
"Wah aku tak menyangka dia bisa mengalami hal seperti itu, hahaha...," ucap seorang pria sambil tertawa.
"Jangan tertipu oleh wajahnya. Yah.., walau aku tak menyangkal jika dia tampan. Tapi karena itu, dia malah mendapat masalah. Di suatu hari lain, dia pernah tanpa sengaja masuk ke pemandian umum. Naas dia malah masuk ke pemandian wanita. Dia sampai dipukuli habis habisan oleh mereka, hahaha..
Aku ingat jelas bagaimana wajahnya saat keluar dari sana. Wajahnya sangat merah seperti tomat dan penuh bekas keunguan, hahaha...," ucap pemuda yang terlihat berumur 24 tahun dengan tanduk dan ikat kepala hitam.
"Aku juga memiliki teman yang tampan seperti itu. Aku iri karena dia banyak disukai wanita."
"Laki laki tampan memang menyebalkan. Rasanya seperti ingin memukul habis hingga wajahnya tak dapat dikenali lagi. Mereka juga biasanya menjadi angkuh, mereka pikir dunia ini milik mereka?!"
"Kau benar. Itu sangat menjengkelkan."
"Ah! Aku memiliki ide untuk memberi pelajaran pria seperti itu."
"Bagaimana? Bagaimana?"
Pemuda ber-ikat kepala itu mulai membisikkan sesuatu pada pria yang duduk di depannya. Sedangkan di antara mereka, terdapat sebuah meja dengan beberapa botol anggur.
Tak jauh di tempat itu, ada tempat duduk lain yang memiliki banyak kursi dengan meja panjang. Ada 5 orang yang duduk di sana. 3 diantara mereka adalah iblis.
Iblis adalah makhluk yang memiliki umur panjang. Bisa mencapai ratusan, bahkan ribuan tahun. Penampilan fisik mereka awalnya akan terhenti pada umur 18-20 tahun. Jika penampilan fisik mereka bertambah lebih tua, itu disebabkan penambahan usia yang banyak.
Namun ada pula yang memiliki umur lebih tua dari iblis lain, tapi memiliki fisik yang lebih muda dari iblis yang seharusnya lebih muda darinya. Itu bisa disebabkan karena kekuatannya besar ataupun hal hal lain. Jadi umur iblis sesungguhnya sulit untuk ditebak, tidak seperti manusia.
"Cih, ternyata pikirannya seperti itu tentangku," Pemuda berwajah dingin dengan mata biru laut itu memperhatikan temannya yang duduk berdua bersama manusia. Ekspresi wajahnya nampak kesal setelah mendengar pembicaraan dua makhluk yang sedang mabuk itu. Namanya adalah Kay.
"Entah kenapa suasananya berubah menjadi sangat harmonis seperti ini," batin Melvin yang hanya bisa tersenyum dalam hati. Salah satu bawahannya atau bisa dibilang rekan satu kelompoknya itu nampak bersenang senang ketika berbicara dengan seorang iblis ber-ikat kepala. Bahkan ia yang sebagai ketua sepertinya tidak diperhatikan sejak pria itu menjadi mabuk.
Pada awalnya, sejak mengetahui siapa penolong yang sudah menyelamatkan mereka dari mayat hidup, semuanya menjadi tegang. Apalagi Melvin dan rekan rekannya yang menjadi sangat waspada ketika melihat iblis.
Entah bagaimana keadaan tegang itu berubah menjadi cair dan bersahabat seperti sekarang. Bahkan keempat iblis yang menolong Melvin dan rekan rekannya membawa mereka beristirahat di rumah kosong, tempat markas keempatnya selama beberapa hari terakhir.
"Aku sudah dengar tujuan kalian kemari adalah menghabisi iblis secara diam diam. Sayang sekali, kalian datang di waktu yang tidak tepat," ucap seorang pemuda dengan anting biru yang menggantung di telinga kirinya. Namanya adalah Felix.
"Y-ya... Sebenarnya.. Aku tidak berniat untuk itu," Melvin terdiam sejenak dan memperhatikan ketiga wajah iblis di depannya, "Aku yang memberikan gagasan pada petinggi lain untuk melakukan penyerangan ini. Namun di atas itu semua, niat asliku adalah membawa keponakan dan anakku kembali.
__ADS_1
Tidak ada niatan untukku menyerang iblis di dunia ini. Jadi gagasan itu hanyalah alasan agar aku bisa pergi kemari dengan membawa beberapa orang untuk berjaga jaga jika ada kejadian buruk yang sampai harus melibatkan diri dengan iblis. Tidak tahunya, keadaan ternyata seperti ini."
Pria yang duduk di samping Melvin terkejut. Ia seketika menoleh dan menatap Melvin. Tatapannya terlihat tak percaya, "A-apa itu benar, ketua? J-jadi kau hanya memanfaatkan kami untuk tujuan pribadimu?"
Melvin menghela napas. Ia mengangguk pelan dengan tatapan menyesal, "Maaf.. Karena keegoisanku, kalian terlibat hal seperti ini. Karenaku juga, kita kehilangan teman teman kita. Aku benar benar minta maaf. Aku tidak tahu jika keadaan akan seperti ini."
Pria di samping Melvin bernama Lym. Mendapat penjelasan dari Melvin membuatnya langsung berdiri karena terkejut, "Ketua bersikap egois seperti ini... Dan membuat mereka kehilangan nyawa dengan sia sia? Kau–" ia menggeleng tanpa bisa melanjutkan ucapannya. Ia sangat kecewa dan marah atas pernyataan Melvin.
Ia sama sekali tak menyangka jika orang yang merupakan salah satu petinggi ras blizt yang memiliki kharisma tinggi saat bersama blizt lain melakukan tindakan egois karena urusan pribadinya sendiri.
"Aku benar benar minta maaf, tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Aku tidak bisa mengembalikan nyawa yang telah hilang," ucap Melvin. Rasa bersalah mengumpul dalam hatinya karena telah melibatkan orang lain dan membuat mereka kehilangan nyawa. Ini pertama kalinya Melvin merasa sangat gagal menjadi pemimpin.
"Lupakan saja. Itu sudah berlalu," ucap seorang pemuda dengan mata merah dan rambut putih. Namanya Ken.
Ia pun melanjutkan, "Walaupun ketuamu menyerahkan nyawanya pada kalian, tetap tidak akan ada yang berubah. Bahkan kalian belum tentu akan selamat tanpanya."
Walaupun kurang percaya dengan ucapan Melvin, Felix juga ikut menanggapi, "Bahkan satu nyawa selamat berkat bantuannya. Jika tidak, jumlah kalian sudah berkurang satu sekarang."
Lym diam ketika mendengar ucapan dari dua iblis di depannya. Pandangannya tertunduk dan ini membuat Melvin semakin merasa tidak enak.
"Aku sudah salah memperkirakan. Aku tidak berharap jika situasi menjadi seperti sekarang. Aku–"
Melvin tertegun. Ia memperhatikan Lym dengan baik dan tak lama pria itu menatapnya dengan ekspresi rumit, "Jika itu tujuan aslimu, maka tidak apa ketua. Tapi.., kita harus melakukan misi alasan kita kemari."
Pandangan Lym kini tertuju pada iblis ber-ikat kepala. Lengannya seketika mengepal dengan tatapan tajam. Satu di pikirannya saat ini, menghabisi iblis itu. Karena pemuda itu dalam keadaan mabuk, jadi ia berpikir membunuhnya tidak akan terlalu sulit.
Dalam sekejap, ia telah berada di samping iblis itu. Dengan belati sebagai senjata, ia akan membunuhnya.
Melvin terkejut ketika melihat Lym menghilang tiba tiba. Tatapannya langsung tertuju pada tempat Lym berada sekarang. Matanya semakin melebar terkejut ketika melihat apa yang akan dilakukan pria itu.
Kay, Felix dan Ken sendiri tidak melakukan apapun. Mereka hanya diam walau tahu Lym telah menghilang dari tempatnya berada.
"Mati kau!" Lym mengayunkan belatinya dengan genggaman tangan yang kuat. Gerakannya terlihat akan memenggal kepala pemuda ber-ikat kepala itu.
Namun apa yang terjadi berikutnya membuat Melvin yang menyaksikan terkejut bukan main.
__ADS_1
"Aakhh..," Lym berteriak kesakitan ketika tangannya tiba tiba sudah dipelintir oleh targetnya. Belati yang terbuat dari energi itu bahkan sudah menghilang dari genggamannya.
Rekan Lym yang duduk berhadapan dengan iblis ber-ikat kepala sampai ikut terkejut ketika mendengar lengkingan suaranya. Ia menatap ngeri ketika mendengar suara tulang yang retak dan jeritan yang semakin mendebarkan. Tanpa sadar ia sampai menahan napas dengan jantung yang berpacu kencang. Ia tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya hingga Lym tiba tiba berada di dekat iblis itu.
Wajah yang tertawa dan tidak ada kewaspadaan dengan kepribadian ramah tadi seolah hilang dan berganti menjadi ekspresi dingin tanpa belas kasihan. Pemuda ber-ikat kepala itu bersuara tanpa nada, "Jika kau mencoba melakukan hal bodoh lagi, keadaanmu akan lebih parah dari ini."
Namanya adalah Ray. Walau ia terlihat seperti pemuda baik baik yang ramah, namun sebenarnya sudah banyak nyawa yang hilang di tangannya. Ia memang sering bersikap baik, tapi bukan berarti dia suka mentolerir sikap seseorang yang melakukan hal buruk padanya.
"Lepaskan itu, tangannya bisa patah," sahut Felix.
Ray menghela napas dan melepaskan lengan Lym. Hal ini membuat manusia itu langsung mundur beberapa langkah darinya.
Ray memperhatikan pria itu dengan wajah yang sedikit merah karena mabuk. Ia berujar, "Jadikan itu pelajaran untukmu."
Ken berekspresi santai walau sudah melihat apa yang diperbuat rekannya. Ia seolah sudah terbiasa dengan itu. Matanya menatap Lym, "Bukannya aku meminta balas budi. Hanya saja... Apa kalian tidak memiliki rasa terimakasih setelah diselamatkan? Atau kalian.. Adalah manusia yang tidak tahu malu? Bahkan setelah diselamatkan, kalian berniat menyerang."
Lym berekspresi takut. Walau Ken menatapnya dengan ekspresi biasa, namun ada tekanan yang menimpanya ketika iblis itu selesai dengan ucapannya.
"Kau menakutinya," sahut Felix.
Ken melirik pemuda dengan anting biru itu dan menggelembungkan pipinya, "Kau membosankan. Aku hanya 'sedikit' menekannya."
Felix menggeleng. Padahal nasehat yang diucapkan Ken sebelumnya terdengar begitu bijak. Tapi sekarang dia kembali menjadi dirinya yang kekanak kanakan.
Melvin berdiri dan berjalan mendekati Lym. Ia membantu pria itu untuk berdiri, "Aku minta maaf atas perilakunya. Kami sudah tidak sopan, padahal kalian sudah membantu kami."
"Aku juga minta maaf, Ray sudah menyakiti bawahanmu," ucap Felix dengan raut menyesal.
"Kalau begitu, aku permisi. Aku akan mengobati lukanya lebih dulu," Melvin segera berlalu bersama dengan Lym.
Rekan Melvin yang duduk di depan Ray tampak linglung. Ia tidak tahu apakah harus ikut atau tetap di sini. Karena dari yang terlihat, ruangan ini sudah dipenuhi iblis tanpa manusia selain dirinya.
"Tipe gadis yang kusuka adalah wanita yang kuat, pandai memasak dan perhatian. Aku tidak masalah jika dia cantik atau tidak, tapi aku suka wanita yang penyayang. Tapi setelah sekian lama berlalu, aku tidak juga menemukan wanita yang cocok dengan kriteriaku, huft.."
Ucapan dri Ray membuyarkan lamunan rekan Melvin. Ia kembali menatap Ray dengan rumit. Padahal sebelumnya raut iblis itu sangat dingin dan detik ini raut wajahnya kembali seperti yang ia tahu.
__ADS_1
"Yah.. Malangnya nasibku karena masih saja sendiri. Apa mungkin karena aku terlalu sering bersama mereka bertiga hingga tidak ada wanita di sekelilingku? Haishh.. Malangnya..."
Mendengar lanjutan kata itu membuat rekan Melvin menjadi lebih rileks. Ia pun menanggapi ucapannya dan mereka kembali seperti sebelumnya, seolah kejadian Lym tadi hanya angin lalu.