
"Hentikan! Kau akan menyesal jika melakukannya!"
Aku menggertakkan gigi dengan perasaan menggebu. Setelah kematian kakak, aku langsung pergi ke kediaman kepala desa. Aku langsung menemui Lio, anak kepala desa itu di kamarnya. Kepala desa sedang tidak ada di rumah dan hanya ada Lio, pria brengs*k ini.
Aku ingin membunuhnya dan mencabik cabik tubuhnya. Rasanya aku benar benar marah. Aku terus mengangkat kerah pakaiannya ke atas, dan menatapnya dengan penuh emosi, "Sebenarnya apa.. Apa yang kau lakukan pada kakak?! Apa yang sudah kau lakukan padanya?!"
"Heh," Lio menatapku dengan sinis tapi ada tatapan sedih dalam pancaran matanya yang tidak kusadari.
"Aku hanya ingin membunuh anak itu! Tapi dia.., dia menghalangiku dan pada akhirnya dia 'lah yang tertusuk. Itu bukan salahku jika dia mati! Yang ku inginkan adalah membunuh anak itu. Karena anak itu yang membuat Cecyl memutuskan hubungan denganku. Dia marah padaku karena aku sudah menghamilinya. Aku benci anak itu! Tapi Cecyl.. Dia.. Malah melindunginya.. Pada akhirnya dia yang tertusuk. Itu bukan salahku, aku tidak salah!"
Aku seketika menghempaskan tubuh Lio ke lantai hingga dia jatuh terduduk. Aku tidak bisa menahan emosiku lagi setelah mendengar penjelasan darinya, "Brengs*k, Kenapa kau melakukan itu pada kakak?! Memang kakak pernah melakukan salah padamu hingga kau merusak kehidupannya?! Jawab aku! Brengs*k, jawab!"
Aku kembali menarik kerahnya dan membuatnya berdiri dengan paksa, "Cepat jawab aku!!"
Aku tidak bisa menahan air mataku terlalu lama. Mataku terasa panas dan aku bisa merasakan cairan hangat yang keluar dari pelupuk mataku sendiri. Cecyl adalah satu satunya keluarga yang kumiliki sekarang, kenapa dia merenggutnya dariku?!
Jika dia menyayangi kakak, kenapa dia sampai melakukan hal yang tidak diinginkan kakak?! Dia bahkan sampai membunuh kakak! Jika dia benar benar menyayangi kakak, yang seharusnya dia lakukan adalah menjaga kakak sebaik mungkin. Tapi dia malah..
"Aku memang tidak tahu berapa lama kalian sudah menjalin hubungan, tapi aku benar benar tidak menerimamu! Aku membencimu! Kau sudah membunuh kakak! Di mataku, kau'lah yang bersalah, kau yang membunuhnya! Aku tidak akan memaafkanmu, aku benar benar tidak akan memaafkanmu. Nyawa dibalas dengan nyawa!"
Aku mengeluarkan sebuah pisau yang digunakannya untuk membunuh kakak. Tanpa basa basi lagi, aku langsung mendorong tubuhnya hingga punggungnya menempel di tembok. Aku pun memperlihatkan pisau itu padanya.
Dia terlihat sangat ketakutan dengan apa yang kuperlihatkan, "J-jangan.. Jangan melakukan apa yang akan kau sesali nantinya! Jika kau membunuhku, ayahku tidak akan tinggal diam!"
"Tenang saja, aku akan pergi dari desa ini setelah membunuhmu. Lagi pula, belum tentu dia tahu jika yang membunuhmu adalah aku," aku menatapnya dengan tajam, walau mataku berair.
"T-tidak.. Tidak..!! Maafkan aku!! Aku minta maaf! Aku akan menebus kesalahanku, karena itu, maafkan aku!"
__ADS_1
Dia semakin berteriak takut dan memohon mohon. Aku tidak mau mendengarkan ucapannya lagi. Aku meremas kerah yang kucengkram dengan kuat, "Aku tidak butuh omong kosongmu itu!"
Jleebb
Aku menusuk tubuhnya tepat di jantung. Tidak hanya sekali, aku terus menusuk tubuhnya berkali kali. Dia menggerang kesakitan untuk beberapa saat hingga akhirnya pancaran di matanya menghilang. Tubuhnya terkulai lemas, aku pun melepaskan cengkramanku dan membuat tubuhnya jatuh ke lantai dengan keadaan tak bernyawa.
Aku mengatur nafasku yang memburu cepat. Kulihat telapak tanganku sendiri yang penuh dengan darah dari pria brengs*k itu. Aku melemparkan pisau yang kupegang ke lantai dengan keras hingga menciptakan suara bentrokan antara lantai dengan benda tajam itu.
Sekarang pria yang sudah membuat kakak sedih mati. Aku 'lah yang membunuhnya. Aku membunuh iblis untuk pertama kalinya. Aku merasa takut. Aku merasa bersalah, tapi aku meyakinkan diriku jika apa yang kulakukan tidak salah. Aku tidak perlu menyalahkan diriku atas kematiannya. Karena Lio, tidak berhak hidup. Dia sudah membuat kakak sedih dan dia sudah membunuh kakak, satu satunya yang kupunya di dunia ini.
Aku segera pergi meninggalkan kediaman kepala desa. Aku ingin melakukan apa yang diinginkan kakak. Aku berkemas dan membawa barang barang yang sekiranya penting. Aku juga akan membawa bayi kakak.
Sebelum pergi, aku memakamkan kakak di belakang rumah. Aku begitu sedih dengan kepergiannya. Tapi sekarang, aku harus pergi dari desa ini sebelum warga lain menyadari kematian Lio.
***
Anak kakak kini tumbuh menjadi anak yang tampan, walau wajahnya itu cukup mengingatkanku pada pria brengs*k itu, tapi matanya mirip dengan kakak. Ternyata, merawat anak bukanlah hal yang mudah. Yah, tapi aku sedikit terbiasa karena di kehidupan sebelumnya aku tinggal bersama adikku.
Kami hidup bahagia walaupun terkadang kekurangan. Dia tidak mengeluh walau dalam keadaan sulit, sifatnya mirip dengan kakak. Aku pun bersyukur atas itu. Setidaknya sifatnya tidak sama seperti ayahnya.
Semua baik baik saja, hingga suatu hari, aku menemukan tubuhnya yang terluka sangat parah di dekat rumah. Tidak hanya ada dia, tapi ada seorang pria berbadan kekar yang berada di dekatnya. Dia memukul anak itu tanpa ampun. Nafasku tercengkat di tenggorokan kala melihatnya.
Aku yang sedang memegang kantung belanjaan menjatuhkannya dan segera menghampiri lalu memukul pria itu sekuat tenaga hingga dia termundur beberapa langkah ke belakang. Dia tampak marah, "Siapa kau?! Jangan ikut campur urusanku!"
Aku menggelengkan kepala dengan mata melebar ketika melihat keadaan tubuh keponakanku. Darah menggenang di tanah tempatnya berada. Lebam keunguan terlihat jelas di wajahnya. Aku seketika menatap pria itu dengan marah, "Apa yang kau lakukan pada keponakanku, hah?!"
"Hah? Jadi kau adalah pamannya? Berarti kau saja yang ganti rugi! Dia sudah menabrakku dan membuat pakaianku kotor karena makanannya!" ucapnya dengan kening berkerut dalam.
__ADS_1
Aku menjadi marah saat mendengar ucapannya. Hanya karena pakaiannya kotor, dia sampai membuat Ciel seperti ini? Apa dia sudah gila?
Pria itu menendang tubuh Ciel kembali. Aku tersentak dan segera mendorong tubuhnya hingga dia terjatuh ke tanah. Aku menggeram marah. Di saat aku berada di sini pun dia masih berani melukainya, "Jika kau berani menyentuhnya lagi, maka aku tidak akan tinggal diam!"
"Kurang ajar! Kau melawanku? Apa kau memang ingin membuat masalah denganku, hah? Kau tidak tahu ya, aku adalah prajurit kekaisaran. Jika kau mengusikku, maka kau akan mendapatkan masa–"
Bughh
Aku memukul wajahnya tanpa banyak berpikir, "Lalu jika kau masih mengusik keponakanku, maka kau pun akan menyesal! Pergi dari sini sebelum aku menghabisimu!"
Dia bukannya menyerah, dia malah berdiri dan menghantamkan pukulan ke wajahku hingga tubuhku sedikit terhuyung ke belakang.
"Kau pikir aku takut denganmu, hah?! Aku adalah prajurit kekaisaran, kau tidak akan bisa mengalahkanku."
Ucapannya terdengar begitu sombong. Aku semakin geram mendengarnya. Aku kembali menghadapkan wajahku padanya. Tanpa aba aba, aku menendang tubuhnya hingga dia terhuyung ke belakang. Tidak berhenti di sana, aku menghantamkan pukulan berkali kali padanya hingga menyebabkan memar di seluruh wajah. Hidungnya pun mengeluarkan darah.
Bughh
Bughh
Dia membalas pukulanku dan menendangku berkali kali. Tapi di tendangan terakhir, aku menahan kakinya, "Sudah cukup, kau memang meminta untuk mati ya?"
Aku terus memukulnya berkali kali bahkan mendorong tubuhnya hingga kepalanya terbentur tembok dan mengeluarkan darah. Dia pingsan pada saat itu juga.
Aku mengatur nafasku dan menyeka darah di tepi bibir. Jika aku membunuhnya, maka aku hanya akan membuat masalah semakin besar. Lebih baik jika aku menyerahkannya pada petugas keamanan di kota ini.
Namun, aku membawa Ciel yang pingsan ke rumah terlebih dahulu. Aku juga mengobati beberapa lukanya sebelum membawa pembuat onar itu ke petugas keamanan.
__ADS_1