Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 90 -Mayat Hidup III


__ADS_3

Rafa sebelumnya sempat marah pada sosok Flynn. Ia yang tahu jika pria itu adalah orang asing yang menyerang rumahnya saat itu, langsung menerjang dan hampir saja melukainya andai tidak dicegah Radolf.


Tidak ada yang tahu masalah Rafa dengan pria itu. Namun setelah ia menjelaskan, Ayahnya menjadi paham.


Need, walaupun terlihat tidak peduli, nyatanya ia mendengarkan cerita Rafa dengan baik.


Radolf membujuk agar Rafa melepaskan cengkramannya dari leher Flynn. Karena dari yang terlihat, iblis itu sudah kehilangan tenaga dan lemas.


Mau tidak mau, Rafa langsung melepaskannya. Namun posisi berdirinya berada di samping Flynn seolah bersiap untuk menyerangnya kembali jika ada suatu pergerakan.


Radolf menghela napas. Untunglah anaknya dapat mengendalikan diri dengan baik. Jika tidak, mungkin nyawa iblis itu sekarang telah lenyap.


Flynn mengatur napasnya dan segera berdiri dengan dibantu potongan kayunya. Ia menatap Rafa dengan tajam, seolah tidak ingat jika pemuda itu sudah membuatnya hampir mati tadi, "Kau–tidak tahu diri! Aku sudah mengampuni nyawamu sebelumnya, tapi kau malah seperti ini padaku?! Apa kau tidak tahu cara balas budi, huh?"


Pandangan Rafa menggelap ketika mendengar penuturan dari pria di depannya. Tangannya terkepal dengan erat dan benar benar berusaha untuk tidak meluapkan semua yang ia pendam ini.


"Sudah cukup! Kau hampir mati, tapi masih bisa bersikap seperti ini?" Radolf tidak habis pikir dengan pikiran Flynn yang mudah tersulut emosi itu.


"Mati?" Flynn mendengus dan lantas tertawa seolah apa yang dikatakan Radolf lucu, "Hahaha, aku tidak akan mati oleh bocah kemarin sore sepertinya. Jika pun aku mati, aku akan mati di tangan sosok yang kuat, tidak seperti dia."


Ucapannya terdengar penuh porovokasi, bahkan hingga membuat Rafa langsung mencengkram kerah Flynn dengan tatapan tajam, "Jangan berpikir bisa lepas dari ini semua."


"Lepas? Hmph, aku tidak akan melarikan diri. Lagi pula.., bukankah seharusnya aku yang mengatakan hal itu padamu? Kau sangat berani karena datang ke tanah ini. Kalian berdua sungguh di luar ekspektasiku. Untuk kekacauan di dunia iblis, kalian bahkan melibatkan manusia biasa dan membawanya kemari. Apa sekarang kalian menjadi lemah, huh?"


Rafa langsung melepas kerah pakaian Flynn sambil sedikit mendorongnya, "Mereka membawaku? Hmph!"


"Apa kau tidak melihat situasimu sekarang dengan baik?" Need bangun dari posisi duduknya dan menatap Flynn dengan dingin. Ia tidak suka ketika mendengarnya berbicara seenaknya tanpa tahu kondisinya sekarang.


"Aku tahu, sekarang aku berada diantara 3 musuh. Sedangkan kondisiku sekarang tidak baik. Kalian bisa menghabisiku kapan saja. Tapi apa kau pikir aku akan takut dengan itu?"


Balasan dari Flynn membuat Need kesal, tapi tidak ia tunjukkan. Karena ia hanya terus menatap pria itu dengan dingin.


Beda hal nya dengan Need, Radolf mencoba untuk mencairkan suasana agar lebih tenang. Matanya terarah pada Need, "Jangan meladeninya. Kau tidak akan menang beradu argumen dengannya."


Radolf pun menahan bahu Rafa ketika merasa anaknya seperti akan menghabisi Flynn. Ia berujar, "Tenangkan dirimu. Ayah tahu apa maksud ceritamu itu, tapi kendalikan dirimu dengan baik."

__ADS_1


Flynn terperangah ketika mendengar ucapan Radolf. Ia merasa tidak salah dengar. Iblis itu baru saja mengatakan 'Ayah', seolah dia adalah orang tua dari manusia ini. Ia pun teringat dengan alasan mengapa Raja Leon diincar. Memang benar jika Raja nya menceritakan hal sebenarnya tentang kekuatan kuno milik Leon.


Namun mereka mengincarnya dengan alasan tangan kanan iblis itu sudah berhubungan dengan manusia, lalu Raja Leon menyembunyikan faktanya hingga saat terungkap, mereka ingin ikut memberi hukuman pada Raja Leon.


Walaupun tahu hal ini, tapi ia tidak tahu jika tangan kanan Leon memang benar benar melakukan hal yang dilarang di dunia iblis. Padahal ia mengira bila itu hanya rumor yang digunakan sebagai alasan palsu pengejaran Raja Leon.


"K-kalian.. Jangan bilang... Jangan bilang dia adalah anakmu, Radolf?" Flynn sedikit terbata ketika menanyakannya. Bisa dipastikan ia benar benar syok.


Need menyipit ketika melihat ekspresi Flynn. Entah pria itu berpura pura atau tidak, namun ia tidak peduli. Dirinya langsung berujar tanpa nada, "Ya, mereka. Sepertinya kau membuat masalah dengannya tanpa tahu siapa identitasnya. Aku memang tidak mengharapkan apapun darimu, namun aku tidak mengira kau begitu ceroboh dan bodoh seperti ini, bahkan melebihi bayanganku."


Flynn menjadi naik pitam ketika mendengar kata kata Need, matanya melotot tajam ketika melihatnya, "Jaga bicaramu itu! Kau hanya sekedar pengkhianat sampah sekarang!"


Need hanya diam dengan ekspresi yang dingin. Akan terlihat bodoh jika berdebat dengan iblis seperti Flynn.


"Kau tidak menjawab? Apa sekarang kau mengaku jika kau pengkhianat?" Flynn mendengus tidak suka.


Bugh


Kepalanya tiba tiba dipukul dari belakang hingga tubuhnya oleng, ditambah ia bisa merasakan tendangan dari belakang hingga ia jatuh tengkurap. Sebuah kaki diletakkan di atas kepala yang terasa menekan kepalanya.


Rafa pun demikian. Padahal tadi sosok itu begitu tenang dan mencoba menenangkannya untuk tidak memukul Flynn. Tapi sekarang dia 'lah yang tidak tenang hingga sampai membuat Flynn jatuh tengkurap.


Radolf menekan kakinya hingga wajah Flynn terbenam ke lantai kayu. Bahkan lantai itu menjadi rusak dan wajah Flynn semakin terbenam ke dalamnya. Rautnya masih datar dan begitu tenang ketika berkata, "Padahal aku menahan diri untuk tidak memukulnya, aish.. Tapi kau sangat menyebalkan hingga aku ingin membunuhmu sekarang juga. Tapi ya.. Aku masih waras untuk tidak membunuhmu di depan putraku."


Flynn terlihat begitu kesulitan. Apalagi Radolf menahan kepalanya dengan tenaga seolah ingin menghancurkan kepalanya. Ia menggeram kesakitan, namun tak bisa melakukan apapun.


Saat semua menjadi hening, suara geraman tiba tiba terdengar saling bersahut sahutan.


Rafa tersentak dan langsung melihat keluar. Begitupun dengan Need. Mereka menyaksikan kerumunan yang berjalan menuju kemari. Rafa sampai menelan ludah dengan kesulitan. Itu bukanlah kerumunan iblis biasa. Mereka adalah mayat hidup.


Need kembali masuk ke dalam. Ia bahkan langsung pergi ke kamar dimana Nevan berada. Pemuda itu masih tebaring tidak sadarkan diri, namun keadaannya sudah membaik. Ia pun bergegas membawanya di punggung dan menghampiri Radolf, "Sebaiknya kita segera pergi dari sini."


Rafa ikut masuk ke dalam dan menatap Ayahnya. Ia mengangguk, "Cepat kita pergi dari sini, Ayah."


Kepanikan terlihat jelas di mata Rafa. Ia sebenarnya merasa takut, namun tidak ia tunjukkan. Dalam pikirannya, tak pernah ada bayangan jika ia akan bertarung dengan sesuatu yang telah mati. Bahkan mereka yang telah mati itu suka menggigit dan menghabisi lawan seperti hewan buas.

__ADS_1


Radolf mengangguk. Ia pun menendang tubuh Flynn hingga pria itu terlempar menghantam meja dan kursi di depannya. Luka yang sebelumnya telah tercipta di tubuh pria itu menjadi semakin banyak. Kepalanya meneteskan darah karena terkena sisi tajam dari meja.


Walau mendengar suara erangan kesakitan dari Flynn, Radolf tidak peduli. Dia lebih peduli dengan keselamatan dirinya dan 3 orang yang bersamanya. Ia bergegas keluar dan berlari pergi ke arah yang berlawanan dari mayat hidup. Mereka meninggalkan Flynn begitu saja, seolah sengaja agar dia mati oleh mayat hidup.


"Brengs*k, kalian meninggalkanku?!" teriak Flynn dengan marah. Darah menetes di sela sela jarinya karena kuku dari kepalan tangannya. Ia tidak tahu apa yang ada di luar sana hingga membuat mereka pergi, namun ia memiliki firasat buruk. Suara geraman terdengar jelas di telinganya.


Hal ini membuat Flynn sedikit panik. Ia menduga jika mayat hidup sudah ada di kota ini dan bergegas menjangkau tongkat kayunya. Ia pun berdiri walau keadaannya sudah begitu buruk.


Ia keluar sambil dibantu dengan balok kayunya. Debaran jantungnya memacu dengan cepat ketika melihat ke luar. Apa yang ia pikirkan tidak salah. Para mayat hidup memang sudah sampai di sini. Wajahnya memucat ketika melihat mereka berada cukup dekat darinya.


"Sialan! Mereka meninggalkanku bersama dengan mayat busuk ini!" gerutunya. Ia bergegas pergi.


Namun salah satu mayat yang seharusnya masih ada diantara rombongan, muncul secara tiba tiba di hadapan Flynn dan langsung memberikan tendangan kuat hingga pria itu jatuh terduduk dengan punggung yang menghantam bangunan luar sebuah rumah.


Flynn terbatuk ketika rasa nyeri menjalar dari perutnya. Ia menengadah ke atas ketika mendengar geraman. Matanya melotot terkejut melihat mayat itu langsung mencakar wajahnya.


"Aaakhh"


Garis cakaran merah terlihat di wajahnya. Bahkan karena itu, salah satu matanya terluka dan tidak bisa melihat.


Tidak hanya mayat hidup itu saja, tapi beberapa mayat hidup lain tiba tiba muncul di hadapannya dengan mata putih, namun buas.


Walaupun Flynn mencoba melawan, namun ia kalah jumlah. Tenaganya pun sudah sangat terkuras, sedangkan fisiknya tidak dalam kondisi baik. Terlihat sudah dipastikan siapa yang akan menang.


*


*


Rafa membuka suara disela sela pelariannya, "Apa.. Dia akan baik baik saja?"


Need menoleh kala mendengar kata kata bernada khawatir dari Rafa. Ia mendengus, "Tidak perlu memikirkan iblis seperti itu. Kau akan senang jika dia mati. Dan bukankah sebelumnya dia sudah mengacaukan tempatmu? Jadi anggap itu 'lah balasan untuknya."


Rafa menggigit bibir bawahnya. Tatapan matanya gelisah, "Tapi.. Kupikir itu terlalu kejam untuknya. Dia jelas tidak akan menang melawan mayat hidup yang sangat banyak itu."


Radolf mengangguk. Ia sepertinya paham jika Rafa merasa bersalah, "Jika kita kembali pun, belum tentu kita bisa menang dengan luka sedikit. Selain itu, ada yang pingsan diantara kita. Akan sulit bertarung jika sambil melindunginya."

__ADS_1


Rafa terdiam mendengar ucapan Ayahnya dan menghela napas. Mungkin ini memang balasan atas apa yang diperbuat Flynn sebelumnya. Walau begitu, ia tetap merasa khawatir.


__ADS_2