
Berhari hari kini telah berlalu. Namun, mereka berempat belum sampai di tempat tujuan, walaupun pohon yang mereka lihat semakin besar.
Rintangan selalu datang. Banyak mayat hidup ataupun monster yang mereka temui. Mereka bahkan bertemu dengan sekumpulan kupu kupu dan berhasil selamat dari monster mengerikan itu. Ini bukanlah hal yang mudah.
Di sepanjang perjalanan, mereka tidak menemukan iblis lain yang hidup. Kebanyakan dari mereka menjadi mayat hidup ataupun tulang belulang. Tidak ada yang bisa mereka ajak membantu menghancurkan pohon besar.
Harapan untuk menghancurkan pohon itu pun seolah hanya angan angan.
Rafa dan Nevan saling duduk bersandar satu sama lain. Mereka mengatur napasnya karena kelelahan. Setiap malam, mereka hanya tidur beberapa jam saja, lalu terkadang ada serangan. Belum lagi, saat pagi sampai sore mereka terus berlari menuju pohon besar dan menemui musuh di pertengahan jalan.
Baru pertama kali ini mereka harus bertarung selama hampir seharian penuh. Tidak ada tempat yang aman untuk ditinggali. Bahkan untuk rehat sejenak pun hanya sedikit. Mereka harus ekstra hati hati dan waspada terhadap hal kecil apapun di sekitar. Situasi mereka hampir mirip seperti hidup dan mati.
Rafa berwajah pucat. Ia merasa sudah tidak tahan. Tubuhnya terasa panas, begitupun wajahnya. Ia merasa pusing dan lemas. Jelas keadaannya tidak baik baik saja.
Nevan tertegun ketika merasakan punggung Rafa semakin berat. Ia melirik ke belakang, "Rafa?"
"..."
Tidak ada jawaban apapun dari subjek yang ia tanyai membuat Nevan mengerutkan keningnya. Ia perlahan menjauh dari tubuh Rafa sambil menggunakan tangan untuk menahan tubuh saudaranya agar tidak terjatuh.
Ketika berhasil membaringkan tubuh Rafa, Nevan baru menyadarinya. Pemuda itu tidak sadarkan diri. Matanya terpejam dengan titik titik keringat yang terbentuk di leher dan keningnya. Ia berekspresi khawatir ketika melihat wajah Rafa yang terlihat pucat.
Nevan menepuk pelan pipi pemuda itu untuk membangunkannya. Namun, tidak ada reaksi apapun. Rafa hanya terus memejamkan mata dengan kuat dan ekspresinya nampak tidak baik.
Nevan spontan menaruh punggung tangannya di kening Rafa untuk memeriksa keadaan. Tak lama, ia seketika tersentak, "Tubuhnya sangat panas. Paman..? Need? Rafa.. Dia sakit."
Radolf dan Need yang sedang membakar ikan di dekat sungai nampak menoleh ke belakang ketika mendengar suara itu.
Ekspresi Radolf berubah khawatir dan bergegas mendekati putranya. Ia menyentuh kening Rafa dan spontan menjauhkannya karena merasa panas, "Dia demam. Panasnya sangat tinggi."
"L-lalu apa yang harus kita lakukan? Tidak ada obat di sini," balas Nevan dengan cemas.
Saat mereka sedang terdiam satu sama lain, Need berjalan mendekat dan menaruh kain basah di kepala Rafa. Hal ini membuat kedua orang di samping Rafa tertegun.
"Aku mendapatkannya saat kita menghabisi mayat hidup sebelumnya," tanpa ditanya, Need seolah tahu apa yang berada di pikiran kedua orang ini.
Nevan terdiam ketika melihat Need melewatinya begitu saja dan kembali membakar ikan. Ia pun menatap wajah Rafa, "Aku akan menjaganya, paman. Jadi paman bantu dia saja."
Radolf menatap Rafa dengan cemas. Seumur hidup selama dia merawat Rafa, anaknya tidak pernah mengalami demam seperti ini. Itu pernah terjadi hanya satu kali. Lalu Rafa tiba tiba kembali demam sekarang, ini membuatnya sangat khawatir. "Apa sebelumnya dia pernah demam saat tinggal bersamamu dan Ayahmu?"
Nevan menoleh ketika mendengar pertanyaan dari pamannya. Ia pun menggeleng, "Dia tidak pernah demam. Hanya batuk atau pilek."
Radolf kembali menatap anaknya dengan kecemasan, "Sepertinya dia sudah sangat memaksakan diri. Dia sudah bertarung hampir seharian setiap harinya, lalu mengobati kita semua. Tenaganya pasti sangat terkuras. Tapi dia terus memaksakan dirinya. Seharusnya aku memaksanya dengan keras agar dia tidak mengobatiku."
__ADS_1
Nevan mengangguk setuju. Ia juga terkadang menolak untuk disembuhkan, namun Rafa terus memaksanya. Ia tahu Rafa sudah menggunakan terlalu banyak energinya, tapi walau dipaksa untuk berhenti, Rafa tetap keras kepala.
"Tidak, Ayah. Aku baik baik saja," Rafa membuka suara, namun matanya tetap terpejam.
Mendengar suara Rafa, Nevan jadi yakin bila saudaranya itu dalam keadaan sadar, "Jangan memaksakan diri. Lebih baik kau istirahat saja. Lagi pula, ini sudah malam. Tidak perlu mengkhawatirkan apapun, sekarang khawatirkan diri sendiri saja."
"Tapi aku sungguh baik baik saja–"
"Sejak awal kau terus memaksakan diri. Entah saat bertarung, menyembuhkan, berjaga, ataupun mental. Kau pikir aku tidak tahu jika kau takut, huh?"
"S-siapa yang takut?"
"Tidak perlu menutupinya lagi dariku. Aku sudah tahu. Kau pikir sudah berapa lama kita bersama? Aku sangat tahu dirimu."
Rafa tidak menjawab apapun. Namun keningnya semakin berkerut karena pusing dan luka pada tubuhnya.
"Sekarang istirahatlah, jangan memikirkan apapun," ucap Nevan dengan pelan. "Jika kau lapar, kau bisa makan ikan lebih dulu. Setelahnya, kau bisa tidur."
Rafa menggeleng, "Tidak, aku tidak lapar."
Nevan menghembuskan napas pelan dan melihat Radolf. Ia pun mengangguk seolah mengatakan untuk mempercayakan Rafa padanya.
Radolf mengangguk pelan, lalu segera pergi mendekati Need dan duduk di sampingnya. Ia ikut membantu dalam membakar ikan.
Hanya Nevan yang sadar sekarang ini. Dirinya terus menjaga Rafa dan sesekali ke sungai untuk mendinginkan kain kompresan lagi. Ia sebenarnya lelah dan mengantuk, namun terus memaksakan diri. Disaat ia hampir tertidur, maka ia akan mencubit pipinya sendiri.
Tidak ada bintang di langit. Langit begitu gelap tanpa setitik cahaya.
Kepala Nevan sedikit tertunduk dengan mata lelah, namun ia kembali menegakkan kepalanya dan berkedip berkali kali untuk membuang rasa kantuk, "Haishh.."
Nevan mendesah dan menggelengkan kepalanya. Ia segera mencubit pipinya dan menatap Rafa yang tertidur di atas tanah. Ia sebenarnya ingin memangku kepalanya, namun ia sesekali harus ke sungai. Dia hanya akan mengganggu tidur Rafa nantinya jika tetap melakukan itu. Ia pun hanya memberikan daun pisang sebagai selimut untuknya.
Walaupun ia mengompresnya setiap beberapa waktu sekali, namun tetap saja panasnya tidak turun. Bahkan jangankan turun, panasnya terkadang semakin naik ataupun kembali ke kondisi awal. Tidak ada peningkatan yang baik pada kondisinya. Nevan menjadi semakin khawatir. Pasalnya saudaranya ini tidak pernah demam selama tinggal bersamanya.
Ketika sedang memperhatikan wajah Rafa, pendengarannya menangkap suara langkah kaki. Ia mengerutkan kening dan segera berdiri di samping Rafa, seperti melindunginya. Tatapannya terarah pada kegelapan yang tidak diterangi oleh api unggun. Ia menelan ludah ketika merasa langkah itu semakin mendekat.
Dengan cepat, ia menggigit ibu jarinya dan mencoret telapak tangan kirinya dengan darahnya sendiri. Seketika, sebuah belati muncul di tangannya. Ia menggenggamnya dengan kuat dan tatapan mata tajam terarah pada asal suara.
"Yah.. Aku tidak menyangka jika masih ada iblis yang hidup di tempat itu. Serius. Bagaimana mereka masih bisa hidup, padahal tempat tinggal mereka berada cukup dekat dari pohon itu? Kupikir mungkin semua iblis di sekitarnya sudah mati, tapi nyatanya beberapa dari mereka masih hidup. Ternyata dunia ini sangat luas ya, banyak iblis kuat namun tidak diketahui yang lain.
Padahal mereka bisa saja menjadi panglima jika beruntung. Nyatanya mereka hanya menjadi penduduk biasa. Haish... Sangat disayangkan. Apa kau berencana membuat tempat lagi? Jika seperti itu, mungkin kau bisa mengajak mereka menjadi bagian dari bawahanmu?"
"...."
__ADS_1
"Apa kau tidak mau menjawabnya? Aku sangat penasaran."
"Ssstt.."
"Hm? Kau kenapa? Ada apa?"
"Sepertinya ada cahaya."
"Maksudmu di sana? Kalau begitu, ayo ke sana!"
"Kau–"
Nevan terkejut saat seseorang tiba tiba keluar dari kegelapan. Ia sampai melemparkan belati di tangannya yang langsung mengarah pada tubuh sosok itu.
Shuuutt
Grepp
Belati itu ditahan dengan baik oleh sosok tersebut. Ia mengapitnya dengan dua jari dan menghentikan laju belati. Hal ini membuat Nevan tertegun dan menjadi semakin waspada.
Sedangkan sosok itu merasa terkejut. Dia berkedip dan menatap siapa yang sudah melemparkan belati ini.
Kening Nevan berkerut samar ketika melihat wajah yang samar samar terlihat olehnya. Ia berkedip dan mencoba mengingat. Ingatan terlintas di pikirannya ketika melihat wajah sosok itu, "Kau–kenapa kau bisa ada di sini?!"
Nevan begitu terkejut ketika melihat jika yang ada di hadapannya adalah pemuda itu. Pemuda yang bertemu dengannya saat ia terjebak dalam dunia roh.
"Kau–Ah, sudah kuduga kita akan bertemu kembali. Tapi tidak kusangka jika pertemuan kita akan secepat ini," ucap pemuda itu. Ia tersenyum tipis. Namanya adalah Kite.
"Sudah kukatakan hati hati," ucap seseorang yang bersama dengan Kite.
"Ah.., tidak perlu khawatir. Lagi pula, yang kita temui bukan musuh," balas Kite dengan santainya.
"Tetap saja."
"Tidak apa, dia benar benar bukan musuh. Sungguh, dia bukan mayat hidup busuk ataupun monster."
Mata Nevan kini beralih menatap seseorang yang berdiri di samping Kite. Ia mengerutkan kening ketika cahaya kurang menerangi wajah itu. Namun saat orang itu semakin mendekat pada Kite, ia baru bisa melihatnya baik baik.
Matanya membulat terkejut dengan ekspresi yang tak bisa disembunyikan. Orang yang bersama Kite memiliki tampilan seperti pemuda sekitar 18 tahun. Dengan rambut hitam, mata merah dan wajah dingin, membuatnya terlihat mengintimidasi.
Namun bukan itu yang membuatnya terkejut, melainkan wajahnya yang mirip dengan seseorang yang ia kenali. Awalnya ia merasa ragu, namun saat Kite memanggil namanya, membuatnya semakin tidak percaya.
"Jangan menatapku seperti itu, Leon. Aku benar benar tidak bersalah."
__ADS_1