
Ken langsung saja memunculkan sebuah senjata berupa pedang. Namun anehnya, senjata itu terbuat dari kayu dan terlihat rapuh.
Tidak mempedulikan bagaimana reaksi orang lain, Ken melesat ke arah Kite secara tiba tiba setelah mendengar jika Kite adalah Osmond. Ia tidak ragu sama sekali, seolah sangat mempercayai sepenuhnya ucapan Leon.
Namun Kite tidak membiarkan dirinya ditebas begitu saja. Ia melompat ke belakang dan menghilang bersamaan dengan Ken yang juga ikut sulit dilihat mata. Hanya suara suara senjata bertabrakan yang terdengar tanpa wujud dari kedua iblis yang sedang bertarung itu.
"Teman temanmu sudah percaya. Kau sekarang aman, mereka akan menjagamu dari Osmond," ucap Michael dengan suara setengah berbisik. Napasnya sedikit tidak beraturan, namun tidak ada perubahan dari nada bicara atau raut wajahnya sama sekali.
Rafa menengadah ke atas dan melonggarkan pelukannya. Raut wajahnya berubah khawatir ketika melihat wajah pucat itu, "Apa Kite–Maksudku, Osmond. Apa dia tahu kau akan muncul tadi sampai akhirnya dia melukaimu?"
"Tidak, dia tadi berniat membunuh belahan dari jiwamu. Tapi aku menghentikannya."
Walaupun suara yang mereka lakukan hanya saling berbisik, sayangnya Leon yang berdiri di samping mereka mendengarkan pembicaraan, "Aku menunjuknya karena sejak awal dia mencurigakan. Dia sebelumnya menceritakan hal yang bertolak belakang dengan ucapanmu, jadi aku sempat bingung."
Rafa tertegun dan menatap Leon dari balik tubuh Michael, "Sejak awal?"
Leon tidak menjawab. Ia malah menatap ke asal suara berisik. Melihat reaksi yang ditunjukkan Kite sesaat tadi pun sudah menjadi bukti apabila Kite adalah seseorang yang layak dicurigai.
Suara yang mereka dengar sekarang bukanlah suara dari kayu yang dipotong, melainkan suara antar besi yang beradu kekuatan. Padahal jelas jelas, senjata yang digunakan Ken terbuat dari kayu.
Ray memperhatikan pertarungan Ken yang sulit dilihat matanya, "Apa semua ceritanya tadi bohong? Dia hanya ingin memanipulasi kami semua? Apakah cerita tentang api hitam juga hanyalah tipuan?"
Jika ingin jujur, Ray merasa kekuatannya kini lebih terkontrol. Mungkin karena ucapan Kite sebelumnya dan dorongan yang ia rasakan dari Leon, membuatnya jadi seperti ini. Karena itu, ia sedikit ragu jika Kite adalah musuh.
Tapi bukankah Ken mengatakan jika Kite adalah Oliver? Leon tidak mendebat apapun, lalu kenapa sekarang pendapat Leon malah lain?
Saat Ray sedang memperhatikan dengan pikiran yang melayang layang, sebuah serangan meleset pada tempat Melvin yang langsung saja membuatnya terdorong ke belakang. Bahkan tubuhnya sampai terpantuk ke batang pohon di belakangnya.
"Uhuk.. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?!" gumam Melvin dengan kesakitan.
__ADS_1
Radolf yang berdiir tak jauh dari kakak iparnya itu segera mendekat, "Kau baik baik saja?"
Saat Radolf hendak mengulurkan tangan dan membantu, Melvin menepisnya dengan keras disertai tatapan tidak suka, "Tidak perlu berpura pura peduli!"
Setelah pertarungan yang terjadi beberapa saat itu, Ken kembali dengan pakaian yang sedikit koyak di sana sini. Terdapat bekas darah di wajahnya, namun itu bukanlah darahnya.
Pemuda dengan rambut uban itu terengah seolah baru saja lari maraton. Kedua tangannya memegang lutut dengan tubuh yang sedikit bungkuk, "Dia sangat kuat. Tapi aku berhasil membuatnya pergi. Melihatnya yang tidak kembali kemari, berarti dia memang Osmond. Karena identitasnya sudah terbongkar, dia tidak mungkin mau kemari lagi."
"Terimakasih karena sudah mau percaya," ucap Michael dengan napas yang sudah teratur. Tubuhnya kini kembali seperti semula tanpa luka setelah mendapat pertolongan Rafa.
"Terimakasih kau sudah percaya, Leon. Aku tidak tahu apa saja yang sudah dia katakan pada kalian, tapi kau tetap mempercayaiku," ucap Rafa dengan rasa senang.
Nevan sendiri berwajah muram, "Bagaimana bisa kau malah membelanya, Rafa? Dia sudah menyerang kita dan membawamu sampai kemari.
Kau yakin bukan dia yang berusaha mencelakaimu? Seharusnya dia yang dicurigai sebagai Osmond."
Rafa menggeleng dan sudah melepaskan dirinya dari Michael. Ia berdiri dan menatap Nevan dengan yakin, "Bukan dia. Justru Michael 'lah yang sudah membantuku agar menjauh dari musuh dalam selimut."
"Dia pergi tanpa menjelaskan apapun sudah menjadi bukti jika dia takut identitasnya terbongkar," balas Rafa tanpa ragu.
"Aku tidak bisa menyalahkanmu jika kau lebih percaya padanya. Bagaimanapun, aku memang salah karena sudah membawa Rafa dengan kasar. Wajar jika kau dan kalian semua yang ada di sini mencurigaiku," Michael tiba tiba ikut berkomentar. Tapi nada bicaranya tetap tanpa perasaan sama sekali.
Saat mereka semua terdiam, mereka tidak menyadari adanya satu kehadiran yang baru saja muncul kembali.
"Uhuk.."
"Uhuk.."
Suara batuk itu terdengar di saat yang hampir bersamaan. Radolf, Melvin, Nevan, Ray dan Ken sampai terkejut. Mereka sama sekali tak merasakn adanya kehadiran lain. Namun suara itu berasal dari Leon dan Rafa.
__ADS_1
Semuanya menatap kedua pemuda itu dengan mata terbelalak kaget. Mereka menyaksikan Rafa ditusuk dari depan, tepat pada dada kirinya. Lalu di sisi lain, Leon pun mengalami hal serupa. Di belakangnya, seseorang memegang pedang yang sebagiannya sudah tertusuk di tubuh Leon.
"Drama seperti ini sangat tidak menyenangkan. Sangat membosankan. Kau tidak ahli melakukannya, Micha. Tidak, tapi kita tidak pandai melakukannya," suara itu terdengar dari seseorang yang menusuk tubuh Leon dari belakang.
Leon menggeram tertahan. Ia kenal dengan suara itu. Tapi bukankah tadi dia baru saja pergi entah kemana? Kenapa sekarang dia berada di sini? Bahkan ia tidak merasakannya sama sekali.
"Kau.. Kite..," gumam Leon.
"Kau benar, Leon. Ini aku. Apa yang Micha katakan itu tidaklah salah. Aku memang Osmond," Kite tersenyum manis seolah tidak merasa bersalah.
Walau dalam keadaan tak baik, Leon masih sempat sempatnya melihat keadaan Rafa. Ia melihat jika manusia itu juga ditusuk. Namun bukan oleh Kite, melainkan iblis kecil bernama Michael itu.
"Ternyata kalian bekerja sama.. Ya?" gumam Leon.
"Yah.. Entahlah.. Kau bisa memikirkannya nanti. Untuk sekarang, kau tidur saja. Jangan pernah bangun lagi," ucap Osmond dengan suara pelan.
"Brengs*k...!!" Ken melesat cepat dengan pedang kayu yang terayun kuat.
Tidak membiarkan Ken menyerangnya, Osmond segera menarik pedang yang ada di tubuh Leon dan membuat tubuh iblis itu segera terjatuh ke tanah.
Trringg
Senjata itu kembali berbenturan dan dengan suara gesekan antar besi.
"Sejak awal bertemu, aku sudah menduga kau sangat kuat. Bahkan saat melawanmu tadi, aku sedikit kewalahan. Tapi aku kini tahu, pedang kayu milikmu bukanlah pedang biasa. Dari mana kau mendapatkan itu?" di sela sela pertarungan, Osmond mengajak Ken berbicara.
Tapi ucapannya tidak digubris oleh Ken. Ia menyerang dengan membabi buta. Namun setiap langkahnya selalu menghindari tubuh Leon yang kini masuk dalam ranah pertarungan.
Di sisi lain, Radolf dan Nevan pun tidak tinggal diam. Mereka melesat cepat ke tempat Rafa berada. Keduanya melakukan tendangan pada pelaku agar menjauh dari Rafa. Tapi sebelum bisa menyentuh tubuhnya, Michael sudah menjauh dari tempat Rafa dengan sebuah pedang yang masih meneteskan darah.
__ADS_1
"Kau... Sudah seharusnya aku tidak percaya!" teriak Nevan dengan tataan tajam dan marah yang tak bisa disembunyikan lagi.