
Puluhan diantara ratusan rumah terbakar hebat. Seorang iblis yang terlihat berumur 20 tahun terlihat kesulitan. Dia mengatur napasnya yang sedikit tidak beraturan. Pedang tergenggam kuat di tangannya.
Sekarang, di hadapannya, banyak kupu kupu berwarna putih terbang dengan anggun. Terlihat indah, juga lemah. Walau begitu, makhluk hidup ini sebenarnya sangat mengerikan. Dia bisa mati dalam sekejap jika lengah.
"Sial, kenapa semua bisa menjadi seperti ini?!" geramnya.
Tidak hanya ada dirinya seorang, namun ada iblis lain yang juga sedang menghadapi para kupu kupu ini.
Walaupun jumlah iblis yang hidup di sini banyak, tapi satu persatu iblis itu mati. Hingga kini iblis yang ada hanya tersisa 10 orang.
Dia nyaris tumbang andai tidak ada tubuh lain yang menahan dirinya dari belakang. Ia menoleh sejenak dan tertegun ketika melihat seorang anak laki laki yang terlihat berumur 10 tahun yang membantunya. Ia sampai berkedip beberapa kali, lalu berucap, "Tidak aman jika terus berada di sini, pergilah–"
Belum selesai dengan ucapannya, semua kupu kupu yang terbang di hadapannya langsung menusuk tubuhnya dengan tentakel hingga dia mati seketika. Dia tidak pernah menduga jika akan mati seperti ini.
Anak laki laki yang sebelumnya membantu itu segera menjauhkan tubuhnya dari iblis yang kini sudah mati. Hal ini membuat tubuh iblis itu terjatuh keras ke tanah. Tidak ada ekspresi yang dia perlihatkan. Bahkan ketika beberapa kupu kupu bersayap indah terbang mendekat.
Seorang iblis yang melihat itu segera berlari mendekati anak laki laki. Ekspresinya nampak panik, "Nak..! Jangan berada di sana! Bahaya!"
Langkahnya yang cepat tiba tiba terhenti dengan ekspresi terkejut di wajahnya. Dengan mata kepalanya sendiri, kupu kupu itu malah menghinggapi tubuh dari anak laki laki. Namun tidak ada sesuatu hal yang terjadi padanya. Mereka seolah hanya sedang bermain. Padahal kupu kupu ini menyerang banyak iblis lain, namun kenapa mereka tidak menyerang anak laki laki ini?
Belum selesai keterkejutannya, sesuatu kembali terjadi. Ia memuntahkan darah secara tiba tiba. Urat menegang di dahinya ketika merasakan sakit yang menjalar di seluruh tubuh. Tak lama dari itu, sesuatu yang tajam mencuat keluar dari tenggorokannya.
Kejadian ini sangat mengejutkan. Bahkan bagi semua iblis yang melihatnya. Mereka menyaksikan bagaimana cairan merah yang tajam itu menembus leher iblis itu. Apalagi ketika mereka tahu bila cairan merah yang terlihat adalah darah dari iblis itu sendiri, keterkejutan semakin menjadi. Tanpa sadar mereka menahan napas dan pandangannya seolah hanya tertuju pada iblis itu.
Padahal tidak ada apapun yang menyerangnya, namun dia seketika mati begitu saja. Entah apa yang terjadi, tapi kejadian ini semakin membuat gelisah bagi iblis yang tersisa.
"Ggggrrrr.."
Geraman mulai terdengar di setiap penjuru kota. Itu bukanlah suara hewan buas, melainkan para iblis yang saat ini telah mati. Semua mayat yang seharusnya sudah tak bisa bergerak, kini malah bergerak, bahkan memberikan tatapan menakutkan.
Kejadian ini begitu mengejutkan dan semakin membuat kacau keadaan yang telah ada. Mereka baru mengetahui jika mayat iblis bisa kembali bergerak. Tak sedikit dari mereka yang menjadi ketakutan hingga tubuhnya gemetar.
__ADS_1
Dibandingkan gemetar, satu satunya anak yang masih hidup di sini terlihat tanpa ekspresi. Bahkan tidak ada pergerakan apapun darinya. Beberapa kupu kupu hinggap di kepala dan bahu, sedangkan sebagian lain terbang di sekelilingnya.
Kini para iblis yang tersisa harus bisa bertahan dari ganasnya serangan mayat hidup. Mereka yang kekuatannya telah terkuras banyak masih harus menghadapi mayat yang tidak terhitung jumlahnya.
"Aaakhhh," salah satu iblis berteriak kesakitan kala tangannya digigit dengan kuat. Tidak berapa lama dari itu, pergerakan mayat hidup semakin menjadi.
Walau awalnya pergerakan mereka lambat, tapi mereka bisa tiba tiba bergerak cepat. Gerakan mereka tidak terduga dan tidak terarah yang membuatnya sulit diprediksi. Apalagi kenyataan bahwa yang dilawan bukanlah makhluk hidup, melainkan mayat membuat beberapa diantara iblis ini sulit menyerang dan hanya bertahan. Kenyataan lain yang membuat mereka tak menyerang adalah karena sebagian besar mayat adalah keluarga ataupun kenalannya.
Tapi diantara 8 iblis yang tersisa, salah satu diantara mereka menggila dengan membantai satu persatu mayat hidup. Dia tidak peduli jika mereka adalah orang yang dikenal atau bahkan keluarganya sekalipun. Karena di matanya, semua mayat ini bukan lagi keluarganya. Keluarga aslinya telah mati dan ini hanyalah tubuh yang hidup. Dia merasa tidak boeh ragu bila tidak ingin mati mengenaskan di sini.
Melihat bagaimana pria berpakaian putih itu, membuat dua diantara iblis lain ikut melakukan hal serupa. Walau agak ragu, tapi mereka tetap melakukannya. Mereka menebas atau menusuk tubuh lawan.
Iblis yang menahan serangan dari mayat hidup nampak berwajah pucat ketika melihat kebringasan pria berpakaian putih yang kini pakaiannya tidak lagi bersih, "Hei..! Apa kalian gila?! Kalian ingin membunuh mereka?!"
"A-aku tahu, tapi jika kita tidak melakukannya, maka kita yang akan mati. A-aku tidak mau mati di sini!" iblis yang terlihat seperti 20-an tahun itu menggeleng. Ia menebas kembali tubuh lawan walaupun ekspresinya benar benar tidak baik.
"Ck, gila! Kalian sudah gila! Diantara mereka pasti ada kenalan kalian! Tapi kalian masih mau membunuhnya untuk kedua kali?!"
Seorang pria berpakaian serba merah yang mengikuti tindakan pria berpakaian putih menelan ludahnya, "Apa.. Yang dia katakan benar.. Walaupun beberapa dari mereka adalah keluargaku, tapi.. Tapi mereka sudah mati. Jika dilihat pun, jelas mayat hidup ini bukan mereka. J-ika mereka keluargaku, seharusnya mereka tidak menyerangku."
Jelas kedua iblis yang mengikuti tindakan pria berpakaian putih itu masih ragu dan merasa bersalah. Tapi mereka tetap melakukannya untuk perlindungan diri.
Semua iblis yang mendengar percakapan itu merenung dan memperhatikan baik baik mayat yang menyerang mereka. Walaupun memiliki wajah yang sama seperti saat hidup, tapi keadaan mereka berbeda. Mayat itu jelas telah mati, tidak bernapas, terlihat seperti tidak memiliki daging dan hanya tulang yang dibungkus oleh kulit. Kulitnya begitu pucat tak teraliri darah.
Saat mereka memikirkannya, tiba tiba seorang iblis berteriak kaget, "M-mereka.. Mereka hidup kembali! Padahal aku sudah menebasnya, tapi dia kembali hidup!"
Ucapan itu membuat siapapun tersentak, tak terkecuali pria berpakaian putih yang sedang menghabisi lawan. Ia memperhatikan dengan baik dan baru menyadarinya, "Bahaya!"
Salah satu kepala yang sudah ditebas sebelumnya melompat ke arahnya dan hendak menggigit, namun dia segera menghindar hingga kepala itu hanya melintasinya saja. Ekspresinya berubah menjadi sedikit pucat. Energinya sudah benar benar diambang batas, sedangkan lawan justru tidak ada habisnya. Ia menelan ludah dengan kesulitan, "Kita.. Pasti tidak akan selamat."
Teriakan kesakitan saling bersahut sahutan diantara iblis yang masih hidup. Mereka terkena serangan bagian tubuh mayat yang harusnya telah tertebas. Disisi lain, mereka juga mendapatkan luka hingga darah menetes ke tanah. Mayat menjadi semakin menggila ketika mencium bau darah dari makhluk hidup.
__ADS_1
Pergerakan mereka menjadi begitu gesit hingga semakin sulit untuk menghindarinya.
"Aakhhh.."
"AKHH"
"T-tolong... To–" iblis itu tidak bisa melanjutkan suaranya. Tubuhnya ambruk ke tanah dan langsung dikerumuni banyak mayat hidup yang langsung memakannya. Teriakan kesakitan darinya semakin melemah sebelum akhirnya tidak terdengar lagi.
Tidak hanya iblis itu, tapi 2 iblis lain mengalami hal serupa. Mereka bertahan sesaat, sebelum akhirnya jatuh dan menjadi makanan bagi para mayat.
Penampakan ini begitu mengerikan. Walaupun sudah menjadi mayat hidup, tapi tetap saja mereka berasal dari ras yang sama. Namun kini mayat hidup itu memakan ras nya sendiri.
Tidak ada yang tidak takut. Semuanya ketakutan walau mencoba menyembunyikan ekspresi itu. Tidak terkecuali pria berpakaian putih. Ia yang awalnya bisa mencibir iblis lain pun hanya untuk menguatkan dirinya saja. Karena sekuat apapun hatinya, ia tetap memiliki perasaan. Menebas tubuh iblis lain yang merupakan keluarganya, tentu sangat menyakitkan.
Apalagi keadaan semakin buruk ketika melihat mayat hidup yang merupakan keluarganya itu memakan iblis lain. Ia sungguh tidak kuat melihatnya. Dengan segera, ia melesat menembus banyaknya mayat hidup dan menebas wajah mayat itu hingga membuat wajahnya terbelah.
Napasnya memburu tidak karuan. Tangannya bergetar. Keringat membasahi wajah dan punggung serta lehernya. Walau begitu, ia masih mencengkram kuat pedang di tangannya, "Tidak akan kubiarkan... Kalian memakan iblis lain."
Dirinya menerjang cepat pada kerumunan mayat. Iblis yang sebelumnya dimakan saudaranya sudah tidak bernyawa. Dirinya telat bertindak. Ekspresinya begitu serius. Namun keseriusan itu sedang menutupi perasaan kalut dan sedih darinya.
Kini yang tersisa hanyalah 3 orang termasuk dirinya, pemuda yang terlihat 20 tahun, serta pria berpakaian merah.
Tidak ada yang dalam keadaan baik. Semuanya kacau. Energi mereka terkuras habis, namun dipaksa untuk terus bertarung. Mayat hidup tidak ada habisnya dan mereka seakan tidak memiliki rasa lelah. Namun berbeda dengan mereka bertiga yang hanyalah makhluk hidup dan bisa merasakan lelah. Jumlah pun turut menjadi hal yang sangat penting.
Tapi diantara keributan itu, hal yang terjadi pada anak laki laki jelas sangat berbeda. Tidak ada satu pun mayat yang mendekatinya. Walau keadaan begitu riuh, namun itu tidak membuatnya mengekspresikan sesuatu. Tidak ada tatapan takut dalam dirinya walau ia melihat sendiri apa yang sedang terjadi.
Hanya butuh waktu sedikit lebih lama untuk menghabisi ketiga iblis yang tersisa. Pada akhirnya memang begitulah seharusnya. Mereka tidak akan mungkin selamat menghadapi perbedaan yang begitu besar. Bahkan keberuntungan tidak berpihak pada ketiganya.
Tidak ada lagi makhluk hidup membuat mayat hidup bergerak menuju tempat lain. Mereka mendeksi banyaknya kehidupan di tempat lain dan pergi menuju arah tersebut.
Sedangkan anak laki laki, entah sejak kapan dirinya tiba tiba menghilang diantara kerumunan mayat hidup.
__ADS_1