
Melvin berdiri dengan luka di sekujur tubuhnya. Mayat hidup yang menyerang ternyata lebih gesit dibandingkan mayat hidup sebelumnya. Ia sampai dibuat kesulitan oleh ratusan dari jumlah mereka.
Namun sekarang, semua mayat itu hangus terbakar dengan dirinya yang ada di tengah tengah mereka.
Bruukk
Melvin berlutut di tanah. Ia sudah tidak kuat. Kakinya sampai lemas dan tidak bisa mempertahankan posisi berdirinya. Ia juga menekan dadanya yang berdenyut sakit. Wajahnya pucat, serangan dari satu mayat hampir saja membunuhnya andai suatu penghalang transparan tidak muncul dan api yang terlempar membakar mayat hidup.
Keadaan di sekitar pun tak kalah parah. Tanah menjadi cekung dan berlubang setelah ledakan yang dihasilkan lemparan bola api. Sebagian tanah pun ikut hangus karenanya.
Dari kejauhan, Felix berjalan melewati mayat hidup yang sedang terbakar. Ia mendekati Melvin dan berdiri di hadapannya. Saat itu pula, penghalang transparan di sekitar pria itu menghilang, "Ternyata kau bertahan dengan baik. Kupikir kau akan mati."
Melvin menengadah walau kesulitan. Napasnya tersenggal senggal tidak beraturan, "Kau melakukannya sesuai... Rencana."
Felix menaikkan sebelah alisnya, lalu mendengus ketika paham, "Kau pikir aku berbohong?"
"Dimana dia? Iblis dengan ikat kepala itu?"
"Ray? Dia sudah kembali setelah melemparkan api."
"Kalau begitu, kita juga harus kembali," Melvin mencoba untuk berdiri, namun ia malah terjatuh. Ia mengerutkan kening dengan ekspresi menahan sakit.
"Kau sudah bertarung melampaui kemampuanmu sendiri. Untuk sekarang lebih baik diam saja di sini."
Melvin mengatur napasnya dan berusaha untuk menatap Felix, "Karena aku sudah melakukannya, kalian akan mengembalikan bawahanku ke dunia manusia 'kan?"
"Ya, tentu saja–" Felix tiba tiba menghentikan ucapannya. Ia berbalik ke belakang dan menatap jauh ke depan dengan tatapan serius, "Ada seseorang... Yang datang."
Melvin tersentak. Ia langsung melihat jauh ke depan walau sama sekali tidak merasakan kedatangan siapapun.
Api yang membakar mayat semakin mengecil sebelum akhirnya mati dan mayat menjadi debu dengan cepat. Pencahayaan pun menjadi sedikit.
Pada saat yang bersamaan, angin kencang berhembus dengan cepat dan benturan senjata terdengar bersamaan dengan angin yang bertiup.
Debu debu beterbangan, abu hitam bekas pembakaran mayat ikut terhembus terbawa angin.
Saat dedebuan menghilang, Melvin akhirnya dapat melihat apa yang terjadi di depannya. Pertarungan terjadi antara Felix melawan dua orang asing.
Ketika merasakan aura yang dikeluarkan dua orang itu, Melvin langsung terkejut. Aura yang terasa dari keduanya sangat kuat. Bahkan ia yakin jika mereka belum mengeluarkan semua aura milik mereka. Ia tiba tiba tersadar akan sesuatu. Mata kedua orang itu putih tanpa ada pupil mata, keadaan mereka mirip dengan mayat hidup, "Tidak mungkin aura sekuat ini mayat hidup..," gumam Melvin sambil menggeleng tak percaya.
Felix mengeratkan giginya. Ia tidak percaya jika yang menyerang ternyata adalah mayat hidup. Pada awalnya ia tidak yakin, karena kedua iblis ini memiliki kekuatan yang hebat, tidak seperti mayat hidup lainnya. Walau sulit dipercaya, tapi kenyataan ada tepat di depannya.
Iblis wanita menggunakan tombak sebagai senjata, sedangkan iblis pria menggunakan pedang. Felix dipaksa untuk melawan keduanya sekaligus. Dengan menggunakan pedang yang sebelumnya tersarung di pinggang kirinya, ia langsung melesat dengan kecepatan kilat.
Semakin lama bertarung dengan keduanya, Felix teringat pada sesuatu. Wajah kedua iblis ini tidak asing. Ia pernah melihatnya beberapa kali di suatu tempat. Keadaan keduanya kurus kering, seperti tidak teraliri darah dan terlihat hanya menyisakan kulit yang melekat pada tulang.
Ingatan dua wajah terlintas di pikirannya. Ia membelalakkan mata dengan lebar, "Mereka... Raja Stev dan Ratu Silvia..?!"
Ia jelas tak menyangka jika dua Raja iblis bisa menjadi mayat hidup seperti ini. Bahkan kekuatan keduanya sama sekali tidak berkurang walau menjadi mayat hidup. Felix tersenyum kecut, "Aku harus melawan dua Raja sekaligus?"
__ADS_1
Felix menghindar dan terus bertahan dari serangan cepat yang dilakukan kedua mayat hidup. Kekuatan dua iblis itu sangat kuat hingga menciptakan banyak cekungan di setiap tempat yang menjadi pijakan mereka.
Kraakk Krakkk
Felix melompat saat tanah di bawahnya retak. Ia hampir saja masuk ke dalam retakan itu andai tidak waspada.
Saat ia masih di udara, sebuah pedang terayun kuat ke arahnya. Felix menahan dengan pedang miliknya hingga menciptakan angin kejut. Ia terdorong ke belakang dan terlempar.
Saat tubuhnya hampir jatuh, Felix memposisikan tubuhnya hingga yang lebih dahulu memijak permukaan adalah kakinya. Ia menancapkan pedang ke tanah agar angin kejut tadi tidak membuatnya semakin terdorong ke belakang.
Bukan hanya dirinya yang terdorong akibat itu, tapi Stev pun mengalami hal serupa.
"Apa mereka sudah selesai di sana?" gumam Felix dengan raut serius.
Belum sempat berpikir lebih jauh, sebuah tombak terlempar ke arahnya dengan sangat cepat. Felix terkejut, namun segera melentingkan tubuhnya ke belakang hingga tombak hanya melewatinya saja.
Swuushh
Belum sempat merasa lega, tombak itu kembali melesat dari arah belakang. Felix yang menyadarinya segera berdiri dengan tegak dan menghadapkan tubuhnya pada serangan. Ia menepis ujung tombak yang hampir mencapai tubuhnya dengan pedang hingga membuat arah serangan tombak berbelok.
Jlebb
Bruukk
Tombak tertancap di batang pohon, namun tak lama pohon langsung tumbang karena serangan tombak yang besar.
Ketika merasakan bahaya dari atas, Felix mendongak dan melihat Silvia yang sudah siap menusuk menggunakan tombak yang sebelumnya sudah terlempar jauh.
Felix tidak memiliki banyak waktu untuk bereaksi. Kubah pelindung pun tiba tiba tercipta dan mengelilingi dirinya.
Buukk
Suara benturan antara pelindung yang ia ciptakan dengan senjata tombak terdengar keras, namun tidak sampai menggores pelindung ciptaan Felix sama sekali.
Silvia melompat mundur, namun berikutnya Stev menyerang dari arah belakang dengan pedang yang terayun kuat.
Felix hanya diam karena pelindung kubah transparan sudah mengelilingi dirinya.
Kraakk
Ia yang berpikir jika kubah miliknya tak bisa hancur salah. Setelah mendapat satu tebasan dari Stev, kubah itu mendapat retakan horizontal.
Ini membuat Felix menjadi waspada. Kekuatan serangan yang dimiliki Stev lebih besar bila dibandingkan dengan Silvia. Ia tidak bisa terlalu bergantung pada pertahanan miliknya.
Dengan cepat, Felix menghilangkan kubah pelindung dan melesat menerjang Stev. Ia mengeratkan pegangannya pada pedang dan menyerang secara horizontal.
Stev sendiri melompat ke belakang dan menghindari setiap serangan yang terayun padanya.
"Ugh..," Felix meringis sakit ketika sebuah serangan melukai punggungnya. Ia melirik ke belakang dan tahu jika yang menyerang adalah Silvia, "Sshh.."
__ADS_1
Tidak memberikan waktu bagi Felix menarik napas, Stev segera menyerang kembali. Dirinya melompat dan melakukan serangan tusukan.
Felix dengan segera membuat pelindung transparan yang hanya muncul di atasnya.
Krakkk
Ketika terkena benturan senjata, pelindung ciptaan Felix seketika retak seperti kejadian sebelumnya.
Namun Stev tidak berhenti di sana. Setelah berpijak dengan baik, ia mengayunkan senjatanya dari atas ke samping.
Di arah lain, Silvia pun melakukan serangan tusukan pada Felix.
Pemuda dengan anting biru yang menggantung di salah satu telinganya itu menciptakan pelindung kubah yang mengelilingi seluruh tubuhnya hingga kedua senjata yang menyerangnya dari arah depan dan belakang saling membentur pelindung transparan.
Praangg
Naas, bagian pelindung depan yang menahan serangan Stev justru pecah. Felix dibuat terkejut dengan apa yang dilakukan mayat pria itu.
Disaat Felix akan menepis serangan selanjutnya dari Stev, sebuah lesatan membentur senjata mayat pria itu hingga membuat senjatanya sedikit berbelok arah dari yang seharusnya.
Untuk sesaat, Stev terdiam. Pandangannya langsung terarah pada tempat dimana sebuah belati melesat cepat.
Melvin mengatur napasnya yang masih tidak beraturan. Titik keringat bahkan terbentuk di keningnya hanya karena berusaha untuk berdiri. Ekspresinya jelas merasa kesakitan, tapi ia tetap mencoba membantu Felix.
"Kenapa dia malah memancingnya?!" batin Felix dengan kesal. Padahal ia merasa masih bisa melawan kedua mayat ini sekaligus karena ia yakin rekan rekannya akan segera datang. Tapi manusia yang sudah tidak berdaya itu malah memaksakan diri dan membuat ini menjadi rumit, "Tidak perlu ikut campur. Kau tidak akan bisa melawannya–hah!!"
Felix terkejut saat melihat Stev menghilang dari hadapannya dan melesat menuju Melvin berada, "Hati hati..!!"
Pranggg
Saat akan melesat ke tempat Melvin berada, pelindung yang berada di belakangnya pecah. Silvia menerjang dengan tusukan menggunakan tombak.
Felix melompat menghindar dan menghadapkan tubuhnya pada wanita itu. Menggunakan tangan kirinya, ia menarik tangan wanita itu hingga tubuhnya terdorong mendekat padanya.
Saat nyaris bertumbrukan, Felix menusuk dadanya menggunakan pedang dengan sangat dalam. Setelahnya, ia menarik pedang itu dan mendorong tubuh Silvia hingga menjauh darinya. Tapi sepertinya Felix lupa jika Silvia adalah mayat hidup.
Jleebb
Ketika tubuh Silvia terdorong, tangannya dengan sigap bergerak dan menusuk tubuh Felix dengan tombak.
Felix terkejut untuk sesaat, tapi ia memanfaatkan hal ini. Dirinya mengayunkan pedang dengan kuat dan...
Sraattt
Leher Silvia tertebas dengan mudahnya oleh pedang milik Felix. Kepalanya terjatuh dan menggelinding di tanah, sebelum akhirnya tangannya melepas tombak dan tubuhnya ikut terjatuh.
"Uhuk..," Felix terbatuk darah, namun tetap menarik tombak yang menusuk perutnya. Ia meringis sesaat sambil memperhatikan Silvia, "Tubuhnya pasti akan bergerak sebentar lagi."
Pandangannya kini teralihkan pada Melvin. Pria itu tertusuk oleh sebuah pedang milik Stev. Ia sudah menduga jika pria itu takkan bisa bertarung lagi, "Ck"
__ADS_1