Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 32 -Bertengkar


__ADS_3

Ruangan rawat inap itu kini menjadi sepi setelah pembagian makanan selesai dilakukan Teddy. Pria itu melihat Rafa yang duduk di sebelahnya dan Kevin yang duduk di ranjang rumah sakit di depannya. Seperti ada sesuatu yang baru saja terjadi diantara mereka.


"Ini mungkin bukan urusanku, tapi apa yang sudah terjadi pada kalian selama aku membeli makanan?" akhirnya Teddy menanyakan apa yang mengganjal di pikirannya. Suasana di ruangan ini kini begitu tidak nyaman saat ada dua orang yang bertengkar di dalam ruangan yang sama dengannya.


Kevin melirik Teddy. Ia sebenarnya tidak tahu kenapa pria itu bisa berada di sini dan bahkan membelikan makanan untuk mereka, walau ia makan hanya dengan bubur karena sakit. Namun, sepertinya tidak masalah bila ia menjawab, "Kami hanya membicarakan apa yang sudah terjadi sebelumnya."


Rafa sendiri hanya diam. Ia tidak memberikan penjelasan apapun dan memakan makanannya dengan tenang.


Teddy melirik satu per satu kedua pemuda itu. Ia pun memperhatikan makanannya dan mulai menyendoknya, "Jika hanya seperti itu, bukankah seharusnya kalian tidak sampai bertengkar? Semalam Rafa sangat mengkhawatirkan kondisimu, bahkan sampai menjagamu semalaman hingga tidak tidur.


Apa hanya karena membahas masalah yang sudah terjadi, kalian akan saling diam seperti ini?"


Tidak ada yang menjawab diantara keduanya. Hal ini pun membuat Teddy menghela nafas. Ia kemudian mengunyah makanan yang sudah dimasukkan ke mulut. Sepertinya masalah yang membuat mereka seperti ini bukan masalah biasa. Namun walaupun ingin tahu, ia tidak bisa memaksa mereka menjawabnya.


"Jika kalian tidak mau menjawab, aku tidak akan memaksa. Tapi aku sudah membantu kalian pergi ke rumah sakit malam malam. Aku sangat mengantuk. Tenagaku terkuras untuk menyetir. Apa tidak ada hal yang bisa dikatakan padaku sama sekali?" keluh Teddy sambil memakan makanannya dengan cepat.


"Aku kembali mengucapkan terimakasih karena sudah mau menolong kami paman," ucap Rafa sambil tersenyum.


"Ah, itu bukan masalah besar," balas Teddy sambil menggaruk belakang lehernya. Padahal ia berharap kedua pemuda itu akan mengatakan alasannya bila ia mengatakan hal ini.


"Terimakasih," ucap Kevin dengan tanpa ekspresi.


"Ya," Teddy membalas dengan datar pula.


"Setelah ini aku harus mencari Leon. Semalam aku tidak menemukannya di rumah. Dia mungkin tersesat lagi. Selama itu, bisakah paman menjaga Kevin di sini?" Ucap Rafa.


Teddy memiringkan kepalanya. Ia baru mendengar nama itu dari mulut Rafa, "Siapa dia?"

__ADS_1


"Dia tinggal di rumahku selama hampir sebulan ini. Jadi aku tidak hanya berdua dengan Kevin di rumah semalam. Aku jadi mengkhawatirkannya. Aku tidak mau bila dia sampai bertemu dengan orang asing itu. Karenanya, bisakah paman menjaga Kevin sebentar?" Rafa segera berdiri. Ia sudah siap untuk kembali ke rumah.


Walau merasa sedikit takut untuk pulang sekarang, ia harus memberanikan diri. Ia belum melihat Leon sejak pulang sekolah. Ditambah, adanya penyerangan saat malam hari, membuatnya merasa cemas dengan anak itu.


Kevin mengepalkan tangannya dan menggertakkan gigi karena merasa kesal, "Kau masih mempedulikannya? Sudah kukatakan, usir dia dari rumah!"


Rafa terkejut mendengar suara Kevin yang sedikit lebih tinggi dari biasanya. Ia pun langsung menatap pemuda itu, "Apa maksudmu? Jangan sembarangan bicara."


"Kau saja baru mengenalnya saat itu, tapi kenapa kau sangat mempedulikannya? Kau mungkin kasihan karena dia hilang ingatan dan tidak memiliki tempat untuk tinggal, tapi kau bisa mengirimnya ke panti asuhan. Mereka pasti akan merawatnya dengan baik.


Kenapa kau harus repot repot mengurus anak yang tidak jelas asalnya itu? Jangan terus membela dan mengkhawatirkannya! Pikirkan dirimu sendiri! Bila... kau tidak mau mengirimnya ke panti asuhan, buang saja dia!"


Kata kata Kevin penuh dengan rasa marah, seolah itu adalah amarah yang dipendamnya sejak lama.


Rafa tidak percaya bila temannya akan mengatakan hal seperti itu. Ia menggelengkan kepalanya dengan raut tidak percaya dan rasa kesal, "Apa kau memikirkan apa yang baru saja kau ucapkan? Kenapa kau setega itu dengannya?! Apa yang dia lakukan sampai kau mengatakan kata seperti itu?!"


"Sudah cukup, jangan bertengkar," Teddy mencoba menengahi. Namun sepertinya tidak ada yang mendengar suaranya.


Kevin pun memberikan penekanan pada ucapannya sekarang, "Sebelum kedatangan paman Teddy, ada orang asing lain yang datang ke rumah. Dia sama seperti orang yang menyerang kita.


Kau tahu apa yang menyebabkan meja mu rusak? Itu karena orang asing itu! Dia membanting tubuhku ke meja. Aku berbohong padamu bila meja itu rusak karena berlatih.


Lalu selain itu, luka goresan di leher yang kau obati kemarin, itu pun karena orang itu. Dia membawaku ke sebuah hutan secara tiba tiba dan di sana ada Leon. Orang asing itu menjadikanku seperti sandera hingga pada akhirnya luka goresan ini tercipta.


Kedatangan dia dan orang yang menyerang kita adalah karena Leon! Mereka mencarinya dan pada akhirnya kita yang terluka seperti ini. Sudah cukup. Memberikan Leon tempat tinggal di rumahmu, hanya akan membawa bahaya padamu.


Mungkin tidak hanya dua orang itu yang datang, tapi orang lain yang sama seperti mereka akan datang lagi karena mencari Leon. Kau harus secepatnya mengusir dia dari rumah."

__ADS_1


"Apa maksudmu? Leon bukanlah penyebab ini semua terjadi. Jangan melampiaskan perasaan marahmu padanya. Kau mungkin tidak terima karena tanganmu terpotong semalam, tapi jangan melampiaskan itu pada Leon. Lampiaskan saja hal itu padaku. Karena aku yang tidak berhati hati, kau menjadi seperti sekarang," balas Rafa dengan ekspresi tidak suka.


"Sudah, jangan membahasnya lagi," ucap Teddy.


"Jadi maksudmu, aku mengatakan hal ini karena aku kehilangan tanganku?" Kevin menggelengkan kepala dengan tak percaya. Rafa terus saja membela Leon. Padahal anak itu bukanlah siapa siapa. "Kenapa kau terus saja membelanya?!"


"Kau yang memulainya saat menyalahkan Leon tadi!"


"SUDAH CUKUP! KENAPA KALIAN TIDAK MENDENGARKAN UCAPANKU DAN TERUS SAJA RIBUT?!" Ucap Teddy dengan suara keras. Ia menjadi sangat kesal karena ucapannya tidak didengarkan.


Rafa dan Kevin seketika terdiam setelah mendengar kata kata yang keluar dari mulut Teddy. Mereka sama sama marah pada satu sama lain.


Teddy menghela nafasnya dan menenangkan pikirannya sejenak, "Jadi, kalian bertengkar karena anak bernama Leon itu?"


Kevin maupun Rafa tidak menjawab. Mereka hanya menundukkan kepala dengan perasaan kesal masing masing.


"Mendengar dari ucapan kalian, Leon adalah anak yang ditemukan dengan keadaan hilang ingatan. Dia tidak memiliki tempat karena tidak mengingat apapun. Lalu sebelum aku datang kemarin, Kevin mengatakan ada orang asing yang sama seperti yang menyerang kalian datang, apa dia adalah orang yang sama?" Teddy menatap Kevin dengan tanda tanya.


Kevin menggelengkan kepalanya, "Dia berbeda. Awalnya orang itu muncul secara tiba tiba di rumah. Padahal saat itu rumah dikunci. Saat aku datang, dia berniat pergi. Tapi aku menahannya, lalu pada akhirnya aku pingsan setelah menghantam meja karenanya.


Sebelum pingsan, aku sempat mendengar pembicaraan Leon dengan orang itu. Leon menanyakan apa yang diinginkan laki laki itu darinya. Sudah pasti hal yang diincar olehnya adalah Leon.


Kemudian saat aku sadar, keadaan meja itu sudah kacau. Lalu seharusnya aku mendapatkan luka di tubuhku, tapi saat terbangun hanya ada bekas darah tanpa luka. Dia maupun Leon sudah tidak ada. Pada saat itu'lah paman datang.


Ketika Rafa mengantar paman keluar, dia tiba tiba muncul kembali dan saat itu aku berada di sebuah hutan asing. Di depanku ada Leon. Aku seperti menjadi sandera dan dia melukai leherku. Orang itu memaksa sesuatu pada Leon.


Kembali ke dunia iblis dan merebut kembali apa yang menjadi miliknya. Itulah yang diinginkan oleh orang asing itu. Tapi Leon menolak. Kemudian aku kembali ke rumah.

__ADS_1


Setelah leherku diobati oleh Rafa, aku kembali muncul di hutan itu. Tidak berapa lama dari itu, aku dan Leon kembali ke rumah. Saat itu kami berada di kamar Leon. Itulah yang terjadi. Awalnya aku berniat untuk tidak menceritakannya lebih dulu. Namun setelah kejadian ini, aku akhirnya memilih untuk menceritakannya. Aku yakin apa yang terjadi sekarang adalah karena Leon."


__ADS_2