
Rafa menggertakkan giginya ketika mendengar ucapan Kevin. Ia merasa kesal ketika mendengarnya. Saat akan mengatakan sesuatu, ponselnya bergetar.
Triingg Tringg
Rafa mengambil ponsel di sakunya dan tertulis nama Nevan di ponsel. Ia pun mengangkatnya, "Ha-"
"KAU KEMANA SAJA?! PONSELMU TIDAK JUGA AKTIF. AKU MENELEPONMU BERKALI KALI! KENAPA KAU TIDAK BISA DIHUBUNGI?! KAU MEMBUATKU KHAWATIR!"
Rafa menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Suara Nevan sangat keras hingga membuat telinganya sakit, "Pelankan suaramu terlebih dahulu."
"Hah… Jadi kenapa kau tidak bisa dihubungi lebih dari satu bulan ini?"
"Ponselku rusak dan aku baru saja memperbaikinya kemarin. Karena itu, aku tidak tahu bila kau menelepon."
"Sebelumnya ponselmu baik baik saja. Ah–tidak, sekarang cepatlah pulang. Aku menunggu di depan rumahmu. Kenapa kau mengganti kunci pintunya? Aku jadi tidak bisa masuk karena itu,” ucap Nevan dalam ponsel.
Tanpa menjawab Nevan, Rafa langsung mematikan telepon dan menyimpan ponselnya ke dalam saku. Ia menatap Kevin sejenak, lalu segera pergi untuk pulang.
"Rafa, kau mau kemana?!" ucap Kevin. Namun ucapannya tidak dihiraukan dan Rafa pergi dari sana. "Ck."
Sesampainya di rumah, Rafa bisa melihat kehadiran Nevan di depan rumah. Pemuda itu duduk sambil menenteng tas di punggungnya.
"Kau malah mematikan teleponmu. Padahal aku sedang berbicara," kesal Nevan.
"Lebih baik menanyakannya di rumah saja. Akan aku jawab," balas Rafa sambil membuka kunci pintu. Ia pun masuk ke dalam, diikuti oleh Nevan.
"Hah.. Lelahnya..," Nevan duduk bersandar di sofa. Ia merasa kelelahan karena tidak tidur selama perjalanan. Ia melirik Rafa yang masih berdiri. "Hei, sekarang jelaskan padaku. Kenapa kau mengganti kunci pintu? Bahkan kau juga mengganti pintu itu. Setidaknya berikan padaku kuncimu yang baru agar aku bisa masuk."
"Aku akan mandi terlebih dahulu. Nanti akan kujawab," Rafa berjalan pergi meninggalkan Nevan sendiri di ruang tamu.
Nevan menutup matanya dan menghela nafas. Ia kembali membukanya sambil melihat ke langit langit rumah, "Entah hanya perasaanku saja.. Atau sifatnya memang sedikit berubah?"
***
Diva mengalami luka tusukan di perut bagian kirinya. Kepalanya pun berdarah. Ia perlahan berdiri setelah menghantam pohon. Bukan hanya dirinya yang terluka, namun Need pun demikian. Pemuda itu mengalami luka tusukan di bahu kanan dan dada kanan nya. Selain itu, bagian tubuhnya yang lain pun terkoyak.
Diva mengarahkan tangannya pada Need, seketika itu pula kabut merah yang terbentuk memanjang bergerak mendekatinya.
Need bergerak cepat untuk menghindar, karena serangan kabut tidak bisa ditebas dan terkena sedikit saja akan membuatnya terluka. Hal paling tepat untuk dilakukan adalah menghindarinya.
Tidak hanya diam, Diva pun bergerak menyerang Need menggunakan tombak. Ia merasa sedih karena Belle mati. Namun yang mengendalikan tubuhnya saat ini adalah kepribadiannya yang lain.
__ADS_1
Leon hanya diam melihat pertarungan keduanya. Ia benar benar menyerahkan Diva pada Need. Pandangannya teralihkan pada mayat Belle. Sekarang iblis wanita itu sudah berubah menjadi kepingan kristal berwarna merah muda.
"Mayat iblis akan berubah menjadi kristal saat berada di dunia manusia, ternyata itu benar. Apa ini karena energi di dunia ini berbeda dengan dunia iblis?" batin Leon. Ia berjalan mendekati kristal merah muda itu dan mengambilnya.
Ia sudah tidak merasakan energi kehidupan sama sekali. Namun ia bisa merasakan sedikit energi yang keluar dari batu kristal itu.
Leon mengeratkan kepalan tangannya dan menghancurkan kristal menjadi beberapa butir, "Lebih baik dihancurkan saja."
"Grrhh..," Need menggertakkan giginya. Tubuhnya terus terkoyak oleh kabut pencabik walaupun ia sudah menghindarinya secepat mungkin. Arah angin ikut berpengaruh menjadi penyebab tersebarnya kabut.
"Jika terus seperti ini, maka aku yang akan dirugikan. Aku harus memberikan luka besar padanya dalam sekali serang," batin Need.
Setelah mendapatkan ide, Need langsung melompat ke atas pohon dan membuat kabut pencabik mengikutinya. Ia melompat turun saat kabut hampir menjangkaunya.
Brukk
Cabang pohon besar langsung terjatuh ke tanah. Tidak hanya diam melihat, Need bergerak sambil melompati satu pohon ke pohon lainnya. Kabut pun mengikutinya hingga mengakibatkan terpotongnya cabang cabang besar lain.
Saat sudah berada di belakang Diva, Need melompat ke bawah sambil mengayunkan pedangnya.
Sraatt
Kabut itu mencabik cabik bagian tubuh Need. Tapi tidak hanya Diva yang bereaksi cepat. Need pun langsung berpindah tempat sebelum serangannya memberikan banyak luka.
"Tck," Need mendecakkan lidahnya saat muncul di atas pohon.
"20 detik."
Need terkejut dan menatap Leon. Ucapan itu membuatnya langsung syok. Ia pun menatap Diva kembali dan mengeratkan pegangannya pada pedang, "Itu mustahil. Tapi harus kulakukan."
Need menghilang dengan kemampuan teleportasinya. Ia pun muncul di depan Diva dan langsung mengaitkan kakinya hingga wanita itu terjatuh. Kabut langsung mengelilingi mereka pada saat itu juga.
Setelah melakukan itu, Diva menengadah ke atas. Ia membuat sebagian kabut pencabik mengelilingi tombaknya dan langsung menancapkan itu pada Need.
"Uhuk..," Need memuntahkan darahnya. Jika ia pergi dari sini, ia tidak akan bisa menghabisi wanita itu. Tapi bila tetap di sini, maka ia bisa mati.
"Sialan," Need menendang tubuh Diva dan membuat wanita itu melepaskan tombak darinya. Namun kabut itu langsung menyempit dan meremas bagian dalamnya.
Darah terciprat di tanah.
Whuuss
__ADS_1
Kabut menghilang dan menampilkan tubuh Diva yang terkoyak, namun iblis itu masih hidup. Sedangkan Need, ia berada tidak jauh dari sana karena berhasil berpindah tempat sebelumnya, "Padahal dia sendiri bisa terluka oleh kabut itu. Tapi dia bahkan tidak ragu untuk melakukannya."
"Uhuk.. Uhuk..," Diva terus terbatuk. Darah di setiap lukanya terus keluar dan membuat wajahnya menjadi pucat, "Dasar.. pengkhianat."
Need berjalan mendekati wanita itu. Ia memperhatikan keadaannya dengan ekspresi waspada, "Aku bukanlah pengkhianat. Aku melakukan ini untuk semuanya."
Diva menengadah ke atas dengan nafas yang tidak beraturan, "Benarkah? Hah.. Haha.. Tapi kau melindunginya dan bertarung denganku."
Need berekspresi datar, "Kau tidak perlu tahu. Maaf tapi aku tidak akan membiarkanmu hidup."
Jleebb
Need menusuk tepat di leher Diva dan membuatnya mati seketika. Ujung mata wanita itu tampak mengeluarkan air mata seolah sedih dengan apa yang terjadi. Setelah kematiannya, tombak pun menghilang.
"Aku... Berhasil melakukannya dalam waktu 20 detik," kaki Need tiba tiba melemas. Ia pun menghilangkan pedang miliknya. Nafasnya terasa sesak sekarang. Dadanya mengeluarkan banyak sekali darah hingga pada akhirnya tubuhnya berbaring di tanah.
Ia merasa ini sudah berakhir. Baik pertarungannya ataupun kehidupannya. Ia sudah tidak kuat. Pandangannya menjadi buram, tapi samar samar ia bisa melihat Leon yang berdiri menatapnya. Ia pun tersenyum sebelum pada akhirnya kegelapan menelan dirinya.
***
"Cepat bangun!"
Plaakk Plaakk Plakk
"Eung..," Need mengerjapkan matanya. Hal yang ia lihat pertama kali adalah wajah Leon, "Aa aku sudah di akhirat? Ada dua Raja Leon. Ah, ini pasti akhirat. Hehe, tidak buruk."
Leon berekspresi datar. Ia memukul wajah Need hingga hidung pemuda itu mengeluarkan darah, "A-ahh... Sakitt.."
"Cepat bangun atau kau ingin mati di sini?"
Need segera mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk setelah mendengar ancaman. Ia berkedip berkali kali dan memperhatikan wajah Leon seksama. Ternyata tadi hanya bayangannya saja. Nyatanya Leon hanya ada satu.
"Jika kau sudah sadar, bergeraklah. Carikan pakaian yang bagus untukku," ucap Leon tanpa basa basi. Ia pun berdiri.
Need memperhatikan pemuda itu dari bawah ke atas. Pakaiannya memang sangat ketat karena kecil. Bahkan karenanya, sedikit perutnya terlihat, "Kau pantas menggunakan itu," celetuknya.
"Need.. Cari. Sekarang. Pergi."
Melihat ekspresi dingin yang ditunjukkan Leon, membuat Need ketakutan. Ia dengan segera berdiri dan menghilang dari sana.
"Untuk sekarang aku harus membuat rencana," gumam Leon.
__ADS_1