
Bersamaan dengan selesainya semua kekacauan, Melvin pun tersadar dari pingsannya. Keempat orang yang mengenal pria itu langsung berekspresi lega.
"Kenapa Ayah tidak mengatakan jika Ayah pergi kemari? Bukankah Ayah sudah memberikan kalung ini untuk berkomunikasi?" Nevan menunjukkan kalung dengan sebuah lionting giok lonjong yang menggantung di rantai keperakan dari kalung itu.
"...Kenapa tidak menghubungiku dulu sebelumnya Ayah akan kemari?"
"Ssstt.. Nev, paman baru saja sadar. Biarkan dia tenang dulu," timpal Rafa.
Raut wajah Nevan berubah cemberut. Ia menghembuskan napas kasar, "Iya, iya."
Melvin ikut buka suara, "Aku mencoba melakukannya. Tapi tidak bisa menghubungi kalian. Karena itu, aku pergi kemari."
"Tuan Melvin baik baik saja?" tanya Nix.
Mendengar suara asing di telinganya, membuat Melvin langsung menatap wajah pemilik suara. Ia tidak tahu siapa itu, tapi ia tahu jika pria berkumis tipis itu ikut pergi bersamanya kemari walau dalam kelompok berbeda, "Iya, tidak ada masa– Dimana pemuda itu?!"
Ekspresi Melvin tiba tiba berubah. Ia celingak celinguk melihat sekitar, namun tak melihat siapapun yang dicarinya, "Kalian melihat pemuda dengan anting biru?"
"Maksudmu pemuda dengan anting biru yang bersamamu?" tanya Radolf.
"I–" Melvin menghentikan ucapannya saat melihat siapa yang sudah membalas perkataannya. Ia menatap seorang pria dengan sepasang tanduk di kepala yang ada diantara kerumunan. Ekspresi terkejut tak bisa disembunyikan dari ekspresinya, "K-kau..."
Radolf tersenyum canggung, "Iya kakak ipar, ini aku."
Baik Nix maupun Freed langsung ikut menatap Radolf ketika mendengar ucapan itu. Jelas mereka sangat terkejut mendengar pria itu mengatakan 'kakak ipar' pada Melvin, "Apa maksudnya itu?"
Melvin seketika bangun dari posisi duduknya dan menghadapkan tubuh pada Radolf. Ekspresinya terlihat menahan amarah yang terpendam selama ini.
Sebelum Melvin melakukan aksinya, dengan cepat Nevan berdiri di depan Ayahnya, "Tunggu, tunggu, tunggu dulu Ayah.. Selama ini kami sudah bersama dengan Paman. Kalau bukan karena Paman, kami tidak akan ada di sini, Ayah. Paman sudah melindungi kami selama berada di sini."
Rafa juga ikut berdiri di samping saudaranya. Ia mengangguk angguk, "Iya, Paman jangan melukai Ayah. Dia tidak melakukan kesalahan."
Dengan napas yang berat, Melvin berucap, "Karena dia kalian pergi ke tempat berbahaya ini. Dia juga sudah meninggalkanmu sendiri, Rafa. Apa pantas orang seperti dia dianggap Ayah?"
Rafa tertegun ketika mendengar ucapan Pamannya. Belum sempat membalas, Melvin kembali berucap, "Aku mengizinkan kalian pergi kemari untuk mencarinya karena kalian memohon terus padaku. Tapi bukan berarti aku suka kalian ke tempat ini dan mencari orang tak bertanggung jawab seperti dia."
__ADS_1
Radolf sendiri tidak melakukan pembelaan. Kepalanya tertunduk menatap kakinya sendiri.
"Iya, aku tahu Ayah sudah meninggalkanku. Aku juga kesal karena dia tidak juga datang menjemputku."
Melvin menatap Rafa dengan seksama, "Kalau begitu–"
"Tapi aku tidak ingin Paman melukai Ayah. Bagaimanapun, dia adalah Ayahku. Untuk kali ini, tolong.., tolong maafkan Ayah, paman.."
Nevan ikut membantu Rafa berbicara, "Dia benar.. Aku setuju dengan ucapan Rafa, Ayah. Maafkan Paman.."
Rafa menambahkan, "Jika Paman ingin melukai Ayah, maka hukum saja aku karena sudah memaksa Paman untuk mengirimku kemari."
"Iya, aku juga. Jika Ayah ingin melukai Paman, maka hukum saja aku karena sudah pergi ke tempat ini," timpal Nevan.
Napas Melvin masih tidak beraturan. Dadanya naik turun dengan tatapan mata yang tajam.
Radolf menghela napas. Ia tidak bisa bersembunyi di balik anak anak. Ini adalah masalahnya dan akan diselesaikan olehnya sendiri, "Aku.. Minta maaf.. Selama ini aku selalu merepotkanmu, membuatmu kehilangannya dan membuatmu menderita. Aku minta maaf.
Tapi, jangan melukai mereka berdua. Aku akan terima siksaan atau serangan apapun darimu agar kau lebih tenang dan mau memaafkanku. Hanya saja, aku tidak bisa memberikan kematianku untukmu."
"Tidak, tapi aku ingin hidup lebih lama dengan anakku. Selain itu–"
"Dia adalah milikku. Hidup dan matinya, itu adalah keputusanku. Tidak ada siapapun yang berhak memutuskan kematiannya,"
Radolf dan Melvin seketika melihat ke arah datangnya suara. Bahkan yang lain pun ikut melihat ke arah suara dingin itu berasal.
Aura mencekam menyeruak menyerang mental siapapun yang ada di dekatnya. Mereka dengan tertib menyingkir dan membiarkan orang itu lewat dan masuk ke dalam tempat kerumunan.
Leon melipat tangannya di dada. Terlihat sekilas tatapan sinis yang ia perlihatkan pada Melvin.
"Leon..," Rafa berucap lirih dengan mata yang tak lepas dari menatap wajah pemuda itu. Wajah yang jauh lebih dingin dibandingkan wajah dari anak 10 tahun yang dikenalnya.
"Apa hakmu berbicara seperti itu?" Melvin sepertinya tidak begitu terpengaruh dengan aura mencekam yang menyerang mental itu. Ia bahkan menunjukkan tatapan sinis secara terang terangan pada pemilik aura.
"Karena dia adalah tangan kananku, panglima dari Raja Leon," balas Leon.
__ADS_1
Kedua alis Melvin terangkat. Ia terkejut mengetahui jika iblis di depannya adalah seorang Raja. Tapi yang paling mengejutkan adalah nama darinya. 'Leon' itu adalah nama yang diceritakan anaknya sebelumnya. Nama anak yang dibawa Rafa ke rumah dan dicurigai sebagai iblis.
"Kenapa suasananya berubah menjadi seperti ini?" gumam Need dengan keheranan. Ia melihat bagaimana Leon dan Melvin saling bertatapan dengan tatapan yang menusuk.
"Sudahlah, jangan terus mengobrol di sini," ucap Ray yang tiba tiba buka suara.
"...??" Para manusia dan Need menatap Ray. Mereka tidak menyadari kehadirannya karena tertutupi kejadian di depan mereka.
Leon mengangguk, "Aku ingin bertemu dengan Ken dan Kay."
"Eumh... Baiklah. Lagi pula, sudah lama kita tidak bertemu. Aku ingin kau juga bertemu mereka. Si landak beracun itu pasti sangat senang dengan kehadiranmu," Ray tersenyum lebar dengan raut senang.
Leon mengangguk angguk. Ia tahu siapa yang disebut 'landak beracun' oleh Ray ini. Karena pemuda dengan ikat kepala itu memang terkadang menyebut orang tersebut demikian.
"Jika kau ingin melakukan pelampiasan padanya, lakukan nanti. Masih ada banyak hal yang harus dilakukan," ucap Leon sambil menatap Melvin. "Sekarang semuanya ikut."
Dengan langkah mantap, Leon berjalan di samping Ray yang akan menjadi penunjuk jalan. Di belakang mulai diikuti oleh Nix dan Freed yang kebingungan. Lalu di belakangnya ada pula Radolf dan Need. Diikuti pula Rafa dan Nevan, lalu terkahir Melvin yang terlihat berwajah masam.
Namun mereka melupakan dua orang yang berada sedikit lebih jauh dari tempat mereka berada. Kedua iblis ini terlihat saling berhadapan dengan Felix yang beraut wajah tegang.
"Yah.. Sudah sangat lama sekali kita tidak bertemu. Kurasa.. Sudah 250 tahun berlalu? Atau lebih dari itu ya, hm? Sepertinya jauh lebih lama dari itu. Ah, tidak penting. Saat itu, kau masih sangat kecil. Walaupun kau sudah sebesar ini sekarang, tapi aku tidak akan pernah lupa wajahmu ataupun warna roh milikmu," ucap Kite dengan wajah santai.
Berbeda dengan ekspresi Kite sekarang, tidak ada perasaan santai yang memenuhi perasaan Felix. Raut wajahnya benar benar tegang seperti seekor kelinci yang berhadapan dengan harimau besar.
"Kenapa.. Kau ada di sini?" ucap Felix dengan suara bergetar.
"Ah, ck, kau sangat kaku. Bersantailah sedikit, oke? Aku jadi tidak enak jika harus berbicara denganmu saat kau seperti ini," Kite langsung merangkul leher Felix dengan wajah tersenyum dan berucap pelan, "Kau takut kehadiranku akan membawa malapetaka, hm?"
Felix menelan ludahnya. Ia tidak berani untuk membalas ucapan Kite.
Melihat tidak adanya respon lain dari Felix membuat Kite melepaskan rangkulannya dari pemuda ber-anting biru itu. Ia menggeleng, "Sudahlah, cepat ikuti saja mereka. Kita akan tertinggal jika terlalu lama di sini."
Melihat Kite berjalan menjauh darinya, tidak membuat perasaan tegang serta merta menghilang dari perasaan Felix.
Pemuda dengan anting biru itu menatap punggung Kite sebelum akhirnya tersadar jika Leon dan yang lain telah berada sangat jauh darinya. Ia menelan ludah dan akhirnya mengikuti Kite dari jarak yang agak jauh, "Semoga akan baik baik saja," batinnya.
__ADS_1