
Leon melihat adanya kesempatan saat Teddy lengah. Ia bergerak mendekati pria itu dan melompat ke arahnya sambil mengayunkan tangan berkuku tajam miliknya.
Teddy terkejut, namun ia sempat bereaksi. Ia menahan serangan Leon dengan tombak miliknya. Tetapi anak itu menggunakan tombaknya seperti alat miliknya sendiri.
Leon menggunakan tombak untuk bergelantungan sesaat, lalu menggunakan kakinya untuk menendang tubuh Teddy.
Tubuh Teddy terhuyung ke belakang, sementara Leon menggunakan tubuh pria itu sebagai pijakan untuk menjauh darinya.
Teddy jongkok dengan salah satu lutut yang menyentuh tanah, "Aku lengah hanya karena melihat lukanya sudah sembuh. Jika saja aku tidak menyadari serangan itu, aku sudah mendapatkan luka yang cukup serius," batinnya.
Teddy menatap Leon yang masih terdiam di tempatnya setelah menyerang dengan cara seperti itu, "Kenapa kau tidak melakukannya dengan serius seperti saat itu? Apa kau meremehkanku?"
Leon terdiam. Ia tidak mengerti dengan ucapan Teddy. Ia sudah melakukannya dengan sangat serius. Selain itu, kenapa dia mengatakan kata 'saat itu' seolah sudah pernah melawannya?
"Dalam pertarungan, tidak mengerahkan seluruh kekuatanmu sama saja dengan kau meremehkan lawan," Teddy perlahan berdiri dengan bantuan tombaknya.
"Aku tidak meremehkanmu, aku serius melawanmu."
Teddy menatap Leon seksama saat mendengar ucapannya, "Jika kau serius, seharusnya kau bisa melukaiku seperti saat itu."
"Apa yang kau maksud saat itu? Aku tidak pernah melawanmu," balas Leon.
"Walaupun keadaan saat itu agak gelap, tapi bagaimana bisa kau tidak mengingatnya? Kejadian itu belum lama. Baru malam kemarin. Saat kau berusaha untuk memangsa manusia, aku menghentikanmu."
"Memangsa... Manusia?" Leon terkejut dengan ucapan Teddy. Apa maksud ucapan pria itu? Kapan ia pernah melakukannya? Bahkan ia saja baru tahu bila dirinya adalah iblis. Bagaimana mungkin ia memangsa manusia saat sebelumnya berpikir dirinya sendiri manusia?
Teddy tidak mau mendengarkan penjelasan Leon. Ia pun kembali menyerangnya.
***
"Kevin! Apa yang terjadi? Kenapa kau sampai seperti ini? Bukankah ibu sudah bilang agar menjadi anak yang baik? Apa kau masih berkelahi dengan anak anak lain?!" ucap seorang wanita berambut panjang dan berpakaian seperti model.
Sekarang ini, Ibu dan Ayah Kevin berada di rumah sakit untuk menengok keadaannya. Sebelumnya, Rafa sudah menelepon sejak semalam bila Kevin berada di rumah sakit. Namun mereka baru bisa datang siang ini, karena baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
"Tanganmu..! Astaga...! Kenapa kau seperti ini? Apa kau ingin mempermalukanku di depan para bawahanku, Kevin?!" ucap ayahnya dengan raut penuh amarah. Ia tidak terima dengan keadaan Kevin yang kini menjadi cacat satu tangan.
"Maksudmu Kevin membuatmu malu, hah?! Ini terjadi karena kau tidak bisa mengajarkannya berperilaku dengan baik di sekolah!" balas Ibu Kevin. Ia tampak marah saat anaknya disebut 'memalukan' oleh suaminya sendiri. Padahal Kevin merupakan anak kandung mereka.
"Lalu aku harus mengatakan ini akan baik baik saja?! Ya ampun, tamat sudah perusahaanku! Bagaimana bisa penerusku cacat seperti ini?"
"Ayah! Kevin anak kita, dia tidak mempermalukan mu ataupun aku! Apa kau sadar dengan yang kau ucapkan?!"
"Itu kenyataannya! Bagaimana bisa dia menjadi cacat seperti ini? Ini pasti hanya mimpi, ini tidak nyata! Aku tidak akan pernah memperkenalkan penerus yang tidak sempurna seperti ini!"
"Ini salahmu! Kenapa kau tidak mendidiknya dengan baik?!"
"Seharusnya itu adalah salahmu! Kau'lah ibunya. Tugas wanita untuk membesarkan dan mendidik anak! Apa kau tidak tahu hal seperti itu?!"
"Aku lelah bekerja dan tidak memiliki waktu untuk itu!"
"Kau memiliki banyak waktu luang, kau hanya menjadi model biasa! Sementara aku, aku adalah pemimpin dan pemilik perusahaan! Aku memiliki banyak tugas, tidak sepertimu! Sudah seharusnya kau'lah yang mendidiknya dengan baik. Bagaimana caramu mendidik selama ini sampai dia bisa menjadi anak yang liar dan cacat seperti ini?!"
"Apa?! Kau masih menyalahkanku?! Apa kau tidak berkaca pada dirimu sendiri?! Berhentilah menyalahkanku atas segala sikap yang dia lakukan di sekolah!"
"Aku muak denganmu! Kau selalu menyalahkanku! Padahal sebaiknya dulu aku tidak menikah denganmu! Aku menyesal sudah mengenalmu!"
Wanita itu pergi dari ruangan Kevin dengan hentakan kaki yang keras. Ia kesal, marah, tapi juga sedih. Meskipun ia selalu bertengkar dengan suaminya, tapi tak pernah ia katakan kata menyesal sudah bertemu dengannya.
Ayah Kevin menatap Kevin dengan tidak suka, "Ini semua karenamu! Jika saja kau tidak lahir, kehidupan kami mungkin tidak akan sampai seperti ini."
Setelah mengatakannya, Ayah Kevin ikut pergi. Namun ia tidak mengejar istrinya, tapi pergi ke tempat lain. Ia begitu marah mendengar kata kata itu. Berdebat dengan istrinya selalu membuatnya muak. Saat bertemu selalu saja ribut.
Kevin diam tak bergeming dari tempat tidur rumah sakit. Ia mencengkram selimutnya dengan kuat. Kepalanya tertunduk. Mereka memang selalu ribut seperti ini. Selalu saja ada topik yang mereka ributkan. Tapi kali ini apa yang mereka katakan sangat menyakiti hatinya.
Tidak ada dari mereka yang mengharapkan kehadirannya. Mereka menganggapnya sebagai beban. Apalagi setelah ia kehilangan satu tangannya, mereka menjadi semakin enggan. Selain itu, ucapan yang dikatakan ayahnya, itu adalah kata kata yang sangat mengoyak hatinya.
Jika ia adalah beban, mengapa mereka membuatnya terlahir?!
__ADS_1
Ia muak dengan semua ini. Ia tidak tahan! Mengapa hanya dirinya yang diberikan ujian yang begitu berat seperti ini?!
Kevin melepaskan infus dengan bantuan giginya. Ia tidak mau terus berada di sini. Rasa sakit dan ngilu yang ia rasakan setelah mencabutnya tidak bisa ia rasakan. Ada hal yang lebih menyakitkan dari itu.
Kakinya ia turunkan dari kasur secara perlahan. Ia pun mulai berjalan. Walaupun seluruh tubuhnya terasa sakit karena serangan semalam, ia tetap menggerakkannya. Ia akan pergi ke tempat dimana ia tidak akan merasakan rasa sakit ini lagi.
***
"Hah... Hah... Hah... Kau boleh juga.." Ucap Teddy dengan kelelahan. Ia menggunakan tombaknya agar bisa terus berdiri dengan tegak.
Setelah bertarung cukup lama, ia dan Leon akhirnya berhenti. Mereka sama sama kelelahan dan kehabisan tenaga untuk terus melanjutkannya.
"Jujur saja, aku penasaran denganmu. Kenapa kau terus, hah... Hah.. Memperlihatkan wajah seperti itu? Tidak pernah ada iblis yang menunjukkan ekspresi sepertimu, hah.."ucap Teddy dengan terengah engah.
Keadaan Leon tidak hanya lelah, ia juga menerima beberapa tusukan dan goresan di tubuhnya. Tapi ia mencoba memfokuskan diri untuk menyembuhkannya. Walaupun begitu, Leon masih memperhatikan Teddy dengan seksama. Ia tidak akan lengah padanya, "Apa maksudmu?"
"Sekeras apapun kau menyembunyikan ekspresi aslimu, aku masih bisa melihatnya. Kau sedang khawatir. Ekspresi yang sama bahkan sebelum kita bertarung. Kau mengkhawatirkan dua orang itu, hah.. hah..
Aku aneh denganmu.. Baru pertama kali aku menemukan iblis sepertimu. Bukannya mengkhawatirkan diri sendiri, kau malah mengkhawatirkan manusia yang bisa menjadi mangsamu. Sebenarnya apa yang kau pikirkan?"
Tombak yang menopang tubuhnya kini menghilang dengan sendirinya. Sedangkan, tubuh pria itu langsung tersandar di bawah pohon.
"Jika kau ingin menemui mereka, mereka berada di rumah sakit XX. Kau hanya perlu menanyakan nama mereka ke petugas rumah sakit," Nafasnya tidak beraturan dan darah yang keluar dari dadanya tidak juga mereda. Wajahnya begitu pucat, seolah akan segera menemui ajalnya.
"Sebenarnya, aku ingin mengatakan sesuatu padamu," dengan sekuat tenaga, Teddy menatap Leon yang bersandar di pohon berseberangan dengannya.
"Rafa... Dia benar benar mengkhawatirkanmu. Dia sudah menganggapmu sebagai adik. Jangan kecewakan dia. Lalu Kevin, dia... Tidak terima dengan keadaan tangannya. Selain itu, aku mendengar keadaannya dari Rafa.., bila orang tuanya tidak akur dan selalu bertengkar. Hal itu membuat Kevin selalu melampiaskannya dengan bertarung. Dia pasti... Menanggung penderitaan yang besar selama ini.
Aku harap.. Kau tidak menambah beban padanya. Sejujurnya... Aku berpikir kehadiranmu hanya akan membawa masalah pada mereka. Kejadian yang terjadi semalam... Itu hanya awal. Aku memang tidak tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya, namun kau pasti akan melewati banyak kejadian seperti ini. Aku tahu kau berbeda dari iblis lain.. Karena itu, jangan mengecewakan pemikiranku."
Teddy semakin kesulitan untuk berbicara. Setiap ia mengatakan sesuatu, maka darah yang keluar akan semakin bertambah. Rasa sakitnya pun semakin terasa.
"Sayang sekali aku tidak bisa membunuhmu. Ahhh.., aku jadi merindukan Katly... Dia sangat manis.. Dia mirip dengan ibunya... Aku berharap bisa segera bertemu dengan istriku."
__ADS_1
Setelah ucapan itu, tidak ada kata kata yang keluar dari mulut Teddy. Jantungnya berhenti berdetak, begitupun dengan nafasnya yang berhenti berhembus.
Leon terdiam di tempatnya. Ia mengalami beberapa luka yang cukup fatal, namun karena kemampuannya, ia bisa mengatasi hal itu. Ia sejak tadi terus mendengarkan tiap kata Teddy dengan baik. Mendengarnya mengatakan semua itu, ia jadi berpikir bila Teddy tidak seburuk yang ia pikirkan.