
Need terkesiap ketika seseorang menepuk pundaknya. Ia melirik ke samping dan melihat Leon. Ia seperti orang linglung. Ditatapnya pemandangan sekitar yang berubah. Di kejauhan ia bisa melihat jajaran pegunungan, lalu di depannya ia bisa melihat air terjun yang deras. Rerumputan setinggi mata kaki dan tanah yang sedikit basah seperti baru saja terjadi hujan. Pepohonan yang sangat rimbun dengan akar akar besar mencuat dari dalam tanah. Suara suara hewan pada malam hari. Kunang kunang yang terbang melintas dan memberikan cahaya untuk melihat.
Lalu yang paling membuatnya kaget adalah aura di sekitarnya. Aura di sini lebih padat dan berenergi dibandingkan tempat mereka sebelumnya. Ini lebih mirip... Dunia iblis. Ia tertegun kala mendapatkan kesimpulan itu. Tidak mungkin mereka berada di dunia iblis. Lagi pula, bagaimana mereka bisa ke sana?
*POV Need
"Ini... Sebenarnya dimana? Kenapa kita tiba tiba berada di sini?" tanyaku dengan heran.
Leon berekspresi datar dan menatapku sekilas, "Jangan berpura pura lupa. Kau yang baru saja membawa kita kemari, dunia iblis."
Aku tidak bisa berkata kata ketika mendengar ucapannya. Apa maksudnya itu? Aku yang membawa kita sampai ke dunia iblis? Bagaimana bisa? Aku bahkan tidak memiliki kemampuan untuk berpindah dunia. Selain itu, sesaat kesadaranku rasanya hilang. Aku tidak ingat apapun sejak mengirimkan Leon ke tempat anak bernama Rafa itu berada.
Aku memejamkan mata dan berusaha mengingatnya. Tapi ingatan itu seolah dipotong dan diambil tanpa bisa kuputar ulang.
Apa jangan jangan... Ini karena dia? Dia membuatku membawanya ke dunia iblis? Bagaimana bisa dia melakukan itu?
Aku melihat sekitar dengan waspada seperti sedang diawasi seseorang. Namun tak ada siapapun, kecuali aku dan Leon. Apa dia juga bisa menggerakkan tubuhku dari kejauhan? Sebenarnya apa saja yang bisa dia lakukan?
Jika dia membuatku membawa Leon kemari dengan cepat, apakah artinya dia ingin ini segera dilakukan? Tidak, aku tidak akan membiarkannya. Leon pasti bisa mengatasi mereka dan keinginanmu takkan terwujud. Aku takkan membiarkan itu.
Aku tiba tiba melihat ke arah Leon. Dia menatapku dengan datar, namun ada tatapan curiga dalam matanya. Aku menjadi gugup karena takut dia tidak mempercayaiku karena tingkah aneh yang kulakukan ini, "Sekarang sudah malam, lebih baik kita beristirahat."
Dia tidak mengatakan apapun padaku dan langsung pergi menjauh, lalu melompat ke atas pohon untuk tidur di atasnya. Tidur di atas pohon memang yang paling aman, karena dari yang kurasakan, ada banyak monster di hutan ini.
__ADS_1
Aku ikut melompat ke atas pohon besar yang dekat dengan pohon Leon berada. Aku menyandarkan kepalaku pada ranting pohon besar sambil menatap langit. Aku merasa tidak tenang. 'Dia' bisa mengendalikan tubuhku tanpa aku ketahui. Bahkan aku tidak ingat apapun. Rasanya mungkin seperti dikendalikan menggunakan kemampuan Raja Stev.
Bagaimana caraku untuk menghentikan mereka melakukan sesuatu yang dia inginkan? Aku tak memiliki kekuatan sebesar itu sampai bisa melawan seorang Raja. Apalagi bila harus berhadapan dengan lebih dari satu Raja. Aku tidak bisa melakukannya.
Namun di sisi lain, aku tidak bisa membiarkan Leon bertarung dengan mereka seperti sebelumnya. Dia tidak akan bisa melawan mereka sekaligus. Bagaimana caraku untuk mengurangi korban jiwa? Apa yang harus kulakukan? Perebutan kekuatan antar Raja pasti akan membuat keributan yang besar dan akan menyebabkan kerusakan yang tidak sedikit. Korban jiwa juga akan banyak berjatuhan karena dampaknya.
Itulah yang 'dia' mau. Sebanyak banyaknya iblis yang mati.
Jika semakin banyak darah iblis yang tumpah, maka dia akan bisa menjalankan rencananya. Apalagi bila yang mati adalah Raja iblis. Pasti akan memberikan banyak sekali kekuatan.
Memancing Raja iblis untuk saling bertarung dan memperebutkan kekuatan kuno tersembunyi dalam tubuh Leon, itu akan menyebabkan banyak darah yang tumpah. Apa memaksanya mengambil kembali semua yang dia miliki itu adalah langkah yang salah? Apa seharusnya aku menjauhkannya dari Raja iblis lain? Tapi mereka pasti akan mencarinya kemanapun dia pergi.
Apa mungkin seharusnya aku...
Aku melirik Leon dari atas pohon. Dia sudah memejamkan matanya dan terlihat sudah tertidur.
Memang egois sekali. Padahal sebelumnya aku mati matian memintanya untuk kembali kemari dan mengalahkan Raja iblis lain. Tapi sekarang aku berpikir untuk membunuhnya karena tidak melihat kesempatan untuk menang.
Ya, seegois itulah aku. Demi untuk menghancurkan rencana 'dia', aku berani melakukan apapun.
Aku melompat turun dari pohon dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara. Setelahnya, aku berjalan mendekati pohon dimana Leon berada. Aku melompat ke atas dan memunculkan pedang milikku.
Matanya terpejam dan tak bergerak sama sekali. Posisi tubuhnya pun tidak berubah dan seolah tidak terusik oleh kehadiranku.
__ADS_1
Semakin lama memperhatikan wajahnya, aku semakin sulit untuk mengarahkan pedang ini. Aku... Tidak bisa membunuhnya. Dia adalah iblis yang kuidolalan. Aku tidak suka melihatnya mati. Apalagi jika dia mati oleh tanganku sendiri.
Akhirnya aku menghilangkan pedang di tanganku dan melompat turun. Ini menyedihkan! Padahal yang dipertaruhkan di sini adalah dunia ini. Tapi aku tidak bisa membunuhnya. Aku juga tidak suka bila melihatnya mati.
Tapi... Karena dia pula aku bisa seperti ini. Karena dia aku bisa merasakan perasaan senang. Sejak melihat caranya bertarung dan membunuh, itu membangkitkan semangatku. Dia.. Sangat hebat.. Dia tidak gentar pada apapun. Bahkan saat sebelum menjadi Raja dan melawan musuh yang lebih kuat darinya, ia tidak pernah putus asa.
Saat dia membunuh.. Dan memakan jantung iblis lain... Itu terlihat indah. Bagaimana bisa dia memperlihatkan pancaran rasa senang saat melakukan semua itu? Raja iblis sekalipun bahkan tak kuasa untuk memakan iblis lain. Mereka hanya bisa membunuh. Tapi tidak dengan dirinya.
Sejak melihatnya pertama kali, ada debaran kuat dalam diriku seolah sangat menyambut kehadirannya. Pertama kalinya ada perasaan yang menjangkauku untuk bisa kurasakan, yang sebelumnya tidak pernah merasakan apapun.
Aku menghela nafas dan meliriknya tanpa menghadapkan tubuhku padanya. Lari dari Raja iblis lain tidak akan bisa dilakukan selamanya. Ia pun tidak bisa membunuhnya. Hanya ada satu yang bisa dilakukan. Ia.. Akan membantunya sebisa mungkin agar menang melawan Raja iblis.
Aku melompat ke atas pohon tempatku berada dan memilih untuk tidur. Sepertinya aku tidak perlu ragu lagi. Karena aku juga sudah memilih untuk menjadi mata matanya sejak dia menjadi Raja.
Aku menyungingkan senyum sebelum akhirnya kegelapan menelan kesadaranku.
POV End~
Tanpa disadari Need, Leon sebenarnya tahu apa yang baru saja dia lakukan. Namun ia bersikap seolah sudah tidur untuk mengetahui apa yang diinginkannya. Tapi sepertinya dia tidak jadi melakukannya. Aura membunuh yang sedikit dikeluarkan Need tadi sudah menghilang sebelum pemuda itu turun.
Ia memang sedikit heran dengan ucapan Need tadi, tapi hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk mencurigai sesuatu darinya. Walau sempat berpikir Need dikendalikan Stev yang memiliki kemampuan seperti itu, namun ia menepisnya jauh jauh. Jangkauannya terlalu besar jika Stev bisa melakukan itu dan itu adalah hal mustahil.
Hanya saja, tidak ada salahnya jika sedikit waspada terhadap Need, iblis kedua yang ia percaya.
__ADS_1