Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 132 -Perang Akhir Dimulai


__ADS_3

Pada akhirnya, para manusia ditinggalkan dan para iblis memacu kudanya dengan cepat menuju pohon. Karena tanah gersang dimana pohon besar itu tumbuh belum pernah dilalui oleh Need, maka ia tidak bisa membawa semua iblis ini pada tempat yang dituju dengan kemampuan teleportasinya.


Padahal ia berlatih untuk bisa mengirimkan seseorang ke tempat dimana orang itu pernah pergi, namun tidak pernah dirinya kunjungi. Karena itu, sebelumnya ia terus berlatih dibimbing Leon dan mencoba untuk pergi ke tempat gersang berada sesuai dengan ingatan Leon yang pernah pergi kesana.


Namun belum sempat dirinya berhasil, Leon kini sudah tiada. Disisi lain, tidak ada satu pun iblis yang pernah pergi ke tempat gersang itu sekarang. Satu satunya hal yang bisa mereka lakukan sekarang adalah pergi sendiri menuju tempat itu.


Mereka membutuhkan waktu sampai 2 hari untuk sampai di sana dengan kuda dari tempat sebelumnya. Di beberapa waktu mereka juga beristirahat untuk mengisi tenaga.


Walaupun sudah banyak tempat yang mereka lalui, namun tidak satu pun mereka jumpai mayat hidup. Bahkan kupu kupu sayap putih yang biasanya terkadang bisa ditemukan kini tidak terlihat sama sekali seolah lenyap dari dunia.


Mereka sampai di sebuah tebing tinggi yang jika diukur mungkin sekitar 50m. Dari atas tebing yang luas ini, mereka menjumpai sebuah pedesaan yang telah hancur. Tempat ini mungkin adalah tempat terdekat dari pohon raksasa. Karena setelah tebing ini, ada hamparan tanah tandus dan gersang di depan.


Beberapa prajurit mengecek keadaan sekitar dan tempat ini aman tanpa adanya mayat hidup. Hanya ada bekas darah dan beberapa potongan daging yang benar benar busuk.


kay menatap ke depan dengan raut serius, "Apa aku tidak salah lihat? Mayat hidup ada di depan sana."


Oliver yang berada di samping kay menimpali ucapan itu, "Aku juga melihatnya. Jadi itu adalah nyata."


"Namun ini sangat banyak. Bahkan posisi pohon besar bukan berada di sekitar mereka, masih butuh beberapa kilometer dari sini," ucap Ray dengan pelan.


"Di perang sebelumnya jumlah mayat hidup bahkan dua kali lipat dari sekarang," timpal Oliver. "Ditambah, dia juga menggunakan jiwa jahat untuk menyerang."


"D-dua kali lipat?!" rasanya Ray tiba tiba merinding. Padahal penampakan belasan ribu mayat di depan ini saja sudah membuatnya gelagapan. Namun kini, Oliver mengatakan sesuatu yang mengejutkan.


"Untuk perang sekarang, kemungkinan dia akan menggunakan jiwa jahat lagi untuk menyerang," Oliver melihat semua mayat di depan dengan serius. Mereka semua seperti tidak menyadari kehadirannya dan yang lain. Ditambah, mereka juga hanya menghadapkan tubuhnya pada pohon besar dan memunggungi mereka.


"Sepertinya memang benar Osmond ada di sana," batin Oliver.

__ADS_1


"Melawan mereka sebanyak itu... Apa kita bisa menang?" ucap Ray dengan ragu.


"Menang atau tidak, kita harus menang. Yang dipertaruhkan sekarang bukan hanya kehidupan kita. Tapi masa depan dunia ini. Jika kita terus membiarkannya, mungkin dia akan semakin memperbanyak pasukannya dan dengan mudah mengambil alih dunia," ucap Oliver.


"Tapi apa tujuan sebenarnya dari dia melakukan ini? Dia tidak terlihat seperti ingin mengambil alih dunia, tapi seperti ingin menghancurkannya," balas Felix. "Atau dia melakukan ini karena dendam pada manusia dan iblis? Secara.... Dulu dia pernah hampir mati karena perang itu."


Oliver terdiam sesaat, lalu menatap Felix yang berada di kuda belakangnya, "Saat perang besar yang pertama kali dia lakukan, dia ingin menguasai dunia iblis dan manusia. Dia sangat berambisi untuk bisa memiliki segala yang ada di dunia. Dia juga menginginkan kekuatan yang hebat.


Lalu untuk sekarang, mungkin dia lebih ingin menghancurkannya setelah kejadian itu."


Felix terdiam, namun dalam hati ia membatin, "Walaupun dia adalah musuh yang ingin menghancurkan dunia, namun dia tetap kakak guru. Apa guru bisa menghabisinya?"


Ia hanya bisa menatap punggung gurunya yang kini terlihat tidak sekokoh dulu. Karena tubuh itu bukanlah milik gurunya.


"Untuk sekarang, bagaimana kita harus menyerang mereka, pangeran? Jumlah kita kalah banyak dengan mayat hidup itu," ucap Komandan yang berada di belakang kuda kay.


"Mayat hidup itu tidak bergerak dari tempatnya. Mereka seolah menunggu perintah dari Tuannya. Tapi apa lagi yang mereka tunggu? Jumlah mereka sudah cukup untuk menghancurkan sebagian dunia iblis. Tapi mereka tidak bergerak asal seperti sebelumnya sekarang.


Apa mungkin apa yang kedua iblis itu targetkan sudah tercapai? Hanya satu hal yang kupikirkan. Target mereka apakah Leon dan Rafa?," batin kay.


"Untuk sekarang lebih baik kita tunggu saja bantuan dari yang lain. Beberapa prajurit tadi pergi untuk membawa bala bantuan. Setelah mereka datang, kita bisa menyerang pasukan mayat ini dan menerobos ke tempat pohon besar itu berada," ucap Oliver sambil berbisik pada kay.


Oliver tahu komandan dan prajurit di sini tidak akan mau mematuhi ucapannya. Karena itu, ia akan mengatakan rencananya pada kay dan membuat pemuda itu seolah yang memberikan rencana pada semua iblis di sini.


"Baiklah, aku mengerti," Kay dengan segera mengatakan rencana yang sebelumnya dikatakan Oliver padanya.


"Dia sangat mudah diajak kerja sama," batin Oliver sambil tersenyum. Ia awalnya berpikir jika kay akan menyulitkan untuk diajak kerja sama dan melakukan rencananya karena dia adalah pangeran. Tapi ternyata ia salah. Pemuda itu menerima sarannya dengan baik.

__ADS_1


Saat mereka diam sambil mengawasi gerak gerik mayat hidup itu, tiba tiba salah satu dari mereka membalikkan tubuhnya ke belakang. Kepalanya mendongak ke atas tanpa melihat kanan kirinya lebih dulu, seolah ia sudah tahu sejak awal ada kehadiran asing di atasnya.


Tak berapa lama, mayat lain pun melakukan hal serupa. Mereka membalikkan tubuhnya ke belakang dan mendongak ke atas untuk melihat rombongan iblis hidup yang berdiri di atas tebing dekat mereka.


"GGRRRHHHHH...."


Geraman disertai gigi menggeletak kuat itu seketika membuat suasana yang awalnya hening berubah seketika. Komandan yang berada di belakang Kay tersentak saat melihat sebagian mayat mulai berjalan perlahan menuju terbing. Namun ada pula yang dalam sekejap mata sudah berada di sisi tebing.


Perlu diketahui, di sisi tebing ini terdapat jalan turunan sempit yang cukup untuk seseorang berjalan di dua arah berbeda. Turunan itu sangat miring ke bawah, cukup sulit dilalui namun seseorang akan cepat sampai di bawah sana karena tidak ada banyak belokan.


"Sekarang beberapa dari mereka mulai jalan ke atas tebing. Katakan apa yang harus kami lakukan, Pangeran," ucap komandan dengan suara tegas.


Kay sendiri bingung. Ia tidak biasa memimpin seseorang, apalagi ratusan iblis seperti ini. Otaknya tidak didesain untuk berpikir di saat genting layaknya pemimpin ataupun memberikan perintah pada banyak iblis sekaligus.


Ia takut jika apa yang dia perintahkan nanti malah mendorong mereka menuju jurang kematian.


"Serang atau tahan? Serang atau tahan? Serang atau tahan? Serang atau tahan?" batin Kay secara berulang ulang.


"Sepertinya cepat atau lambat, mayat hidup lain juga akan menyusul seperti ini. Kalau begitu, lebih baik kita segera menyerang sebelum mereka lebih dulu melakukannya," ucap Oliver yang masih setengah berbisik.


Kay mengangguk. Ia akan melakukan apapun yang diucapkan Oliver. Karena menurutnya, pemuda itu sangat ahli dalam perang seperti ini.


"Dengarkan aku! Kita lalui para mayat hidup ini dan terjang ke depan!" ucap Kay dengan lantangnya.


"Apa kita bisa melakukannya pangeran? Anda lihat sendiri jumlah mayat hidup itu. Berkali kali lipat dibandingkan jumlah kita sekarang," komandan seperti nya ragu. Ia baru ingat jika Kay tidak pernah memimpin pasukan, jadi ia berpikir Kay pasti sedang gegabah dan ia sendiri merasa ide ini adalah ide paling buruk.


Namun tak ada pilihan lain, "Semuanya, dengar. Pangeran baru saja memberi perintah pada kalian, karena itu kita lakukan. Kita akan menerobos antrian panjang dari mayat hidup itu dan menebasnya satu persatu," ucap komandan dengan lantang.

__ADS_1


Sama seperti dirinya, beberapa diantara mereka meragu. Namun tidak ada yang bisa mengajukan penolakan, mereka takut dan bungkam.


__ADS_2