Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 78 -Kabar Kematian


__ADS_3

Radolf tertegun ketika mendengar ucapan anaknya. Ia bisa merasakan ada rasa sedih dari setiap ucapan kata pemuda itu, "R-rafa.. Nak.. Tidak seperti itu.."


Rafa mulai mendongak untuk melihat wajah ayahnya, walau tidak begitu jelas, "Kalau begitu, kenapa? Kenapa.. Ayah tidak juga kembali menemuiku? Bukankah ayah.. Sudah mengatakan akan menjemputku lagi?"


Ia berusaha menahan rasa menekan di dadanya dan berusaha agar tidak ada nada yang bergetar. Ia sebenarnya senang bisa bertemu dengan ayahnya lagi, tapi ia merasa kesal, sangat kesal hingga perasaan itu meluap menjadi butiran air mata.


"Ayah..," Radolf kesulitan dalam menjawab pertanyaan itu. Jika ia menceritakan yang sebenarnya, apakah Rafa akan percaya? Lagi pula, kejadian itu pun sepertinya tidak begitu baik jika diceritakan.


Need mendengus. Ia langsung mengambil alih untuk menjawab tanpa ragu, "Dia tidak bisa menemuimu, karena terjadi perang antar Raja saat itu. Kejadiannya bisa terjadi karena dia sudah diketahui melanggar aturan di dunia iblis, larangan untuk berhubungan dengan manusia.


Setelah kejadian itu pun, dia langsung ditahan di kerajaan Raja Stev. Dia tidak bisa kabur dan disiksa untuk beberapa tahun. Karenanya..," ia menunjuk Radolf menggunakan tatapan mata dan dengan penuh penekanan pada katanya,


"..Leon sampai harus ikut campur dan mendapatkan masalah. Perlu kau tahu, apa yang kau lakukan tidak bisa dimaafkan. Karena kesalahan yang kau lakukan juga, para Raja iblis mendapat alasan untuk menyerang Leon karena menginginkan kekuatan kuno yang ada pada tubuhnya.


Padahal itu hanyalah pengalihan agar Raja Ralt.. Dia.. Agar dia bisa mengumpulkan banyak korban dari kejadian ini. Dengan begitu, dia bisa menghancurkan dunia iblis."


Need terdiam sejenak dan memperhatikan wajah Radolf. Ia kemudian melanjutkan, "Awalnya aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan untuk menghancurkan dunia iblis. Namun kemudian aku tahu.. Dia menanam pohon yang menumbuhkan kupu kupu yang dapat membunuh iblis.


Aku mengetahuinya, karena selama mencarimu, aku berkali kali menemukan mereka dan hampir mati karenanya. Karena kesalahanmu, kau tidak hanya melibatkan Leon, tapi kau juga sudah melibatkan semua iblis yang ada di dunia ini. Kesalahanmu, memberikan ancaman besar pada dunia."


Nada suara Need begitu serius dan mengandung emosi.


Radolf sedikit menunduk, "Aku tahu apa yang kulakukan adalah salah. Dan aku tahu itu tidak bisa dimaafkan," ia mengangkat wajahnya dengan wajah menatap Need, "Tapi aku tidak tahu maksud dari katamu yang lain."

__ADS_1


Nevan menatap Need dengan serius, "Tunggu–kau mengatakan tentang.. Leon? Kau tahu Leon? Apa maksudmu, dia adalah anak kecil yang terlihat berumur 10 tahun itu? Mata merah dan rambut hitam?"


Need menatap pemuda itu ketika mendengar pertanyaannya, "Ya, bisa dikatakan begitu. Tapi itu hanyalah penyamarannya saja selama dia hilang ingatan. Apa kau mengenalnya saat di dunia manusia? Hah, kebetulan sekali bisa bertemu di sini."


Senyuman sinis terbentuk di wajah Nevan, "Kau sudah melihat penampilan asliku. Tapi kenapa kau tidak langsung menyerang? Bukankah kau adalah blizt? Yah.., walaupun kau tidak begitu kuat. Tapi kenapa kau tidak mencoba membunuhku? Bukankah kalian para blizt akan langsung menerjang iblis saat menemukannya?


Kau tidak tahu jika aku adalah iblis saat di dunia manusia, karena itu kau bisa bersikap begitu santai padaku. Tapi sekarang, kau sudah tahu identitasku. Apa kau tidak merasa waspada? Apa kau tidak merasa terancam? Kau tidak mau menyerang?"


Nevan terdiam sesaat mendengar penuturan dari Need. Itu memang benar. Ia kini tahu identitas asli Need sebagai iblis. Mungkin Need bisa mengatakan hal ini karena sudah tahu jika dirinya adalah blizt sejak pertama bertemu. Jika dia tahu sejak awal, bahkan tanpa ia memperlihatkan kemampuan blizt nya, maka Need bukanlah iblis biasa. Ia sendiri tidak tahu jika Need iblis dan baru mengetahuinya sekarang.


Kekuatan mereka mungkin terlampau jauh. Nevan tidak akan bisa menang jika melawan. Di sisi lain, ia juga harus menanyakan beberapa hal pada Need, jadi ia tidak mau memancing permusuhan di sini.


"Tidak, tergantung situasinya nanti. Lagi pula, sejauh yang kutahu, kau sepertinya tidak menyerang manusia manapun," balas Nevan dengan tenang.


Need mendengus. Ia tersenyum mengejek, "Kau mengatakannya seolah bisa menyerangku saja. Bahkan hanya menggoresku, kau takkan bisa."


"Kita akan lihat saja nanti. Lagi pula, kau pun sepertinya banyak terluka. Aku bisa mencium bau darah yang pekat darimu. Bukan hanya darah dari orang lain, tapi ada juga darahmu sendiri. Kau tahu, aku memiliki penciuman yang tajam terhadap bau."


Need berekspresi masam ketika mendengar ucapan pemuda di hadapannya. Apa yang diucapkan pemuda itu tidak salah. Ia memang mengalami banyak luka ketika tertangkap basah oleh Stev. Selain itu, ia juga mendapat dampak dari pertarungan para raja.


Ditambah lagi, ia mendapat luka selama mencari keberadaan Radolf. Keadaannya memang tidak cukup baik sekarang ini. Lukanya memang perlahan sembuh, namun ada racun yang menghambat regenerasi tubuhnya.


"Walau begitu, apa kau yakin bisa menghabisiku?" Need kembali tersenyum, "Perlu kau tahu, aku adalah salah satu panglima. Yang artinya, aku bukanlah iblis biasa yang bisa kau habisi dengan mudah."

__ADS_1


"Kita akan lihat nanti," Nevan tidak mau kalah. Ia ikut memasang senyuman percaya diri.


Rafa menghapus air mata yang ia keluarkan. Ia menangis bukan karena sedih, namun emosi yang terlalu besar hingga tidak bisa ia bendung. Dengan cepat, ia berdiri diantara Need dan saudaranya.


Ekspresinya terlihat dingin ketika berbicara, "Kesampingkan hal itu untuk sekarang. Aku ingin mendengar lebih banyak tentang Leon dan apa yang sebelumnya dikatakan olehmu."


Need melirik Rafa dan hendak meremehkan, namun ia langsung membeku ketika melihat tatapan mata Rafa. Tatapannya begitu menusuk dan mirip dengan Leon hingga ia merasa kesulitan saat menelan ludah. Tapi ini bahkan lebih dingin dibandingkan Leon.


Radolf tertegun ketika Rafa kini mengacuhkannya dan tidak mau berhadapan dengannya. Ia sedikit sedih ketika melihat itu.


"Apa kau tahu dimana Leon sekarang?" tanya Rafa tanpa mengalihkan tatapannya dari Need.


Need bernapas pelan dan mulai menatap pemuda itu dengan dingin, "Kau tidak akan pernah bisa menemukannya. Bahkan jika kau mencarinya sampai ujung dunia ini sekalipun."


"Apa maksudmu?" Nevan menyela.


"Dia sudah mati. Dia sudah mati sekarang. Bahkan bila kau mencarinya sampai ujung dunia, kau tidak akan pernah bisa melihatnya lagi. Hanya untuk melihat jasadnya pun, kau tidak akan bisa. Karena.. Jasadnya telah dimakan oleh monster..," nada suara Need menjadi bergetar ketika mengatakan kalimat terakhirnya. Ia berada di sana, namun ia tidak bisa menolong jasad Leon. Ia.. Ia telah gagal.


Tidak lama setelah Raja Stev dan Silvia bertarung, gerombolan monster datang menyerang. Mayat Leon yang pada saat itu terlempar cukup jauh dari istana karena angin kejut dari pertempuran para Raja iblis berada di dekat monster dan langsung menjadi santapan.


Itu bagaikan mimpi buruk bagi Need yang menyaksikannya. Ia yang selama ini selalu bersama Leon dan menjadi mata mata untuknya malah tidak bisa menolong jasadnya. Bahkan selama Leon bertarung, ia tidak bisa melakukan apapun.


Nevan dan Rafa tidak bisa menahan rasa keterkejutan mereka. Bahkan Radolf pun sama terkejutnya. Ia tidak mendengar berita ini dari Need sebelumnya.

__ADS_1


Mereka sama sekali tidak menyangka dengan pernyataan dari Need yang mengatakan Leon telah mati. Bahkan.. Jasadnya dimakan oleh.. Monster?


__ADS_2