Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 145 -The End


__ADS_3

"Aaarghh, brengs*k!" teriak Michael penuh amarah.


Leon tersenyum setelah akhirnya berhasil membawa Michael ke tempat putih dengan menggunakan portal yang dihubungkan Axelle ke alam bawah sadar Michael. Saat sebelumnya Leon berhasil melemahkan Michael, ia mengirimkan sinyal pada Axelle agar segera menciptakan portal seperti saat ia bisa masuk ke alam bawah sadar Michael.


Hingga seperti ini lah hasilnya. Walau membutuhkan waktu sedikit lama, namun pada akhirnya Leon berhasil menggiring Michael masuk kemari.


"Sialan! Brengs*k!" teriak Michael penuh amarah.


Namun tak lama dari teriakan itu, Axelle muncul dari belakangnya, "Sudah lama kita tidak bertemu."


Michael menggeram dan mulai membalikkan tubuhnya. Ia tahu suara itu dan sangat mengenalnya, "Axelle! Apa yang ingin kau lakukan?!"


"Seharusnya kau sudah tahu. Pergi ke dunia tempat makhluk hidup, memangsa jiwa mereka, membuat kekacauan, dan berusaha mengumpulkan kekuatan untuk mengambil alih dunia bawah. Pelanggaran yang kau lakukan tidak terhitung. Aku sampai harus turun tangan secara langsung untuk menyeretmu," ucap Axelle dengan wajah serius.


"Kurasa aku yang membawanya kemari, bukan kau," celetuk Leon.


"Sama saja," balas Axelle dengan tak peduli.


Michael memandang Axelle dengan sinis, "Lalu kenapa? Apa yang akan kau lakukan? Kau tidak akan bisa membunuhku atau kau akan mendapatkan hukuman berat nantinya."


Axelle terdiam sejenak, lalu menjawab, "Tenang saja, kau tidak perlu mengkhawatirkan bagaimana keadaanku. Kau harus memikirkan dirimu sendiri. Karena aku sudah meminta izin pada-nya untuk memberikan hukuman kematian padamu dan aku mendapatkan izin itu."


Ekspresi Michael yang awalnya terlihat sinis kini berubah terkejut. Ia tidak mengira bila Axelle menemuinya sekarang dengan keadaan yang sudah siap tentang laporan perizinan.


Michael terdiam masih dengan raut yang sama, namun sedetik kemudian rautnya berubah menyeringai. Hal ini membuat Axelle mengerutkan keningnya, "Walaupun begitu, kau tidak akan bisa menghabisiku. Permintaan ketiganya hampir terpenuhi."


Axelle yang awalnya tidak mengerti kini paham. Senyum yang tidak pernah terlihat darinya seketika terbit, "Permintaan ketiga? Permintaan agar dapat menciptakan kekacauan di dunia?"


"Iya!" ketus Michael.


"Sepertinya kau tidak tahu seberapa luas kekacauan yang dia maksud. Kau mungkin mengira kekacauan yang dia maksud hanya antara dunia iblis atau dunia manusia, asalkan dia bisa menjalankan perannya sebagai tokoh jahat yang menginginkan balas dendam akibat perang sebelumnya, kekacauan boleh dilakukan di dunia iblis atau manusia.


Tapi sebenarnya apa yang dia maksud adalah 2 dunia, yaitu dunia manusia atau bisa pula dunia iblis dan yang kedua dunia bawah. Sedangkan yang kau kabulkan baru saja salah satu diantara itu. Karena itu, kau tidak akan bisa mendapatkan jiwa suci itu," ucap Axelle dengan santai.


"Tapi dunia bawah mustahil dikabulkan tanpa mendapatkan jiwa suci itu terlebih dahulu. Lalu kenapa saat tadi kau menyuruhku agar cepat cepat karena permintaan ketiga akan segera terkabul?" ucap Leon dengan serius.


"Agar kau cepat bergerak. Karena bagaimanapun, dunia iblis akan semakin kacau jika dia ikut campur terlalu lama," balas Axelle tanpa menatap Leon. Matanya hanya terus tertuju pada anak kecil di hadapannya. Bahkan senyuman belum pudar dari wajahnya ketika melihat raut Michael yang memburuk.


"Tidak, tidak mungkin.. Kau pasti berbohong!" ucap Michael dengan wajah pucat.


"Untuk apa aku berbohong? Aku selalu serius dengan perkataanku," balas Axelle. "Dan sekarang kau harus mempertanggung jawabkan semua itu dengan kematian."


Axelle mengulurkan tangannya pada Michael. Hanya seperti itu saja sudah membuat Michael ketakutan.


"Tidak, jangan bunuh aku! Jangan bunuh aku!"


Secara menakjubkan, tubuh Michael seperti tersedot ke arah telapak tangan kanan Axelle yang terbuka. Michael terus berteriak memohon ampunan, namun Axelle sama sekali tak menghiraukan ucapannya. Tubuhnya terus tersedot hingga akhirnya Michael berubah menjadi bentuk bulat seperti kelereng di telapak tangan Axelle.

__ADS_1


Warnanya begitu hitam pekat disertai dengan warna merah yang bercampur.


Axelle mendecakkan lidahnya, "Dia terlalu banyak melakukan pelanggaran sampai warnanya berubah sehitam ini."


Axelle mengepalkan tangannya dan seketika itu pula, beberapa butir cahaya keluar melalui sela sela jarinya dan terbang ke atas. Ia juga mulai membuka telapak tangannya setelah berhasil menghancurkan Michael yang sudah berbentuk bulat.


Buliran cahaya lebih banyak keluar saat Axelle membuka telapak tangannya. Ia membiarkan cahaya cahaya kecil itu terbang dan menghilang.


"Hanya itu saja?" ucap Leon dengan kening berkerut. Ia sedikit tidak terima. Karena sebelumnya, ia bahkan bertarung cukup lama dengan Michael sampai ia juga mengalami beberapa rasa sakit di tubuhnya yang hanya berupa jiwa ini.


"Iya, sudah selesai. Michael sudah tidak ada," jawab Axelle dengan santai.


Leon mendengus dan menghela napas. Rasanya ia terlalu banyak berbicara dan menanggapi ucapan ucapan orang di sekitarnya. Apa jitakan Axelle sebelumnya se-berpengaruh itu dalam mengubah sikapnya?


"Karena satu telah hilang, maka aku harus memiliki penjaga dunia bawah yang baru. Jika tidak, mungkin beberapa jiwa akan sedikit sulit dikontrol. Apalagi saat itu pernah ada penjaga yang mengalami hal sama seperti Michael walau dia tidak sempat melakukan hal hal yang besar. Karena itu, dia ditahan. Aku kekurangan penjaga dunia bawah," ucap Axelle tanpa melepaskan pandangannya dari Leon.


Leon mengangkat sebelah alisnya, "Kenapa kau menatapku?"


"Dari yang kulihat, kau takkan bisa bereinkarnasi. Bahkan kau terlihat seperti akan menghilang karena beban kekuatan yang kuberikan padamu terlalu besar. Kau tidak akan bertahan lama.


Tapi jika kau menjadi penjaga dunia bawah, maka aku akan menjamin bila kau masih bisa hidup sebagai jiwa di alam barumu nanti, tidak akan menghilang seperti sekarang. Jadi, apa kau mau menjadi penjaga dunia bawah menggantikan Michael?" tawar Axelle.


"Tidak terimakasih," jawab Leon dengan cepat.


"Kau yakin? Aku biasanya tidak pernah menawarkan pekerjaan ini pada jiwa jiwa mati sepertimu. Jika jiwa lain yang kutawari hal ini, mereka pasti akan menerimanya. Karena dengan menjadi penjaga dunia bawah, dia juga bisa berkesempatan untuk bereinkarnasi kembali walau harus menunggu waktu yang lama.


Selain mendapat kesempatan bereinkarnasi, keuntungan menjadi penjaga dunia bawah adalah kau tidak akan diganggu oleh jiwa mati yang lain. Karena sebagian dari mereka memang suka mencari masalah. Dengan menjadi penjaga dunia bawah, kau akan dihormati oleh jiwa jiwa mati itu.


Sedangkan bila kau tetap seperti ini, tidak lama lagi kau pasti akan menghilang. Jangankan pergi ke dunia bawah, kau bahkan tidak akan bisa bertahan sekarang ini."


Leon terdiam mendengar penjelasan panjang lebar Axelle. Tawaran dengan keuntungan keuntungan seperti itu sangat menggiurkan bagi jiwa seperti dirinya. Karena memang tidak semua makhluk hidup yang telah mati bisa bereinkarnasi.


Jikalau saja ia masih bisa menggunakan kekuatannya untuk mengubah takdir, ia akan mengubah takdirnya sendiri dan kembali hidup. Tapi sekarang ia telah mati, kemampuannya tidak bisa ia gunakan. Kecuali jika ia menggunakannya di napas terakhir, hal itu masih bisa dilakukan. Tapi ia sama sekali tak menggunakannya saat sebelum mati.


*


*


"Kay?!" Oliver terkejut melihat kedatangan pemuda berwajah dingin itu.


"Apa yang kau lakukan? Dia sudah berada di depanmu. Tapi kenapa kau tidak menghabisinya?" ucap Kay dengan suara dingin. Ia berjalan semakin mendekat.


"Uhuk...," Osmond terbatuk darah. Napasnya semakin terasa sulit. Namun bila kini ia harus mati, maka ia akan menerimanya. Karena apa yang menjadi tujuannya telah terselesaikan.


Oliver langsung berlutut di depan Osmond tanpa menjawab ucapan Kay. Ia berekspresi khawatir. Namun apakah ia boleh seperti ini? Seharusnya ia membunuh Osmond lebih cepat kan?


"Kau sudah membunuh Leon, maka ini adalah balasan untukmu," ucap Kay. Sepertinya ia benar benar dalam emosi yang tinggi hingga raut wajahnya nampak begitu dingin.

__ADS_1


Kay sedikit mendorong tubuh Oliver yang berlutut di depan Osmond sehingga tubuh Oliver sedikit tersentak ke samping. Setelah tidak ada sesuatu apapun yang menghalanginya, Kay mengangkat kerah pakaian Osmond dan mengangkatnya ke atas dengan paksa.


"Aku berharap kau tidak pernah hadir di dunia ini lagi, selamanya. Jadi sekarang, matilah."


Napas Osmond tercengkat. Matanya yang seperti sore hari di musim gugur itu kini berubah menjadi biru yang saat dilihat seperti langit siang hari dengan adanya sedikit awan. Ini adalah warna mata aslinya, tidak seperti yang tadi milik Oliver.


"Maafkan aku... Oliv.... Aku ingin kau... Terus hidup..."


Mata yang terlihat seperti langit dengan sedikit awan itu akhirnya menutup disertai dengan hembusan napas terakhirnya.


Kay menatap benci mayat yang kini ada digenggamannya. Tubuh yang mendingin itu pun ia jatuhkan ke tanah setelah benar benar memastikan kematiannya.


Oliver menatap Osmond dengan raut sulit diartikan. Di satu sisi ia senang saudaranya tiada sehingga dia tidak melakukan lebih banyak hal buruk lagi. Di satu sisi ia sangat menyesal karena tidak bisa membuat kakaknya kembali seperti dulu. Lalu di sisi lainnya lagi, ia sedih karena kehilangan satu satunya keluarga.


Apalagi saat tadi mendengar kata terakhirnya, itu seperti kata penyesalan dan selamat tinggal. Keinginannya yang mengatakan agar Oliver terus hidup pun membuat dirinya bimbang. Ia sudah mati, dan itu karena kakaknya sendiri. Tapi di sisi lain, Osmond mengatakan tentang tubuh asli miliknya yang tak bisa digunakan lagi setelah perang Os karena tubuhnya sudah tidak baik dan akan mati bila dirinya tetap menggunakan tubuh aslinya itu.


Namun jika demikian, kenapa kakaknya bisa menggunakan tubuh aslinya jika tubuh itu sudah dalam keadaan tidak baik dan bisa membuat mati jika masih berada di tubuhnya? Apakah kakaknya memiliki kemampuan yang membuatnya dapat bertahan? Atau bahkan kakaknya hanya mengatakan omong kosong dan kebohongan?


Oliver sama sekali tidak tahu apapun. Ia bahkan tidak mengerti tujuan yang sudah terpenuhi dari ucapan kakaknya. Karena tujuan Osmond bukankah untuk mengambil alih dunia? Sedangkan sekarang dia tidak dapat melakukannya dan telah tiada.


Apakah tujuan aslinya bukanlah itu? Apa ada tujuan lain yang sebenarnya diincar kakaknya?


Di tempat yang tak jauh dari sana, Felix bersama dengan Radolf berada diambang kebingungan karena tubuh Michael yang tiba tiba ambruk ke tanah dan berubah menjadi serpihan cahaya yang menghilang di udara.


Mereka tidak tahu apa yang terjadi hingga musuh yang mereka lawan telah kalah tanpa mereka habisi sama sekali. Hanya saja, Felix bersyukur karena satu musuhnya telah hilang.


"Need... Bagaimana dengan Need?" ucap Radolf dengan lirih.


Felix terdiam sambil memperhatikan keadaan tubuh Need dengan organ dalam yang sudah tidak tersambung antara satu dengan yang lainnya. Keadaan organ dalamnya sudah berantakan. Sangat memprihatinkan juga bila melihat keadaan mayat Need seperti ini. Namun ia tidak bisa melakukan apapun.


Tidak lama setelah berubahnya Michael menjadi kepingan cahaya, pohon besar yang ada di hadapan mereka seolah mengeluarkan asap yang hangat membumbung ke atas. Apa yang terjadi selanjutnya pada pohon itu pun sama seperti Michael.


Pertama dari dedauanannya yang berubah menjadi kepingan cahaya yang naik ke atas, dilanjut ke bagian tengah hingga bagian sampai akar akarnya.


Keadaan langit yang masih saja gelap membuat butiran cahaya yang terbang ke langit itu nampak indah. Apalagi jumlahnya yang sangat banyak, membuat langit terang.


Tidak ada yang tidak memperhatikan keadaan ini. Semua mata terus tertuju pada pohon besar yang hendak mereka tumbangkan. Namun nyatanya pohon itu berubah menjadi cahaya. Bahkan kejadian ini bisa dilihat sebagian besar penduduk yang masih hidup di dunis iblis ini.


Pohon besar yang sampai bisa dilihat banyak orang tiba tiba berubah menjadi kepingan cahaya yang indah tentunya membuat mata banyak terpaku pada itu. Bahkan cahaya itu berpencar ke segala titik dan mengambil tempat masing masing di langit dunia iblis.


Langit yang awalnya penuh kilatan petir yang menyambar tiba tiba diam dan senyap tanpa adanya satu kilat petir pun.


Kilauan cahaya yang tidak terhitung jumlahnya perlahan menjadi transparan dan menghilang. Keadaan yang terjadi hanya sebentar, namun membekas di dalam pikiran siapapun yang melihatnya.


Tak lama dari itu pun, langit mulai cerah seperti malam menjelang subuh. Di waktu ini, perang yang berlangsung singkat namun membekas di hati dan pikiran telah selesai.


Meninggalkan tempat yang rusak dimana mana. Meninggalkan duka dan mimpi buruk bagi orang orang yang mengalaminya.

__ADS_1


THE END


__ADS_2