
Flynn mencoba mengambil napas dan disela sela kesulitannya itu, ia membuka suara, "A-apa maksudmu, hah?!"
Need memincingkan mata dan dengan tatapan tajam, dia membalas, "Apa kau tidak mengerti ucapanku itu? Apa aku harus mengatakannya secara singkat agar kau memahaminya?"
Tidak ada balasan apapun dari Flynn setelah ia berucap demikian. Need pun melanjutkan, "Rafa Flor.. Raja yang selama ini sudah lama kau layani itu, dia kini telah mati karena pertarungan antar Raja yang memperebutkan kekuatan kuno."
Flynn melotot tidak percaya. Ia merasa kesulitan berbicara, namun tetap menolak keras ucapan pemuda di depannya, "Tidak mungkin! Y-yang Mulia Flor.. Tidak mungkin mati. Kau berbohong!"
"Terserah kau mau percaya atau tidak, namun aku tak peduli. Padahal kupikir siapa yang datang kemari, namun jika itu hanyalah dirimu, aku merasa sudah membuang buang waktuku di sini," Need berucap dingin sebelum akhirnya melepaskan cengkraman tangannya dari leher Flynn.
Tanpa mengatakan apapun lagi, ia segera berjalan pergi meninggalkan Flynn bersama dengan Radolf.
Pria berambut oren itu terduduk di tanah sambil terbatuk sebelum mengarahkan pandangannya pada Need yang menjauh, "K-kau pasti bohong! Kau–berhenti di sana! Katakan dimana Yang Mulia berada sekarang!"
Walaupun ia sudah berteriak sekuatnya, namun Need tidak berbalik dan berjalan menuju sebuah rumah sederhana.
Radolf menggeleng dan memperhatikan Flynn. Ia tahu bagaimana rasanya ketika harus kehilangan iblis yang dilayaninya. Sosok yang dihormati dan begitu disegani olehnya.
"Apa yang dikatakan olehnya benar. Walaupun aku tidak melihatnya langsung, tapi dia menceritakan hal seperti itu padaku. Karena dia.., adalah saksi dari kematian Raja Flor," Radolf bersuara dengan sedikit pelan.
Kepala Flynn menengok ke samping dengan mata yang masih membulat tak percaya, "Sebenarnya.. Apa hubunganmu dengannya? Apa dia melakukan pemberontakan dan menentang Raja nya sendiri?"
Radolf menggeleng. Ia sedikit bingung bagaimana cara menjelaskan. Karena dirinya pun tidak tahu apakah mendukung Leon dari balik layar adalah sebuah pengkhinatan atau tidak dalam kasus Need. Karena pemuda itu pun melakukan semua ini bukan hanya karena kekagumannya akan Leon, namun pula karena ingin menjaga dunia iblis dari kehancuran. Walau ia sedikit tidak percaya dengan cerita itu, namun ia berusaha mempercayai perkataan Need.
"Anggap saja dia sudah memberikan peringatan agar tidak menarik anak panah yang akan menimbulkan kehancuran secara diam diam. Namun kau dan yang lainnya tidak tahu hal itu dan berpikir jika yang dilakukannya itu malah menimbulkan kerugian bagi pihak kalian,"
Penjelasan dari Radolf tidak begitu dimengerti oleh pria berambut oren ini. Terlihat dari dirinya yang termenung memikirkan ucapan Radolf hingga tidak sadar jika pria itu pun menyusul Need.
Tapi lebih penting dari itu, ia benar benar syok. Tidak menyangka dengan berita yang disampaikan Need, ia langsung memukul tanah dengan tangan hingga terdengar suara tulang retak.
Krakkk
Walaupun rasanya sakit, tapi berita yang didengarnya terasa lebih menusuk jantungnya. Ia tidak pernah berpikir jika Flor akan mati. Iblis yang ia anggap paling kuat diantara iblis lain.
__ADS_1
Tanpa ekspresi, Flynn perlahan berdiri sambil memakai tongkat kayu yang sebelumnya terjatuh. Ia berjalan tertatih dengan dibantu balok itu menuju sebuah rumah.
*
*
"Dia hanya iblis yang lewat saja, tidak perlu khawatir," Need menanggapi ucapan Rafa dengan biasa.
Tidak seperti Need, Radolf sendikit cemas. Ia takut jika Flynn akan menceritakan semua hal tentangnya di depan Rafa. Walau begitu, ia berekspresi dengan datar, "Sebaiknya kau juga istirahat. Kami yang akan berjaga di sini."
Rafa menggeleng, "Tidak, aku tidak lelah. Lagi pula, Ayah belum kusembuhkan."
"Jangan pedulikan Ayah. Khawatirkan kondisimu saja. Kau sudah berusaha sangat keras. Bahkan terlalu keras. Tidak perlu memaksakannya lagi, Rafa."
Rafa terdiam sejenak dan memikirkan ucapan itu. Setelahnya, ia mengangguk, "Baiklah."
Rafa pergi ke kamar dimana Nevan berada. Ia akan istirahat di kamar itu saja sambil menjaganya.
Ia mengambil sebuah tikar yang tersimpan di atas lemari dan menggelar tempat di lantai. Ia berbaring dan memejamkan mata.
"Aku ingin memastikannya darimu. Bagaimana kau bisa mengatakan itu? Kau memiliki buktinya?"
"Bukan urusanku. Mau kau percaya atau tidak, aku tidak peduli."
Mata Rafa terbuka kembali saat mendengar suara Need yang berdebat dengan seseorang. Namun suara yang didengarnya itu begitu dingin, tidak seperti Need biasanya. Suara lain yang didengar pun seperti tidak asing. Walau begitu, Rafa masih belum bangun dari posisi berbaringnya. Tapi ia tetap mencuri dengar.
"Selain itu.. Apa kau tidak lihat apa yang ada di depan sana? Sebaiknya kau pergi saja dari sini jika tidak ingin mati," ucap Need.
"Aku tidak takut. Aku sudah pernah bertarung melawan mayat seperti itu sebelumnya."
"Baguslah, kau bisa pergi dan mencari mayat lain saja. Habisi mereka dan bersihkan dunia ini dari makhluk seperti itu. Aku tidak suka kau masih ada di hadapanku."
"Jika kau mau menunjukkan bukti kematian Yang Mulia padaku, aku baru akan pergi."
__ADS_1
"Kau keras kepala sekali."
"Itu bukan urusan kami. Jadi sebaiknya panglima Flor pergi saja," sergah Radolf.
"Diam saja kau, kau hanya tahanan. Jika saja aku berada dalam keadaan baik, maka aku sudah menghabisimu."
"Jangan bicara sembarangan. Aku bukanlah tahanan."
"Itu memang benar. Kau tahanan. Panglima Radolf, kerajaan tempatmu bernaung sudah tidak ada. Semua penduduknya juga sudah menjadi bagian kerajaan lain. Apa lagi yang bisa kau harapkan? Tidak–bukan panglima. Kau sekarang bukan lagi bagian dari 5 panglima dunia iblis."
"Berarti aku juga tidak perlu menganggapmu panglima. Karena Raja Flor kini telah tiada."
"Omong kosong! Raja-ku belum mati!"
"Berhenti keras kepala dan terimalah kenyataan itu! Kau pikir hanya Raja-mu saja yang mati hah? Tidak hanya dia, tapi Leon.. Dia juga sudah tidak ada karena ulah kalian!"
"Hah? Jadi dia sudah mati? Pfftt.. Hahahaha.. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa mati, padahal aku belum membawanya kemari. Tapi.. Baguslah, berarti Raja-ku bisa mendapatkan kekuatan kuno itu darinya. Dia akan menjadi yang terkuat diantara Raja lain. Lalu aku akan menjadi panglima yang paling disegani."
"Kau bermimpi terlalu tinggi. Sadarlah sekarang juga!" Need ikut kembali dalam pembicaraan. Namun nadanya terdengar seperti menahan amarah yang meluap.
"Seharusnya kau juga senang, bukan? Karena dia kini mati dan kekuatan kuno itu bisa didapatkan siapapun–Ah, apa mungkin Raja-mu tidak mendapatkannya, jadi kau kesal?"
"Kau sudah keterlaluan," balas Radolf.
"Apa? Kau merasa marah karena Raja-mu itu sudah mati? Ah, benar juga. Kau jadi tidak memiliki siapapun di pihakmu karena satu satunya iblis yang berpihak padamu hanya dia saja. Jadi jika dia mati, maka tidak akan ada lagi yang berpihak padamu. Kau hanya sendiri."
Rafa tiba tiba muncul di hadapan semuanya. Belum sempat terkejut, Rafa langsung menghantamkan telapak tangannya ke wajah Flynn dan membuat tubuhnya terjatuh ke bawah dengan punggung yang menyentuh lantai.
Lantai sampai retak ketika terkena hantaman kepala Flynn. Semuanya menjadi hening selama beberapa saat. Radolf dan Need tidak menduga serangan Rafa kali ini. Mereka berpikir jika pemuda itu sudah tidur. Namun kenyataannya tidak seperti itu.
"Jangan katakan sesuatu yang buruk tentang temanku setelah apa yang kau lakukan saat itu. Aku tidak akan pernah lupa wajah yang sudah membuat keributan besar di rumahku dan hampir membuat kehidupanku, juga temanku berakhir." Rafa menatap Flynn dengan tajam.
Sesaat sebelum menerjangnya, ia tentu sudah melihat wajah pria yang berbicara pada Ayah dan teman Ayahnya. Itu adalah wajah dari iblis yang sudah menyerang rumahnya hingga membuat temannya mengalami luka yang berat sampai trauma.
__ADS_1
Rafa berdiri, dengan kepala tegak, namun mata yang memandang rendah ke bawah.
Flynn meringis kesakitan. Namun ia mencoba untuk melihat siapa yang mendorongnya dengan tiba tiba itu. Matanya berkedip sebelum akhirnya terkejut, "Kau–"