
Setelah lama berjalan, akhirnya Leon beserta yang lain telah sampai di tempat tujuan. Namun apa yang menyambut mereka di sana bukanlah suatu penampakan yang baik.
Di depan mereka terdapat sebuah gubuk roboh dengan tanah retak disertai abu hitam bertaburan dimana mana. Pohon pohon yang tumbuh di jarak belasan meter dari tempat itu pun bahkan roboh dan sebagian mengalami patah pada batang yang seharusnya kokoh dan kuat. Tidak ada hal bagus yang dilihat di sini.
Namun ada beberapa tubuh yang tergeletak di tanah dengan tubuh penuh luka diantara abu hitam itu.
Sontak penampakan tubuh itu membuat semuanya langsung menghampiri tempat mereka berada. Tubuh yang berada cukup jauh dari gubuk ambruk itu berjumlah 4 orang.
Dalam sekali lihat, Melvin langsung mengenali mereka semua. Ekspresinya terlihat terkejut, syok, dan tegang, "Apa yang terjadi pada mereka?!"
Luka penuh sayatan di sekujur tubuh yang kaku itu membuat Melvin tak habis pikir dengan apa yang baru saja terjadi, "Kenapa mereka bisa seperti ini?!"
Ray sendiri nampak tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi. Matanya sedikit bergetar karena terkejut. Terakhir kali dirinya di sini, keadaan para manusia itu tidak seperti ini. Bahkan ia tak melihat kehadiran Kay ataupun Ken sekarang ini.
Freed dan Nix ikut mengecek keadaan dari manusia manusia itu. Mereka berdua tidak mengenalnya. Tapi yang pasti, manusia ini bagian dari mereka.
Nix menggeleng. Manusia yang ia periksa telah mati.
Namun Freed yang memeriksa manusia lain berucap, "Dia masih hidup, tapi detak jantungnya lemah."
Melvin menggigit bibir bawahnya. Hanya ada 2 diantara 4 orang itu yang masih hidup. Mereka adalah Lym dan pria dengan satu kaki, Farel. Namun keadaan keduanya sangat kritis dan bisa mati saat ini juga.
Melvin menatap Ray yang berdiri tak jauh darinya, "Kenapa mereka bisa sampai seperti ini?! Bukankah kalian mengatakan akan menjaganya?!"
Braakk
Suara benda yang dihantaman sesuatu terdengar membuat semua orang menoleh ke gubuk tua yang telah roboh. Semuanya melihat seseorang keluar dari dalam reruntuhan.
Dedebuan yang timbul akibat hantaman tadi membuat sebagian orang tidak bisa melihat wajah orang di dalam sana. Namun Ray langsung pergi mendekati gubuk, begitupun dengan Leon.
Benar apa yang mereka pikirkan. Dari dalam sana keluar pemuda berwajah dingin. Pakaian berwarna biru tuanya kotor oleh dedebuan dan reruntuhan bekas gubuk.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi, Kay?!" tanya Ray dengan cepat.
Kay terbatuk batuk beberapa saat. Ia menatap Ray dengan tatapan sedikit ke bawah, "Ken dibawa pergi oleh mayat hidup."
"A-apa? Apa maksudmu? Bagaimana bisa itu terjadi?! Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!"
Ray jelas terkejut dan tak percaya mendengar ucapan Kay. Bagaimana bisa pemuda seperti Ken dibawa oleh.. Mayat hidup? Apa maksudnya itu?
"Pertama tama, keluar dulu dari reruntuhan itu," ucap Leon dengan tenang.
Kedua alis Kay terangkat karena terkejut melihat kehadiran dari Leon. Namun saat ini bukan'lah waktu untuk melepas rindu setelah lama tidak bertemu. Dengan cepat dirinya keluar dari dalam reruntuhan seperti apa yang dikatakan Leon.
__ADS_1
"Sekarang ceritakan pelan pelan apa yang terjadi di sini?" tanya Leon.
"Wah, kacau sekali.." ucap Kite yang baru saja sampai. Belum lama sejak dirinya sampai, Felix juga sampai di sana. Tapi mengetahui jika rekan rekannya ada di dekat gubuk, ia ikut mendekat.
Felix melihat sekitar yang tampak begitu berantakan. Pandangannya seketika terarah pada Kay, "Kenapa hanya ada kau? Dimana Ken?"
Tidak menjawab pertanyaan Felix, Kay mulai menceritakan apa yang baru saja terjadi, "Setelah Ray pergi tadi, keadaan masih baik baik saja sebelum kemudian datang satu mayat hidup yang berbeda. Awalnya aku mengira dia hanya mayat hidup biasa seperti yang sebelumnya datang menyerang. Tapi ternyata dia berbeda.
Belum sempat menyerangnya, dia sudah menyerang kami dengan pedang. Pada saat itu juga, ada tekanan yang menekan sampai kami semua tidak bisa bergerak. Pada awalnya memang mudah membebaskan diri, lalu aku dan Ken menyerangnya.
Semakin lama, keadaan tidak menguntungkan kami sama sekali. Dia mendesak hingga membuat keempat manusia itu juga ikut terluka. Begitupun denganku. Bisa dikatakan, aku menjadi sandera. Disaat situasi semakin tidak baik, mayat hidup itu berbicara.
Dia akan melepaskanku dan semua manusia yang diserang jika Ken mau ikut dengannya. Ken menyetujuinya, lalu aku dilempar ke tumpukan gubuk ini. Aku tidak tahu hal setelahnya."
Semuanya terdiam mendengar penjelasan panjang dari pemuda berwajah dingin yang kini ekspresinya terlihat resah. Sepertinya dia mengkhawatirkan rekannya yang dibawa pergi.
"Mayat hidup yang menggunakan pedang? Apa jenisnya sama dengan mayat hidup yang kita lawan sebelumnya?" ucap Felix dengan sedikit pelan.
Sepertinya Melvin dan sebagian orang ikut mendengar penjelasan Kay. Tapi hanya Melvin yang langsung pergi mendatangi kerumunan dari 4 iblis ini. Wajahnya terlihat memerah dengan tatapan tajam, "Kalian sudah berjanji akan menjaga mereka, tapi apa ini?! Bahkan dua orang diantara mereka mati seperti ini!"
Ray yang mendengar makian kesal dari manusia itu pun seketika ikut kesal, "Apa kau tidak mendengar situasinya, hah? Temanku juga diculik agar manusia manusia itu dibebaskan! Jika bukan karenanya, semuanya mungkin sudah mati! Setidaknya dua orang diantara mereka masih hidup!"
"Tuan Melvin! Mereka berdua sudah sembuh!" teriak Freed dengan nada senang.
"Dia sungguh tidak tahu terimakasih! Seharusnya sejak awal kita tidak menolongnya saja! Merepotkan!" gerutu Ray.
"Seharusnya dia tidak kesulitan mengatasi mayat hidup walaupun mayat yang dilawannya sama seperti mayat Stev dan Silvia," ucap Leon secara tiba tiba.
"Kenapa kau seyakin itu?" tanya Ray dengan ekspresi yang masih kesal.
Leon menatap Ray datar, "Kau sendiri tahu identitasnya. Seharusnya tidak begitu sulit untuknya menghabisi satu mayat hidup."
Ray tertegun. Identitas dari Ken memang tidak bisa diremehkan. Walaupun dikatakan sebagai iblis yang termuda diantara mereka, sebenarnya Ken adalah yang paling tua diantara mereka semua. Bahkan bisa dikatakan, sejak adanya kehidupan di dunia ini, Ken telah hadir tidak lama setelahnya.
Hanya saja, Ken yang paling muda diantara mereka tentang hal usia pun memang tak bisa ditampik. Sulit dimengerti jika seseorang tak mengetahui latar belakangnya.
"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?" ucap Kay dengan raut yang terlihat masih sedikit resah.
"Untuk sekarang sebaiknya kita pergi dari tempat ini terlebih dahulu. Aku merasakan akan ada banyak mayat hidup lain yang datang," balas Felix.
Leon mengangguk, "Iya, aku setuju."
"Apa kita akan pergi bersama semua manusia itu?" nada bicara Ray terdengar seperti tidak suka.
__ADS_1
"4 manusia yang datang bersamaku akan ikut. Terserah bagaimana manusia yang bersama dengan kalian," balas Leon dengan ketus.
"Baiklah, tinggalkan saja."
"Tidak bisa, kita sudah mengatakan akan membawa mereka kembali ke dunia manusia," sergah Felix.
Ray berdecak dengan raut kesal, "Ck, mereka tidak tahu terimakasih. Aku tidak suka."
"Aku–kita tidak bisa melanggar apa yang sudah disepakati sebelumnya."
Kay ikut mengangguk setuju. Prinsip mereka tetap melakukan apa yang telah disepakati bersama orang lain.
Leon tidak ikut lebih jauh dalam pembicaraan ketiga iblis itu. Ia lebih memilih pergi ke tempat kerumunan lain.
Kite yang sejak tadi ada di samping Need menengok ke samping saat mengetahui keberadaan Leon di sampingnya, "Kau mengenal pemuda dengan anting, iblis dengan ikat kepala dan satu iblis di sana?"
Leon mengangguk, "Mereka temanku."
Kite mendecak dengan raut takjub, "Woahh ternyata iblis sepertimu memiliki teman juga ya? Hebat.. Sekarang kau sudah besar dan dewasa."
Leon seketika menatap pemuda itu dengan sinis.
Belum sempat berbicara, Rafa menepuk pundaknya dari samping. Manusia itu berbisik pelan di telinganya agar suara itu tidak didengar siapapun.
Setelah selesai, Rafa sedikit menjauh dari Leon. Ia menatapnya dan menunggu keputusan dari iblis muda itu.
"Tidak, aku tidak bisa."
Rafa berekspresi kecewa, "Kenapa? Kau tidak mau juga?"
"Bukan tidak mau, tapi tidak bisa."
"Kenapa?"
"Kemampuan seperti ini tidak bisa selalu digunakan. Energi yang dibutuhkan sangat besar dan energi yang digunakan adalah kehidupan. Kau memiliki energi kehidupan yang sedikit, walaupun bagian dari jiwaku. Karena itu, kau tidak bisa melakukannya. Walaupun aku bisa, tapi tidak akan selalu berhasil dan tidak selalu bisa dilakukan."
Mendengar penjelasan dengan suara pelan dari Leon membuat Rafa tertegun. Ia sebelumnya meminta Leon agar menghidupkan dua manusia dari bawahan Pamannya. Tapi ternyata Leon memberikan jawaban demikian. Ia pun menghela napas dan mengangguk lesu.
Penjelasan dari Leon tentang ketidak bisaannya itu memang membuat Rafa sedikit kecewa. Tapi ia lebih kecewa saat mendengar dirinya tidak bisa menghidupkan seseorang.
"Kematian adalah takdir. Menghidupkannya lagi sama saja dengan menentang takdir yang sudah digariskan," Kite ikut bicara. Walau suara mereka berdua berbisik bisik, namun ia bisa mendengarnya karena berada tepat di samping Leon.
"...Karena itu, kau mungkin akan menerima akibatnya setelah sebelumnya menghidupkan manusia bernama Nevan."
__ADS_1
Leon melirik Kite tanpa mengatakan apapun. Itu hal yang bisa saja terjadi. Ia melawan takdir kehidupan seseorang. Suatu saat, dirinya pasti akan mendapatkan akibat dari itu.