
"Jika terus seperti ini, istanaku akan runtuh. Aku akan mengalami banyak kerugian," batin Stev. Ia melirik tempat Need sebelumnya. Ia pun berniat untuk mengendalikannya lagi dan memindahkan mereka semua ke tempat lain. Tapi, "Kenapa tidak bisa?" gumamnya dengan kening berkerut.
Ia mencoba berkali kali untuk mengendalikan Need, tapi tetap gagal, "Dia tidak bisa melepaskan pengaruhku sendiri. Tapi kenapa aku tidak bisa mengendalikannya? Apa ada seseorang yang membantunya?" batin Stev.
Saat ia sedang lengah, Leon melakukan tendangan hingga tepat mengenai tengkuknya.
Bruukkk
Stev seketika terdorong bahkan terjatuh menghantam pilar bangunan hingga roboh.
Braakk
Gruudukk
"Kau tidak akan bisa mengendalikan bonekaku lagi," batin Ralt dengan senyum sinis di wajahnya. Pandangannya kembali teralihkan pada Leon. Ia memberikan tekanan gravitasi pada Leon hingga pemuda itu jatuh berlutut.
Pada saat itu'lah kesempatan untuk menyerangnya semakin besar. Silvia menggerakkan monster elang berukuran sekitar 5 meter untuk mencabik tubuh Leon. Sedangkan Flor, ia menggerakkan darah yang menggenang di sekitarnya menjadi ribuan jarum dan menghujani Leon dengan semua itu.
"Grrhh," Leon mengeratkan giginya dan mengepalkan tangan. Ia memperkuat pijakan kakinya dan langsung melompat ke atas, melawan gravitasi yang menahan tubuhnya. Ia mengayunkan pedang pada 2 monster elang yang menyerbunya dan..
Sreett
Cruatt
Salah satu monster mendapatkan luka di sayap, sementara keadaan elang lain pun tidak begitu baik. Mereka sempat menukik jatuh, tapi kembali mengepakkan sayapnya dan turun saat hampir mencapai lantai.
Jleebb
Jleebb
Namun saat Leon menapak di lantai, ia tidak sempat untuk menghindari ribuan jarum yang menghujam ke arahnya. Ribuan jarum itu menusuk tubuhnya dan memberikan luka yang banyak. Ia memuntahkan darah dan melirik Flor dengan tatapan dingin.
Tidak sempat untuk bergerak, tekanan gravitasi semakin membebankan tubuhnya hingga tanpa sengaja pedang terlepas dari genggamannya. Ia langsung memegangi lutut sambil terus menahan tekanan.
Stev yang baru saja keluar dari reruntuhan pilar seketika berdiri. Sudut bibirnya terluka dan mengeluarkan darah karena tertimpa reruntuhan. Namun ini bukanlah masalah. Ia mengayunkan pedang di tangannya dan membuat angin dingin menerpa tubuh Leon.
__ADS_1
Kraakk
Kraakk
Es mulai memanjat dari kaki Leon menuju ke atas. Leon semakin mengeratkan giginya. Ia memukul mukul es yang mengurung kakinya, tapi tidak bisa. Ia malah mendapatkan luka di tangan.
Aura kuat meledak ledak dari dirinya hingga memecahkan es menjadi berkeping keping. Silvia, Flor dan Stev dapat merasakan tekanan kuat yang menghantam tubuh mereka. Bahkan tekanan itu hampir membuat ketiganya berlutut sekaligus.
"Jangan harap kau bisa menekanku!" ucap Flor dengan raut marah. Ia mengeluarkan aura yang besar pula dan melawan aura yang dikeluarkan Leon. Begitupun dengan kedua Raja lain. Mereka menekan aura Leon bersama sama hingga membuatnya sedikit kewalahan.
Sebaliknya, Ralt yang merasakan aura Leon hanya biasa saja. Ia bahkan berdiri dengan tegak sambil masih menekan tubuh Leon dengan gravitasi miliknya.
"Menyerah saja! Kau tidak akan bisa menang melawan kami berempat sekaligus!" teriak Silvia sambil menggerakkan dua elang miliknya.
Karena sebagian atap dari ruangan ini sudah hancur, maka ia bisa menggerakkan kedua monster terbangnya ini dengan bebas. Ia menunjuk Leon, "Habisi dia."
Kwaakk
Kwaakk
Kedua monster ini segera mengepakkan sayapnya kembali dan terbang menuju Leon. Ketika sudah berada di dekatnya, salah satu elang segera menancapkan kakinya pada bahu pemuda itu dan membawanya naik ke atas.
"Ck," Leon mendecakkan lidah. Setelah semua luka yang dialaminya sembuh, ia segera mencengkram kedua kaki elang yang ada di bahunya. Ia pun memanjangkan kuku miliknya hingga kuku itu menembus kulit kaki elang.
Kwaakkk
Elang berteriak kesakitan sampai menjatuhkan Leon dari ketinggian. Tapi bukannya jatuh ke bawah, elang lainnya malah mencengkram kedua kaki Leon hingga pemuda itu tergantung terbalik.
Leon memendekkan kukunya dan menarik tubuhnya sendiri agar kedua tangannya bisa menggapai kaki elang. Saat ia bisa melakukan itu, ia mematahkan salah satu kakinya hanya dengan tangan.
Kraakk
Kwaaakk
Elang berteriak kesakitan. Dengan refleks pun menjatuhkan Leon dari ketinggian.
__ADS_1
Tidak berhenti di sana, Ralt memberatkan tubuhnya hingga ia meluncur dengan cepat ke bawah.
Wuusshh
Braakkk
Lantai seketika retak dan hancur, cekungan besar tercipta. Asap mengepul menutupi pandangan. Seolah tidak puas hanya dengan itu, Flor menciptakan ratusan bahkan hingga ribuan jarum dari darah. Ia meluncurkannya ke arah kepulan asap, walau belum bisa melihat keberadaan Leon.
Begitu pula dengan Stev. Pria itu segera menciptakan bunga lotus es di sekeliling kepulan asap.
Ketika jarum darah masuk ke dalam kepulan asap, maka giliran bunga es nya yang kemudian meledak. Ini adalah serangan beruntun tanpa jeda hingga siapapun pasti akan mendapatkan luka berat, bahkan bisa mati.
Semua mata fokus pada kepulan asa itu hingga tidak ada yang menyadari kedatangan Need dengan pakaian berlumuran darah iblis lain.
Ia terkejut ketika melihat serangan terus menerus yang dilakukan para Raja iblis pada Leon. Serangan itu sangat kuat hingga menciptakan getaran di tanah. Bagaimana keadaan Leon yang menerima semua serangan itu?
Ia mengepalkan tangannya. Ia ingin membantu Leon mengalahkan Raja iblis. Namun berdiri di sini saja sudah membuatnya merasa sangat sesak, bagaimana jadinya jika ia melawan? Apalagi, bukan hanya satu, tapi 4 Raja sekaligus. Terlebih ada Ralt. Ia tidak tahu kemampuan apa saja yang dia miliki. Itulah yang membuatnya semakin berbahaya. Menyerang tanpa tahu kekuatan lawan.
Asap yang mengepul tebal akhirnya menghilang, menampakkan Leon yang berlumuran darah. Ia keluar dari cekungan yang cukup dalam dengan tubuh terhuyung. Tapi walau keadaannya seperti ini, ia malah tersenyum dengan raut dingin. Tidak ada tatapan keputusasaan sama sekali dalam wajahnya.
"Leon..," Need merasa bersalah ketika melihat keadaan Leon seperti ini. Seharusnya sejak awal ia tidak membuatnya kembali kemari. Ia membuat keputusan salah. Ia sudah tahu, mengalahkan keempat Raja sekaligus adalah hal mustahil, tapi ia mencoba terus mempercayai kemampuan Leon dan pada akhirnya malah berakhir seperti ini.
"Apa yang kalian bisa hanya ini?," remeh Leon. Sambil berbicara, ia masih menyembuhkan diri. Ia akan selalu menyembuhkan diri setiap mendapat luka berat dari mereka. Itulah yang membuatnya belum kalah di pertempuran sebelumnya dan saat ini.
Flor mengeratkan giginya. Melihat keadaan Leon yang hanya seperti ini, membuatnya kesal. Seharusnya dia sudah tidak bisa bergerak lagi, "Jangan meremehkanku!"
Ia mengarahkan lengannya pada Leon. Seketika itu pula, darah di dalam tubuh Leon menusuk keluar dan menyakiti pemuda itu lagi.
Mata Leon melebar dan ia langsung memuntahkan darah dari mulutnya. Ia meringis ketika merasakan rasa sakit ini. Agar ia tidak mati, ia harus terus menyembuhkan diri. Walau sebenarnya ia kewalahan melawan mereka sekaligus dan merasa sudah diambang batas, tapi ia tidak mau menunjukkan kelemahan pada musuh.
Mata merahnya berkilat dengan tajam, "Hanya ini? Apa kemampuan kalian benar benar seperti ini saja?"
Flor menelan ludah. Ia mundur beberapa langkah ke belakang ketika apa yang ia lakukan tidak membuat Leon mati. Ia menjadi sedikit gentar.
Leon menyeka darah di bibirnya dan menatap satu per satu Raja iblis yang mengelilinginya di jarak beberapa meter. Ketika ia melakukan itu, ia sedikit terkejut karena melihat kehadiran Need. Pemuda itu menatapnya dengan rasa bersalah dan putus asa seolah ini sudah berakhir.
__ADS_1
"Ini belum berakhir. Aku tidak akan mati begitu saja," gumam Leon. Pandangannya menjadi sedikit buram. Lalu tiba tiba ia merasa tubuhnya seperti diremuk dari dalam. Pada saat itu pula ia memuntahkan darah dari mulutnya. Namun bukan berwarna hitam, melainkan berwarna hitam pekat.
Stev mengukir senyum di bibirnya, "Kau lengah, aku sudah memberikan racun pada bunga es itu. Hanya menghirupnya saja, racun itu sudah masuk ke dalam tubuhmu. Racun yang bisa membuat organ dalam membusuk. Dan sekarang, kau sedang merasakan efeknya."