
Seorang pria iblis terbangun tiba tiba hingga posisi tubuhnya berubah menjadi duduk. Ia terperanjat kaget setelah bermimpi buruk. Keringat membasahi kening dan rambutnya. Matanya melotot dengan alis yang naik.
"Rafa.. Dia..," ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan mengatur nafas dengan baik. "Aku harus keluar dari sini. Aku harus keluar. Aku akan menemui Rafa.. Aku harus bertemu dengannya dan melihat kondisinya."
Ia menyatukan kedua tangannya dan saling meremas. Ia tidak bisa merasakan kekuatannya sendiri. Ia tidak bisa menggunakannya, "Aarghhh...!!"
Tangannya pun memukul lantai tempatnya duduk dengan ekspresi kesal. Ia melihat ke depan. Dirinya dikurung dalam jeruji besi yang ditambahi dengan kekuatan untuk mengekang dan membatasi kekuatan.
Dengan segera, ia berdiri dan mendekati jeruji besi. Namun ketika ia sudah berada di depannya..
Buumm
Ia terlempar ke belakang hingga menabrak tembok. Ada sesuatu seperti sengatan kecil yang mendorong tubuhnya. Ia menggeram marah. Entah sejak kapan dirinya berada di sini. Terakhir kali yang diingatnya, Stev mengarahkan tangan pada kepala hingga ia merasakan sakit di seluruh tubuh. Ia tidak tahu hal yang terjadi selanjutnya setelah itu.
Ia kembali bangkit, lalu kembali mendekati jeruji dan menendangnya. Namun hal sama terjadi. Ia kembali menghantam tembok dengan kuat hingga ia terbatuk darah. Dorongannya dua kali lipat dari yang tadi.
"Sialan..!! Aku harus keluar dari sini! Harus!"
Berkali kali ia menghantamkan bagian tubuhnya pada jeruji besi. Berkali kali pula ia kembali menghantam tembok. Semakin lama, dorongan dari kekuatan tak terlihat itu semakin kuat.
Ia merasa kesakitan dan kini hanya berbaring di lantai. Tubuhnya menjadi sulit digerakkan dan kebas seperti baru saja terkena tegangan tinggi.
"Percuma kau mencoba melawan. Kau tidak akan bisa keluar dari sini, Raflo."
Raflo mengangkat kepalanya dengan kesulitan. Itu adalah iblis yang sudah memenjarakannya di sini. Ia menggertak hingga memperlihatkan giginya, marah pada apa yang sudah dilakukan iblis itu. "Stev sialan! Keluarkan aku dari sini!"
Stev meninggikan dagunya dengan mata menatap ke bawah, tepat pada Raflo. Ekspresinya terlihat dingin, "Lancang sekali kau langsung memanggil namaku seperti itu."
Raflo merasakan tekanan pada tubuhnya. Ia mengerang kesakitan saat Stev mengarahkan aura untuk menekan dirinya yang sedang tidak memiliki kekuatan apapun. Ia mencoba untuk melawan aura itu dan menahan berat tubuhnya menggunakan kedua tangan.
"Jangan melakukan hal sia sia. Pada akhirnya kau akan segera mati. Setelah kehadiran Rajamu itu, tepat di depannya."
Setelah mengatakan itu, Stev langsung berlalu keluar dari dalam penjara.
__ADS_1
"Kemari kau..!! Stev..!!"
Raflo berteriak sekuat tenaganya yang tersisa. Aura itu sudah tidak menekannya setelah Stev pergi. Namun tubuhnya tetap merasa sakit dan lelah. Tubuhnya begitu lemas hingga ia tidak lagi memiliki tenaga untuk bersuara.
***
"Entah ada atau tidak informasi tentang 'pengaruh mutlak' di dunia para iblis."
"Graahhh..!!"
Nevan langsung berteriak kaget ketika melihat kehadiran seorang pria di sampingnya. Bahkan suaranya membuat gema.
"Hmph!"
Pria itu menutup mulut Nevan karena terlalu berisik, "Ini bukan di rumah, jangan berteriak," wajahnya terlihat jengkel.
"Paman?!" Kedua alis Rafa terangkat dengan mata melotot. Ia juga terkejut, namun tidak berteriak seperti Kevin.
Pria itu memiliki tatapan mata lembut dan wajah yang ramah. Namun ketika marah, ia memiliki wajah yang menakutkan menurut Nevan. Rambutnya tersisir rapi ke samping. Tubuhnya tinggi dengan tangan yang cukup berotot, namun tidak berlebih. Ia adalah ayah Nevan dan paman Rafa, bernama Melvin.
"Ah, aku baik baik saja. Kenapa paman tiba tiba bisa berada di sini? Sejak kapan?" heran Rafa.
Melvin menyungingkan senyum, "Kalian terlalu serius sampai tidak menyadari kehadiranku. Padahal sejak tadi aku berada di sini, tapi kalian tidak menyadarinya."
"Kenapa ayah kemari? Ada urusan apa? Ayah mengikutiku diam diam ya? Bagaimana dengan Alice? Ayah meninggalkannya sendirian? Bagaimana bila terjadi sesuatu padanya? Dia bersama siapa? Ayah–"
Melvin memotong ucapan anaknya yang banyak bertanya, "Tidak baik menuduh seperti itu. Ayah kemari karena kemauan ayah sendiri, bukan mengikutimu. Selain itu, Alice ada kegiatan di sekolahnya dan pergi untuk acara perpisahan di luar kota selama beberapa hari."
Nevan berekspresi sebal, "Lalu apa yang ayah inginkan di sini?"
"Tidak ada teman di rumah."
Balasan dari ayahnya semakin membuat Nevan sebal, "Bukankah ayah kerja? Ayah tidak di rumah, bagaimana bisa tidak ada teman?"
__ADS_1
"Paman, apa maksud ucapan paman tadi?" tanya Rafa dengan ekspresi penasaran.
Melvin terlihat senang karena pembicaraan kini teralihkan. Ia menatap Rafa dan berdehem, "Aku tidak pernah mendengar sejarah tentang 'pengaruh mutlak' dari orang tuaku atau juga dari sesepuh lain. Mereka tidak pernah menceritakannya. Padahal itu adalah informasi yang penting.
Tapi aku menemukan informasi itu di perpustakaan. Warna kertasnya sudah lama. Keadaannya juga sudah tidak begitu baik. Buku itu pasti sudah lama tidak terjamah. Kemungkinan orang orang sebelumku juga tidak tahu tentang sejarah 'pengaruh mutlak'.
Entah di dunia iblis pun memiliki buku seperti itu atau tidak. Karena orang sebelumku saja tidak mengetahuinya, informasi itu tersimpan di dalam buku. Bisa saja tidak banyak iblis di sana yang tahu tentang ini. Jika tahu, mungkin seharusnya mereka mencarimu dan menyingkirkanmu.
Karena iblis.. Tidak suka diperintah oleh manusia. Apalagi manusia setengah iblis."
Rafa terdiam tanpa bisa berkata kata. Pamannya itu sepertinya tahu banyak tentang iblis. Nevan juga tahu tentang iblis, berarti pamannya pasti lebih tahu. Pikirannya tiba tiba teringat sesuatu, "Paman.. Kudengar kau pernah menentang hubungan ibu dan ayah.
Tapi mereka tetap bersama dan pada akhirnya aku lahir. Tapi kehadiranku membawa kematian untuk ibu. Apakah.. Paman membenciku? Aku.. Sudah membuat adik paman meninggal."
Ekspresi Rafa terlihat murung. Bahkan itu terlihat jelas dalam pandangan Nevan yang terkadang kurang peka. Ia pun menimpali ucapan saudaranya itu, "Tentu saja tidak. Bagaimana bisa ayah membencimu?"
Melvin terdiam sebentar, lalu menatap Rafa dengan ekspresi sedikit sedih, "Sebenarnya iya.."
Nevan tersentak. Ia menggerling menatap ayahnya sendiri. Apa maksud ayah membenci Rafa? Jika dia membencinya bukankah sejak dulu seharusnya ia tidak pernah membiarkan Rafa tinggal bersama mereka?
"Ayah pasti bercanda," ucap Nevan sambil tertawa canggung.
"Tidak, ayah tidak bercanda. Ayah serius. Aku membencinya. Aku membenci Rafa. Karena kehadirannya, sudah membuat adikku satu satunya meninggal. Jika dia tidak ada, mungkin adikku akan tetap bersamaku sekarang," tambah Melvin. Tatapannya terus terarah ada Rafa yang menundukkan kepala. Ia tidak tahu bagaimana ekspresinya saat ini, tapi anak itu pasti sedang merasa bersalah.
"Tapi itu dulu.."
Rafa mulai mengangkat kepalanya menatap Melvin. Ia terkejut ketika pria itu menyentuh kepalanya dengan senyum. Sekilas ia melihat Melvin sebagai ayahnya.
"Sekarang aku tidak membencimu. Aku tahu kabar kematian Meyra saat ayahmu pergi menemuiku ketika kau 10 tahun. Dia mendatangiku sambil membawa berita kematian Meyra. Saat itu aku sampai menyakiti ayahmu setelah mendengar kabar kematiannya. Tapi dia tidak menyerangku balik.
Lalu dia... Membawamu ke hadapanku saat berhasil menenangkanku. Dia menitipkanmu padaku. Aku sangat kesal. Dia sudah membuat Meyra meninggal, tapi dia malah menyerahkan kau selaku anaknya padaku. Namun dia mengatakan jika dia akan kembali suatu saat.
Pada awalnya aku sangat menolak kehadiranmu. Semakin berjalannya waktu, aku semakin mengenalmu dan mulai menerimamu. Kupikir tidak seharusnya aku membencimu. Karena Meyra sendiri sudah mengambil keputusannya. Dia memutuskan untuk melahirkanmu, walaupun tahu akibatnya.
__ADS_1
Tidak seharusnya aku menolakmu. Tidak seharusnya aku mengabaikanmu. Kau juga memiliki darah dari adikku. Jika dia masih hidup, dia pasti akan sangat menyayangimu sebagaimana seorang ibu menyayangi anaknya. Jadi pada akhirnya, aku melupakan kebencianku. Dan sekarang... Aku juga menyayangimu."
Rafa tertegun. Ia tidak bisa menahan rasa senangnya hingga membuat bibirnya tertarik ke atas dan mengembang senyum. Ia tidak bisa mengatakan apapun, namun ia sungguh berterimakasih pada Melvin.