Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 35 -Bertarung Lagi


__ADS_3

Leon jadi cemas mendengar kabar itu. Ia juga merasa bersalah. Ia merasa kejadian seperti ini takkan terjadi bila ia tidak berada di sini. Karena kehadirannya, pada akhirnya mengundang bahaya bagi Rafa maupun Kevin.


"Apa kau adalah Leon? Rafa mengkhawatirkanmu. Jadi aku datang untuk mencarimu dan membawamu ke tempat aman," ucap Teddy.


Leon tersadar dari lamunannya, ia pun mengangguk membenarkan pertanyaan Teddy. Ia ingin segera menemui Rafa dan Kevin untuk memastikan keadaan mereka secara langsung.


"Kalau begitu, ikutlah denganku. Aku akan mengantarmu ke tempat mereka berada sekarang," Teddy berjalan keluar terlebih dahulu, lalu diikuti oleh Leon.


Mereka masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana. Jalanan awalnya sangat ramai saat mereka lalui, namun lama kelamaan jalan yang dilalui semakin sepi. Jalan pun sedikir gelap karena ditutupi oleh banyak pohon besar. Bangunan di sekitar tak terawat dan berlumut.


"Kapan kita akan sampai?" ucap Leon. Ia merasa curiga sekarang. Diliriknya Teddy yang duduk di kursi pengemudi.


Teddy menghentikan mobilnya setelah jalanan di depan sudah tidak ada dan kini mobilnya berada di atas tanah berumput. Ia pun turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Leon sambil tersenyum, "Kita sudah sampai."


Leon turun dari mobil. Ia melihat sekitarnya dan berjalan mengikuti kemana Teddy melangkah, "Apakah memang ini jalannya? Kenapa sangat sepi? Apa mereka pergi ke tempat seperti ini?" batinnya.


Setelah jauh dari mobilnya berada, Teddy berhenti. Hal ini pun membuat Leon menghentikan langkahnya, "Apa kita sudah sampai?"


Teddy membalikkan tubuhnya setelah menerima pertanyaan itu. Ia memiringkan kepalanya, "Ya, kita sudah sampai. Kita sudah sampai di tempat dimana kuburanmu akan berada," ia menggigit ibu jarinya hingga berdarah dan langsung mencoret telapak tangan kirinya dengan itu. Sebuah tanda tombak yang disilangkan muncul.


Tombak terbentuk di tangan kirinya dengan cepat. Setelah terbentuk sepenuhnya, Teddy memutarnya dan menghantamkan bagian tumpulnya ke tanah. Seketika, angin langsung bertiup dan menerbangkan beberapa dedaunan di sekitar.


Melihat tombak itu, Leon merasakan sensasi yang tidak asing seolah sudah pernah melihat tombak itu.


"Apa kau ingat dengan luka yang kau buat di leherku?" Teddy menunjuk leher bagian kanannya yang ditutup oleh kain kasa dan plester.


Melihat reaksi Leon yang waspada, namun seolah tidak mengerti, membuat Teddy kembali bersuara, "Jika kau tidak mengingatnya, seharusnya kau mengingat senjataku. Aku sudah pernah menusukmu dengan ini. Mungkin jika aku menusukmu sekarang, kau akan mengingatnya."


"Dia pasti... Blizt, seperti yang dikatakan Need," batin Leon. Ia menjadi waspada terhadap Teddy. Pantas saja sejak tadi ia merasa ada sesuatu yang mengganjal. Ternyata seperti ini.

__ADS_1


"Kau ternyata sudah membohongiku," ucap Leon dengan ekspresi datar.


"Aku tidak berbohong padamu sepenuhnya. Keadaan Rafa dan Kevin, itu memang benar. Identitasku pun benar. Aku tidak berbohong. Terserah kau mau percaya atau tidak, itu bukanlah urusanku.


Tapi saat tahu kau adalah iblis yang berbahaya, aku tidak bisa membiarkanmu mendekati Rafa. Kau sudah menipunya dan menyembunyikan jati dirimu yang sebenarnya. Aku tidak tahu apa tujuanmu, namun tidak akan kubiarkan kau mendekati Rafa lagi," ucap Teddy.


"Keadaan mereka..., memang benar seperti itu?" gumam Leon. Ia mengeratkan kepalan tangannya. Jika Teddy sudah tahu tentang identitasnya sebagai iblis, bukankah tidak masalah jika ia menunjukkan kemampuan yang ia bisa?


Leon memanjangkan kukunya. Posisinya siap untuk bertarung. Apapun yang terjadi, ia harus melihat kondisi Rafa dan Kevin.


"Hoo~ ternyata kau ingin melawan ya? Baiklah," Teddy langsung mengayunkan tombaknya ke arah Leon. Namun, Leon membungkukkan tubuhnya dan berhasil menghindarinya.


Dalam sekejap, Leon menghilang dari tempatnya berada dan muncul di samping Teddy. Sayangnya, pria itu bisa membaca gerakannya yang terbilang lambat untuknya. Leon mengayunkan tangannya untuk melukai pria itu.


Namun, Teddy langsung jongkok untuk menghindarinya. Tidak hanya itu, tangannya bergerak mengayunkan tombak untuk mengincar kaki Leon.


Tombak pun diangkat untuk ditancapkan pada tubuhnya, Leon pun berguling ke samping. Pada saat tombak tertancap, retakan muncul di tanah dan seolah mengejar Leon yang berguling.


Tubuh Leon berhenti. Lalu saat melihat retakan yang mendekatinya, ia segera melompat ke atas.


Tidak membiarkannya menarik nafas dengan tenang, Teddy mengubah tombaknya menjadi busur. Ia memunculkan anak panah dan memusatkan titik tembakannya.


Pada saat Leon menapakkan kaki di tanah, panah pun langsung melesat mendekati Leon. Anak itu menyadarinya, namun ia tidak bisa menghindar.


Jlebb


Bahunya tertancap panah dan tak lama menghilang. Leon merasa kesakitan, namun ia tidak mempedulikannya dan langsung berlari menuju sebuah pohon untuk berlindung di baliknya.


"Cih meleset," ucap Teddy. Seolah sedang berburu hewan buruan, ia tidak melepaskan Leon begitu saja. Panahnya tidak akan bisa sampai menembus ke balik pohon untuk menancap Leon. Itu tidak efektif. Karenanya, ia mengubah busur menjadi tombak.

__ADS_1


"Kau pikir bisa bersembunyi di sana selamanya?"


Dilemparnya tombak itu ke pohon dimana Leon berada.


Kreekk Kreekk


Tombak menancap dengan baik. Pada saat itulah, pohon langsung mengalami retak seolah akan tumbang. Menyadari hal itu, Leon langsung pergi dari sana dengan cepat sebelum pohon menimpa tubuhnya.


Braakk Bruukk Bruukk


Benar saja, pohon itu langsung terjatuh. Leon menghela nafas sesaat. Untungnya ia sempat untuk fokus memulihkan diri. Ternyata memulihkan diri sambil bertarung itu sangat sulit. Kefokusannya harus dibagi.


Teddy mengangkat tangan kanannya ke atas. Seketika, tombak yang menancap di pohon tercabut dan kembali ke tangan pemiliknya.


"Gerakannya tidak sama seperti sebelumnya. Dia tidak sebuas saat itu," batin Teddy.


"Tunjukkan saja dirimu yang sebenarnya. Aku sudah tahu kau adalah iblis, jadi kau tidak perlu ragu ragu lagi untuk menyerangku," ucap Teddy untuk memanas manasi Leon.


Sayangnya, Leon tidak terpengaruh oleh kata kata seperti itu. Tanpa menunggu Teddy menyerang lebih dulu, Leon segera berlari mendekati pria itu dan menyerangnya lebih dahulu.


Tringg Tringg


Kuku Leon dan tombak Teddy saling bertabrakan hingga menghasilkan suara besi yang saling bertubrukan. Padahal itu bukanlah senjata, melainkan hanya kuku Leon, tapi suara itu terdengar seperti senjata yang begitu tajam.


Dorongan Leon saat menyerang, tidak sekuat pertamakali mereka bertemu. Teddy merasa heran dengan itu dan berfikir mungkin itu terjadi karena dia pernah melukai tubuh Leon dengan parah. Tapi karena dia iblis, seharusnya bisa menyembuhkan lukanya dengan lebih cepat dibanding manusia.


Sekilas Teddy melihat bahu Leon yang sudah ditusuknya. Di balik kain yang berlubang di sana, ia tidak melihat ada bekas luka sama sekali. Ia langsung terkejut saat melihatnya, bahkan sampai melompat mundur untuk menjauh dari Leon.


"Bagaimana bisa dia menyembuhkannya secepat itu? Ini adalah senjata yang digunakan blizt, bukan senjata biasa. Seharusnya itu akan membutuhkan waktu hampir seharian untuk menyembuhkannya bagi iblis. Tapi dia..?" batin Teddy. Ia tidak akan percaya bila tidak melihatnya sendiri seperti ini. Serangan yang ia lakukan bisa sembuh dalam waktu kurang dari satu menit.

__ADS_1


__ADS_2