
Ken yang berada di samping Kite nampak mengerutkan kening. Seorang manusia yang masih terlihat muda menunjuk iblis yang ada di sampingnya dengan amarah. Ia tidak tahu siapa manusia itu ataupun orang yang dimaksud olehnya.
"Tunggu, apa hubunganmu dengannya? Lalu siapa Rafa yang kalian bahas?" Ken akhirnya membuka suara.
Ini membuat Nevan yang berapi api segera mengalihkan matanya dan menatap pemuda asing yang terlihat sedikit lebih muda darinya. Padahal Leon tidak pergi dengan orang ini sebelumnya. Karena itu, ia tidak mengenal pun tidak menjawab pertanyaannya.
Nevan yang tidak memberikan jawaban membuat Leon yang angkat berbicara, "Dia manusia...., em... Teman. Lalu Rafa, dia juga sama."
Ken berkedip tanpa bisa berkata kata. Ia sedikit takjub ternyata ada manusia yang mau berteman dengan Leon. Apalagi Leon yang mengatakannya sebagai teman.
"Kite, aku ingin mendengar penjelasanmu. Apa benar, kau membunuh Nevan saat malam itu?" Leon mengalihkan topik dan menatap Kite dengan pandangan serius.
Kite melirik Leon sekilas dan menjawab tanpa lama, "Iya, aku yang melakukannya dengan pedangku."
Kening Leon berkerut samar, "Kenapa?"
"Karena dia beban."
Leon menetralkan ekspresinya. Namun berubah menjadi dingin, "Atas dasar apa kau membunuhnya hanya karena beban? Kau tahu dia adalah manusia yang memiliki hubungan baik denganku 'kan? Kau juga sebelumnya bercerita bertemu Nevan saat di dunia roh. Kau senang bertemu dengannya. Lalu kenapa kau membunuhnya?"
Kite terdiam sejenak. Ia melihat wajah Leon dan mulai menilik sekeliling. Bukan hanya Leon yang menatapnya, tapi semua orang yang ada di sini memperhatikannya juga.
Napasnya ia hembuskan perlahan dan berucap dengan datar, "Aku ingin melihat bagaimana reaksi Rafa jika melihat manusia yang dekat dengannya mati."
"Kenapa kau tiba tiba membawa nama Rafa?" Leon tentu saja menjadi heran. Ia tidak mengerti jalan pikiran Kite.
Ekspresi Kite berubah serius, "Mungkin.... Sebagian dari kalian semua tidak akan percaya, tapi aku ini bisa melihat jiwa seseorang. Bahkan bila wajahnya berubah, jiwanya tidak akan berubah. Jadi aku akan tahu siapa seseorang itu walau dia menyamar atau berubah sekalipun."
Leon masih menunggu kelanjutan cerita Kite tanpa mau memotongnya. Namun berbeda dengan Nevan, "Lalu apa maksudmu, hah? Langsung bicara saja intinya, jangan berbelit belit!"
Kite menarik napas sejenak dan melanjutkan, "Untuk sekarang, bisakah hanya kalian berdua saja yang mendengar penjelasan ini? Aku tidak ingin ada orang lain yang mendengarnya. Apalagi manusia yang baru saja kukenal."
Nevan tersentak. Ini membuat emosinya semakin tersulut, "Memang kenapa?! Ceritakan di sini, apa susahnya? Biarkan semua orang mendengar omong kosongmu itu!"
Kite masih saja sabar untuk mengatasi Nevan. Ia akui, pemuda itu pasti sangat marah padanya karena sudah membunuhnya semalam. Tapi seharusnya manusia itu takut padanya karena ia pernah menjadi pembunuhnya. Namun nyatanya tidak begitu. Nevan menunjukkan rasa tidak suka secara terang terangan tanpa takut akan dibunuh lagi oleh Kite.
"Baiklah jika itu yang kau mau. Tapi berikan penjelasan yang masuk akal," sahut Leon.
Nevan menolak dengan tak terima, "Jangan terima ucapannya begitu saja! Dia sudah pernah membunuhku, dia pasti ingin melakukan hal yang sama kali ini. Ketika aku dan kau hanya bersamanya, dia pasti akan membunuh kita!"
__ADS_1
"Tidak akan ada yang bisa membunuhku," balas Leon tanpa ekspresi.
Ucapannya langsung membuat Nevan bungkam. Kata kata itu mengingatkannya dengan ucapan Leon semalam. Saat mengatakan bahwa jiwa yang terpisah menjadi dua tidak bisa mati kecuali dalam waktu bersamaan.
Melvin mulai ikut bersuara dengan nada marah, "Aku juga membutuhkan penjelasanmu! Kenapa kau membunuh anakku?!"
"Kau membawa nama anakku! Aku harus tahu apa maksudmu," tambah Radolf.
Kite mendecakkan lidah namun segera menyetujuinya. Mereka semua memiliki hubungan dengan alasan ini.
"Lalu aku? Leon! Aku ikut 'kan?" ucap Ken dengan wajah memelas.
"Tidak, kau tunggu di sini dulu."
"Ayolah, aku ikut ya? Ya? Aku boleh ikut kan?" rengek Ken.
"Tidak. Jangan pergi kemana mana. Tugas untukmu, jaga Kay dan Fel. Mereka mungkin butuh bantuan."
Sambil berlalu dari hadapan Ken, Leon pun berjalan beriringan dengan Nevan. Orang orang yang bersangkutan terus mengikuti Kite hingga berada cukup jauh dari tempat sebelumnya.
"Sekaramg katakan alasanmu, sialan!" teriak Nevan tanpa basa basi.
"Baikah, akan kukatakan."
Leon kini memperhatikan dengan seksama apa saja yang diucapkan Kite. Ia memasang telinga baik baik agar tidak salah dengar.
"Seperti yang kukatakan sebelumnya. Aku ingin mellihat reaksi anak itu jika orang yang dekat dengannya mati. Karena dari yang kulihat, warna jiwanya memang sama dengan Leon. Tapi yang membedakannya, seperti ada benda asing yang menyatu dengannya. Entah kenapa aku tiba tiba berpikir itu seperti 'dia'."
Leon mengerutkan kening, namun masih menunggu lanjutan dari Kite.
"Siapa yang kau maksud? Katakan dengan jelas!" desak Nevan.
"Osmond."
Ucapan singkat dari Kite itu seketika membuat Leon menegang. Itu adalah nama yang pernah ia dengar atau baca sebelumnya. Tapi riwayat dari nama itu tidak bagus sama sekali. Bahkan sangat buruk, "Kenapa kau membawa nama itu? Nama yang kau maksud sudah mati ribuan tahun lalu."
Radolf pun memiliki ekspresi serupa dengan Leon saat ini. Sepertinya dia juga tahu siapa yang dimaksud.
Kite menggeleng, "Tidak, dia belum mati. Dia tiba tiba menghilang saat terluka parah. Hanya bawahannya saja yang mati, tapi itu pun... Jiwanya tidak bisa dihancurkan."
__ADS_1
"Kalau begitu..., apa maksudmu Rafa adalah dia? Atau dia masuk ke dalam tubuh Rafa dan menjadi satu dengannya?" tebak Leon.
Kite menyahut, "Tebakan keduamu hampir benar dengan tebakanku. Tapi tidak seperti itu. Aku sempat memikirkan ini sebelumnya. Kenapa jiwamu menjadi dua? Apa alasannya? Seharusnya jika bereinkarnasi lagi, kau hanya akan menjadi satu orang, bukan 2.
Kejadian seperti ini tidak pernah terjadi dan pasti memiliki sebab. Tidak mungkin kalian bereinkarnasi dari satu orang menjadi dua orang yang berbeda."
"Reinkarnasi?" Radolf mengerutkan kening dengan sangat, "Maksudmu, Leon adalah reinkarnasi?"
Kite mengangguk, "Itu tidak diragukan lagi. Jiwa Leon sama dengan jiwa yang pernah kutemui dulu, tapi dia sudah mati. Lalu sekarang aku melihatnya lagi, namun dalam wujud berbeda sebagai Leon dan yang kulihat, dia berjiwa setengah."
Leon membalas cepat, "Siapa dia? Siapa jiwa yang dulu kau temui dan sama denganku?"
Kite bungkam. Ia terlihat enggan untuk menjawab. Ada sesuatu yang tidak ia katakan dan sembunyikan dari Leon.
"Kau tidak menjawab. Bahkan aku sendiri tidak tahu identitasmu yang sebenarnya. Bagaimana bisa aku percaya dengan ucapanmu?"
"Ya! Kau juga seenaknya mengatakan bila Rafa adalah Os... Os.. Osdont!" sergah Nevan.
"Hush! Yang benar Osnot!" timpal Melvin.
Radolf kembali menimpali kedua ucapan anak dan Ayah itu, "Osmond."
Melvin terkesiap mendengar ucapan Radolf. Ia ingin menimpalinya. Tapi melihat ekspresi Radolf yang terlihat serius itu membuatnya mengurungkan niat. Aura di sekitar adik iparnya itu terasa sedikit berubah.
"Bahkan jika aku cerita, belum tentu kalian akan percaya," ucap Kite dengan datar.
"Lalu bagaimana aku bisa percaya dengan ucapanmu jika aku tidak tahu identitas aslimu? Tergantung dengan penjelasanmu, aku akan mendengarkan. Tapi jika kau tidak mau mengatakannya, maka aku tidak bisa percaya tentang yang kau katakan tadi," balas Leon.
Kite terdiam dan menimbang nimbang kata apa saja yang harus ia ungkapkan. Leon tidak akan percaya jika dia hanya mengatakan alasannya membunuh Nevan karena Rafa yang ia pikir sebagai Osmond.
Apalagi Leon baru saja mengenal Kite. Bila dibandingkan mempercayainya, Leon akan memilih untuk percaya pada Nevan dan mungkin akan ikut mengatakan bila Kite pengkhianat.
Kite juga harus mempersiapkan diri untuk menceritakan beberapa hal yang tidak mau ia ingat. Lebih tepatnya, tak ingin dikatakan pada orang lain. Tapi untuk bisa membuat Leon percaya, maka ia harus mengatakan kejujurannya.
"Aku adalah masa lalu dan nama asliku Oliver," ucap Kite.
Tidak berhenti, Kite kembali melanjutkan ucapannya, "Salah satu iblis yang ikut berperang di garis depan dan berkontribusi paling banyak di perang dahulu. Perang... Melawan Osmond ribuan tahun lalu."
Leon tidak berkedip sama sekali. Ia terperangah atas ucapan Kite barusan. Oliver? Salah satu iblis yang berkontribusi paling besar saat perang melawan Osmond? Bukankah seharusnya dia menghilang setelah perang besar itu selesai?
__ADS_1