
Setelah selesai dari dalam toilet, Rafa kembali masuk ke ruang rawat Kevin. Teddy sedang membeli makanan, jadi hanya ia sendiri di sini.
Saat masuk ke dalam, dilihatnya sosok Kevin yang sudah membuka matanya.
"Kevin? Kau sudah bangun? Syukurlah...," Rafa terlihat begitu senang, walaupun tangan kirinya saat ini memakai gips dengan tali yang diikatkan ke bahu. Ia berjalan cepat mendekatinya. Tak bisa ia sembunyikan rasa senang saat melihat Kevin sadar seperti ini. "Bagaimana keadaanmu? Kau baik baik saja? Apa ada yang masih sakit?"
Kevin yang sebelumnya menangis putus asa berusaha menyembunyikannya saat sebelumnya merasakan langkah seseorang yang mendekat ke ruangan ini. Untungnya ia bisa menyembunyikannya sebelum Rafa datang. Ia menatap Rafa dan sedikit tersenyum, "Tidak perlu khawatir. Aku baik baik saja."
Kevin berniat untuk bangun. Namun hal itu dicegah oleh Rafa, "Kau istirahat saja. Jangan memaksakan dirimu."
Kevin pun kembali membaringkan seluruh tubuhnya. Tatapannya langsung terarah pada lengan Rafa yang menggunakan gips, "Itu... kenapa?" seingatnya, Rafa tidak mengalami serangan apapun pada saat itu. Tapi samar samar ia ingat, sebelum dirinya pingsan, Rafa menahan pria asing agar tidak mendekatinya, lalu pada akhirnya ditendang berkali kali.
Rafa melirik tangannya sendiri, "Ah ini? Aku... hanya patah tulang. Aku pasti akan segera sembuh 1-2 bulan saja. Dari pada itu, bagaimana kondisimu. Tanganmu..," ekspresinya kini tiba tiba murung.
Kevin terlihat biasa, seolah tidak terjadi apapun. "Karena aku hanya memiliki satu tangan sekarang, mungkin waktuku untuk berkelahi tidak akan sering seperti sebelumnya. Hahaha..., itu hal yang bagus. Aku tidak perlu repot repot mengurusi mereka semua," ia tertawa seolah itu adalah hal yang mesti ditertawakan dengan bahagia.
Rafa menundukkan kepalanya. Ia merasa begitu bersalah pada Kevin, "Karena melindungiku..., tanganmu jadi seperti ini. Aku minta maaf. Jika saja aku bisa menyadari dan menghindarinya sendiri, kau pasti tidak akan menjadi seperti ini. Aku benar benar minta maaf... Maaf saja pasti tidak akan cukup dan hal itu tidak akan mengembalikan tanganmu. Karena itu, kau bebas untuk melakukan apapun padaku..."
"..Bahkan bila kau ingin aku mengalami hal yang sama seperti apa yang kau alami sekarang..," Rafa menggigit bibirnya. Ia sulit untuk mengatakannya, namun hal ini harus ia katakan, "Aku akan memberikannya. Dengan begitu, kondisi kita akan sama."
Kevin terdiam ketika mendengar ucapan Rafa. Itu adalah pancaran mata dari orang yang penuh keberanian dan rasa bersalah. Ia pun mencoba untuk tersenyum dan menanggapi hal itu sebaik mungkin, "Kau tidak perlu sampai seperti itu. Aku baik baik saja. Kau lihat? Aku masih seperti biasanya. Aku baik baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkanku.
Lalu.., apa yang terjadi bukanlah salahmu. Kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Yang terpenting aku dan kau sekarang masih hidup dan sehat." Kevin kembali berpikir sejenak, "Um.., mungkin belum bisa dikatakan sehat, tapi kita harus bersyukur karena masih hidup."
__ADS_1
Walaupun Kevin sudah mengatakan hal itu, Rafa masih saja merasa tidak enak. Ia masih berpikir bila hal seperti ini tidak akan terjadi bila dirinya lebih berhati hati.
Kevin kini menelan ludahnya. Ia ingin mengatakan hal lain pada Rafa. Tapi ia merasa tidak enak bila harus mengatakan hal seperti ini sekarang. Walau begitu, menurutnya ini sangatlah penting bagi Rafa kedepannya.
Pandangannya pun sedikit ia turunkan dan tatapannya melihat ke arah jendela. Ia tidak bisa mengatakannya sambil menatap wajah Rafa, "Aku... Ingin mengatakan sesuatu. Aku akan langsung ke intinya. Usir Leon dari rumahmu."
Rafa yang tertunduk tiba tiba terkejut saat mendengar ucapan Kevin. Ia langsung menatap temannya dengan ekspresi kaget, "A-apa?" ia berpikir bila dirinya hanyalah salah dengar dan ia ingin mendapatkan pengulangan kata itu. Tapi hal yang ia dengar kembali terulang.
"Usir Leon dari rumahmu. Dengan begitu, kau akan aman. Jika kau masih membiarkannya berada di rumahmu, kau hanya akan membahayakan dirimu sendiri," ucap Kevin tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.
"T-tapi kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa kau menyuruhku untuk melakukan hal seperti itu?" Rafa kini menjadi bingung dengan ucapan Kevin. Ini sangat tiba tiba. Apa yang terjadi?
Dengan perlahan, Kevin mulai menatap temannya itu, "Aku... Tidak bisa menjelaskannya dengan rinci. Tapi yang pasti, bila dia masih ada di rumahmu, kau hanya akan terus berada dalam bahaya. Aku tidak ingin itu terjadi. Bila kau benar benar ingin menebus rasa bersalahmu itu padaku, maka usir Leon dari rumahmu."
"Aku sudah membeli makanan. Sebaiknya kita makan terlebih dahulu. Ehm..., sepertinya aku datang di waktu kurang tepat,"
Rafa dan Kevin melihat ke pintu masuk. Di sana berdiri Teddy dengan membawa 2 kresek hitam di tangannya.
***
Need mengirimkan Leon kembali ke rumah Rafa setelah hari berganti. Keadaan rumah lumayan kacau. Pintu terlepas dan rusak di lantai. Lantai yang memiliki beberapa goresan di atasnya, lalu salah satu bagian tembok retak. Selain itu, ada pula bekas darah yang mengotori lantai putih itu. Entah apa saja yang sudah terjadi di rumah ini semalam.
Leon merasa cemas. Melihat keadaan yang begitu berantakan seperti ini, pasti semalam sangat buruk, "APA ADA ORANG DI RUMAH?"
__ADS_1
Leon berteriak sekencang ia bisa. Namun suaranya hanya menggema di rumah ini tanpa ada siapapun yang menjawab. Keadaan begitu hening dengan rumah yang berantakan, seperti rumah yang tidak terawat dengan baik.
"Aku akan membantu mencari di lantai atas," ucap Need. Sesaat kemudian, dirinya pun menghilang dan berpindah ke lantai dua.
Sedangkan Leon pergi ke dapur, ruang makan dan kamar mandi yang ada di bawah, tapi semua kosong. Tidak ada siapapun di rumah ini. Ia menjadi semakin khawatir. Keberadaan mereka hilang sepenuhnya tanpa jejak, "Apa yang harus kulakukan?" gumam nya.
Need tiba tiba muncul di samping Leon, "Di atas tidak ada siapapun. Sepertinya mereka sudah pergi," ucapnya sambil memperhatikan sekitar.
"Bagaimana kau bisa yakin? Mereka bisa saja dibawa oleh iblis yang kau maksud," balas Leon tanpa menatap pemuda itu.
"Panglima Flynn tidak akan melakukan hal seperti itu. Walaupun dia orang yang mudah emosi, tapi kemungkinan besar dia tidak akan melakukan sesuatu yang berada di luar perintah Raja Flor," Need kini menatap Leon dengan tanda tanya,
"Sekarang apa yang akan kau lakukan? Mereka mungkin pergi untuk menjauh dari panglima Flynn. Tapi mereka bisa pula pindah dari rumah ini. Apa kau akan tetap menunggu di sini? Atau pergi ke hutan itu dan berlatih denganku?"
Mendengar ucapan Need yang seolah tidak mempedulikan keadaan Rafa dan Kevin, membuatnya sedikit kesal. Ia menggigit bibirnya dan langsung menatap Need, "Apa kau tahu situasi sekarang tidak tepat untuk membicarakan tentang latihan?!
Mereka menghilang dari sini dan aku tidak tahu bagaimana keadaan mereka sekarang! Apa kau pikir aku bisa berlatih dengan kondisi seperti ini?!" ucapnya dengan suara meninggi.
Need menundukkan kepalanya. Mungkin apa yang ia katakan salah dalam penilaian Leon. Tapi apa yang ia katakan pun semata mata untuk membuatnya kuat dan tidak mengalamai hal seperti ini lagi, "Jika kau tidak mau kejadian seperti ini terulang, maka mulai sekarang kau seharusnya mulai berlatih.
Kau merasakannya sendiri bagaimana tidak berdayanya saat kau hanya bisa menunggu sampai hari berganti untuk melihat keadaan mereka. Apa kau pikir hal seperti ini hanya akan terjadi sekali ini saja?
Bisa saja panglima lain akan menemukanmu dan melakukan hal serupa atau mungkin lebih buruk. Pada saat itu, kau hanya akan menunggu mereka terluka dan datang setelah kekacauan selesai seperti ini? Apa itu hal yang kau inginkan?"
__ADS_1
Leon terdiam. Ia pun mendecakkan lidahnya dengan ekspresi kesal. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa ia harus berlatih dan berpikir seolah tidak terjadi apapun?!