Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 42 -Masing Masing


__ADS_3

Kevin yang baru saja bangun dari tidurnya terkejut dengan keadaan lengannya yang kembali seperti semula. Ia juga melihat bila gips yang sebelumnya digunakan Rafa tidak ada.


"S-sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini? Tanganku.. Kembali.. Apa yang terjadi?"


Rafa tidak menjawab ucapan Kevin. Walaupun temannya itu bertanya berkali kali padanya, ia tetap bungkam dengan kejadian semalam.


Sedangkan di tempat lain, orang sedang berduka atas kematian Teddy. Disaat semua orang sudah pergi dari kuburan, Katly dengan kakaknya masih diam di sana.


Ash yang merupakan kakak Katly menolak keras dilakukannya autopsi dan ingin langsung memakamkan ayahnya. Ia tahu bila orang yang membunuh ayahnya bukanlah manusia, melainkan iblis. Karena ia bisa merasakan sedikit aura iblis yang terpancar dari mayat ayahnya. Manusia biasa tidak akan bisa melawan iblis dan iblis tidak memiliki sidik jari manusia. Autopsi hanya tindakan sia sia.


"Kakak..," Katly memeluk Ash dengan erat. Air mata terus berjatuhan membasahi pipinya. Ia tidak menyangka bila ayahnya akan meninggalkannya seperti ini. Bahkan ia tidak pernah berpikir bila suatu saat ayahnya akan pergi selamanya.


Ash balas memeluknya dan menyentuh kepalanya. Ia tahu Katly pasti sangat terpukul. Namun bukan hanya adiknya saja, ia pun demikian. Ia hanya bisa menggertakkan giginya untuk menahan perasaannya yang meluap. Ada rasa sedih, tapi juga marah dalam hatinya.


"Aku tidak akan memaafkannya. Akan kubunuh iblis yang sudah melakukan ini pada ayah," batin Ash.


***


Seminggu kemudian setelah semua kejadian itu, Ash datang mengunjungi rumah Rafa. Ia mengetuk pintunya berkali kali sampai akhirnya pintu terbuka.


"Kak Ash..?" Rafa merasa bingung dengan kedatangan Ash yang tiba tiba. Bahkan dia tahu rumahnya, "Bagaimana kak Ash tahu rumah ini?"


"Bisa kita berbicara di dalam?" tanya Ash tanpa basa basi.


Walaupun tidak mengerti, namun Rafa mengangguk pelan dan mempersilahkan pemuda itu untuk masuk ke dalam.


"Aku akan membuatkan teh," Rafa berjalan pergi menuju dapur. Rumahnya kini sudah diperbaiki. Baik tembok, pintu maupun lantai yang rusak. Ia juga sudah mengganti meja di ruang tamu dengan yang baru. Suasana di rumah ini menjadi berbeda. Baik karena perbaikan itu ataupun juga karena penghuninya yang berkurang.


Setelah beberapa saat, akhirnya Rafa kembali sambil membawakan teh. Ia duduk berhadapan dengan Ash. Pemuda itu tampak begitu serius, "Aku turut berduka atas apa yang terjadi. Aku tidak menyangka bila paman akan pergi pada hari itu.


Sebenarnya aku sangat sedih dengan kepergiannya. Apalagi saat itu, dia menggantikanku untuk menjemput saudaraku di sini. Aku jadi merasa bersalah," ucap Rafa dengan kepala tertunduk.

__ADS_1


"Kau tidak perlu memikirkannya. Bukan salahmu bila ayah meninggal pada hari itu. Mungkin takdirnya memang seperti ini," Ash mencoba untuk tetap tenang disaat membicarakan ayahnya. Ia sebenarnya masih dalam suasana berkabung, namun ada sesuatu yang harus ia katakan pada Rafa.


"Lupakan hal itu. Aku akan langsung ke intinya. Apakah kau mau menjadi pemburu? Ayah sangat ingin kau bergabung bersamanya. Karena ayah sudah tidak ada, maka aku akan melanjutkan apa yang dia inginkan dan belum bisa didapatkan."


Rafa terdiam sesaat mendengar pernyataan Ash. Ternyata karena itu Ash sampai repot repot menemuinya, "Saat itu aku sudah meminta bantuan paman untuk mengajarkanku cara bertarung. Tapi aku tidak mau menjadi pemburu seperti yang dia tawarkan. Walau begitu, paman menyetujuinya.


Sebelumnya, kami berencana untuk memulainya setelah satu minggu. Tapi ternyata paman meninggal pada hari itu. Keinginanku masih sama."


"Kalau begitu, biarkan aku yang menggantikan posisi ayah. Aku yang akan melakukannya. Walau aku tidak sekuat dia, tapi aku bisa membantumu. Tapi untuk apa kau mau belajar bertarung? Apa alasanmu?"


"Aku ingin bisa melindungi diriku sendiri dan orang terdekatku. Aku tidak ingin kejadian yang sebelumnya terulang kembali."


Melihat tatapan Rafa, membuat Ash yakin bila dia tidak berbohong. Tapi ada alasan lain yang belum diungkapkan oleh pemuda itu, "Baiklah, aku akan membantumu."


Rafa bertanya dengan ragu, "Tapi... kak Ash adalah dokter. Apa kakak bisa melakukan itu?"


Ash tersenyum, "Aku bisa melakukannya karena aku juga adalah murid ayah. Hanya saja, jangan mengatakannya pada Katly tentang ayah yang sebagai pemburu atau aku yang ikut berlatih dengannya. Aku tahu dia teman satu kelasmu.


Rafa mengangguk. Ia terdiam sesaat untuk mengumpulkan keberanian, "Apa... kak Ash tahu sesuatu tentang makhluk bernama iblis itu?"


Ash terkejut Rafa mengetahui nama 'iblis'. Seharusnya ayahnya belum memberitahu apapun pada Rafa tentang iblis. Bahkan ayahnya tidak mungkin mengatakan kata 'iblis' di depan Rafa. "Bagaimana kau bisa tahu nama itu?"


"Melihat reaksinya, dia pasti mengetahui sesuatu tentang iblis," batin Rafa.


***


"Apa kau akan terus seperti ini?! Masih terlalu lemah! Lebih kuat!"


Selama seminggu ini Need berlatih tanding dengan Leon. Tidak seperti sebelumnya yang hanya berlatih dengan ketahanan tubuh berlari dan mengangkat benda benda berat, Need kini menggunakan cara bertarung langsung. Ia memang tidak sampai menggunakan seluruh kekuatannya karena kemampuan Leon sekarang tidak sama, tapi ia serius bertarung dengannya.


"Lagi! Terus serang lagi! Masih lemah! Lebih kuat!"

__ADS_1


Need terus bersuara dengan keras sambil menahan serangan Leon. Wujud anak itu masih manusia dan belum pernah berubah menjadi iblis sejak di dunia ini.


Leon mengatur nafasnya sambil terus menyerang. Pedang kayu yang dibuat Need kini saling bertabrakan dengan pedang kayu pemuda itu. Mereka sama sama menggunakan pedang kayu karena tidak ada sepasang pedang asli.


Setiap hari mereka terus menerus bertarung bahkan hingga malam tiba. Waktu untuk istirahat saat tidur dan makan. Leon benar benar serius ingin berkembang.


Setiap harinya selalu ada perkembangan dari Leon. Gerakannya lebih cepat dan kuat. Need sendiri terkejut dengan perkembangan itu. Tapi mengetahui Leon adalah idolanya, maka itu tidaklah mengherankan.


"Sudah cukup."


Leon menghentikan serangan yang akan dilakukannya dan mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Keringat di dahinya ia seka dengan lengan pakaian.


"Gerakanmu kini lebih cepat dan kuat. Tapi kau masih belum bisa mengatur nafas dengan baik. Jika kau tidak bisa mengatur itu, kau akan cepat kelelahan. Lalu saat kau memiliki kesempatan untuk menyerangku dengan fatal, lakukanlah. Aku akan menghentikannya, jangan ragu seperti tadi.


Kau harus menambah kepekaanmu dengan sekitar, menganalisa gerakan lawan dengan baik. Jangan bergerak setelah melihat gerakan lawan, tapi bergeraklah sesaat sebelum lawan melakukan gerakannya. Apa kau mengerti?" ucap Need dengan wajah serius.


Leon mengangguk paham.


"Karena masih banyak kesalahan, kau akan mendapat hukuman. Kemarilah."


Tanpa ragu Leon langsung berjalan mendekati Need. Apapun hukuman yang akan diberikan, ia akan menerimanya. Bahkan bila ia harus dipukul atau ditebas sekalipun, ia tidak akan menghindar.


Tidak seperti yang dipikirkannya, Need langsung mencubit kedua pipinya dengan ekspresi senang. Tidak hanya mencubitnya sekali, ia terus menariknya, "Hehehe... Kapan lagi aku bisa melakukan hal ini padanya? Jika ingatannya sudah kembali, dia pasti akan membunuhku jika melakukan hal seperti ini padanya," batin Need.


Leon berekspresi datar. Tak lama setelahnya, ia mengangkat kakinya dan menendang Need hingga tubuh pemuda itu menabrak pohon dengan keras, "Jangan menyentuhku sembarangan."


"Kenapa kau melakukan itu?! Itu adalah hukumannya," keluh Need.


"Dan sekarang kau sudah melakukannya. Tendangan itu hal yang ringan sebagai peringatan kecil agar tidak menyentuhku sembarangan," ketus Leon sambil berbalik.


"Hilang atau tidaknya ingatan Raja Leon, dia tetap saja kejam padaku seperti ini," Need menangis dalam hati. Padahal ia sudah membantunya sekarang, tapi perlakuan seperti ini 'lah yang diterimanya.

__ADS_1


__ADS_2