Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 114 -Bukan Makhluk Hidup


__ADS_3

Saat sedang fokus bertarung, Ken malah mendengar suara dari lawannya. Suara yang amat serak dan terpatah patah itu berhasil ditangkap indra pendengarannya, "Sebenarnya... Siapa kau? Aku.... Sudah membunuhmu.... Sampai berkali kali.... Tapi kau tidak.... Juga mati."


Ken tersenyum smirk, "Kau sudah mati. Seseorang yang telah mati dan menjadi mayat hidup sepertimu, sudah tidak memiliki otak atau perasaan lagi. Untuk apa aku menjelaskannya? Kau sekarang hanyalah boneka dan kata kata itu... Berasal dari seseorang yang sudah mengendalikanmu."


"Baiklah.... Jika kau tidak mau menjawab.... Aku akan.... Mendesakmu dan membuatmu... Mengaku."


Ralt hilang dalam pandangan Ken. Ini membuat pemuda berambut putih itu semakin waspada. Ia menilik sekeliling jikalau serangan tiba tiba datang dari titik butanya.


Namun apa yang ia pikirkan seketika dibuang mentah mentah setelah melihat Leon yang kini bertarung lagi dengan mayat Ralt. Bahkan sudah tercipta luka goresan di punggung, lengan serta kakinya yang putih.


Ken menggeram. Pijakan kakinya seketika menguat dan dalam satu tarikan napas, ia sudah muncul diantara Leon dan Ralt.


Kedatangannya yang tiba tiba tidak diduga oleh Leon sama sekali. Ia yang sudah mengirimkan tendakan untuk Ralt pun diterima oleh tubuh Ken.


Dughh


Pemuda berambut putih itu tidak bergeming ketika kakinya mendapat tendangan begitu keras. Ini bahkan sampai membuat Leon terkejut. Pasalnya, ia sudah memusatkan tenaganya di bagian kaki dan itu seharusnya bisa mengirimkan Ken terbang ke jarak belasan meter jauhnya. Namun kini, pemuda berambut putih itu bahkan tak bergerak sesenti pun dari hadapannya.


Tapi sebenarnya, Ken mati matian menahan posisi tubuhnya ini. Ia hampir saja terhempas jikalau tidak menempatkan diri dengan baik. Tapi sungguh, ia rasanya ingin menjerit ketika kakinya jadi terasa kebas. Bahkan tulang kakinya menjadi patah akibat tendangan Leon yang sepenuh hati.


Ken menahan serangan tusukan yang dilakukan Ralt menggunakan pedang hingga tercipta dentingan senjata.


Baik Ralt maupun Ken, sama sama ingin menekan lawan hingga membuat decitan ngilu terdengar dari dentingan senjata mereka.


"Kau... Melindunginya? Ternyata dia... Kelemahanmu?" ucap Ralt dengan suara serak dan patah patahnya.


"Dia bukanlah kelemahan!" pekik Ken yang langsung saja membuat Ralt tertekan karena pemuda itu berhasil menekan pedangnya dengan keras.


Ralt menghilang dari tempatnya berada dan sedetik kemudian muncul di belakang Leon.

__ADS_1


Baru saja Leon akan menangkis serangan dari titik buta ini, namun Ken sudah menangkis serangan mewakili dirinya. Gerakan Ken sangat cepat, padahal lawannya menggunaksn teleportasi untuk berpindah tempat. Ini membuat Ken terlihat seperti sudah memprediksi pergerakan Ralt sebelumnya.


"Dia tidak lemah hingga bisa menjadi kelemahanku. Tapi aku menghalangimu menyerangnya bukan karena takut dia akan terluka, melainkan karena aku kesal kau tidak mati, padahal sudah kucincang sampai tidak berbentuk," ucap Ken tanpa mengalihkan pandangan matanya dari lawan.


Ralt tidak menjawab. Ia malah melakukan tendangan bawah dan membuat Ken harus melompat. Tapi saat pemuda itu masih berada di udara, Ralt menggunakan pedangnya untuk menebas leher Ken dalam gerakan yang cepat.


Ken yang hendak menepis menghentikan niatnya saat melihat Leon melakukan itu mendahuluinya. Ia terkejut dan terdiam hingga kakinya menapak di tanah.


"Jangan bertarung sendiri. Aku juga ingin melakukannya," ucap Leon dengan suara sedikit pelan.


Leon melakukan serangan di gerakan senjata berikutnya. Ia sampai membuat Ralt terdorong ke belakang terus menerus.


Ken terkesiap sampai tidak bergerak dari tempatnya selama beberapa menit setelah mendengar ucapan Leon. Perlahan, senyuman terbentuk di wajahnya hingga membuat lesung pipi tercipta membuatnya terlihat manis, "Baiklah, akan kubantu."


Kite nyaris saja terkena sabetan pedang Need saat ia melihat Ken dari sudut matanya. Apalagi sekarang ia bisa melihat Ken yang mulai membantu Leon. Tentu pemandangan itu membuatnya kembali nyaris mendapat serangan telak, "Bagaimana bisa dia masih hidup?! Melihat tusukan sebelumnya dan luka yang dia dapat, seharusnya dia sudah mati!" batin Kite.


Kite tak bisa bertindak tidak tahu, seperti tak melihat Ken yang seharusnya sudah mati. Ia benar benar kebingungan. Ia tahu Leon dapat menghidupkan seseorang, dan ada kemungkinan pemuda itu menghidupkan Ken kembali seperti saat menghidupkan Nevan yang telah mati.


"Siapa dia sebenarnya?" batin Kite sambil menghindari serangan Need. Ia pun menatap orang yang menyerangnya dengan serius, "Akan kubuat kau tidak bisa bergerak."


Dalam secepat kilat, Kite menghilang dari pandangan Need. Tindakannya membuat pemuda itu menatap ke kiri dan kanan seolah sedang mencari sesuatu.


Namun belum lama dari itu, Kite muncul di belakang Need dan mengaitkan kakinya ke kaki lawan hingga membuat Need yang tak siap langsung jatuh terbanting ke belakang.


Belum sempat bangun, Kite menusukkan pedangnya pada salah satu bahu Need hingga membuatnya yang sedang dalam kendali seseorang segera menggerang kesakitan. Pemuda itu mencoba untuk melepaskan dan menjauhkan pedang yang menancap di bahunya. Namun, Kite sama sekali tidak menarik senjatanya sama sekali.


Tak membiarkan Need bergerak sesukanya, Kite memunculkan pedang lainnya yang langsung ia tancapkan di paha lawan. Sontak saja tindakannya ini membuat Need semakin kesakitan. Ia memberontak dan ingin Kite melepaskannya. Namun, Kite terus menahan pedang yang ia tancapkan di bahu agar tubuh Need tidak bisa bergerak bebas.


Gerakan pemberontakan Need malah membuat pedang yang menancap bahunya hingga tertanam ke tanah itu membuat luka semakin melebar dan merobek ke atas hingga bawah.

__ADS_1


"Ck, aku tidak suka melakukan hal seperti ini. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu terus berada dalam pengaruh seseorang," ucap Kite.


"...Karena itu, cepatlah sadar selagi aku tidak melukaimu lebih parah. Lalu bawa 'dia' kemari agar bisa menghabisi mayat menyebalkan itu."


Need tak merespon dan malah menggeletakkan giginya dengan mata melotot menatap Kite. Tapi pandangan itu terlihat kosong hingga tidak bisa terlihat raut kesakitan ataupun marah darinya.


Kening Kite tiba tiba saja berkerut samar ketika melihat Need semakin lama, "Kau... Bukan makhluk hidup?"


Ia sontak saja terkejut saat menyadari sesuatu tentang Need. Walaupun pemuda itu bernapas, memiliki detakan jantung dalam dirinya, jiwa dan perasaan, namun ada satu hal yang tidak dia miliki. Yaitu energi kehidupan makhluk hidup.


Ia baru menyadarinya setelah dekat seperti ini dan memperhatikannya dengan baik. Bisa dikatakan, Need seperti mayat hidup lainnya. Yang membedakan tentu semua hal yang ia miliki yang tidak dimiliki mayat hidup.


Perasaan, detakan jantung dan napas. Need memiliki jiwa buatan yang bukan benar benar dari kehidupan. Namun jiwa itu seolah terbentuk dari banyak energi yang saling bersatu. Lalu mayat hidup, sebenarnya mereka masih memiliki jiwa. Karena itulah walaupun sudah mati, mereka masih bisa bergerak.


Namun jiwa yang mereka miliki tidak ada di jasad jasadnya dan lagi, jiwa dari iblis yang sudah mati karena kupu kupu tidak bisa pergi ke peristirahatan terakhir, juga tidak dapat kembali ke tubuhnya. Mereka semua terjebak di suatu tempat dan menunggu untuk bisa dibebaskan.


"Entah siapa yang melakukannya, tapi dia sangat hebat. Aku sampai tidak tahu jika Need bukan'lah makhluk hidup. Padahal seharusnya aku bisa tahu dalam sekilas. Siapapun yang menciptakannya, dia sangat hebat," batin Kite.


"...Karena itu, yang sudah mengendalikannya pasti penciptanya sendiri. Dia mungkin tidak akan mati bahkan jika kutusuk jantungnya. Hm... Sepertinya ini bisa dicoba."


Tanpa menunggu lama, Kite menarik pedang yang ia tancapkan di salah satu bahu Need. Awalnya pemuda itu hendak bangkit. Namun niatnya itu harus pupus ketika Kite malah menusuk dadanya bahkan tepat mengenai jantungnya telak.


Need sampai terbatuk darah. Napasnya terlihat begitu sulit seolah sedang mendekati ajalnya.


Sampai akhirnya, Need benar benar mati. Melihatnya tidak lagi bergerak atau memberontak, membuat Kite melepaskan pegangannya pada pedang. Ia menghilangkan pedang yang menusuk paha Need dan masih memegangi pedangnya yang lain.


Untuk memastikan Need benar benar sudah tak bernapas, Kite berjongkok di dekatnya. Ia menaruh telunjuknya di bawah hidung. Tidak ada udara yang keluar ataupun masuk darinya. Ia pun segera menarik pedangnya keluar dari tubuh Kite dan menghilangkannya.


Kite nampak begitu serius memperhatikan Need. Bahkan ia tidak mempedulikan suara pertarungan di jarak puluhan meter darinya yang begitu menggelegar.

__ADS_1


Dalam pandangannya, ia melihat jiwa buatan yang ada di tubuh Need masih tetap di tempatnya. Tidak berubah posisi ataupun pergi, "Kuharap pemikiranku tidak salah dan dia masih bisa hidup."


Belum lama ia berharap, harapan itu segera terwujud. Mata Need yang sebelumnya terpejam setelah menghembuskan napas terakhir kini membuka dengan sangat cepat seolah tubuh itu baru saja mendapatkan suatu getaran kejut.


__ADS_2