begitu kuat. Ia sampai harus berada dalam posisi bertahan berkali kali. Ia juga sudah mengerahkan tenaganya. Sedangkan di lain pihak, Michael masih saja santai. Serangan Ash seperti tidak berdampak sama sekali.
Tanpa adanya mayat hidup di sekitar pohon, membuat mereka bertarung sebebasnya tanpa terkendala oleh keberadaan mayat. Namun kerusakan memang tak bisa dihindari.