Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 45 -Ingatan Kembali


__ADS_3

Need tidak merasakan hawa keberadaan Belle sama sekali. Sebaliknya, ia merasakan peningkatan kekuatan dari Leon. Karena itu, ia segera pergi ke sana untuk mengecek keadaan.


Tapi ada yang dia lupakan. Diva sejak tadi masih berada di tempatnya dan ada di dekatnya, "K-kenapa dia hanya diam dan tidak membantu Belle? W-walaupun aku juga sama seperti itu, tapi panglima Need tidak sepertiku. Dia orang yang berani dan kuat. Lalu kenapa dia hanya diam?" gumamnya.


Diva merasa takut untuk pergi dari sini. Namun karena khawatir dengan keadaan Belle, ia memilih untuk mengikuti Need dari kejauhan.


***


Di dataran hijau yang dipenuhi langit berbintang, Leon berdiri sendiri. Ia tidak kuat melihat mayat yang bergelimpangan di belakangnya, jadi ia memalingkan wajah dari sana.


"Seharusnya kau bisa melihat apa yang baru saja kulakukan. Seperti itulah caranya."


Leon berbalik ke belakang dan mencoba mengabaikan mayat di tanah. Yang ia lihat sekarang adalah dirinya dalam wujud iblis, "Kau.. Kenapa kau memakan jantungnya?" ia merasa mual ketika mengingat kejadian itu.


Leon dalam wujud iblis mengangkat sebelah alisnya, "Kenapa? Karena sebelum menjadi Raja iblis pun diri kita sudah bertahan hidup dengan cara seperti itu. Walaupun sekarang aku bisa makan yang lain, tapi itu adalah kebiasaanku. Jadi aku tidak bisa menghilangkannya."


Leon masih tidak bisa menerima hal itu. Dalam pandangannya sekarang, itu adalah hal yang menjijikkan. Apakah ia memang seperti ini? Seburuk itukah dirinya?


"Untuk sekarang, kita harus menyatukan ingatan kita dan mengubahnya menjadi satu. Mungkin kita bisa terpisah seperti ini karena hilang ingatan atau semacamnya. Hal itu juga yang membuat kekuatan kita menjadi terpisah."


Leon menatap uluran tangan dari dirinya yang lain. Ia merasa ragu setelah melihat apa yang dia lakukan pada Belle tadi.


"Apa lagi yang kau tunggu?"


"Aku ragu apakah harus bersatu denganmu atau tidak setelah melihat apa yang baru kau lakukan."


"Kau akan lebih mengenal dirimu sendiri setelah kita bersatu. Kau bisa mengatakan itu sekarang mungkin karena kau merasa belum pernah mengalaminya."


Leon menatap uluran tangan itu. Ia pun menatap wajah dirinya yang lain. Tidak ada tatapan kebohongan darinya. Ia pun menerima uluran tangan itu, "Aku akan percaya pada diriku sendiri."


***


Need terkejut melihat lubang di tubuh Belle. Tidak ada tanda kehidupan darinya berarti dia sudah mati. Ia pun melihat Leon yang berdiri di depan Belle dengan kepala tertunduk. Wujudnya sekarang adalah wujud aslinya.


"Apa.. Yang terjadi?" gumam Need.


"Uhuk.." Leon terbatuk darah secara tiba tiba. Setelah menyatukan kedua ingatan yang terpisah itu, tubuhnya merasa mual dan pada akhirnya memuntahkan darah.


"Kau baik baik saja?!" Need terkejut dan langsung mendekati Leon. Pemuda itu berlutut di tanah dan memuntahkan darah hingga wajahnya menjadi sedikit pucat.


"Kau terluka? Bagaimana keadaanmu?" tanya Need dengan khawatir.


Leon berhenti. Ia menyeka darah di bibirnya dan melirik Need, "Kau sepertinya meminta untuk dibunuh ya?"


Ia perlahan berdiri dan menatap Need dengan dingin. Pemuda di depannya langsung berekspresi takut, "J-jangan mengancamku dengan kata kata mengerikanmu itu. Kau selalu saja mengatakannya, tapi tidak pernah melakukannya. Walau begitu, itu sudah membuatku ta– S-sebentar, kata kata itu.. K-kau sudah mengingatnya?!" Need berekspresi terkejut.

__ADS_1


Leon hanya diam tanpa membalas. Tanpa ia jawab pun seharusnya Need sudah tahu.


Need menatap Leon dari bawah sampai atas. Wujudnya sekarang adalah wujud asli Leon yang sebenarnya. Jika Leon seperti ini, berarti Leon sudah mengingat dirinya?


Ia tidak bisa menahan rasa harunya dan langsung menarik kedua lengan Leon, "Syukurlah.. Syukurlah kau bisa mengingatku lagi..!! Aku sangat senang! Saking tidak percayanya, aku jadi ingin menusuk diriku sendiri!"


"Lakukan saja, tapi aku tidak akan menyembuhkannya," cuek Leon.


"Jangan mengatakan hal jahat seperti itu pada diriku," Need yang terlalu terbawa suasana langsung mengusap kepala Leon. Ia lupa bila dia bukan lagi Leon yang hilang ingatan.


"Hm.."


"Eh?" Need baru ingat. Ia langsunh menurunkan tangannya dari atas kepala Leon dan mundur dengan perlahan, "Hehe.. Aku lupa.."


Saat Need waspada dengan apa yang akan dilakukan Leon, pemuda itu hanya berekspresi datar tanpa melakukan apapun.


"K-kau tidak akan menendangku?" tanya Need dengan ragu ragu.


"Apa kau ingin aku melakukannya? Dengan senang hati akan kulakukan," balas Leon.


"T-tidak.. Aku tidak mau."


"B-Belle.."


Diva menatap wanita itu dengan ekspresi tak percaya. Padahal sebelumnya Belle unggul dan membuat Leon terpojok. Tapi kenapa pada akhirnya menjadi seperti ini?


Pandangannya langsung terarah pada Leon yang berubah menjadi wujud aslinya, "K-kau.. Aku tidak akan memaafkanmu. Aku tidak akan memaafkanmu," warna matanya menggelap.


Seketika itu pula, muncul kabut putih yang cukup tebal di sekitarnya. Perlahan warnanya mulai berubah menjadi hitam. Kemampuannya adalah kabut pencabik. Jika sedikit saja terkena goresannya, maka seseorang akan terluka. Bahkan tak terkecuali Raja iblis sekalipun.


Diva berubah menjadi wujud aslinya. Sepasang tanduk kecil muncul di pelipis bagian kanan. Tidak hanya itu, ia juga memunculkan sebuah tombak.


"Menjauhlah dari sini," ucap Leon sambil melirik Need.


"Aku saja yang akan mengatasinya. Akan kutunjukkan peningkatanku selama melatihmu," ucap Need dengan serius.


Melihat tatapan pemuda itu, Leon tersenyum tipis hingga tidak terlihat oleh Need, "Jangan mengacaukannya."


Need mengangguk. Ia memunculkan pedangnya dan memegangnya dengan erat, "Akan kubereskan."


Need mengayunkan pedangnya pada Diva, namun wanita itu langsung menahannya, "Ternyata kau berkhianat dan memihaknya."


"Apapun yang kau katakan, aku tidak peduli. Karena yang kulakukan adalah untuk menolong kalian," ucap Need sambil mendorong tombak Diva.


Mereka pun menghilang dari tempatnya masing masing. Gerakannya sulit untuk ditangkap mata dan yang terlihat hanyalah dentingan suara senjata dan percikan cahaya yang terbuat dari aduan senjata keduanya.

__ADS_1


Namun bagi Leon yang kini sudah mendapatkan ingatannya, ia bisa melihat semua gerakan dengan jelas. Mereka berpindah pindah tempat dan belum ada yang terluka.


"Ternyata dia cukup hebat. Padahal kupikir dia adalah orang yang penakut. Tapi walau begitu, dia tetap'lah tangan kanan dari Raja Ralt," batin Need.


***


"Sejak kau dengan Kevin tidak masuk di hari yang sama, kalian menjadi tidak dekat. Apa kalian sedang bertengkar?" ucap Chelsea.


Rafa hanya melirik gadis itu. Ia sendiri tidak tahu apakah ini bisa disebut bertengkar atau tidak. Karena ia hanya sedang menjauh dari Kevin dengan suatu alasan.


Melihat tidak adanya respon dari Rafa, membuat Chelsea sedikit canggung, "Jika kau tidak mengatakannya, tidak apa. Aku hanya penasaran saja."


Setelah itu, Chelsea segera mengambil tas nya dan pulang menyusul teman temannya.


Kelas kini kosong dan hanya ada Rafa di dalam. Setelah ini ia harus segera pergi ke tempat latihan dan berlatih dengan Ash. Selama hampir 2 bulan ini, ia mengalami peningkatan. Namun apakah dengan ini akan cukup untuk melindungi dirinya sendiri dari iblis?


Ia sebenarnya ada rencana untuk membantu Leon. Lebih tepatnya, ia ingin membawa Leon kembali. Saat itu Leon mengatakan akan pergi ke dunia iblis, karenanya ia mempersiapkan diri untuk mengikutinya ke sana.


Walaupun Leon mengatakan dirinya iblis, tapi ia masih khawatir dengannya. Ia sudah merasakan sendiri bagaimana kuatnya seorang iblis. Apalagi bila Leon pergi ke dunia itu dan melawan banyak dari mereka seorang diri. Itu pasti tidak mungkin.


Tapi walau begitu, ia tidak tahu kapan Leon akan pergi dan bagaimana cara untuk ke sana. Ia tidak tahu semuanya. Bahkan rencana untuk membawanya kembali akan benar benar dilakukan atau tidak, ia tidak tahu. Ia masih merasa takut dengan kejadian sebelumnya. Keputusan pun akhirnya belum ia ambil.


Rafa menghela nafas dengan berat. Ia memakai tas nya dan segera pergi keluar kelas.


"Aku merasa kau terus menghindariku."


Kevin berdiri di tengah lorong kelas. Raut wajahnya serius saat berhadapan dengan Rafa.


Rafa berhenti ketika melihat Kevin. Ia tidak mengatakan apapun, namun ia berjalan ke samping untuk menghindarinya.


"Jangan mengabaikanku!" Kevin berbalik dan menatap punggung Rafa. Namun temannya itu tidak juga berhenti dan terus berjalan tanpa mempedulikannya.


Kevin menyusul dan menahan pundak kanan Rafa dengan kuat, "Jika kau ada masalah denganku, katakan!" ucapnya dengan nada kesal.


Rafa berhenti saat Kevin menahannya. Ia menghela nafas dan berbalik menatap Kevin. Ia akan mendengarkan keluhannya.


"Kau terus saja menghindariku tanpa aku tahu penyebabnya. Aku muak dengan itu! Sebenarnya kau kenapa? Kau masih marah padaku karena ucapan yang kukatakan di rumah sakit? Jika kau kesal padaku, katakan! Jangan terus menghindar dariku!"


Rafa terdiam sesaat. Melihat tatapan Kevin yang ingin jawaban, membuatnya membuka mulut, "Seharusnya kau sudah puas karena apa yang kau inginkan terwujud. Tapi kau masih memiliki keluhan?"


"Apa maksudmu adalah Leon?"


"Kau pikir siapa lagi? Sekarang dia sudah pergi, apa yang kau inginkan terwujud. Dia bahkan pergi tanpa kuminta. Seharusnya itu sudah menjawab pertanyaanmu."


"Tunggu–maksudmu kau kesal padaku karena Leon pergi? Bukankah bagus jika seperti itu? Sekarang tidak akan ada orang asing yang datang ke tempatmu lagi. Kau aman sekarang," Kevin berekspresi sedikit senang.

__ADS_1


__ADS_2