Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 64 -Reinkarnasi


__ADS_3

*Flashback POV Ralt


Di ulang tahunku yang ke 16 tahun, aku malah mendapati nasib sial. Saat aku perjalanan pulang ke rumah pada malam hari, tanpa sengaja aku malah bertemu dengan gerombolan serigala. Aku sampai puluhan menit berlari menjauhi mereka, namun para serigala itu terus mengejar dan tidak mau melepaskanku.


Aku semakin termundur ke belakang saat puluhan serigala mengepungku dari segala arah. Mereka terlihat menakutkan. Mata mereka berkilat merah di hutan yang gelap ini.


Saat aku semakin mundur, serigala serigala itu semakin berjalan mendekatiku perlahan. Aku ingin berbalik dan berlari, tapi tidak kurasakan permukaan tanah di telapak kaki yang berada satu langkah di belakang. Bahkan aku mendengar suara jatuhnya buliran tanah tanpa terdengar suara jatuhnya ke permukaan.


Sekarang apa yang harus kulakukan? Serigala itu semakin mendekat, aku pun terkepung. Tidak ada jalan untuk lari. Aku termenung memikirkan ide untuk keluar dari masalah ini. Namun, aku terlalu lama berpikir hingga salah seekor serigala melompat untuk menerkamku.


Aku terkejut karena baru saja sadar dari lamunan. Aku dengan refleks langsung memundurkan langkah. Namun yang kulakukan justru membuatku terjatuh.


"Aaakhhhh...," aku berteriak takut. Angin menerpa tubuhku dengan kuat, membuatku semakin ketakutan.


Sesuatu yang tajam segera menusuk punggungku yang jatuh terlebih dahulu. Aku bisa merasakan cairan hangat yang keluar dari sela sela tubuhku yang terluka. Kesadaranku menurun. Rasanya benar benar sakit hingga aku ingin berteriak. Tapi, sesuatu yang tajam itu juga menusuk bagian leherku, membuatku tidak bisa berbicara.


Langit yang gelap dan berawan itu menjadi buram dalam pandangan, lalu mulai menghitam. Leherku tercengkat seperti berada di ujung kematian. Waktu seperti bergerak melambat untuk sesaat, hingga aku tidak bisa merasakan apapun lagi.


***


Aku segera mendudukkan posisi tubuhku. Keringat membasahi kening hingga pakaian yang kukenakan, "Hah...! Uhuk.. Uhuk.."


Aku terbatuk karena mengingat saat saat ketika kematian menjemput. Itu sangat menyakitkan. Tanpa sadar, mataku langsung berair.


"Kau sudah sadar?"


Aku langsung melihat ke samping dan kulihat seorang gadis cantik dengan kulit putih yang sangat mulus disertai dengan sepasang tanduk, namun salah satunya terlihat patah. Raut wajahnya nampak gelisah dan khawatir. Aku langsung berekspresi bingung. Aku tidak pernah melihatnya, "Kau.. Siapa?"

__ADS_1


Dia nampak terkejut. Sesaat dia pun terdiam. Mungkin dia sedang memikirkan jawaban untuk pertanyaanku? Tidak, tatapan itu lebih seperti rasa bersalah.


"Maaf, karena kakak, kau jadi terkena imbasnya. Tapi terimakasih sudah datang dan menolong kakak dari perampok di waktu yang tepat," ucapnya.


Aku mengernyit ketika mendengar penjelasannya. Apa maksudnya? Menolongnya dari perampok? Kapan aku pernah melakukan hal itu? Aku bahkan tidak ingat jika aku pernah menolong iblis lain.


Saat aku akan membalas ucapannya, dia langsung melanjutkan, "Tapi karena menolong kakak, kau sampai terluka parah. Bahkan mungkin, kau juga hilang ingatan karena terbentur batu. Maaf..., Maaf.. Kakak membahayakanmu... Maaf kakak malah mencelakaimu.."


Dia mulai menangis tersedu sedu. Dia berusaha untuk menghapusnya, namun air mata itu tidak kunjung reda. Aku menjadi iba melihat gadis cantik sepertinya menangis seperti ini. Aku memegangi pergelangan tangan yang dia gunakan untuk menutupi wajahnya, "Jangan menyalahkan dirimu. Aku baik baik saja."


Seketika aku terdiam sesaat ketika melihat ukuran tangan yang kuulurkan padanya. Kenapa kecil sekali? Apa tanganku memang sekecil ini? Tidak–aku selalu memperhatikan diriku sendiri. Aku sudah berumur 16 tahun, tidak seharusnya tanganku sekecil ini. Ukurannya bahkan lebih mirip seperti anak 10 tahun. Apa ini? Apa yang terjadi?


Lamunanku seketika buyar saat gadis itu langsung memelukku dengan erat sambil menangis, "Maaf.. Lain kali aku pasti akan menjagamu. Aku akan menjadi kuat untukmu. Aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi. Aku janji."


Aku menjadi gugup saat dia memelukku tiba tiba. Bukannya aku tidak suka dipeluk oleh gadis cantik, hanya saja, aku tidak terbiasa memeluk seorang wanita, bahkan aku tidak pernah memeluk ibuku sendiri sejak umur 8 tahun, karena dia meninggal saat itu.


Dia segera melepaskan pelukannya dariku hingga membuatku bisa bernapas lega. Aku mencoba menenangkan debaran jantung yang kuat ini. Dia ini benar benar membuatku hampir pingsan!


Dia mulai menghapus kembali air matanya tanpa menyadari wajahku yang sudah merah padam. Aku mengalihkan wajah ke arah lain dan menggerutu dalam hati untuk mengalihkan pikiranku.


"Terimakasih.. Terimakasih Crocel. Aku akan menjadi lebih kuat lagi agar bisa melindungimu. Aku tidak akan membiarkanmu terluka. Kau satu satunya keluarga yang kumiliki sekarang."


Aku tertegun ketika mendengar ucapannya. Buru buru aku mengalihkan perhatianku padanya lagi, "C-crocel? Siapa itu?"


Dia terlihat sedikit bingung dengan pertanyaanku, namun dia segera tersenyum seolah memaklumi pertanyaanku. Astaga, dia benar benar cantik! Seumur hidup aku tidak pernah bertemu gadis secantik dia!


"Crocel, itu adalah namamu. Lalu namaku adalah Cecyl. Aku adalah kakakmu."

__ADS_1


Aku sangat terkejut ketika mendengar ucapannya. Aku menggeleng dengan refleks, "Tidak–namaku–"


Aku seketika tertegun ketika menyadari sesuatu. Aku melihat sebuah cermin cukup besar yang terhalang tubuh gadis di depanku. Yang kulihat bukanlah tubuh yang terlihat berumur 16 tahun ataupun seperti remaja. Yang kulihat adalah tubuh anak anak yang terlihat seperti kisaran 10 tahun. Keningnya dililit oleh kain putih dan meninggalkan bekas darah di sana.


Aku melebarkan mata karena tak percaya dengan yang kulihat. Aku beranjak dari tempat tidur yang terbuat dari anyaman bambu dan segera mendekati cermin. Aku menepuk pipiku dan pantulan cermin itu melakukan hal serupa. Aku pun mulai mencubit hidung dan pantulan itu kembali melakukan apa yang kulakukan.


Kini aku mencibit pipiku dengan keras dan lagi lagi, pantulan itu mengikutinya. Aku menggelengkan kepala tak percaya. Apa yang terjadi? Tubuhku? Kenapa tubuhku menjadi kecil? Kenapa namaku menjadi Crocel? Sejak kapan aku memiliki kakak?


Aku terdiam dan merenungi apa yang terjadi. Gadis yang memperkenalkan dirinya sebagai Cecyl itu memperhatikanku. Aku bisa melihat pantulan ekspresinya dari cermin. Dia kembali khawatir seperti tadi. Aku pun buru buru membalikkan tubuhku padanya agar dia tidak memelukku dengan tiba tiba seperti tadi.


"A-aku baik bail saja, k-k-kakak tidak perlu khawatir. Ya, aku baik baik saja. Kakak tidak perlu cemas. Ingatanku pasti menghilang karena terbentur batu seperti yang kakak ucapkan tadi," aku mencoba memberikan respon sebaik mungkin padanya.


"Kau yakin?" Cecyl terlihat tidak percaya dengan ucapanku.


Aku mengangguki ucapannya berkali kali. Dia pun menghela nafas berat dan beranjak dari tempat duduk yang dia duduki. Dia berjalan mendekat, jantungku kembali berdegup dengan kencang. Aku khawatir dia akan memelukku seperti tadi.


"Kalau begitu, sebaiknya kau istirahat sekarang. Jangan banyak bergerak, nanti luka luka itu kembali membuka. Kakak akan membuatkan makanan untukmu."


Aku mengangguk cepat dan dia pun berlalu dari hadapanku. Aku menghela nafas karena apa yang kupikirkan ternyata salah. Aku kembali menghadapkan diri pada cermin. Wajah ini benar benar asing. Aku tidak mengenalinya.


Tiba tiba aku merasakan sakit di kepala, tangan dan kakiku. Aku melihat jika semua bagian tubuh yang kurasakan sakit kini terlilit oleh kain putih. Aku meringis sakit, namun rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit sebelumnya.


Aku segera duduk ke tepi tempat tidur dan merenungi apa yang sudah terjadi. Aku masih hidup walaupun sudah tertusuk tanah tajam yang ada di jurang. Namaku menjadi Crocel, lalu aku memiliki kakak. Tubuh kecil, dan wajah asing. Apa jangan jangan.. Aku.. Bereinkarnasi?


Aku menggelengkan kepala tak percaya. Apa benar seperti itu? Tapi bagaimana bisa? Aku bahkan tidak pernah berpikir jika aku bisa seperti itu. Aku hanyalah iblis lemah yang tinggal di pinggiran kota dekat dengan hutan. Aku tinggal bersama dengan ayah dan adik laki lakiku. Aku tidak memiliki kekuatan hebat atau jabatan tinggi di suatu kerajaan. Aku hanya penjual kayu bakar yang setiap hari menjual kayu ke pasar.


Bagaimana iblis sepertiku ini mendapatkan kesempatan kehidupan kedua? Apa ini salah satu keberuntunganku? Tapi, apapun itu, aku senang. Aku senang bisa hidup kembali. Namun di sisi lain, aku merindukan keluargaku. Aku merindukan cerewetnya ayah dan menyebalkannya adikku. Sekarang tidak ada mereka, rasanya sepi sekali.

__ADS_1


__ADS_2