
Rafa dan Kevin duduk di bawah pohon sambil berbincang dengan suasana santai. Setelah berbaikan, suasana menjadi lebih enak, baik untuk Kevin maupun Rafa.
"Aku ingin menanyakan ini sejak tadi. Pipimu itu.. Kau kenapa?" tanya Kevin dengan ragu. Ia sedikit cemas. Jika melihat temannya ini terluka, seberkas ingatan saat penyerangan itu teringat olehnya. Ia khawatir bila Rafa ternyata bertemu dengan orang itu lagi.
"Ah, ini..?" Rafa menutup luka di pipi dengan tangannya. Ia tersenyum canggung, "Sebelumnya aku menjatuhkan ponselku tanpa sengaja. Lalu, ketika akan mengambilnya, aku malah terkena ujung meja makan sampai luka seperti ini. Kau tahu sendiri jika sudut meja makanku terbuat dari kaca dan cukup tajam. Lalu ketika tanpa sengaja tergores, itu bisa membuat luka."
Kevin mengangguk angguk. Ia sebelumnya merasa cemas jika Rafa diserang. Ternyata ia hanya terlalu khawatir saja.
Namun Kevin tidak tahu, bila Rafa memang 'lah diserang, walau bukan oleh orang yang sama. Jika dia tahu, kira kira akan seperti apa reaksinya? Dia mungkin merasa trauma dengan salah satu lengannya yang putus saat itu. Jika Rafa menceritakan kejadian sebenarnya, bisa saja Kevin akan menjadi kelabakan.
"Em.. Rafa?"
Rafa menoleh ketika mendengar panggilan dari Kevin. Ia menaikkan sebelah alisnya ketika melihat ekspresi Kevin yang tampak ragu, "Ada apa?"
Kevin menggaruk pipinya yang tidak gatal dan berbicara tanpa menatap Rafa, "Aku hanya ingin tahu, sebenarnya ayahmu pergi kemana? Kau hanya pernah cerita jika ayahmu pergi dan tidak menceritakan alasan atau kemana dia pergi."
Rafa mengerutkan keningnya, "Kenapa kau tiba tiba menanyakan itu? Tidak biasanya kau penasaran dengan masa lalu seseorang."
Kevin tersentak. Ia segera menatap Rafa, "Kau bukan 'seseorang', tapi kau adalah 'sahabatku'. Lagi pula, aku hanya ingin tahu lebih jauh tentang kehidupan sahabatku ini. Apa tidak boleh? Atau itu mengusikmu?"
Rafa menatap ke depan, "...Tidak juga. Aku hanya sedikit terkejut kau menanyakan hal itu. Aku hanya pernah menceritakan keadaan orang tuaku sekali dan kau tidak pernah menanyakan apapun tentang itu. Lalu sekarang kau tiba tiba bertanya. Ya.. Tentu saja aku penasaran apa yang membuatmu bertanya seperti ini padaku. Tapi jika kau mau mendengar ceritaku, aku bisa mengatakannya."
Kevin hanya mengangguk dan memperhatikan Rafa seksama. Ia akan menceritakan apa yang didengarnya semalam dari Nevan serta ayahnya, tergantung dengan cerita Rafa.
"Kau sudah tahu, ibuku meninggal setelah melahirkanku. Lalu ayah, dia pergi meninggalkanku saat aku 10 tahun. Ayah menitipkanku pada paman Melvin dan pada akhirnya aku tinggal bersama paman. Lalu setelah lulus SMP, aku meminta agar bisa tinggal sendirian di rumah tempat sebelumnya aku dibesarkan. Aku tidak tahu jika rumah itu dijual dan pernah ditinggali orang lain. Tapi, paman membelikannya untukku. Pada akhirnya aku tinggal kembali di sini.
Hanya saja, tentang alasan ayah pergi ataupun kemana dia pergi, aku tidak tahu. Dia tidak mengatakan apapun padaku dan meminta agar aku bisa menjaga diriku sendiri. Lalu ayah juga mengatakan agar aku tidak perlu khawatir, karena ada paman Melvin.
__ADS_1
Dia mengatakan akan kembali lagi dan menjemputku. Tapi sampai sekarang pun, dia tidak pernah datang. Dia tidak menunjukkan wajahnya padaku. Aku berpikir mungkin saja dia lupa padaku, atau dia sedang memperjuangkan sesuatu di tempat lain.
Hingga sampai saat ini pun, aku masih menunggu ayah walau dengan ketidakpastian. Aku khawatir dengannya, aku ingin bertemu dengan ayah. Aku juga sangat rindu dengannya. Tapi Aku hanya bisa menunggu, haish.. Jika dia datang, aku akan langsung memukul wajahnya dan memprotesnya."
Kevin berkedip ketika mendengar ucapan terakhir dari Rafa, "Kau serius?"
"Iya, memang tidak boleh? Aku terlalu kesal karena dia tidak pernah datang menjenguk. Dia juga meninggalkanku tanpa memberi penjelasan," balas Rafa sambil mendengus singkat.
Kevin mengangguk angguk, "Mungkin.. Tidak ada salahnya," ia lalu memikirkan ucapan Rafa. Kata katanya itu terdengar berani. Andai ia bisa sepertinya dan memukul wajah ayahnya saat mengadu debat dengan pria itu.
"Sebenarnya.. Semalam aku pergi ke rumahmu. Aku ingin ikut menginap."
Rafa kini mulai memperhatikan ucapan Kevin, walau pandangannya terfokus pada pohon di atasnya, "Mn.. Tapi aku tidak melihatmu."
"Saat aku datang, kau sedang tidak ada di rumah. Sedangkan pintu rumah sedikit terbuka. Aku diam diam masuk ke dalam dan hanya menemukan Need, saudaramu dan ayahnya."
"Aku mencuri dengar pembicaraan mereka. Dari yang kudengar, mereka tahu cara pergi ke dunia iblis. Tapi mereka tidak mau memberitahumu karena ayahmu ada di sana, kau juga pasti akan pergi ke sana. Mereka mengatakan di sana banyak iblis."
Mulut Rafa sedikit membuka saat mendengar ucapan Kevin. Matanya langsung menatap Kevin dengan cepat, "C-caranya? Bagaimana cara pergi ke sana? Mereka mengatakan apa?"
Kevin menggeleng, "Mereka tidak mengatakan apapun tentang bagaimana caranya. Mereka hanya mendebat apakah harus mengatakan caranya padamu atau tidak. Saudaramu ingin mengatakannya, sedangkan ayahnya tidak mau kau mengetahuinya."
"Kalau begitu, aku akan langsung menanyakannya pada mereka setelah pulang nanti," Rafa bergumam pelan, "Kenapa paman selalu saja menyembunyikan sesuatu dariku? Apa dia masih membenciku?"
Trrriiinggg
Bel masuk pun berbunyi, menandakan waktu istirahat telah usai. Rafa segera berdiri untuk kembali ke kelas. Kevin pun ikut berdiri. Namun ia belum melangkah pergi. Ia membuka suara, "Sebenarnya apa itu iblis? Kau belum pernah menceritakan apapun padaku tentang itu."
__ADS_1
Rafa terhenti. Tanpa melirik ke belakang, ia menjawab, "Itu bukan sesuatu yang penting. Lagi pula, aku pun baru mengetahuinya."
"Ini hanya dugaanku. Tapi jika nama 'iblis' itu seperti cerita cerita yang digambarkan memiliki sifat jahat dan kuat, aku berpikir... Apakah iblis adalah orang yang pernah menyerang kita?
Dari yang kudengar semalam, dunia iblis adalah sarang para iblis. Kau.. Bisa mati jika berada di sana."
Ucapan dari Kevin membuat Rafa terdiam untuk sesaat. Ia berbalik ke belakang dan menatap temannya yang menundukkan kepala, "Maaf aku tidak bisa menjawabnya. Kau akan terseret lebih jauh jika mengetahuinya. Yang bisa kuberikan jawaban adalah apa yang membuat tanganmu bisa kembali utuh. Kau selalu menanyakannya padaku, tapi aku tidak pernah menjawab. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya."
Kevin tertegun dan mengangkat kepalanya. Ia berekspresi serius ketika menatap Rafa. Pemuda itu pun berekspresi sama seriusnya. Ia pun terdiam untuk mendengar jawaban.
"Yang melakukannya adalah Leon. Dia–"
Kevin langsung tersentak dan tanpa sengaja menyela, "Tunggu, apa maksudmu?
"Sebelum dia pergi, ketika malam hari, dia datang ke rumah sakit tempatmu dirawat. Dia menyembuhkanku, lalu menyembuhkan tanganmu. Semua lukaku hilang. Tanganku yang patah pun sembuh. Aku terbangun saat itu dan menyaksikan sendiri bagaimana tanganmu tumbuh kembali. Kau juga merasakannya. Saat bangun, semua tubuhmu tidak lagi sakit. Luka luka itu menutup. Benar kan?"
Kevin menatap tak percaya ketika mendengar cerita Rafa, "B-bagaimana bisa itu mungkin? Dia hanya anak kecil. Lalu kau mengatakan dia menumbuhkan tangan dan mengobati semua lukaku? Ha.. Haha.. Apa kau masih berada di mimpi saat itu?"
Ia jelas tak percaya. Bagaimanapun, Leon hanyalah anak kecil. Selain itu, ia mengatakan sesuatu yang jahat saat anak itu datang menjenguknya. Tidak mungkin Leon akan mengobatinya jika ia mengatakan ucapan jahat itu.
Rafa masih berekspresi serius. Tidak ada candaan dalam setiap perkataannya. Ia pun hanya diam melihat tatapan tak percaya dari Kevin sampai akhirnya temannya itu berhenti tersenyum dan mengubah pandangannya menjadi syok.
"Jadi.. Apa itu memang benar?"
Rafa mengangguk, "Buktinya adalah keadaan kita sekarang. Dalam sekejap semua luka kita menghilang dan tanganmu yang seharusnya sudah tidak ada, kini kembali. Aku serius dan tidak sedang bermimpi. Memang akan sulit percaya. Bahkan aku yang menyaksikannya sendiri masih tidak bisa mempercayainya. Tapi itu sungguh terjadi. Percaya padaku."
Kevin masih terdiam sambil menatap wajah Rafa. Temannya benar benar serius. Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah pohon dan bergumam pelan, "Jadi itu bukan bohong.."
__ADS_1
Rafa mengerutkan kening, "Maksudmu?"