
Ken tidak mempedulikan apa ucapan Need. Ia hanya melirik lengannya sebentar dan kembali terfokus pada musuh.
Leon dengan cepat kembali berdiri tegak dan melawan tekanan kuat dalam pundaknya. Dalam sekejap, dirinya menghilang dan muncul di hadapan Ralt.
Tringg
Triingg
Detik kemudian, suara sunyi itu berubah menjadi dentingan senjata yang beradu. Tidak membiarkan Leon bertarung sendiri, Ken pun masuk dalam pertarungan. Menggunakan pedang berbilah tajam yang tersarung di pinggangnya, ia memberikan bantuan cukup besar pada Leon hingga membuat Ralt beberapa kali terus termundur dan berada dalam posisi bertahan.
Ralt tidak menunjukkan ekspresi apapun. Namun matanya yang kini hanya berwarna putih sedikit menyeramkan jika dilihat terlalu lama. Padahal mata hijaunya sangat indah, tapi mata itu harus lenyap bersama dengan Ralt yang kini mati dan menjadi mayat hidup.
Kite memperhatikan pertarungan yang semakin lama semakin cepat. Gerakan yang dilakukan mereka membuat hembusan angin kuat menerpa tubuhnya. Bahkan kini pepohonan terus bergetar terkena serangan nyasar ataupun hantaman tubuh.
Gerakan mereka seharusnya sangat sulit dilihat mata. Namun Kite bisa melihatnya, berbeda dengan Need yang sejak tadi terus gelisah karena tidak tahu dimana keberadaan musuh ataupun Raja nya.Tidak ikut campur adalah pilihan terbaik untuk saat ini.
Pertarungan terus berlangsung tanpa melibatkan pihak Kite ataupun Need. Mereka setia menjadi penonton dari pertarungan yang menyebabkan kerusakan di hutan ini.
"Apa yang dikatakan pemuda uban itu benar. Setelah lama bertarung, dia mengeluarkan beberapa kemampuan yang tadi dikatakannya. Pertama saat dia hampir melukai Leon, dia membuat kami tertekan. Padahal antara dia dan aku, jelas aku lebih kuat. Jadi dia sudah menggunakan kemampuan gravitasinya.
Lalu kedua, dia juga sudah menggunakan kemampuan teleportasi selama menghadapi mereka berdua dan saat kedatangannya. Ketiga, bergerak cepat. Dan terakhir tidak terlihat. Hanya kemampuan pengendali darah yang belum dia lakukan," batin Kite. Wajahnya amat serius memperhatikan detail dari apa yang dilakukan mayat Ralt.
Baru saja memikirkan itu, Ken tiba tiba mengerang dengan gigi menggertak. Tubuhnya berhenti menyerang dan terlihat begitu kaku seperti pergerakan tubuhnya dihentikan secara paksa.
Leon pun sampai ikut berhenti bertarung untuk melihat apa yang terjadi. Lawan melakukan hal sama. Dia diam di tempat tanpa bergerak lagi. Ini 'lah yang membuat Leon berani tidak menyerang, walau dirinya masih sesekali memperhatikan lawan.
Belum lama Ken mengerang, benda runcing panjang mencuat dari dalam tubuhnya. Bahkan bagian kepala pun tak lepas dari keluarnya benda panjang itu, "Uhuk...."
Batuk dengan adanya darah keluar dari mulut Ken. Luka luka tusukan mengeluarkan darah begitu banyak dalam satu waktu hingga membuat genangan darah kecil di bawahnya.
Kite terkejut bukan main saat melihat bahwa benda yang menusuk pemuda berambut putih itu adalah darah yang entah bagaimana bisa menajam seperti duri besar.
Keluarnya benda itu hanya sesaat sebelum akhirnya tubuh Ken ambruk ke tanah dengan kerasnya. Tak ada degupan jantung ataupun deru napas darinya. Ia sudah mati hanya dalam sekali gerakan tangan Ralt.
__ADS_1
Rasanya Kite seperti terhantam batu besar. Itu adalah kemampuan yang berbahaya. Ini memang bukanlah pertama kalinya ia melihat kemampuan ini. Tapi walau demikian, mau sampai berapa kalipun ia melihatnya, tetap saja membuatnya terkejut dan tertegun hingga tak bisa mengatakan sepatah kata pun.
Saat sedang fokusnya Kite menatap Ken, Need menghilang secara tiba tiba dan muncul di hadapan Kite dengan tangan mengepal kuat.
Bughhh
Leon menoleh sesaat dari Ken ke tempat suara hantaman terdengar. Keningnya berkerut dengan samar ketika melihat Need yang melakukan pukulan pada Kite, namun Di pihak lain, Kite menahannya.
Swusshh
Leon tersentak saat Ralt sudah ada di depannya. Ia hendak bertahan atau hanya sekedar menangkis serangannya saja. Namun, ia tidak bisa bereaksi. Alhasil, sebuah pukulan mengenai perutnya dengan telak.
Bugh
Leon terlempar cukup jauh dari tempatnya berada. Dedebuan sampai tercipta akibat hantamannya pada sebuah batu besar.
Batu yang ukurannya 5 kali lipat dari manusia bahkan sampai harus terbelah menjadi beberapa serpihan.
Leon sedikit terbatuk. Darah keluar dari pelipisnya hingga menutupi sebelah matanya dengan lelehan darah merah. Ia meringis karena tidak menyangka Ralt akan muncul tiba tiba di depannya tanpa ia duga sama sekali. Ia pun terlambat bereaksi yang membuat kejadian ini terjadi.
"Kau sudah membuat dunia ini menjadi kacau. Tapi sekarang, kau menjadi bagian dari mayat hidup yang kau munculkan untuk kekacauan ini?" Leon menggeleng dan mendesah napas berat, "Kau memang tidak memiliki harga diri."
Tidak mempedulikan ucapan Leon, Ralt langsung menerjang dan menyerang. Namun serangan pukulan yang kali ini ia lesatkan, berhasil dihindari Leon dengan baik.
Pukulan itu segera menghancurkan batu yang sudah hancur menjadi kepingan kepingan menyerupai pasir dengan warna gelap.
Leon melirik sesaat ke tempat mayat Ken. Tidak ada kegelisahan atau khawatir dalam raut wajahnya. Ia tetap memberikan ekspresi dingin, "Ck, aku jadi harus bertarung sendiri. Sejujurnya dia cukup membantu selama bertarung melawan si brengs*k ini," batinnya.
Disisi lain, tidak hanya Leon yang harus berjuang mati matian melawan Ralt dan mempertaruhkan nyawanya dalam pertarungan ini. Namun Kite pun demikian. Ia harus mempertahankan dirinya dari serangan bertubi dari Need.
Pemuda yang biasanya terlihat acuh tak acuh pada orang lain, namun begitu penurut dengan Leon itu melakukan serangan habis habisan pada Kite.
Kite sendiri heran dan bingung dengan apa yang dilakukan Need. Kenapa pemuda itu tiba tiba melawannya bahkan dengan niatan membunuh? Ia merasa tidak menyinggung Need sama sekali. Tapi pemuda itu sampai berusaha keras membunuhnya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau malah menyerangku disaat ada musuh seperti ini?! Bahkan di saat pemuda beruban itu mati!" pekik Kite dengan tak paham. Ia menghindari serangan Need terus menerus dan berusaha untuk tidak melukainya.
Walau begitu, Kite sudah memunculkan pedangnya untuk berjaga jaga bila Need melakukan serangan mematikan padanya.
Need tak menjawab. Ia hanya terus menyerang dengan pandangan mata yang kosong. Berkali kali ia akan pindah tempat dan muncul di titik buta Kite. Namun untungnya Kite masih bisa mengatasi itu walau sedikit sulit.
"Matanya...," Kite tersentak saat menyadari sesuatu. Ia diam tanpa membuka suara. Namun sorot matanya berubah menjadi semakin serius.
"Padahal aku berencana untuk menyuruhnya membawa 'dia' kemari. Tapi sepertinya itu akan sulit karena keadaan bocah acuh tak acuh ini sedang dikendalikan," batin Kite.
"....Tapi kenapa bisa? Siapa yang mengendalikannya? Apa ini ulah dari mayat hidup itu?"
Karena mengetahui keadaan Need yang sebenarnya, Kite pun mulai melakukan tangkisan hingga serangan. Ia tidak akan terus berada di posisi bertahan sedangkan tahu Need sedang dikendalikan. Ia tidak mau mempersulit dirinya sendiri dengan tidak melukai Need.
Tapi ia juga tidak bisa memberikan luka fatal untuknya. Ia ingin Need membawa seseorang kemari dan mengakhiri hidup dari mayat Ralt yang sulit ditangani.
Ketika Kite fokus menyerang Need, ia tak sadar jika ada perubahan pada mayat yang seharusnya sudah tergeletak di tanah. Mayat yang sudah memiliki lubang lubang di tubuhnya itu tiba tiba mengeluarkan asap hitam tipis di sekitar luka.
Tak lama, semua memar bahkan luka tusukan dari tubuhnya menghilang seperti tak pernah terjadi apapun padanya. Namun pakaiannya yang compang camping sudah memberikan bukti jika kejadian penusukan tadi bukanlah ilusi.
Jari jari tangannya bergerak. Matanya yang sempat terpejam kini terbuka, memperlihatkan kilatan merah dari pupil matanya. Napas yang sebelumnya terhenti pun kembali berderu disertai detakan jantung yang kuat memompa darahnya ke seluruh tubuh.
Padahal ia seharusnya telah mati karena tusukan dan kehabisan darah. Namun kini wujudnya tidak terlihat seperti orang yang membutuhkan darah.
"Ck, menyebalkan. Aku sampai harus mati 3 kali dan ini keempat kalinya. Mayat brengs*k," gumamnya dengan suara amat pelan. Kepalanya ia tolehkan ke sisi kiri dan seketika penampakan dari pertarungan besar terlihat. Angin kejut darinya bahkan sampai membuat tubuhnya yang tergeletak terhempas hingga menabrak batang pohon yang telah tumbang.
Ia mendesah pelan dan segera bangkit dari posisi tidurnya. Dirinya berkacak pinggang dan mulai merenggangkan otot di lehernya hingga suara seperti 'ctak' terdengar.
"Kali ini aku tidak akan membiarkannya melakukan hal sama seperti ini," gumamnya. Dalam sekejap mata, ia kembali ikut dalam pertarungan Leon.
Leon yang sedang bertarung melawan Ralt pun sedikit terkejut dengan bantuan tiba tiba ini. Namun ia sama sekali tidak terkejut dengan Ken yang kembali bernapas.
"Kau sepertinya kesulitan menghadapi mayat ini, akan kubantu," ucap Ken dengan senyum manis yang ia perlihatkan kepada Leon sesaat.
__ADS_1
Dalam sekejap pula, pertarungan Leon beralih menjadi pertarungan antara Ralt dengan Ken. Kedua iblis itu bergerak sangat cepat dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa jeda.
Ralt seolah tidak mempermasalahkan jika lawannya berganti. Ia hanya terus menyerang secara membab* buta.