
Seolah mengetahui dimana Rafa berada, Kite menjadi penunjuk arah bagi semua yang ikut dengannya. Kite pergi bersama dengan Leon, Ray, Ken, Melvin, Nevan dan Radolf.
Mereka bertujuh sudah mengatakan pada orang orang yang masih berada di tempat sama bahwa mereka akan pergi menjemput Rafa. Tentunya hal ini menuai reaksi beragam.
Mereka sudah merasakan sendiri seberapa kuat orang yang sebelumnya mereka lawan. Namun kini, Kite, Leon, bersama dengan yang lainnya ingin pergi menemui orang itu?
Namun pada akhirnya mereka bertujuh tetap pergi walau Felix ataupun Nix melarang mereka. Sekarang, Felix dan semua orang di sana diharuskan untuk tetap tinggal sementara waktu sampai ketujuh orang ini kembali.
Kay hanya diam sejak tadi tanpa mengomentari kejadian yang ada. Ia khawatir dengan Leon beserta Ray dan Ken, namun ia tahu ketiga orang itu bukanlah iblis yang lemah hingga harus dikhawatirkan. Apalagi mereka bersama sama seperti ini, bukan seorang diri seperti Ken dibawa saat itu.
Hanya saja, ada yang mengganjal di pikirannya. Kelakuan Felix menurutnya sedikit aneh. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan temannya itu. Lalu setelah ketujuh orang itu pergi, Kay mulai bersuara dengan pandangan menatap lurus pada Felix.
"Sejak kau kembali dengan membawa Leon dan rombongannya, kau terus saja tegang. Padahal walaupun melawan mayat hidup yang berjumlah tak terhitung, kau tidak sampai seperti ini. Apa ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu?"
Felix tidak menatap Kay sama sekali. Ia hanya terus menatap ke arah lain dimana para manusia sedang beristirahat dengan raut gelisah. Salah satu diantara mereka juga ketakutan hingga tubuhnya gemetar, "Tidak ada."
"Jangan bohong. Aku sudah tahu kebiasaanmu. Tidak banyak hal yang bisa membuatmu tegang seperti ini," sergah Kay.
"Aku benar baik baik saja. Tidak perlu mempedulikannya," Felix masih mengalihkan matanya dari Kay, seolah enggan menatapnya.
"Saat kau berbohong padaku ataupun teman yang lain, kau biasanya tidak mau menatap mata kami. Kebohonganmu itu terlihat jelas di mataku."
Felix akhirnya menatap Kay setelah mendengar ucapan itu. Ia berkata dengan tegas, "Apa sekaramg aku masih terlihat berbohong?"
__ADS_1
Kay terdiam sejenak dengan raut datar, "Iya, jelas sekali."
Felix terdiam. Padahal ia menatapnya agar Kay percaya ia tidak menyembunyikan apapun. Tapi apa yang ia lakukan malah membuat kebohongannya terlihat jelas.
"Aku tidak mau menanyakan ini, karena kupikir kau mungkin akan mengatakannya. Tapi karena kau tidak mengatakan apapun, jadi aku bertanya."
"Aku... Mn..." Felix.ragu ragu dalam mengatakannya. Ia yang biasanya teelihat bijaksana dan seperti pemimpin yang percaya diri kini malah terlihat kikuk.
Kay mengerutkan kening, "Jika kau tidak mau mengatakannya, aku tidak akan memaksa."
Felix menatap Kay dengan ragu. Walaupun temannya sudah mengatakan itu, namun tatapan matanya seolah mengatakan hal lain dan mendesak agar dirinya mengatakan jawaban yang Kay inginkan. Jika tidak ia jawab, Kay mungkin tidak akan mau mengajaknya berbicara sama sekali atau malah melakukan sesuatu yang membuatnya membuka suara.
Karena ia tahu, Kay orang yang mudah penasaran terhadap urusan orang lain dan terkadang selalu ingin ikut campur walau tidak semua orang suka urusannya dicampuri orang lain. Seperti Felix, ia tidak ingin urusannya dicampuri orang lain, bahkan oleh temannya sekalipun. Namun masalahnya, urusan ini juga mungkin ada kaitannya dengan kejadian di dunia iblis. Ia tidak bisa terus bungkam.
Kay sedikit terkejut, namun itu hanya terjadi sesaat dalam tatapan matanya. Ia mengalihkan perhatian ke samping, tempat dimana Felix sebelumnya menatap. Di jarak beberapa meter darinya, ia melihat orang yang sebelumnya pingsan kini sudah bangun.
Pria yang menurutnya merupakan manusia terkuat kedua setelah Melvin saat di gubuk tua itu. Pakaian atasnya dilepas dan menampakkan perban yang melilit separuh tubuhnya. Karena manusia itu terluka di bagian perut saat serangan tadi, lalu pingsan tak lama setelahnya.
"Apa yang dia lakukan?!" batin Felix sambil menatap arah lemparan belati. Ia bisa melihat tatapan marah dari pria yang melemparnya. Padahal sebelumnya dia baru saja sadar setelah mendapat serangan dari mayat hidup yang memiliki kemampuan. Lalu sebelum serangan tadi, ia baru saja sadar dan harus langsung bertarung demi hidupnya.
Sebenarnya Felix sedikit kagum dengannya. Walau dalam keadaan terluka, pria itu masih tetap bertarung dengan luka luka di sekujur tubuhnya. Dia adalah Lym.
"Karena kalian, teman temanku mati! Kalian harus bertanggung jawab!" teriak Lym dengan marah.
__ADS_1
Pria dengan satu kaki yang sadar hampir bersamaan dengan Lym tadi pun ikut berseru, "Iya! Kalian sudah membunuh teman kami! Jika saja kalian tidak lengah, mungkin saja teman teman kami tidak akan mati!"
Kay menatap datar pada kedua pria itu. Padahal ia merasa tidak pernah menjanjikan keamanan apapun pada mereka. Lalu kini mereka menuntutnya? Atas dasar apa? Ia dan teman temannya bekerja sama dengan Melvin, bukan dengan orang orang ini.
"Tidak tahu diri," ucap Felix dengan nada mencekam. Sontak saja ucapannya membuat Lym dengan pria satu kaki yang bernama Farel itu ciut.
Sebelumnya Felix tidak pernah menunjukkan sisinya yang sangat tidak ramah ini ataupun terkesan mengancam. Namun kini seolah waktu yang tepat untuk ia menunjukkan taringnya agar para manusia tidak seenaknya.
"Kematian teman kalian, bukan karena kami. Tapi karena kalian tidak bisa saling menjaga. Kalian lemah dan tidak bisa melindungi diri sendiri," ucap Felix dengan tatapan mengintimidasi.
Jelas saja tatapan disertai dengan aura mencekam yang menguar dari tubuhnya itu membuat siapapun tak bisa berkutik atau membalas. Bahkan Nix yang juga mendengarkan dari tadi sepertinya tak mau ikut campur walaupun Lym dan Farel adalah blizt yang ikut bersama ke dunia iblis.
"Apa yang dia katakan benar. Jangan salahkan kematian orang orang kalian, pada orang lain. Jika dia mati, maka karena dia lemah dan begitulah takdirnya," timpal Need.
Lym dan Farel terdiam merenung mendengar ucapan Need. Dibandingkan dengan iblis iblis ini, mereka memang bukanlah apa apa. Disaat ini juga, mereka bisa saja dibunuh dan mati di tempat.
Namun iblis iblis yang seharusnya menjadi target mereka dalam misi, kini malah membiarkan mereka hidup sampai saat ini dan bahkan sempat melindungi mereka sampai dua kali. Pertama saat mereka bertemu, lalu kedua adalah saat kejadian penyerangan mayat hidup yang memiliki kemampuan atau mayat Ralt.
Bukankah seharusnya mereka bersyukur jika masih ada yang tersisa dari kelompok mereka? Bahkan Melvin, yakni ketua mereka masih ada. Bukankah ini patut disyukuri? Jika sekarang mereka sudah membunuh iblis di dunia ini, mungkin ceritanya akan berbeda.
Bisa saja suatu waktu bukan hanya teman mereka yang saat ini sudah mati saja yang akan menjadi seonggok mayat. Namun mereka pun pasti sudah menjadi seperti itu setelah berurusan masalah dengan iblis karena membunuhnya.
Need tak menghiraukan apapun masalah antara iblis dan manusia di dekatnya. Ia lebih memilih untuk merenung karena Leon tidak mengajaknya saat berbicara pada Kite tadi. Padahal ia penasaran dan ingin ikut. Tapi pada akhirnya ia masih di sini dan tidak tahu pembicaraan yang sebelumnya Leon lakukan bersama beberapa orang lainnya.
__ADS_1
Setelah tidak mendengar ucapan para manusia, keheningan seketika melanda. Hanya suara desiran angin dingin yang terasa.