
Melihat Kevin yang putus asa, membuat dokter itu merasa kasihan dengannya. Ia jongkok di samping pemuda itu dan mengambil pisau yang dijatuhkan olehnya. Ia memegang dan memasukkannya ke dalam saku jas.
"Hidup tidak akan selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Ada kalanya kita harus menghadapi ujian yang berat. Tapi, ujian ada untuk dihadapi. Kau bisa melewatinya. Karena jika tidak bisa, ujian seperti itu tidak akan diberikan padamu. Kau adalah orang yang kuat karena masih bisa bertahan sampai detik ini," dokter itu memandang jauh ke depan.
"Tapi percayalah, badai akan segera berlalu. Awan hitam tidak akan selalu menggumpal di langit. Matahari akan datang dan mengubah semuanya menjadi lebih baik.
Itu semua tergantung bagaimana kau menyikapinya. Apa kau akan terus terpaku pada masalah atau kau akan maju?"
Dokter itu menatap Kevin kembali. Tidak ada respon yang diucapkan pemuda itu. Posisinya pun sama sekali tak bergeming. Ia menjadi canggung setelah mengatakan semua kata kata itu, "Y-yah... Intinya itu semua tergantung pada apa yang akan kau lakukan selanjutnya."
Kevin mulai mengangkat wajahnya yang tertunduk. Ia tidak mengatakan apapun. Namun kata kata dari dokter itu malah membuatnya kesal.
"Ngomong ngomong, namaku adalah Ash. Siapa namamu?"
Tanpa menatap Ash, Kevin mengatakan namanya, "Kevin."
Ash terdiam sesaat, kini ia bingung harus mengatakan apa pada pemuda itu. Respon yang diberikannya tidak banyak dan dia baru saja mengalami putus asa yang besar. Mengatakan kata kata semangat tidak akan mengubah keadaan. Bahkan bisa saja tidak mengurangi sedikitpun beban hatinya.
Selain itu, ia tidak tahu kondisi Kevin yang sebenarnya, tapi mengatakan ucapan ucapan seperti itu seolah tahu segalanya tentang keadaan Kevin. Dia pasti tidak suka bila ia berbicara seperti ini.
"Untuk sekarang, apa kau bisa menceritakan masalahmu padaku? Mungkin kau akan merasa lebih lega jika bisa meluapkannya dengan bercerita. Aku akan mendengarkan sampai selesai," ucap Ash dengan senyum tipis.
"Kau tidak akan mengerti. Lagi pula, itu bukanlah urusanmu."
__ADS_1
Balasan dari Kevin itu mungkin wajar. Siapa pula yang ingin menceritakan masalahnya pada orang yang bahkan tidak dikenal?
"Jika kau menceritakannya, aku mungkin bisa mengerti. Lagi pula, aku tidak bisa membiarkan pasien sepertimu sendiri seperti ini. Akan berbahaya bila kau mencoba melompat lagi," Ash mencoba untuk mencairkan suasana dengan kata kata candaan. Namun, Kevin sepertinya menganggap ucapannya dengan serius.
Melihat Kevin yang tidak juga berbicara, akhirnya Ash memilih untuk memulai ceritanya sendiri agar Kevin tertarik dan mulai bercerita, "Kalau begitu, aku akan mulai dengan menceritakan masalahku di masa lalu."
Ia terdiam sejenak untuk menarik nafas. Setelah siap untuk bercerita, akhirnya ia membuka mulut, "Aku kini hanya tinggal bersama ayah dan adik perempuanku. Kami tinggal bertiga.
Beberapa tahun lalu.., kami pernah pergi untuk berwisata ke pantai. Tapi saat di perjalanan, kami mengalami kecelakaan dengan truk. Saat itu, aku mungkin masih berumur 12 tahun dan adikku baru saja berumur 2 tahun.
Kami dibawa ke rumah sakit. Kondisiku tidak begitu parah, karena aku hanya mengalami lecet lecet. Tapi adikku hampir meninggal dulu. Untungnya dia masih bisa diselamatkan saat di rumah sakit. Lalu ayah.., dia juga mengalami luka yang cukup parah.
Tapi diantara kami semua, yang mengalami kerugian paling besar adalah ibu. Ibu harus mengamputasi kedua kakinya dan sebagian wajah ibu mengalami lecet yang parah. Dia tidak terima dengan keadaan itu, sehingga emosinya menjadi tidak stabil.
Kevin kini mulai memperhatikan Ash karena mulai tertarik untuk mendengarkan cerita darinya.
"...Ibu pasti tidak akan menjadi seperti itu dan akan tetap menjadi ibu yang penuh perhatian. Gara gara permintaanku, mereka hampir mati. Aku terus menyalahkan diri sendiri dan menerima semua pelampiasan yang ibu lakukan. Dia selalu melakukannya saat ayah sedang bekerja, jadi ayah tidak mengetahuinya. Aku sendiri tidak mengatakan hal itu padanya.
Memang itu sangat menyakitkan, tapi aku lega bila ibu tidak sampai melukai adikku. Bagaimanapun, dia masih sangat kecil dan tidak pantas menerima perlakuan kasar yang ibu berikan.
Lalu setahun kemudian, ibu terlalu stres dengan keadaannya yang lumpuh, juga luka di wajahnya yang membuatnya terlihat buruk. Dia meminum banyak obat penenang sekaligus hingga overdosis. Pada akhirnya, dia meninggal saat dibawa ke rumah sakit.
Walaupun ibu sudah memperlakukanku dengan buruk, tapi dia pernah memperlakukanku dengan sangat baik. Aku jadi sedih setelah kepergiannya. Tapi aku tidak mau membuat adikku sedih dengan berlarut dalam kepergian ibu.
__ADS_1
Lalu.., sepertinya adikku tidak ingat dengan ibu, karena masih terlalu kecil. Aku akan senang bila dia tidak mengingat itu ataupun mengingat saat melihatku dikasari oleh ibu. Karena bila seperti itu, dia pasti akan membencinya.
Setelah kehilangan ibu, aku hanya tinggal bertiga dengan adik dan ayah. Walaupun ayah bukanlah orang yang bisa diandalkan dalam memasak, membersihkan rumah dan mengurus anak, tapi dia ayah yang baik. Dia selalu memperhatikan kami walaupun dia sudah lelah setelah bekerja.
Aku merasa trauma dengan semua masa lalu itu. Tapi aku tidak ingin terus terlarut di dalamnya. Aku tidak ingin menyusahkan ayah yang sudah berusaha membesarkan kami. Pada akhirnya aku bisa seperti ini karena ayah dan adikku yang menjadi pendorong aku untuk terus maju.
Biarpun mereka atau orang lain tidak ada yang tahu tentang perlakuan kasar ibu saat itu, walaupun tidak ada yang mengetahui rasa sakitnya, aku tetap bertahan dan berusaha untuk bangkit sendiri dari keterpurukan.
Setiap orang memiliki masalahnya masing masing. Entah kecil ataupun besar, itu ditentukan oleh diri mereka sendiri. Karena semua orang tidak memiliki ketahanan yang sama. Ada yang mudah untuk jatuh, ada pula yang sangat kokoh. Kita tidak bisa membandingkan keadaan mereka buruk atau tidak hanya dari penilaian pribadi.
Masalah orang lain bagi kita mungkin terlihat sangat sepele. Tapi mungkin bagi orang itu, masalah yang dihadapinya bisa saja besar. Karena itu, aku tidak pernah menyepelekan permasalahan orang di sekitarku."
Ash melihat setiap perubahan raut wajah yang ada pada Kevin. Sepertinya ekspresinya sedikit sedih, tapi ada pancaran seolah ia ingin menceritakan masalahnya sekarang, "Jika kau tidak tahu pada siapa harus bercerita, maka kau bisa menceritakannya padaku. Aku akan mendengarkannya sampai selesai."
Kevin menelan ludahnya. Ia ingin bercerita untuk meluapkan perasaannya yang selama ini ia pendam. Tapi ia merasa ragu dengan itu. Mendengar cerita Ash, keadaan dokter itu juga tidak lebih baik darinya. Bila ia bercerita seperti itu, akankah dia mendapatkan tanggapan yang baik?
"Kau tidak perlu ragu. Bukankah aku sudah mengatakan bila aku tidak pernah menyepelekan masalah orang lain?" ucap Ash. Ia bisa menebak pemikiran orang hanya dari raut wajahnya. Bahkan bila orang tersebut menyembunyikannya, ia akan bisa menyadari itu. Ini adalah kemampuan untuk menilai seseorang yang juga dimiliki ayahnya.
Memang sangat berguna, namun karena selalu bisa menebak pikiran sebenarnya dari orang lain, maka yang ia lihat hanyalah kebenaran yang kejam. Jika saja ada orang yang berkata manis tentangnya atau memujinya atau kata kata baik lain, maka ia bisa melihat bila itu hanyalah topeng dari wujud rasa iri, dengki, benci dan perasaan negatif lain. Karena hal itulah, ia tidak bisa mendapatkan teman ataupun pasangan yang benar benar ia sukai dan bertahan dengannya.
Mendengar ucapan Ash, membuat Kevin mulai mempercayainya. Bagaimanapun, pemuda itu sudah menceritakan masa lalu padanya, jadi ia akan bertukar cerita dengan dokter itu. Ia mulai menceritakan keadaannya. Dari mulai orang tuanya yang selalu ribut, kondisinya yang cacat satu tangan, pertemanannya dengan Rafa sekarang.
Walaupun ia menceritakan semua itu, tidak satu pun dari ceritanya yang membahas kejadian di rumah Rafa.
__ADS_1