
Flynn berhenti saat merasa cengkraman tangan Rafa mulai melemah. Ia menatapnya dengan rendah. Tidak ada pergerakan apapun diantara kedua manusia ini, "Cih, sangat membosankan."
Ia melepas kakinya dari Rafa dengan kuat. Karena cengkraman tangannya yang melemah, Rafa tidak bisa menahan kakinya terus menerus. Ia melihat sekitar. Aura Leon benar benar menghilang.
"Aku tidak menemukannya," gumam Flynn. Ia mendesir, "Kalian sedang beruntung aku sedang mencari seseorang. Jika tidak, kalian sudah mati sekarang. Jangan muncul di hadapanku lagi jika kalian tidak mau mati."
Setelah mengatakan itu, Flynn pergi keluar rumah. Ia tidak peduli dengan keadaan penghuni manusia di rumah ini.
Rafa merasa lega karena akhirnya Flynn keluar dengan sendirinya. Ia merasa sangat lemas. Tubuhnya penuh dengan luka lebam karena pria itu.
Ia tengkurap di lantai setelah pemukulan tadi. Pandangannya menatap tempat Kevin berada. Tidak ada pergerakan sama sekali dari temannya membuatnya cemas. Ia perlahan berdiri dengan bantuan siku tangannya dan berjalan dengan kesulitan.
Setelah berada di tempat Kevin berada, ia terduduk di sampingnya. Ia membalikkan tubuhnya hingga wajah temannya menghadap ke langit langit rumah. Mata temannya menutup dengan kening yang mengeluarkan darah hingga mengenai mata.
Hatinya seolah terpukul ketika melihat keadaannya. Ia memanggilnya berkali kali. Namun, tidak ada respon darinya. Ia mengecek nafas dan detakan jantung. Semua masih berfungsi dengan normal. Hanya saja, nafasnya sedikit tidak teratur, "Aku... Harus segera mengantarnya ke rumah sakit."
Rafa tidak memiliki kendaraan mobil. Ia hanya memiliki motor. Namun mengemudi dengan keadaan seperti ini akan berbahaya. Ia perlahan berdiri dan pergi mengambil ponsel yang disimpan di meja dapur. Dalam keadaan seperti ini, orang yang ia pikirkan untuk dimintai bantuan hanyalah satu.
Rafa mulai menelepon nomor seseorang yang ada di ponselnya. Tak butuh waktu lama sampai orang yang ia telepon mengangkatnya, "Paman, aku minta tolong. T-tolong antarkan aku ke rumah sakit."
***
"Cepat kembalikan aku ke sana!" desak Leon.
Need menggelengkan kepalanya. Walaupun itu keinginan dari Leon sekalipun, ia masih menolaknya. Karena apa yang diminta Leon akan membahayakan dirinya sendiri. Ia tidak akan membiarkan Leon berada dalam bahaya. Dalam pikirannya, tidak masalah bila kedua manusia di dalam rumah itu terluka atau mati sekalipun, asalkan Leon baik baik saja.
"Apa kau tidak mendengarku?! Cepat bawa aku kembali!" Leon semakin mendesak. Ia begitu khawatir dengan keadaan orang orang di rumah, namun tidak ditunjukkan dengan ekspresinya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menjamin dia sudah pergi sekarang. Karena itu, tunggulah sampai besok siang tiba. Aku akan mengembalikanmu setelah itu," ucap Need.
"Aku tidak bisa menunggu selama itu! Kau pikir aku harus diam saja di sini dengan tenang, sementara mereka berhadapan dengan orang berbahaya?!" ucap Leon dengan suara yang meninggi.
"Lalu apa yang bisa kau lakukan? Bila sampai di sana pun, tidak ada yang bisa kau lakukan sekarang."
Leon menggertakkan giginya. Ia tahu bila dirinya tidak bisa melakukan apapun, tapi menunggu tanpa melakukan apapun seperti sekarang adalah sesuatu yang sulit. Karena kesal, ia langsung memukul pohon di dekatnya hingga membuat cekungan di pohon itu.
Need hanya diam ketika melihat tindakan Leon. Ia tidak bisa mengatakan apapun padanya sekarang.
***
"Apa yang terjadi?!" Teddy terkejut saat melihat keadaan Rafa dan Kevin di depan rumah. Rafa duduk sambil memangku kepala Kevin yang sedang pingsan. Keadaan mereka begitu berantakan.
Rafa menggertakkan giginya. Ia sulit untuk menjelaskan, "Aku akan mengatakannya nanti. Aku mohon tolong antarkan aku ke rumah sakit paman."
Rafa mengangguk. Ia meletakkan kepala Kevin di lantai dan mulai berdiri dengan kesulitan.
Melihat gerak gerik Rafa saat memapah tubuh Kevin, Teddy langsung mengambil alih. Ia menarik tubuh Kevin dari Rafa. "Kau juga terluka. Aku yang akan membawanya ke mobil. Kau bukakan pintu."
Rafa mengangguk. Ia segera keluar gerbang dan membuka pintu mobil yang ada di depan rumah. Teddy pun membaringkan Kevin di kursi belakang. Mereka segera berangkat setelah selesai.
Teddy mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Untungnya tidak banyak kendaraan yang melintas, jadi ia bisa menyelipnya.
Teddy melirik sebentar Rafa yang duduk di sampingnya, "Sebenarnya apa yang sudah terjadi?"
Rafa menceritakan semua yang terjadi pada Teddy. Bisa dikatakan, mereka memang cukup dekat karena Teddy yang selalu mencoba untuk menawarinya memburu sesuatu yang tidak ia tahu. Lebih tepatnya, belum dijelaskan oleh pria itu.
__ADS_1
Selain itu, Teddy adalah Ayah dari teman sekelasnya. Saat pembagian hasil belajar pada saat kelas 1 semester kedua mereka bertemu. Jadi sudah setahun lebih mereka saling kenal. Karena itulah, mereka cukup dekat.
Teddy terdiam setelah mendengar cerita dari Rafa. Sepertinya yang menyerang mereka bukanlah manusia, tapi iblis. "Untuk sekarang, kau harus menenangkan dirimu terlebih dahulu. Jangan panik, kau sudah aman."
Rafa melirik Teddy. Pria itu sepertinya mengerti perasaannya saat ini. Ia mengangguk. Sekarang yang penting adalah pergi ke rumah sakit secepatnya. Temannya membutuhkan pertolongan yang memadai.
"Kau juga harus memeriksa kondisimu. Tanganmu sepertinya terluka," ucap Teddy.
"Bila dibandingkan dengan Kevin, aku baik baik saja. Jadi tidak perlu," balas Rafa.
"Tidak, kau juga harus memeriksa dirimu. Jika kau tidak mau, aku akan menolak untuk mengantarmu ke rumah sakit," Teddy menghentikan mobilnya.
"K-kenapa berhenti?"
Teddy melirik Rafa sejenak, "Caramu mengangkat dan memapah tubuhnya tadi, sudah pasti ada bagian tubuhmu yang terluka cukup parah. Karena itu, kau harus memeriksanya. Jika kau menolak, maka aku juga menolak untuk mengantarmu ke rumah sakit."
Rafa menghela nafas, "Baiklah, aku akan memeriksa diriku nanti. Yang penting, kita harus ke rumah sakit."
Teddy tersenyum dan mengangguk. Ia pun mulai menjalankan mobil, "Baiklah."
Keesokan harinya, Kevin terbangun. Ia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Ia berada di sebuah ruangan ber cat putih dan terlihat seperti rumah sakit. Sekilas ia teringat dengan kejadian dimana seorang pria masuk ke dalam rumah dan membuatnya kehilangan tangan.
Ia pun melirik tangan kirinya yang saat itu terpotong. Ia tidak bisa menggerakkannya. Tangannya pun diperban. Itu bukanlah mimpi. Tangannya benar benar terpotong dari bagian siku, "Tidak mungkin... Ini pasti mimpi..."
Ia tidak bisa percaya dengan kenyataan yang ada di depan matanya. Ini begitu membuatnya syok. Tangan kanannya meremas kasur yang menjadi tempatnya tidur sekarang. Ia juga sampai memukul mukulnya berkali kali berharap bila apa yang terjadi hanyalah mimpi.
Tapi mimpi ini begitu nyata. Ini bukanlah khayalan, namun dunia yang nyata. Ia bisa mengingat saat saat yang terjadi di rumah Rafa. Semuanya, dengan detail.
__ADS_1
Kevin menutupi matanya dengan tangan. Ia menggigit bibirnya dengan lelehan air mata yang keluar dari sela sela tangannya. Ia begitu terpukul saat kehilangan satu tangannya. Ia kini menjadi cacat dengan satu tangan. Ia tidak bisa menerima ini.